
Aku melajukan mobil dengan kecepatan penuh. Membelah keramaian di jalanan yang padat. Menyalip kendaraan dan menekan klakson dengan tidak sabar.
Tanganku menggenggam erat stir mobil, hingga buku-buku jariku memutih. Sekali lagi aku meninju kemudi, berteriak melepas emosi yang berkecamuk dalam diriku.
Kemudian, mobilku berdecit saat berhenti di depan rumah kontrakanku. Aku berlari menuju rumah, dan mendobrak pintu.
Rama yang sedang menemani Kirana bermain kereta api terlonjak kaget. Dia menoleh sambil mengelus dada.
“Kak Balin, ada apa sih? Kaget tahu!”
“Segera kemasi barangmu, Rama! Kita pindah sekarang juga!” ujarku dengan suara bergetar karena amarah.
“Apa? Pindah? Pindah kemana? Dan kenapa harus pindah? Kita kan sudah bayar kontrakan ini untuk satu tahun ke depan,” ucap Rama yang kebingungan akan sikapku.
Rama mengikutiku masuk ke dalam kamar. Sedangkan aku yang gemetar hebat mengeluarkan koper dari dalam lemari, mengambil beberapa helai pakaianku dan juga Kirana.
“Tidak usah banyak tanya. Cepat berkemas sekarang juga!” tegasku.
“Aku tidak mau. Mengemasi barang-barang kita yang sebanyak ini dalam satu hari? Aku tidak mau!”
“Terserah!” kataku kembali meneruskan mengemasi barang ke dalam koper.
“Kak, sebenarnya ada apa sih? Kenapa Kakak tiba-tiba mengajak pindah? Atau Kakak sakit hati karena Kak Alexa menolak cinta Kakak?”
Aku menoleh cepat pada adikku, menatapnya dengan sorot mata tajam ketika dia menyebut nama Alexa.
“Dia mata-mata Harsa. Dia yang selama ini memantau gerak-gerik kita dan melaporkannya ke Harsa. Bahkan dia melakukan tes DNA pada Kirana tanpa sepengetahuanku,” seruku semakin menjadi.
Aku pikir Rama juga akan tersulut emosi, tapi nyatanya dia tetap diam dan tenang. Bahkan tangannya menahan lenganku.
“Tidak mungkin Kak Alexa berbuat seperti itu,” bantah Rama.
“Kamu tidak percaya? Aku melihat sendiri, Ram. Aku melihat sendiri dia berbicara pada Harsa si keparat itu. Selama ini Alexa tahu kalau Kirana bukanlah anakku. Dia lebih mempercayai Harsa yang sudah memfitnahku berselingkuh dengan Karina.”
“Tapi, Kak... “
Aku menghiraukan ucapan Rama, aku melanjutkan memasukan mainan dan juga keperluan Kirana yang lain.
Di tengah kerusuhanku, Kirana ternyata sudah berdiri di depan pintu kamarku. Matanya yang bulat menatap bingung padaku.
“Papa,” kata Kirana.
Aku segera menghampiri Kirana, berjongkok untuk menyejajarkan pandanganku padanya, lalu memeluk tubuh kecil Kirana. Menghujaninya dengan kecupan hangat.
“Kirana mau pergi sama Papa? Kita pergi dari sini, oke?”
__ADS_1
“Kakak mau bawa Kirana ke mana?”
Aku tak menyahut, aku mengangkat tubuh Kirana dan meraih koper. Melangkahkan kaki keluar rumah sambil mengabaikan Rama yang terus memanggilku.
Saat aku membuka pintu mobil untuk Kirana, seketika aku tersentak karena melihat buket bunga mawar yang seharusnya aku berikan pada Alexa masih berada di dalam mobil.
Aku langsung membuang buket bunga itu ke tanah, menginjak-injaknya hingga hancur.
Tepat sekali, wanita yang seharusnya menerima bunga mawar itu turun dari taksi. Dia langsung berlari menghampiriku. Bersamaan dengan Rama yang datang ke dari dalam rumah.
“Balin, kamu mau ke mana?” tanya Alexa cemas.
“Kak, ayo kita bicarakan ini dengan kepala dingin. Aku yakin Kak Alexa hanya salah paham dengan Kakak,” kata Rama memelas seraya menahan lenganku.
Aku mendengus kesal, “Kamu lebih membela dia daripada Kakak kamu sendiri? Padahal wanita inilah yang sudah memanfaatkanmu, Rama.”
