
“Coba beli saja makanan pendamping asi dengan berbagai macam rasa. Bayi seumur Kirana memang harus diperkenalkan mencoba banyak rasa makanan.”
Tiba-tiba Alexa sudah ada di belakangku. Entah sejak kapan dia mengamatiku. Yang jelas, dia tahu aku kebingungan dalam memilih makanan untuk Kirana nanti.
“Balin, kamu sudah punya peralatan makannya Kirana? Kalau belum. Ada di lantai atas. Aku tadi melihat-lihat sebentar dan peralatan makanannya lucu-lucu, dan ada juga baby food maker. Aku sarankan kamu beli itu, supaya lebih praktis jika nanti kamu akan membuat mp-asi rumahan,” tutur Alexa yang sudah kembali ke mode sok tahu dan sok mencampuri urusan orang.
Aku menghela napas jengah, berbalik badan menghadap Alexa. Gadis itu mundur satu langkah tampak ketakutan memandang wajahku.
Layaknya kelinci yang takut diterkam serigala. Satu ujung bibirku menyungging membentuk seringai ketika Alexa menubruk rak di belakangnya.
Ada kesenangan tersendiri saat kutatap sepasang mata yang membelalak takut itu. Sebenarnya, aku tidak sudi membuang-buang waktu dan tenaga hanya untuk memarahi Alexa, tapi kalau itu satu-satunya cara agar dia bisa diam, apa boleh buat.
“Kamu itu cerewet sekali, hah? Aku pakai uangku sendiri, jadi aku mau beli apa saja itu terserah aku. Kamu jangan sok ikut campur,” gertakku tanpa pikir panjang.
Pastilah raut wajahku sekarang ini terlihat menakutkan. Sampai Kirana yang tidak tahu apa-apa saja mendadak menangis.
Dengan sigap Alexa menggendong Kirana yang sejak tadi aku taruh di dalam troli bersama tumpukan barang belanjaanku. Dia mengelus punggung Kirana agar bayi itu tenang.
Perlahan Alexa memiringkan tubuhnya dan berbisik di depan telingaku, “Balin, kita jadi pusat perhatian banyak orang.”
Sesaat aku tersentak. Sadar aku ada di tempat umum, lalu kuedarkan pandangan ke sekeliling.
Semua orang di sekitarku menghentikan aktivitas mereka sesaat hanya untuk menoleh ke arah kami bertiga. Bahkan ada yang menjulurkan leher dari balik rak saking penasaran apa yang sedang terjadi.
Di antara mereka melanjutkan aktivitas mereka yang tertunda sambil berdecak dan menggelengkan kepala. Namun sebagian besar bergumam satu dengan yang lain.
“Galak sekali suami itu ke istrinya.”
“Iya, aku jadi kasihan ke istrinya.”
“Heh, aku berani taruhan dia pasti tipe suami yang pelit ke istri.”
“Kasihan juga anaknya, sampai menangis begitu.”
Sial. Keadaan malah semakin berantakan. Suara desas-desus itu bagaikan dengungan lebah di telingaku. Tak ada cara lagi. Aku menundukkan kepala kepada semua orang sebagai permintaan maaf karena mengganggu mereka.
Kemudian, aku merangkul Alexa, membawanya ke sudut yang sepi.
__ADS_1
“Ini semua gara-gara kamu. Bisa tidak kamu itu jangan mencampuri urusan orang lain?” aku berbicara dengan volume yang sengaja diperkecil. “Sudah aku bilang, aku bisa mengurus Kirana sendiri tanpa saran darimu.”
Namun, aku melihat kerutan di dahi Alexa, tampaknya dia sedang mencerna ucapanku.
“Aku bingung,” ungkap Alexa.
“Apa yang kamu bingungkan?”
“Biasanya postpartum depression terjadi pada ibu yang baru melahirkan, tapi kenapa ini terjadi pada ayahnya si bayi?”
Alexa mengetuk-ngetuk jari telunjuk ke keningnya dan tatapannya yang kosong. “Aneh sekali.”
Apa katanya? postpartum depression? itu depresi yang dialami ibu pasca melahirkan dengan gejala perubahan emosi, mudah tersinggung, dan banyak lagi. Tapi postpartum depression hanya boleh didiagnosis oleh dokter, bukan orang awan. Setahuku begitu.
Alexa memang lebih pintar dariku setidaknya dalam urusan bayi, tapi tidak bisa seenaknya saja melabeliku terkena postpartum depression segala.
Ah, aku tahu dia sedang memancing agar aku semakin emosi. Heh, apa dia tidak punya pekerjaan lain?
Kutopang berat badanku di satu kaki, memutar bola mata, dan memberi ultimatum pada Alexa.
