
“Ada yang lihat jas milikku tidak?” tanya Kak Mirza kebingungan toleh kanan toleh kiri, lalu menggaruk kepalanya.
Pesta sudah berakhir tapi hujan di luar belum. Bahkan kini hujan tengah berada di puncak acara berduet dengan kilat yang menyambar.
Jadi, semua orang termasuk ayah, ibu, Rama dan kakak-kakaknya Alexa akan menginap di rumahku. Untung saja, di rumah ini memiliki banyak kamar tidur.
Namun, saat sebagian orang masuk ke kamarnya masing-masing, hanya Kak Mirza yang kebingungan mencari jasnya.
“Tadi bukannya dilepas waktu Kakak baru datang kan?” tanya Alexa yang ikut mencari.
“Iya, tapi kok tidak ada ya?”
“Mungkin dibawa sama pelayan rumah untuk dicuci besok hari,” kataku mengira-ngira.
“Oh, kalau begitu besok saja aku cari lagi,” Kak Mirza menguap. “Sekarang aku mengantuk.”
Kami semua meninggalkan ruang tengah. Hanya aku dan Alexa yang menaiki tangga karena semua kamar tamu berada di lantai bawah. Kami menyempatkan untuk mengetuk pintu Kirana.
Tidak ada sahutan dari Kirana. Aku dan Alexa saling bertatapan cemas.
Kini giliran aku yang mengetuk dan memutar gagang pintu. Pintu terbuka memperlihatkan kamar yang gelap.
“Kirana, kamu sudah tidur?” tanya Alexa yang masih berdiri di ambang pintu, namun matanya menelisik ke sosok yang terbungkus selimut.
Tidak ada jawaban dan tidak ada pergerakan di atas tempat tidur sana. Sehingga perlahan aku menutup kembali pintu.
Alexa mendesah sedih.
“Kita coba kasih pengertian lagi pada Kirana. Aku yakin lama-kelamaan dia pasti akan menerima adiknya,” aku merangkul Alexa sambil menuntunnya ke kamar utama.
***
Seorang pria berjalan perlahan melintasi ruangan bekas pesta diadakan. Ruangan gelap namun masih terasa hangat dan bau keringat. Lalu langkah kaki pria itu menuju ke tangga. Berjongkok di anak tangga paling atas.
Pria itu menancapkan paku ke railing tangga dan memalu dengan hati-hati. Dia sempat melihat sekitar. Takut ada orang yang lewat atau terbangun akibat ulahnya.
Napas pria itu terdengar di kesunyian. Tampaknya semua penghuni rumah sudah berada di alam mimpi yang indah.
Lalu dia memalu paku lagi di dinding, dan menyambungkan dua paku yang telah tertancap kuat menggunakan tali transparan, tipis namun kuat.
Pria itu memetik tali yang kini melintas di anak tangga, layaknya sedang memetik gawai gitar. Memastikan tali itu terikat kencang.
Sang pria misterius itu menyeringai, memandangi tali yang nampak tak terlihat di tangga yang sedikit remang. Tidak lupa juga dia tinggalkan bola kasti di bawah tangga.
Setalah itu, perlahan pria itu melangkah menuju area kolam renang.
__ADS_1
***
“Balin,” kata Alexa di sela-sela kami tengah berciuman.
“Apa? Posisimu tidak nyaman?”
Alexa menggeleng.
“Aku mau minum.”
“Biar aku yang ambil,” kataku yang menyibak selimut dan mencari-cari pakaian.
“Tidak usah. Aku saja yang ke dapur. Aku mau sekalian buat rujak,” kata Alexa bangun dan mengambil baju yang sudah terlempar jauh di kolong kursi.
“Malam-malam begini kamu mau makan rujak?” tanyaku mengerutkan dahi.
Tidak habis pikir dengan Alexa yang sering makan di tengah malam, dan tidak mau makan masakan koki rumah.
Harus dia sendiri yang buat.
“Aku saja yang buat rujak. Kamu cukup tidur dan nanti akan aku antar ke kamar.”
Alexa tidak mendengarkan aku. Dia tetap memakai bajunya.
“Kemarin kamu buat rujak tapi rasanya malah pahit,” Alexa memajukan bibir.
Alexa mendorongku hingga aku terbaring ke atas tempat tidur. Kemudian kami mengulang adegan yang baru saja terjadi.
Alexa tahu saja apa yang selalu menjadi bahan sogokanku. Lalu aku pun mengizinkan dia ke dapur. Dia memakai bajunya kembali, yang dilapisi kardigan tebal.
