Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 59 Keluarga Asher


__ADS_3

Aku turun dari mobil yang diikuti juga oleh Alexa. Dia menghampiriku, merapikan kerah jasku, dan seperti biasa, kebiasaan yang paling disukainya yaitu, meletakan telapak tangan di pipiku.


“Kamu sudah siap?”


Aku mengangguk mantap.


Kemudian Alexa menuntunku masuk ke dalam rumah megah yang seluruh bangunannya dicat warna putih. Benakku jadi bertanya-tanya, kedua orang tuannya Alexa sudah meninggal lama sekali. Jadi ini rumah siapa?


Mungkinkah ini rumah kakaknya? Tapi kakak yang mana? Mengingat Alexa mempunyai tiga orang kakak.


Aku berhenti melangkah, dan menahan tangan Alexa.


“Alexa, aku mau tanya sebenarnya ini rumah siapa?”


“Ini rumah ayahku. Tapi sejak kedua orang tuaku meninggal, kami anak-anaknya hanya memakai rumah ini untuk pertemuan keluarga saja. Ayo, kita sudah di tunggu.”


Alexa menarik tanganku lagi dengan tidak sabar. Selama berjalan menelusuri rumah, pandanganku berkeliling meneliti setiap sudut.


Aku bayangkan dulu Alexa kecil bermain di rumah ini bersama ketiga kakaknya.


Kemudian kami naik ke sebuah tangga, dan aku menemukan sebuah foto berbingkai besar tergantung di dinding dekat tangga. Aku berhenti sejenak untuk meneliti orang-orang yang ada di foto itu.


Sebuah foto keluarga yang menampilkan sepasang suami istri dengan dua remaja kembar tapi berbeda jenis kelamin, satu anak perempuan kecil dan ada satu balita perempuan yang tengah di gendong oleh sang ibu. Mereka serempak memakai baju berwarna putih.


“Ini foto kedua orang tuamu?”


“Iya,” sahut Alexa.


“Dan aku berani taruhan pasti ini kamu,” kataku sambil menunjuk sosok balita di dalam foto.


“Iya. Nanti saja kita lihat fotonya. Sekarang, kita harus bertemu dengan Kak Alan. Aku takut kalau kita terlambat, akan berpengaruh ke penilaianmu.”


“Penilaian?” ulangku yang pasrah badannya di geret oleh Alexa. “Penilaian apa? Memang aku sedang ujian.”


Alexa berdecak, “Kamu belum tahu, Balin. Kak Alan itu sangat selektif dalam menentukan pendamping hidup adik-adiknya.”


Kami berdua terhenti di sebuah pintu kayu dengan ukiran cukup rumit. Aku lihat napas Alexa yang terengah-engah. Dia menggigit bibir bawahnya agar meredakan rasa tegangnya.


Sekali lagi dia merapikan pakaianku. Menarik napas panjang, dan mengulurkan tangannya. Aku menerima uluran tangan Alexa. Semua anggota keluarga Alexa telah menunggu kami di balik pintu itu.


Tapi saat itu juga, aku baru teringat sesuatu.

__ADS_1


“Alexa, tunggu!” aku mencegah Alexa masuk.


“Nama kamu Alexa Salma. Apakah Salma itu nama keluargamu?”


Alexa menggeleng, “Bukan. Nama keluargaku Asher.”


Aku terkesiap dan seketika itu membeku.


“Apa? Kenapa kamu tidak bilang dari dulu?” aku memprotes.


“Memangnya penting?”


“Asher itu kan...”


Aku tak dapat melanjutkan ucapan karena Alexa menekan jari telunjuknya ke bibirku. Meminta agar aku diam, tak lagi banyak bicara.


“Aku lebih suka nama keluargaku Mahendra. Alexa Salma Mahendra. Lebih bagus bukan? Ayo cepat kita masuk!”


Masalahnya aku baru tahu kalau Alexa adalah anggota keluarga Asher. Salah satu jajaran keluarga konglomerat setara keluarga Irawan.


Jantungku berdegup kencang secara tiba-tiba. Keringat dingin langsung membasahi keningku. Kalau tahu begitu, aku menyesal sudah menanyakan nama keluarga Alexa.


Alexa membuka pintu itu, kami berdua melangkahkan kaki masuk, dan disambut oleh tatapan tajam dari lima orang yang berpakaian sangat mewah.


“Hai, Kak Alan, kita tidak terlambat kan?” kata Alexa pada sosok pria berewok.


Alexa memeluk tubuh pria itu yang dibalas juga oleh sang kakak. Kak Alan tersenyum dan mengelus rambut Alexa.