“Begini, kalau kamu mau pulang dengan jalan kaki, terus saja mengoceh di sampingku. Akan tetapi jika kamu ingin aku mengantarkanmu sampai di depan rumah, tetap diam dan jangan ganggu aku. Mengerti?”
Baru juga tiga menit berlalu, Alexa menyeletuk lagi, “adikmu itu lucu juga ya?”
Aku langsung melirik cepat dengan sorot mata menusuk. Secepat kilat Alexa menutup mulut. Lalu menurunkan tangan perlahan, memperlihatkan bekas senyuman yang belum pudar dari bibirnya.
Berbelanja yang paling tidak menyenangkan selama hidupku, yaitu berbelanja dengan Alexa. Aku berharap ini terakhir kalinya aku membawa gadis menyebalkan itu.
Waktu berjalan seakan lambat sekali. Hal itu juga dirasakan oleh Kirana. Dia mulai meraung saat aku ada di kasir.
Apa daya, aku terpaksa meminta Alexa yang sudah lebih dahulu selesai belanja untuk mengajak Kirana keluar menghirup udara segar. Sambil sesekali mengamati mereka berdua dari tempatku berdiri.
Akhirnya, selesai juga. Aku memasukkan barang belanjaanku dan belanjaan Alexa ke dalam bagasi mobil. Sedangkan Alexa sendiri sudah berada di kursi depan memangku Kirana.
Setelah itu, aku masuk ke dalam mobil dan mendapati Kirana yang tertidur lelap di dalam pelukan Alexa.
Aku membuka mulut hendak berbicara, namun tak jadi karena Alexa menekan jari telunjuknya ke bibir. Memintaku diam.
__ADS_1
“Sshhtt, Kirana baru saja tidur.”
Maka aku pun hanya diam. Ketika aku menyalakan mesin, Kirana tampak terkejut, tubuh kecilnya meringkuk dan menarik kedua tangan ke arah dada tapi matanya tetap terpejam rapat.
Alexa segera membelai lembut tubuh Kirana, sehingga bayi itu kembali ke dalam tidurnya yang pulas.
Tak lama mobilku sudah berada di jalanan yang padat kendaraan. Aku menahan diri untuk tidak menekan klakson di saat pengemudi mobil yang ada di depan sangat menguji kesabaranku. Mobil putih itu selalu menghalangi jika aku hendak menyalip.
Aku mengumpat keras yang langsung mendapat lirikan dari Alexa.
“Balin, aku rasa kamu harus belajar menjaga ucapanmu jika berada di dekat Kirana. Soalnya anak sering meniru apa yang dikatakan oleh orang tuanya. Kamu tidak mau Kirana berkata kasar seperti tadi kan?”
Nasehat Alexa yang tidak tepat pada waktunya, hanya membuatku bertambah jengkel.
“Diam! Atau turun dari mobilku sekarang juga.”
“Lagi pula, kenapa terburu-buru sekali mengemudikan mobil? Santai saja, Balin.”
Jawabannya apalagi kalau bukan Alexa itu sendiri. Aku tak mau berlama-lama dengan Alexa. Namun aku enggan mengatakannya secara terang-terangan.
Aku memilih berbelok ke jalan alternatif lain menuju rumahku. Jalan yang lengang akan kendaraan, namun banyak sekali persimpangan. Ku tingkatkan kecepatan mobil.
Tiba-tiba ketika mobil kami melewati pertigaan jalan, sebuah truk muncul begitu saja. Truk itu juga sedang melaju kencang. Terlalu kencang hingga aku membelokkan stir mobil secara mendadak dan tak bisa dihindari lagi bagian depan truk itu menabrak pintu mobilku.
Alexa menjerit panjang sambil menunduk melindungi Kirana saat mobilku berputar keluar dari ruas jalan. Beruntungnya mobilku tidak sampai jungkir balik. Jantungku berdegup kencang dan tanganku bergetar hebat.
Aku langsung keluar dari mobil untuk menyamperi si pengemudi truk ceroboh itu. Akan tetapi pengemudi truk malah menginjakkan gas melaju meninggalkan kami.
Aku berteriak mengumpat ke arah truk yang kini sudah menghilang di sebuah tikungan tajam.
Kemudian aku balik lari ke mobil untuk melihat kondisi Kirana yang menangis histeris. Kaca pintu mobil sudah pecah tak tersisa dan beberapa serpihan kaca menempel di rambut Alexa yang ikal.
Syukurlah, meskipun Kirana menangis tapi setelah aku memeriksa tubuh Kirana tak ada cacat sedikit pun.
Aku menghela napas lega, lalu aku mendengar Alexa merintih. Dia menyibak lengan baju, terlihat ada luka yang dalam dan cukup panjang di sikunya. Darah segar mengucur dari sana.
__ADS_1