
Aku menyikut Rama. Menyalahkan adikku atas cerita konyolnya yang justru membuat ibu mencium curiga pada kami berdua.
Aku melangkah cepat ke rumah tetangga baru, disusul Rama di belakangku. Ketika aku menyelinap masuk rumah sebelah, ibu telah berdiri di depan wanita yang kemarin malam aku temui.
Wanita itu sedang duduk di sofa empuknya sambil memegang ponsel. Tampak rambut wanita itu basah dan hidungku mencium aroma stroberi. Mungkin wanita itu habis selesai mandi.
Gurat kebingungan terlihat di wajah wanita itu. Namun, dia tetap melayangkan senyum ramah pada kami semua.
Padahal jika aku jadi dia, aku akan marah karena masuk rumah orang tanpa permisi. Sementara itu, dari tempat ibu berdiri, ibu menyapu pandangan ke seluruh sudut rumah.
Rumah wanita itu belum beres sepenuhnya. Masih ada beberapa barang dan kardus yang sengaja ditumpuk di pojok ruang tamu.
“Oh, ini yang dimaksud berbenah?” Ibu mencibir.
“Ibu, ayo kita pulang.” Aku menyentuh tangan ibu untuk mengajak pulang kembali ke rumah. Tapi ibu menepis tanganku. Keadaan semakin kacau. Tak terpikir olehku ibu akan menemui langsung tetangga kami.
“Tunggu, sekalian ibu mau menyerahkan bayi ini. Ibunya sudah beres, sepertinya.”
Wanita itu berdiri, bertanya dengan suara yang sopan, “Permisi, kalau boleh tahu ada masalah apa ini?”
“Ini anak anda, bukan?” tanya ibu langsung ke inti permasalahan.
Dari balik punggung ibu, Rama memberikan isyarat supaya wanita itu mengiyakan pertanyaan ibu. Namun, justru tindakan Rama membuat raut kebingungan di wajah wanita itu makin nampak jelas.
“Maksudnya?”
“Lain kali jangan menitipkan anak pada orang lain sementara anda sendiri berleha-leha,” cibir Ibu.
Sebelum masalah bertambanyatanya dan wanita itu naik pitam, aku buru-buru menyeret Ibu untuk pergi tapi Ibu sekali lagi memukul punggung tanganku dan nyatanya wanita itu malah tertawa kecil.
“Sebelumnya, perkenalkan nama saya Alexa Salma. Ibu bisa memanggil saya Alexa, dan saya sama sekali belum menikah. Apalagi memiliki anak.”
“Jadi, ini bukan anak anda?” Ibu memalingkan pandangan yang menusuk kepadaku.
Ya, aku tidak dapat mengelak lagi karena sudah terbukti berbohong. Aku mengacak rambutku. Frustasi.
Alexa menggeleng pelan. “Mungkin ibu salah orang.”
Aku berdeham dan menjelaskan pada Alexa bahwa ibuku sedang bergurau.
__ADS_1
Wanita yang sepertinya lebih muda satu tahun dariku itu sama sekali tidak marah karena kami telah mengganggu waktunya. Dia tetap tersenyum saat Rama meminta maaf sebelum akhirnya aku membawa ibu kembali ke rumah.
Ibu menjatuhkan diri di sofa ruang tamu diikuti Rama dan aku. Ibu membiarkan Kirana tidur di sofa samping tempat duduk ibu.
Aku tahu sudah tidak ada alasan lagi untuk menutupi Kirana dari ibu. Mungkin aku harus mengatakan yang sebenarnya pada ibu agar ibu juga dapat memahami kondisiku.
“Jawab jujur pada Ibu, Balin! Bayi ini anak siapa? Kenapa ada di rumah ini?”
“Namanya Kirana, Bu. Dia menjadi anakku sekarang,” kataku berterus terang.
Ibu segera meraih payung hitam yang tadi digeletakkan begitu saja di lantai. Menghujaniku dengan pukulan mautnya.
Kali ini aku menahan payung itu dengan satu tangan. Netra ibu yang sudah menua berkaca-kaca. Isak tangis Ibu pecah tak mampu dibendung lagi.
“Ibu, bisa tidak Ibu mendengar penjelasanku dulu, baru Ibu bisa memukuliku.”
“Kamu pantas untuk dipukul. Kamu sudah mencoreng nama baik keluarga. Meskipun bapak dan ibumu seorang petani, tapi kita berasal dari keluarga terhormat. Kamu tahu, kakek dari bapakmu dahulu seorang veteran yang sangat dihormati di kampung.”
Rama tersentak mendengar hal itu. “Wow. Keren. Aku baru tahu kalau aku keturunan seorang veteran. Kenapa Ibu baru cerita?”
Baik aku maupun ibu tidak ada yang menggubris Rama. Aku dan ibu masih saling bertatapan tanpa melirik ke arah lain sedikit pun.
