Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 79 Alexa atau Kirana


__ADS_3

Aku dan Alexa melihat ke tengah danau yang kini menyisakan gelembung di permukaan air tempat mobil hitam itu tenggelam.


Tak perlu pikir panjang, aku melepaskan sepatu dan juga jas yang aku pakai. Tepat saat itu juga, mobil Kak Alan dan Mirza berhenti. Mereka berlari ke arah kami berdua dengan wajah yang pias.


Kak Alan membuka mulut berniat berbicara sesuatu padaku, namun aku langsung menceburkan diri ke danau dan detik berikutnya, Alexa juga ikut terjun menyusulku.


"Alexa, apa yang kamu lakukan? Kembali, Alexa! Alexa!"


Suara Kak Alan yang berteriak mencemaskan Alexa masih terdengar sebelum akhirnya kami berdua menyelam ke dalam danau. Aku melihat mobil itu bergerak turun, dan sosok Harsa keluar melalui jendela mobil yang terbuka.


Tentulah Harsa tidak akan tinggal diam ketika kami berdua berusaha menyelamatkan Kirana yang terikat di dalam mobil sana. Dia menghadang kami sambil tersenyum penuh arti. Lalu Alexa berenang mendahuluiku, menerjang Harsa dan mencekik lehernya.


Namun, kekuatan Alexa tidak bisa menandingi Harsa yang juga membalas cekikannya. Di dalam air, Alexa meronta agar bisa lepas dari jeratan Harsa. Beberapa gelembung udara keluar melalui mulutnya, dan aku tidak bisa diam saja melihat Harsa mencelakai istriku.


Dari arah belakang, kulingkarkan lenganku ke leher Harsa dan menekannya dengan kekuatan penuh. Tapi semakin aku menekan leher Harsa, semakin kuat pula cekikan tangan Harsa di leher Alexa. Kemudian, tangan Alexa terjulur menepuk tanganku.


Aku menoleh pada Alexa yang di dalam air wajahnya terlihat jelas menahan rasa sakit. Dia menunjuk dengan tangannya ke mobil Harsa yang kini sudah berada di dasar danau.


Aku tahu Alexa memberi isyarat agar aku segera menyelamatkan Kirana yang terjebak di mobil. Namun, aku juga tidak bisa meninggalkan Alexa begitu saja.


Di tengah kebimbanganku itu, aku menatap Alexa dan sosok Kirana di dalam mobil secara bergantian. Alexa terlihat jelas mulai kehabisan napas, dan aku pun mencemaskan Kirana yang masih dalam keadaan terikat.


Alexa atau Kirana.


Mana yang harus aku selamatkan terlebih dahulu?


Sejenak, aku serasa mendengar suara Kak Alan dari kejauhan. Suara saat dia memberikan aku pilihan.


"Sekarang kau hanya punya dua pilihan, Balin. Alexa atau Kirana?"


Aku berenang naik ke permukaan untuk mengambil napas sejenak. Kemudian kembali menyelam menghampiri Alexa dan Harsa. Aku mencolok ke dua mata Harsa yang langsung kesakitan dan melepaskan tangannya dari leher Alexa.


Segera aku menarik tubuh Alexa. Lalu mencium bibir istriku untuk memberikannya udara agar dia bisa bertahan sedikit lebih lama. Namun, Harsa menyerangku dari belakang.

__ADS_1


Kini keadaan terbalik, Harsa yang mencekik dan membekap mulutku agar aku kehabisan napas.


Aku bergulat dengan Harsa di dalam air selama Alexa mencoba menyelamatkan Kirana. Menahan lengan Harsa agar dia tidak pergi. Tidak akan kubiarkan Harsa menghalangi Alexa yang berusaha melepas tali yang mengikat Kirana.


Dadaku mulai sesak karena Harsa sepertinya sangat bersungguh-sungguh ingin membuat aku mati. Perlahan badanku melemah dan air masuk melalui hidungku.


Biarkan aku yang saja yang mati. Asalkan kalian berdua selamat. Batinku sambil melihat punggung Alexa yang belum juga berhasil membawa Kirana.


Kemudian, aku melihat ada sosok orang yang menarik Alexa ke atas.


