Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 20 Perkelahian


__ADS_3

Malam begitu dingin karena telah memasuki musim hujan. Suara gemuruh di atas langit beradu dengan desir angin yang menerbangkan dedaunan kering.


Dari jendela dapur, aku menengok ke luar melihat awan kelabu yang tampak samar di gelapnya langit malam.


Aku membalikkan daging yang langsung mendesis di atas wajan panas. Tak jauh dariku, tepatnya di samping meja makan, Kirana duduk di kursi tinggi. Dia memainkan boneka panda kecil yang berdecit jika ditekan perutnya.


Alih-alih memainkannya, Kirana justru melempar boneka itu hingga jatuh ke lantai. Lalu Kirana merengek sambil mengulurkan tangan ke bawah, seolah minta diambilkan mainan yang tadi dibuangnya.


Aku berbalik badan, memungut boneka pandai yang tergeletak di sisi kaki kursi, memberikannya ke Kirana.


Akan tetapi, begitu menerima boneka panda, Kirana kembali melempar. Aku ambil lagi, Kirana melemparnya lagi. Terus begitu hingga aku tersentak menyadari daging yang sedang aku masak nyaris gosong.


Makan malam sudah tersaji di meja, dan aku menyingkirkan boneka panda dari hadapan Kirana, digantikan dengan semangkuk bubur bayi.


Dokter anak di klinik tempat Kirana selalu imunisasi, menganjurkan untuk mengajak Kirana makan bersama keluarga. Tujuannya agar nafsu makan Kirana ikut tergugah ketika melihat orang lain makan.


Sebuah tips sederhana tapi prakteknya sungguh sulit luar biasa.


Karena nyatanya, Kirana mengaduk bubur itu menggunakan tangannya yang mungil. *******-***** bubur itu seperti sedang penasaran benda apakah yang ada di tanganya.


“Kirana, makan yang benar. Nanti bajumu kotor.”


Aku mengelap tangan kotor Kirana dan mengabaikan makan malamku yang sudah siap santap. Memilih memusatkan perhatian untuk menyuapi Kirana. Dia makan beberapa sendok, lalu mencoba merebut sendok dari tanganku.


Kirana mengambil sesendok penuh bubur yang tentu tidak akan muat masuk ke mulutnya. Alhasil sebagian bubur menempel di sekitar mulut Kirana yang kini berlepotan bubur bayi.


Kirana menoleh.


Dan aku bertanya, “buburnya enak?”


Kirana mengambil bubur lagi.


Aku tertawa sambil bertopang dagu memandangi Kirana makan. Setelah puas memandangi Kirana, aku meraih sendok makanku dan berseru, “Rama, ayo kita makan ma... “


Ucapanku menggantung karena aku baru menyadari tidak melihat Rama sejak tadi pagi. Aku berjalan menuju kamar Rama, ruangan itu berantakan seperti biasa dan sepi tak berpenghuni.


“Ke mana dia? Seharusnya dia sudah pulang sejak tadi. Apa dia masih marah denganku?”


Aku mencoba menelepon Rama yang tidak kunjung diangkat.


Aku mencari nomor telepon Doni, teman Rama, tapi setelah aku meneleponnya, dia juga tidak tahu Rama ada di mana. Mulai gusar, aku mencari nomor lain yang bisa dihubungi.


Nihil.


Kirana memekik senang telah berhasil menumpahkan  bubur bayi dan melumurinya ke pipi. Ketika aku berlari mendekat, mangkok sudah jatuh ke lantai, kursi tinggi Kirana kotor oleh tumpahan bubur, begitu juga wajah dan baju Kirana.

__ADS_1


Aku mengomel tapi Kirana malah mengoceh ceria.


Ketika itu juga, pintu depan terbuka. Rama masuk dari balik pintu dan melangkah menuju kamarnya melewati meja makan. Langkah kaki Rama terlihat berat dan dia kelelahan.


Baju yang dipakai Rama sedikit basah, mungkin karena hujan gerimis di luar.


“Kamu sudah makan? Aku sudah siapkan makan malam untukmu,” kataku tanpa menoleh pada Rama karena aku sibuk mengelap mulut Kirana.


Namun dari sudut mataku, aku melihat Rama berhenti sejenak di depan pintu kamarnya. Penampilannya tampak berantakan ditambah wajah yang ditekuk.


“Aku tidak lapar,” jawab Rama singkat. Kemudian masuk ke dalam kamar.


Aku mencoba untuk tidak terpancing emosi lagi kali ini. Jadi, aku kembali fokus pada Kirana dan juga malam makanku yang sempat tertunda.


Nanti juga, Rama akan kembali menjadi si pawang masalah seperti sedia kala, pikirku.


Namun hari berganti minggu, hubunganku dan Rama semakin memburuk. Kita seperti dua orang asing yang tinggal satu rumah. Tidak pernah mengobrol. Pulang kuliah Rama langsung mengunci diri di kamar.


Begitu pula dengan aku, yang lebih memilih diam dan bermain dengan Kirana di dalam kamarku sendiri.


Sesekali kami tak sengaja berpapasan di dapur, tapi Rama memalingkan wajah. Dan aku pun melakukan hal yang sama.


