
“Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk Alexa,” kataku singkat, padat dan jelas.
Kak Alan maju satu langkah mendekat, “Kau harus berjanji tidak akan membuat adik tersayang kami bersedih.”
“Aku akan berusaha.”
“Kau pria yang tidak berani bersumpah, cemooh Kak Alan.
Dia mendengus mengejek, berkacak pinggang dan membuang muka. Lalu menoleh pada Alexa.
“Apakah Balin pernah membuatmu menangis?”
Alexa menggeleng cepat.
“Jangan bohong, Alexa! Katakan saja pada kakakmu ini,” gertak Kak Alan.
“Tidak pernah, Kak. Aku tidak bohong,” seru Alexa yang bangkit berdiri dari duduknya.
Benakku melayang ketika Alexa meminta maaf dariku, tapi aku malah pergi meninggalkannya. Dan aku melihat Alexa menangis saat itu.
“Aku pernah membuatnya menangis,” ungkapku.
Bugh.
Mendadak Kak Alan menonjok perutku tanpa disangka oleh semua orang. Aku yang tidak siap dengan pukulan calon kakak ipar hanya bisa membungkuk kesakitan dan menjatuhkan diri ke sofa.
Sedangkan Alexa memekik dan melotot pada Kak Alan. Memukul dada Kak Alan yang tak bergerak sama sekali. Kakak perempuan Alexa yang bernama Alea, memeluk Alexa untuk menenangkan adiknya itu.
Suasana ruangan menjadi semakin ricuh karena Alexa yang memaki Kak Alan. Meski Kak Alan diam tak menggubris ocehan Alexa.
“Kenapa Kak Alan memukul Balin?” tanya Alexa geram.
“Karena dia telah membuatmu menangis,” jawab Kak Alan tenang.
“Tapi Kakak tidak tahu cerita sebenarnya, aku menangis juga karena kesalahanku sendiri.”
“Alexa, tenang!” ucap Kak Alea.
Alexa duduk di sampingku, dengan tatapan penuh khawatir dia mengusap tempat di mana Kak Alan menonjokku.
“Balin, apakah sakit? Luka di perutmu belum sembuh total ya? Apa pukulan Kak Alan tadi mengenai lukamu?”
Aku menggeleng.
“Tidak apa-apa. Aku memang pantas menerimanya.”
“Tidak, Balin. Kak Alan yang keterlaluan.”
Sejenak aku jadi ingat atas perlakuanku yang sering menonjol Rama, adikku sendiri. Sekarang aku akan memiliki kakak ipar yang juga hobi menonjok perut orang saat marah. Apakah ini yang disebut karma?
__ADS_1
“Lagi pula kenapa kamu jawab jujur sih? Aku kan berbohong demi kita bisa menikah,” gerutu Alexa.
Aku mengelus rambut Alexa, agar gadis berambut ikal itu dapat jauh lebih tenang.
“Aku sudah bilang aku tidak apa-apa. Jangan marahi kakak kamu sendiri demi aku.”
“Kamu lulus tahap awal, Balin. Jadi mulai hari ini kamu masuk ke dalam masa observasi selama dua bulan. Jika selama dua bulan ke depan, ternyata kamu bukan pria yang dapat diandalkan menjadi suami Alexa, maka pernikahannya batal,” tutur Kak Alan melipatkan tangan di depan dada.
Apa lagi sih ini? Masa observasi? Memang aku ini apa? Astaga, begitu selektifnya Kak Alan ini.
Aku hanya mengangguk menyetujui keinginan aneh Kak Alan. Apa pun akan aku lakukan agar mendapatkan restu. Tapi sepertinya tidak bagi Alexa, dia maju lagi memprotes kakaknya.
Sekali lagi Kak Alea menjadi penengah di antara mereka berdua, yang lalu dibantu juga oleh Kak Lily.
“Kak Alan,” teriak Alexa kembali menghadapi kakak sulungnya.
“Yang akan menikah dengan Balin itu aku, Kak. Aku sudah mengenal Balin cukup lama. Kenapa perlu ada masa observasi segala?” Alexa memprotes sambil kakinya menyentakan lantai.
“Alexa, kamu kan tahu sendiri bagaimana sifat Kakakmu. Lalui saja sambil kalian menyiapkan pesta pernikahan, oke?” kata Kak Alea mengusap lengan Alexa.
“Kak Alan, jangan dua bulan. Bagaimana kalau satu bulan saja?” tanya Alexa dengan suara yang lebih dilembutkan agar Kak Alan melunak.
Namun, usaha itu nihil karena nyatanya Kak Alan tetap menggelengkan kepala.
“You don't have a choice. Kamu tidak punya pilihan, Alexa. Tunggu dua bulan kalau kamu ingin menikah dengan Balin. Titik.”