“Mulai sekarang kamu harus berhenti memeluk kakak kamu seperti tadi itu,” ucap seorang wanita cantik nan tinggi di samping Kak Alan.


“Kenapa, Kak Lily?”


“Nanti calon suamimu cemburu,” jawab wanita itu seraya melirikku.


“Itu pun kalau dia berhasil lolos dari penilaianku, Sayang,” Kak Alan menimpali dengan melayangkan sorot mata menghunus ke arahku.


Mendengar kata sayang, aku bisa menyimpulkan wanita tinggi yang dipanggil oleh Alexa, Kak Lily ini pastilah istri dari Kak Alan.


“Perkenalkan saya Balin Mahendra, kekasihnya Alexa.”


Aku maju satu langkah mendekati Kak Alan, mengulurkan tangan bermaksud untuk berjabatan. Selama beberapa waktu yang lama, tanganku hanya menggantung di udara, karena Alan tidak menyambut uluran tanganku.

__ADS_1


Dari ujung mataku aku melihat Alexa menelan salivanya dengan kasar. Tatapannya tidak beralih selain kepadaku dan Kak Alan.


Namun, akhirnya Kak Alan menjabat tanganku. Bukan menjabat. Lebih tepatnya, meremas tanganku. Jadi aku pun membalas dengan meremas tangan berotot itu lebih keras lagi.


“Alan,” katanya singkat.


Aku meneliti wajah orang yang akan menjadi kakak iparku ini. Sejenak aku seperti melihat Alexa namun dalam versi laki-laki dengan berewok lebat.


Kemudian, Alexa bergantian memperkenalkan kakaknya. Ada Kak Lily, wanita tinggi dan ramah tidak seperti suaminya.


“Dan ini Kak Nickolas, suami dari mendiang kakak Alana, saudari kembar Kak Alan.”


Alexa beralih ke seorang pria berkumis dan memakai kacamata kotak. Dia mengulurkan tangan kirinya yang membuat aku terheran. Namun, secepat kilat dia mengulurkan tangan kanannya.


“Biar terdengar akrab panggil saja Nick. Maaf aku sering kelupaan kalau aku ini kidal.”


“Tidak masalah, Nick,” kataku menyambut jabatan tangan kakak ipar Alexa.


Kemudian Alexa berpindah ke pasangan suami istri Alea dan Mirza yang kelihatannya sangat harmonis. Dari kelima kakak Alexa, menurutku hanya Kak Alan saja yang bermuka garang.


Aku dan Alexa duduk berdampingan di sofa menghadap Kak Alan yang berdiri memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.


“Jadi, kamu ingin menikahi Alexa minggu depan?” tanya Kak Alan.


“Iya, Kak Alan. Kita sepakat tidak ada acara pertunangan. Langsung saja ke pernikahan,” ucapku dengan suara yang mantap.


“Tapi kenapa harus minggu depan? Kenapa mendadak sekali? Atau jangan-jangan Alexa sudah hamil di luar nikah?”


Bola mata Kak Alan langsung tertuju pada perut Alexa.


Alexa sendiri yang merasa menjadi pusat perhatian semua kakaknya, dengan cepat menyilangkan tangan di depan perut.


“Kak Alan,” pekik Alexa. “Kami tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Balin pria yang sangat menjaga aku. Maka dari itu, dia ingin segera menikah denganku, Kak.”


“Baguslah kalau begitu.”


Kak Alan memintaku berdiri. Dia meneliti aku dari ujung kaki hingga ke kepala. Terus menatap sambil berjalan mengelilingi aku. Layaknya aku ini sebuah objek penelitian.


Sedangkan, Nick dan Mirza saling lirik dan mengulum senyum. Sepertinya mereka sedang mengingat kejadian yang sama saat mereka melamar adik perempuan Kak Alan.


“Balin Mahendra,” ucap Kak Alan dengan suara baritonnya. “Asal kamu tahu saja, Alexa adalah putri kesayangan mendiang ayah kami. Setelah orang tua kami meninggal, aku yang memikul tanggung jawab untuk menjaga dan memastikan kebahagiaan adik-adikku.”

__ADS_1


Kak Alan berhenti di depanku. Sejak tadi sorot mata tajamnya itu tak pernah redup.


“Jika kamu menikah dengan Alexa, artinya tanggung jawab itu berpindah ke pundakmu. Apakah kamu sanggup membahagiakan Alexa? Menjaga dia dan memastikan dia tidak kurang suatu apa pun?”


__ADS_2