“Balin, sekali lagi aku minta maaf, dan tolong beri aku kesempatan satu kali lagi untuk memperbaiki semuanya,” Alexa meraih tanganku dan menggenggamnya, memohon permintaan maaf dariku.
Aku menarik tanganku agar terlepas dari genggaman Alexa.
“Sudah terlambat. Aku sudah terlanjur kecewa padamu, Alexa.”
“Kak Alexa ditipu oleh Harsa, Kak. Dia tidak sepenuhnya salah, kan?”
Aku membuka mulut untuk berbicara tapi terhenti karena Kirana mulai merengek. Sepertinya dia juga ikut merasakan kegelisahan melihat aku, Rama, dan juga Alexa bertengkar.
“Balin, Kirana menangis,” ujar Alexa maju satu langkah hendak menerima uluran tangan Kirana.
Akan tetapi aku lebih dulu mendorong badan Alexa hingga dia jatuh terduduk di tanah.
“Aku sudah peringatkan padamu untuk jangan menyentuh Kirana-ku lagi.”
Aku segera berjalan memutari mobil, dan masuk ke kursi pengemudi. Melajukan mobil meninggalkan halaman rumah.
Dari kaca spion, aku melihat Rama membantu Alexa berdiri.
Aku masuk ke kamar hotel sambil menggendong Kirana dan satu tangan lagi menyeret koper. Pandanganku menyapu ke sekeliling ruangan.
Satu tempat tidur yang menghadap langsung ke jendela besar berlapis kaca, satu sofa panjang dan televisi di salah satu sudut ruangan dan ada kamar mandi yang tergolong sempit namun bersih.
Minimalis. Itulah satu kata yang tepat untuk menggambarkan kamar hotel yang aku pesan ini.
__ADS_1
Aku membaringkan Kirana di tempat tidur. Dia masih sesenggukan setelah menangis. Kemudian, saat aku membuka jaket, aku menyadari ada satu benda kecil yang terjatuh.
Benda itu adalah kotak berisi cincin yang hendak aku pakai untuk melamar Alexa.
Aku memungut kotak berwarna merah itu, membukanya dan mengamati cincin indah yang tersemat di dalamnya.
“Andai saja, bukan kamu orang yang menjadi kaki tangan Harsa, cincin ini pasti sudah berada di jari manismu, Alexa,”
Aku menutup kotak merah itu, dengan geram melemparkannya ke dinding dan memantul entah ke mana.
Setalah aku dapat mengatur napasku, aku kembali lagi kepada Kirana yang terbaring sambil menangis. Aku menyeka pipinya yang basah, membelai lembut rambut Kirana, dan mengecup keningnya.
Lengan Kirana dingin, jadi aku berinisiatif mengambil baju hangat di dalam koper. Namun, setelah membongkar semua isi koper, aku hanya membawa satu baju hangatnya Kirana. Sweater hadiah dari Alexa.
Kenapa hanya sweater ini yang terbawa?
Apa boleh buat. Aku memakaikan Kirana sweater itu.
“Untuk sementara waktu, kita liburan dulu berdua. Hanya ada Papa dan Kirana,” kataku membelai rambut hitam bayi kecilku.
Aku meletakan ponselku di atas tempat tidur, sementara aku memesan makan siang untukku dan Kirana. Tidak lupa juga air hangat agar aku bisa membuatkan susu untuk Kirana.
Lalu aku kembali lagi ke tempat tidur. Di sana Kirana sudah duduk dengan tangannya menunjuk foto yang terpampang di layar handphone.
Aku baru ingat, kalau foto layar kunci di ponselku menggunakan foto Kirana dan Alexa saat berlibur ke pantai.
Kirana menunjuk foto itu dan berkata, “Mama.”
Kemudian sorot mata Kirana beralih padaku, menatapku dengan ekspresi meminta kasih sayang.
“Mama,” ucapnya lagi.
Aku menghela napas, menjauhkan ponsel dari Kirana dan meletakannya di atas meja.
Kasihan juga Kirana. Sosok wanita yang paling dekat dengan Kirana hanyalah Alexa. Makanya dia sudah menganggap Alexa sebagai ibunya sendiri.
“Mama,” rengekan Kirana semakin kencang. Dia bahkan menarik-narik kaosku. Seperti sedang memohon untuk melihat foto itu lagi.
“No, Kirana. Dia bukan mama kamu.”
Aku memeluk tubuh kecil Kirana. Balita itu pun menjatuhkan kepalanya di bahuku.
“Mamanya Kirana hanya ada Mama Karina, tidak ada yang lain.”
__ADS_1