Kak Alan menghiraukan protes yang dilayangkan Alexa, dia merangkul istrinya dan berjalan keluar. Sementara Alexa masih ditenangkan oleh Kak Alea, dua kakak ipar Alexa yang bernama Mirza dan Nick, menghampirimu.
“Sikapnya memang begitu. Aku dulu juga ditonjok hingga babak belur saat meminta izin menikahi Alea.”
“Ya, dan kamu cukup beruntung, Balin,” timpal Nick. “Masa observasimu hanya dua bulan. Coba bayangkan aku dulu sampai satu tahun.”
“Begitulah kalau hendak meminang gadis dari keluarga Asher,” tambah Mirza.
“Sudah seperti tes masuk kemiliteran bukan?” kata Nick seraya menyikutku.
Setelah itu, mereka pergi meninggalkan ruangan, menyisakan aku dan Alexa yang masih memberengut.
Aku mencubit pipi Alexa, bermaksud menggoda agar dia tidak lagi menekuk wajah cantiknya itu. Alexa menghembuskan napas, tersenyum, lalu menjatuhkan kepalanya ke dadaku.
Aku menggenggam jemarinya, sejenak ibu jariku mengusap cincin pemberian dariku.
“Kak Alan itu memang menyebalkan,” Alexa mengeluh.
“Jangan membenci kakakmu! Dia hanya sedang melakukan tugasnya sebagian seorang kakak. Aku pun mungkin akan melakukan hal yang sama jika kelak Kirana menikah.”
“Tapi kamu akan sibuk bekerja di perusahaan Irawan Group, pasti dua bulan ini kita akan jarang bertemu.”
Aku menunduk melihat wajah Alexa yang terbenam di dadaku. Lalu aku eratkan pelukanku.
__ADS_1
“Anggap saja kita sedang diuji. Jika kita berdua berhasil, kita akan menikah dan kamu akan bisa melihat wajahku setiap hari sepanjang sisa hidupmu. Bahkan mungkin sampai kamu muak melihat aku.”
Alexa tergelak, melingkarkan tangannya ke leherku.
“Aku tidak akan pernah bosan melihat wajah tampanmu.”
Aku mengulum senyum, menundukkan kepala agar lebih dekat wajah Alexa. Pandanganku tertuju pada bibir ranum merah muda yang membuat aku terlena.
Alexa mendongak, menutup mata dan berjinjit untuk menciumku. Namun, sebelum bibir kami bersentuhan...
Brak.
Pintu di ruangan itu terbanting terbuka. Aku dan Alexa terkesiap dan segera menoleh cepat ke arah pintu. Di sana, di ambang pintu, Kak Alan sudah berdiri seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
Lalu Kak Alan meraung murka, “Apa yang sedang kamu lakukan kepada adikku?”
Di sebuah lorong gelap, seorang berjalan dengan langkah cepat dan napas yang memburu. Dia menarik tudung jaket untuk menutupi kepalanya. Sebuah kalung dengan bandul huruf H berayun seiring orang itu mempercepat langkahnya.
Hingga dia berhenti di sebuah pintu nomor 136. Lalu mengetuk pintu dengan sangat keras.
Pintu itu berderik terbuka, menampakkan sang pemilik apartemen yang terperangah melihat siapa yang datang bertamu.
“Harsa!” pria itu gugup seketika.
Kemudian, Harsa melangkah tanpa menunggu pria pemilik apartemen mempersilahkan masuk. Dia berjalan menerobos dan menabrak bahu pria itu.
Pintu ditutup, dan pria itu memperhatikan Harsa di ruang tengah, tamu yang sangat lancang masuk ke apartemen orang lain begitu saja.
“Kamu harus membantu membalaskan dendamku pada Balin Mahendra. Gara-gara dia, semua impianku lenyap dan aku menjadi buronan polisi,” desis Harsa dengan kedua tangan terkepal.
“Apa yang akan kamu lakukan, Harsa?” tanya si pria.
“Aku akan buat Balin dan keluarga kecilnya menderita selama sisa hidup mereka. ”
Pria itu menggeleng.
“Tidak. Aku tidak bisa. Dan tidak akan mau membantumu,” tegas sangat pria.
Harsa memutarkan badan untuk menatap pria itu, dengan langkah yang cepat dia berjalan menghampiri, tangan kanannya mengeluarkan sebilah pisau kecil dan tanpa ada aba-aba, dia menghunuskan pisau itu ke perut pria pemilik aparteman.
Pria itu terkesiap sekaligus menjerit kesakitan. Tubuhnya tumbang begitu Harsa mendorong pisau agar semakin melesak ke dalam perut pria malang itu.
“You don't have a choice. Kamu tidak punya pilihan.”
__ADS_1