Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 72 Pergi


__ADS_3

Aku duduk berjauhan dengan Kak Alan dan Kak Lily di koridor rumah sakit. Tatapan Kak Alan yang matanya melotot merah tak pernah putus dariku. Di sampingnya, Kak Lily menenangkan dengan terus mengusap bahu suaminya. D 


Aku tertunduk menatap lantai, mengacak-acak rambut, menggigit bibir bawahku untuk menahan rasa yang berkecamuk.


Pintu IGD terbuka, dan dokter pria yang menangani Alexa keluar dengan bola matanya menatap kami bertiga secara bergantian.


“Di sini ada suami dari pasien?”


“Saya, Dok. Bagaimana kondisi istri saya? Baik-baik saja, kan?”


“Maaf, Pak. Dikarenakan benturan keras yang mengenai bagian perut, sehingga pasien mengalami keguguran dan harus menjalani operasi kuret,” jelas sang dokter yang menatap dalam padaku.


Aku menggeleng kuat. Bibirku bergetar tak bisa untuk berbicara, sementara itu mataku mulai memanas, air menggenang di ujung mata, dan menetaskan satu bulir bening.


“Tidak, Dok. Anda pasti salah. Alexa tidak mungkin keguguran. Coba dokter periksa sekali lagi!” kataku dengan menahan segala emosi.


“Maaf, Pak. Kami sudah memastikan bahwa istri Anda telah mengalami keguguran. Kami sudah berusaha semampu kami, akan tetapi nyawa janin yang ada di kandungan pasien tidak bisa tertolong. Kami turut berduka atas hal ini.”


Dokter itu menundukkan kepala dan berpamitan meninggalkan kami.


Duniaku terasa hancur tak bersisa. Beberapa jam yang lalu aku baru saja mengetahui jenis kelamin anakku, dan sekarang Tuhan meminta untuk kembali ke sisiNya.


Kenapa begitu cepat anakku dipanggil ke hadapan Yang Maha Kuasa?


Bugh.


Satu pukulan Kak Alan layangkan ke pipiku, yang diiringi pekikkan dari Kak Lily. Aku terhuyung ke samping.


Dan satu kali lagi pukulan mendarat di perutku yang tak aku balas, meskipun aku mampu. Kak Alan berteriak menggelegar ke penjuru lorong.


Sementara, Kak Lily kewalahan menahan suaminya yang telah berada di luar kendali.


Aku menerima pukulan bertubi-tubi dari Kak Alan. Rasanya sakit. Tapi sakit yang aku rasakan ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang dialami oleh Alexa.


“Aku sudah bilang, jaga adikku dengan benar! Tapi apa ini? APA?”


Kak Alan berteriak mengerikan persis di depan wajahku. Sekali lagi menonjok hidungku hingga mengalirkan darah.


“Sayang, cukup. Ini bukan kesalahan Balin,” kata Kak Lily menenangkan.


“Bukan salahnya Balin, katamu? Jelas-jelas dia sebagai suami tidak bisa menjaga Alexa,” Kak Alan ikut melotot pada istrinya. Lalu segera melempar tatapan tajam padaku lagi.

__ADS_1


“Aku memang patut disalahkan. Aku pantas dihajar,” kataku terisak.


Kemudian, datanglah Mirza, Alea, Rama dan juga Ibu. Mereka membantu memisahkan Kak Alan yang ingin menghajarku hingga aku mati.


Perlu waktu yang lama agar kakak sulung Alexa itu mampu menenangkan diri. Sampai akhirnya, Kak Lily mengajaknya pulang.


 


***


 


Di ujung lorong, tampak seorang pria sedang menyaksikan seorang yang dipukul berkali-kali. Bukan datang untuk melerai, tapi dia malah melengkungkan senyum kemenangan.


Dia melihat bagaimana pria di sana pasrah dengan pukulan yang dia terima, dan lalu beberapa orang menghampiri ke duanya untuk memisahkan pria yang dalam kemarahan besar.


“Rasakan, Balin! Ini baru permulaan. Aku akan menghancurkan keluargamu secara pelan-pelan.”


Pria itu berbalik, dan melangkah pergi.


 


***


 


Kami berhenti sejenak tepat di depan pintu ruang operasi.


Aku mengelus rambut ikal istriku itu yang langsung disambut oleh senyuman terpaksa. Air mata terus saja menetes dari pelupuk matanya, lalu jariku menyeka pipi Alexa yang basah.


“Ada apa dengan wajahmu, Balin?” tanya Alexa yang tengah memandangiku. “Kamu dipukul Kak Alan?”


Aku tersenyum, “Tidak apa-apa.”


“Semua ini salahku,” bisik Alexa yang hampir tak terdengar.


Aku menggeleng sekaligus tersenyum.


“Ini bukan salahmu. Ini musibah yang menimpa rumah tangga kita.”


“Tapi aku tidak bisa menjaga bayi kita,” isak Alexa dengan derai air mata yang makin deras.

__ADS_1


“Salahku juga yang membiarkanmu turun ke dapur.”


Aku mengecup kening Alexa, memejamkan mata yang telah berkaca-kaca sehingga satu bulir air mataku jatuh mendarat di pipi Alexa, menyatu dengan bulir air matanya dan kemudian mengalir ke dagu.


Andainya saja aku yang keluar dari kamar, dan aku yang jatuh. Maka tidak akan terjadi apa-apa pada bayi yang dikandung oleh Alexa.


Jika saja aku terjatuh, mungkin hanya luka memar yang aku dapat. Bukan luka perih yang menggores di hati ini.


Aku melepas kecupan, membuka mata dan menghela napas panjang.


“Maaf, Pak. Kita harus melakukan operasi sekarang,” kata suster menginterupsi.


“Tunggu!” perintah Alexa dengan suara yang pelan.


Sekali lagi mata sayu Alexa memandangku, aku mendekatkan telinga di bibir Alexa yang ingin menyampaikan sesuatu.


“Jaga Kirana di rumah dan periksa CCTV!”


Aku keheranan dengan ucapan Alexa, namun belum sempat aku menanyakan, suster sudah mendorong brankar masuk ke dalam pintu berdaun ganda.


Firasatku mengatakan aku harus melakukan apa yang Alexa perintahkan. Meski sebagian dari diriku ingin tetap menemani hingga proses operasi selesai.


Aku sedikit tenang meninggalkan Alexa di dalam ruang operasi karena masih ada Rama dan juga Ibu. Sedangkan Kak Alea dan Mirza sudah pulang ke rumah mereka.


Ku percepat laju kendaraan saat melintasi jalanan, sambil di dalam benak bertanya-tanya.


Apa maksud Alexa menyuruhku memeriksa CCTV dan menjaga Kirana? Sudah pasti Kirana akan selalu aku jaga.


Apakah ini ada campur tangan dari Harsa?


 


***


 


*Kuret atau Kuretase adalah prosedur untuk mengeluarkan jaringan di dalam rahim.


*brankar adalah tempat tidur rumah sakit.


 

__ADS_1


__ADS_2