Aku memanggil Alexa saat dia ada di depan pintu, Alexa menoleh dengan tatapan bertanya-tanya.
Entah kenapa aku merasa berat hati saat dia harus pergi. Padahal hanya pergi ke dapur.
“Hati-hati di jalan,” kataku.
“Aku kan cuma ke dapur, Balin,” Alexa terkekeh pelan.
“Iya, tapi hati-hati. Siapa tahu kamu ketemu kecoak saat ke dapur.”
Alexa terkekeh, lalu menghilang karena pintu ditutup olehnya.
Begitu Alexa keluar, mataku berusaha mencari baju yang tadi lupa aku lempar ke mana.
Dan akhirnya aku temukan di lantai tak jauh dari meja rias.
Tak lama, seketika badanku membeku, dan merinding saat mendengar jeritan panjang yang dibarengi dengan suara benda jatuh.
Mataku membelalak sempurna mengetahui siapa orang yang menjerit tadi.
__ADS_1
“Alexa,” kataku tercekat.
Aku lari secepat kilat keluar dari kamar. Begitu berdiri di anak tangga paling atas. Wajahku pucat dan gemetar, serasa ada yang meremukkan jantung dari dalam saat aku lihat Alexa tergeletak di bawah tangga.
Semua orang juga sepertinya mendengar teriakan Alexa. Mereka berhamburan lari ke luar dengan muka setengah mengantuk dan rambut acak-acakan. Namun, langsung tersadar sepenuhnya begitu melihat tubuh Alexa.
Bukan hanya penghuni rumah utama saja yang mengerumuni Alexa dan aku, tapi para pelayan yang ada di rumah belakang juga keluar untuk mengetahui apa yang telah terjadi.
“Alexa... Alexa, bangun, Sayang,” aku mengguncangkan bahu Alexa.
“Balin, ada apa dengan Alexa?” tanya Ibu yang panik.
Aku menggeleng sambil menahan tangis. Namun, Kak Alan menunduk mengambil bola yang tergeletak tak jauh dari kaki Alexa.
Dia mengamati bola itu, dan melayangkan tatapan sinis padaku.
“Ini bola milik anakmu, bukan?” tanya Kak Alan dingin.
“Iya, itu bola yang dipegang Kirana selama acara pesta,” Nick mencondongkan tubuhnya untuk mengamati bola yang ada di tangan Kak Alan.
“Dia yang membuat Alexa terjatuh,” Kak Alan menyimpulkan.
Aku menggeleng kuat. Masih terduduk di lantai dengan kepala Alexa di pangkuanku. Tak bisa menahan tangis, aku berteriak sebagai pelampiasan.
“Tidak mungkin. Bukan Kirana yang melakukannya,” aku membantah.
“Di mana anak itu sekarang?” tanya Kak Alan geram.
“Kak Alan, sabar dulu Kak,” Mirza maju menghalangi Kak Alan yang hendak ke atas.
Kak Lily juga menahan suaminya itu yang darahnya sudah mendidih. Di saat semua perhatian terpusat pada Kak Alan yang mengamuk, Kak Alea berteriak ngeri.
“Balin, lihat! Alexa pedarahan!”
Serempak semua orang melempar pandangan ke arah yang ditunjuk Kak Alea dan terdiam membeku. Terlebih aku yang seolah duniaku runtuh.
Aku segera menggendong. Tanpa pikir panjang berlari menuju garansi.
Kak Alan mengikuti langkahku, dan Juan berlari lebih dulu untuk membukakan pintu mobil.
“Aku yang akan menyetir,” kata Kak Alan duduk di kursi pengemudi.
Disusul oleh Kak Lily yang duduk di kursi samping suaminya dan aku yang ada di kursi belakang memeluk Alexa erat.
Selama perjalanan ke rumah sakit, aku membangunkan Alexa. Namun, mata indah itu tidak kunjung membuka.
“Kak, cepat sedikit!” bentakku pada Kak Alan yang langsung dibalas dengan lirikan setajam silet.
Aku terserang kepanikan yang luar biasa. Membisikan doa selamat di telinga wanita yang aku cintai. Bayangan saat menemani Karina melahirkan menyusup masuk ke dalam benakku.
“Ini belum saatnya. Ini belum saatnya kamu melahirkan. Aku mohon, Alexa. Bertahanlah. Jaga anak kita.”
__ADS_1