Orang itu adalah Kak Alan. Aku tahu, rasa sayang Kak Alan pada adiknya menjadikan dia sangat protektif. Sekali pun Alexa sedang menolong Kirana.


Sejenak aku merasa kecewa dengan sikap Kak Alan yang menarik Alexa ke atas dan meninggalkan Kirana, tapi begitu aku melihat Mirza menggantikan posisi Alexa, aku paham bahwa mereka juga tengah berusaha menyelamatkan Alexa dan juga Kirana.


Tak lama setelah Mirza membawa tubuh Kirana yang lemah, ada seseorang yang juga menarik tubuhku dan juga Harsa.


***


Beberapa hari kemudian, di rumah sakit Harapan,


Aku, Kak Alan, dan dokter itu sama-sama menatap tubuh Harsa yang kini terbaring di tempat tidur rumah sakit. Kak Alan menyilangkan tangan di depan dada, sedangkan aku mengepal tangan yang kusembunyikan ke dalam saku celana.


"Itulah yang menyebabkan pasien memiliki kurangnya rasa empati dan cenderung melakukan tindakan kriminal," sang dokter melanjutkan penjelasannya.


Perlahan kelopak mata Harsa membuka, menoleh ke padaku, dan lalu menyeringai. Dia menegakkan kepalanya, berniat bangun dari tempat tidur, namun borgol di tangan dan kaki menghalanginya.


Para petugas medis terpaksa mengikat kaki dan tangan Harsa serta memberikannya suntikan penenang, karena dia selalu memberontak dan berusaha kabur dari rumah sakit.


Harsa tertawa melihatku yang diam tak berekspresi.


"Wah, Balin. Aku sangat terharu kamu datang menemuiku," ucap Harsa diiringi tawa yang dingin.


Aku tetap diam membisu.

__ADS_1


"Aku dengar, anak itu mati?"


Harsa menampilkan wajah yang terkejut, sekaligus senang. Sementara aku semakin tersulut amarah begitu Harsa mengucapkan kata 'mati' dengan sangat santai.


Aku maju satu langkah mendekatinya. Jika tidak ada dokter di ruangan, pasti sudah aku tinju mulut itu.


"Semua ini gara-gara kamu, Harsa," aku berseru dengan suara yang parau.


Harsa sendiri malah tertawa, menghela napas lega dan kemudian membaringkan badannya ke tempat tidur. Seolah apa yang menjadi tujuannya telah tercapai dan dia ingin kembali tidur.


Sambil mata yang terpejam, dia terus bergumam menyatakan betapa bahagianya dia dapat menghabisi nyawa anak kecil.


Tak berselang lama, Harsa kembali membuka mata. Dia berbicara pada langit-langit rumah sakit.


"Mesikpun aku tidak mendapatkan apa yang menjadi impianku, setidaknya aku bisa tenang mengetahui anak itu sudah mati."


Secepat kilat, Harsa menoleh padaku. Tersenyum lebar memamerkan deretan giginya.


"Aku sudah bilang kan, Balin. Aku akan membunuh Kirana tepat di hadapanmu. Dan sudah aku lakukan itu."


Kini kemarahanku telah memuncak dan aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Aku maju menghujani Harsa dengan pukulan, yang berhenti ketika dokter dan Kak Alan menarikku.


Pukulan dariku tidak membuat Harsa kesakitan. Gelak tawanya malah semakin menggelegar.


Kak Alan membawaku keluar ruangan yang sudah ada Mirza menunggu di koridor.


Mirza datang untuk memberitahu kalau Alexa sudah sadarkan diri, dia ditemani Kak Lily dan juga Kak Alea di ruangannya. Namun, terus menanyakan keberadaanku dan Kirana.


"Sudah, Balin. Lebih baik kita sekarang fokus pada kondisi Alexa," ucap Kak Alan yang mencoba menenangkan aku.


Kami melangkahkan kaki meninggalkan pintu ruangan Harsa di rawat, dan sayup-sayup terdengar suara teriakan kesenangan Harsa dari dalam.


"Anak itu mati... Anak itu mati..."

__ADS_1


Lengan Mirza dan Kak Alan menguatkan aku agar terus berjalan, tidak perlu memedulikan perkataan Harsa.


__ADS_2