
Satu tahun kemudian,
“Juan, semua perlengkapan sudah masuk mobil? ”
“Hanya tinggal keperluan Nyonya Alexa yang belum masuk, Tuan.”
“Kalau begitu cepat!”
“Baik, Tuan.”
Juan bergegas meninggalkan tuannya yang sedang gelisah menanti kelahiran sangat buah hati.
Lima belas menit yang lalu, semua orang di rumah besar itu terbangunkan dari mimpi indah mereka akibat keributan sang empunya rumah yang mendapati istrinya mengalami kontraksi.
Selepas kepergian Juan, sang kepala pelayan, muncul anak perempuan yang masih memakai piama dibalut oleh jaket hangat.
“Papa, aku boleh ikut ke rumah sakit kan?”
“Kirana yakin mau ikut?” Balin balik bertanya sambil melirik jam tangan yang menunjukkan tepat tengah malam.
“Sebaiknya Kirana kembali tidur saja, oke?”
Kirana menggeleng kepalanya.
“No, Papa. Aku mau ikut,” rengek Kirana menghentikan kaki.
Balin menghela napas tidak mau ambil pusing, dia lalu mengizinkan putrinya untuk ikut ke rumah sakit.
Gadis kecil itu kegirangan. Takut jika nanti dirinya ditinggal, Kirana langsung berlari ke dalam mobil.
Tak lama muncul lagi Rama yang menguap lebar, dan dua tangannya menggandeng tas berisi camilan.
“Kak, aku ikut juga ya?”
Balin melirik isi tas yang dibawa Rama.
“Kamu pikir, kita hendak tamasya, hah? Alexa mau melahirkan. Untuk apa kamu bawa camilan sebanyak itu,” ucap Balin dengan nada yang sinis.
__ADS_1
Kekhawatirannya akan persalinan sang istri membuat dia mudah naik darah.
Akan tetapi, Rama yang sudah kebal dengan kemarahan kakaknya hanya bisa melingkarkan kedua bola mata.
“Kalau malam hari, aku sering kelaparan, Kak.”
“Ya sudah sana. Bawa mobil sendiri!”
Rama pergi dengan senyum yang semringah.
Tak sampai satu menit, datanglah ibu dan ayah Balin. Mereka juga akan menemani ke rumah sakit, dan masuk satu mobil dengan Rama.
Di saat Balin gelisah mondar-mandir di depan rumah, Juan menghampiri dan melaporkan semua perlengkapan sudah siap.
“Kamu yakin tidak ada yang ketinggalan?” tanya Balin memastikan.
“Yakin, Tuan.”
“Baik, kalau begitu ayo kita pergi, Alexa. Alexa? Alexa? Di mana kau, Sayang?”
Saking gelisah dan perasannya yang campur aduk, Balin baru menyadari kalau istrinya tak ada di dekatnya.
Balin menghela napas dan mendekati istrinya.
“Sayang, kenapa kamu jalan mondar-mandir seperti setrika rusak? Kamu bilang perutmu sakit, harusnya kamu duduk diam.”
Alexa berdecak kesal.
“Balin, berjalan santai meski sudah terasa kontraksi akan mempermudah proses persalinan, tahu.”
“Iya, tapi kapan kita akan sampai rumah sakit jika kamu mondar-mandir seperti itu terus.”
“Iya juga ya?” cicit Alexa. “Kalau begitu, ayo kita jalan.”
“Tunggu, Tuan!” ucapan Juan menghentikan langkah Alexa dan Balin.
Serempak mereka menoleh pada sang kepala pelayan yang selama ini setia melayani keluarga mereka.
__ADS_1
“Apa boleh aku ikut? Aku yang akan menyetir mobil.”
“Ya, ya, ya. Boleh. Kalau perlu seluruh pelayan di rumah yang mau ikut ke rumah sakit, ikut saja,” kata Balin yang segera berlalu naik ke dalam mobil bersama sang istri.
Ucapan yang dilontarkan asal-asalan oleh Balin, rupanya dianggap serius oleh seluruh pelayan rumah. Mereka kegirangan mendapat izin untuk menemani ke rumah sakit.
Pasalnya, beberapa bulan yang lalu, mereka sempat melihat foto hasil USG 4D yang dapat menampilkan wajah sang bayi meski masih di dalam kandungan.
Dan tampaknya bayi dari majikan mereka akan mewarisi ketampanan sang ayah.
Mereka tidak sabar melihat wajah lucu nan tampan versi Balin Junior. Lalu bergegas naik ke dalam mobil yang masih tersisa di bagasi dan menyusul mobil tuannya.
Iringan mobil yang menuju ke rumah sakit itu sudah layaknya iringan kunjungan presiden yang memadati jalanan malam.
Sementara itu, di dalam mobil paling depan dari iringan itu, Alexa dipeluk oleh dua orang di sisi kanan dan kirinya. Balin di sisi kanan dan Kirana di sisi kiri.
“Sayang, atur napasmu!” ucap Balin yang cemas akan istrinya itu.
“Adik bayi, sabar sebentar ya? Kita sedikit lagi sampai ke rumah sakit,” kata Kirana pada perut besar Alexa.
Kirana baru berusia lima tahun, namun sikap dewasanya sudah selayaknya seorang calon kakak yang baik.
Mendengar ucapan Kirana, Alexa tersenyum dan mengelus rambut gadis kecil itu. Tapi senyumnya itu hilang, diganti oleh suara rintih kesakitan.
Balin cemas seketika, dan menyuruh Juan untuk mempercepat laju kendaraan.
“Adik bayi, jangan buat Mama kesakitan ya?”
“Betul itu,” Balin ikut menimpali.
Dia mengacungkan jari telunjuk ke perut Alexa seolah sedang memberi peringatan kepada anak yang ada di dalam kandungan.
“Begitu lahir, kalian akan mendapat hukuman dari Papa jika berani menyakiti Mama kalian.”
Alexa langsung menjewer telinga Balin yang membuat suaminya itu menjerit kesakitan.
“Aw, Sayang. Telinga aku sakit.”
__ADS_1
“Balin, mereka itu anakmu.”