Sampai di suatu hari, tepatnya hari minggu. Aku tahu Rama libur kuliah tapi dia tak kunjung keluar dari kamar. Dia melewatkan sarapan dan sekarang sudah menjelang tengah hari.


 Jadi, aku tinggalkan Kirana duduk di lantai bersama mainannya yang berserakan, lalu kuketuk pintu kamar Rama.


“Rama, buka pintunya atau aku dobrak,” seruku yang sudah di batas kesabaran.


Kemudian pintu perlahan terbuka menampakkan Rama dengan rambut yang berantakan. Matanya satu dan dia menguap. Ciri khas baru bangun tidur.


“Jam segini kamu baru bangun tidur?” tanyaku mengejek.


Rama mengucek mata, “memang apa urusannya? Aku mau bangun jam berapa itu terserah aku.”


“Heh, dengar! akhir-akhir ini kenapa kamu selalu memasang muka seolah ingin berkelahi denganku? Kamu masih mempermasalahkan aku yang curiga ke tetangga sok tahu itu.”


Aku melipat tangan di depan dada dan menatap tajam Rama yang kini menggaruk kepala. Tampak Rama tak mau meladeniku tapi dia akhirnya buka mulut.


“Aku kesal dengan kakak karena curiga berlebihan ke Kak Alexa, padahal kakak tidak punya bukti. Hanya karena Kak Alexa sering mendekati Kirana.”


Aku menekan jari telunjukku ke dada Rama. “Hei, dengar ya, bocah. Aku tekankan sekali lagi. Ini bukan urusanmu.”


Rama menghembus napas jengah, dan memutar bola mata. “Tuh kan, pasti seperti ini lagi.”


Lalu Rama menambahkan, “Menurutku, sikap Kak Alexa yang mendekati Kirana itu murni karena dia senang bermain dengan anak kecil. Harusnya kakak berterima kasih, bukannya menuduh dia yang bukan-bukan.”

__ADS_1


“Tapi aku ayahnya Kirana,” kataku memprotes. “Aku yang menentukan apa yang terbaik untuk Kirana dan aku juga berhak menolak bantuan dari Alexa.”


Rama menggosok hidungnya. “Ah sudahlah. Jika disuruh memilih, aku lebih suka bicara dengan pohon pisang dari pada harus mengobrol dengan kakak.”


Sesaat aku berpikir, jika Alexa kaki tangan Harsa, tidak mungkin Harsa mencelakai Kirana di saat Kirana bersama Alexa. Harsa juga pasti tidak mau kaki tangannya ikut celaka.


Rama melangkah melewatiku, kemudian membalikkan badan menatapku.


“Dan satu lagi yang membuat aku kesal. Kakak selalu memukulku, memitak kepalaku, dan memarahiku seenaknya saja. Kakak pikir karena aku seorang adik, lantas aku patut diperlakukan seperti itu?”


“Heh? Sejak kapan kamu jadi baperan?” jawabku sinis.


Dan kemudian Rama menghampiriku.


Aku tidak siap, jadi dia berhasil memberiku satu tinju tepat di ujung bibir.


Aku mengerjapkan mata kaget dan mundur beberapa langkah tapi kemudian maju lagi untuk membalas dengan memukul matanya.


Aku pernah belajar bela diri dan pastinya aku bisa membuat Rama dilarikan ke rumah sakit akibat patah tulang.


Tapi tidak. Aku tidak melakukan hal itu.


Aku membiarkan Rama berlari menerjangku sehingga kami berdua berguling di lantai. Aku berhasil menduduki perut Rama yang terlentang di lantai tapi tangannya menahan lenganku yang ingin memberikan pukulan lagi.


Dan kami berguling lagi ke arah lain. Kali ini Rama yang berada di atasku. Dia mengunci gerakkanku, kaki dan tanganku diapit oleh Rama yang membuat aku tidak bisa melakukan apa-apa.


Kesempatan itu dimanfaatkan Rama untuk meninju perutku. Tapi yang aku rasakan bukan sebuah tinju yang menyakitkan.


Setelah itu Rama tertawa riang, disusul juga olehku.


“Ini pertama kalinya aku berani memukul kakak. Rasa kesalku akhirnya terlampiaskan,” ucap Rama.


Dia tertawa seperti adikku yang biasa aku kenal, lalu kembali memukuli perutku.


Aku tertawa dan menjambak rambutnya, “kurang ajar. Kau mau dikutuk jadi adik durhaka?”


Suara pintu depan terbuka, diikuti langkah kaki memasuki rumah.


“Terima kasih lho, Nak Alexa. Sudah mau bantu ibu membawakan barang-barang. Nanti makan siang di sini ya?”


Ibu.


Ibu datang.


Aku dan Rama belum sempat berdiri, ketika ibu melihat kami saling menjambak rambut. Di samping ibu, ada Alexa membawa kantong belanja yang juga tampak tercengang.

__ADS_1


Lalu suara ibu yang nyaring dan melengking menggema di penjuru rumah.


“RAMA... BALIN... APA-APAAN INI?”


__ADS_2