“Kamu sudah melakukan hubungan tak senonoh dengan wanita di luar nikah sampai menghasilkan seorang bayi dan kamu masih bertanya apa salahmu?” Ibu memukulku.
Kemudian membanting payung ke lantai. “Sepertinya memukulmu dengan payung tidaklah cukup.”
Ya Tuhan. Aku berdecak dan mengusap kening. Seperti ada yang menggelitiki perutku, aku menahan sekuat tenaga dari keinginanku untuk tertawa. Benar-benar heran dengan ibu. Bagaimana bisa ibu berpikiran sejauh itu?
Beberapa menit berlalu tanpa ada seorang pun yang berani mengucapkan kata-kata, selagi Ibu berusaha menetralkan emosinya. Rama diam-diam mengambil patung Ibu dan mengendap ke dapur untuk menyembunyikan payung ibu.
“Di mana ibunya Kirana?”
“Ibunya meninggal saat melahirkan Kirana dan menitipkannya padaku.”
“Apa?” Ibu tersentak.
“Satu hal yang harus ibu tahu, aku bukan ayah biologis Kirana. Ibunya Kirana itu teman semasa kuliahku.”
“Kenapa harus kamu yang dititipkan anak ini? Ke mana ayahnya Kirana? Apa sudah meninggal juga?” Ibu bertanya dengan tidak sabar.
__ADS_1
“Ibu, sabar dulu. Biar aku ceritakan semuanya dari awal.”
Aku memulai cerita dari siapa ibunya Kirana dan kejadian pada malam Kirana dilahirkan. Rama membuka mulut ingin menambahkan cerita versi dirinya. Tapi aku lebih dulu menginjak kaki Rama dan dia kesakitan.
Hal itu aku lakukan agar Rama tidak lagi memperburuk suasana karena cerita yang disampaikan Rama selalu dilebih-lebihkan.
Aku melanjutkan ceritaku dan mengaitkannya pada peristiwa kecelakaan yang menimpa Indra Irawan. Semua yang menjadi kecurigaanku pada Harsa, aku tumpahkan pada ibu.
Aku melirik ibu yang kini tengah memandang Kirana dengan tatapan kosong dan dapat kulihat satu bulir bening meluncur dari ujung mata ibu.
Wanita tua itu langsung mengusap pipinya. Kami terdiam. Suasana hening kembali untuk beberapa saat setelah aku selesai bercerita. Hingga akhirnya aku membuka suara.
“Ibu boleh menceritakan ini pada bapak. Tapi aku mohon hanya keluarga ini saja yang tahu, karena kalau sampai pihak kepolisian tahu cucu Indra Irawan ada bersamaku, namaku bisa terseret menjadi tersangka kecelakaan Indra Irawan.”
“Jadi polisi mengira temanmu, Karina Irawan, ikut terjatuh ke laut bersama mobil ayahnya? Yang padahal Karina meneleponmu untuk menemuinya.”
Suara ibu telah melunak. Mungkin bisa dibilang parau, yang disebabkan ibu menahan isak.
Aku mengangguk. “Aku minta maaf telah berbohong pada ibu. Inilah alasanku berhenti bekerja, karena aku ingin menepati janji untuk menjaga Kirana dengan sebaik-baiknya.”
“Apakah sebaiknya kamu mencari pengasuh untuk Kirana, sedangkan kamu bisa kembali bekerja?”
“Untuk saat ini, aku tidak mau bekerja di kantor dan meninggalkan Kirana bersama orang lain yang belum aku kenal betul. Lagi pula berkat Kirana sekarang aku berani terjun ke dunia bisnis.”
Ketika itu Rama mendengus kesal. “Ke ibu saja Kak Balin menjawab dengan baik-baik. Dulu ketika aku bertanya dengan pertanyaan yang sama, jawaban Kak Balin jutek banget.”
Pluk. Sebuah bantal kecil mengenai kepala Rama. Kami semua tertawa lepas. Tapi tidak dengan ibu yang masih menunduk.
“Atau ibu saja yang mengasuh Kirana.” Sebuah ungkapan yang tak pernah aku duga akan diucapkan Ibu. Aku tersenyum tipis.
“Tidak perlu, Bu. Nikmati saja masa tua Ibu dan Bapak dengan tenang. Kirana adalah tanggung jawabku dan aku tidak mau merepotkan Ibu.”
“Tapi, Balin, kamu itu tidak tahu apa-apa tentang mengurus bayi.”
“Ibu tidak perlu khawatir. Sejak Kirana lahir, aku menjadi sering mencari informasi tentang merawat bayi lewat internet.”
Aku menggenggam tangan ibu yang gemetar. Ibu balik menatapku dengan rasa iba. Apakah ibu merasa bersalah telah memukuliku?
Sejak dulu ibu selalu memukulku jika aku melakukan suatu kesalahan. Sampai aku mengadu pada Bapak. Namun bukannya membelaku, Bapak malah menjelaskan padaku bahwa itu adalah pukulan cinta Ibu.
__ADS_1