
Harsa terlihat frustasi, dia mengangkat kedua telapak tangan, tertawa tidak jelas, dan kemudian menggebrak meja.
Aku tidak tahu apakah dia sedang dalam keadaan teler atau perangainya yang memang aneh.
“Baiklah akan aku ceritakan semuanya. Supaya saat aku mengirimmu ke neraka, kamu sudah tidak lagi penasaran.”
Harsa melipat kedua tangan di meja dan kembali menatapku.
“Sungguh tak terduga olehku, Balin. Sebelum si tua bangka itu mati, dia telah membuat surat warisan baru yang menyatakan bahwa semua harta kekayaan dan aset yang dimiliki Indra Irawan jatuh sepenuhnya pada bayi yang dikandung Karina.”
Aku tertawa mengejek, sedangkan Harsa menghunuskan tatapan dingin dan mengepalkan kedua tangannya.
“Kamu mengejekku, Balin?”
“Kasihan sekali. Memangnya tidak ada cara lain untuk menjadi miliarder?” cemoohku.
“Hai, dengar! Aku lebih pintar darimu, Balin. Aku sudah membakar surat warisan itu dan menggantinya dengan surat warisan palsu.”
“Lalu, kenapa kamu tetap ingin Kirana mati? Padahal kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau.”
Mata Harsa kembali menatap kosong lilin yang ada di depannya. Namun, tangannya mengepal kuat. Dia melamun untuk saat yang lama.
“Setiap detik aku selalu dihantui oleh bayangan anak itu. Bagaimana jika suatu saat semua orang tahu bahwa anaknya Karina masih hidup? Sebelum itu terjadi, aku harus membunuh anak itu.”
Aku kembali tertawa. Melingkarkan dua bola mataku, dan duduk bersender.
“Kamu itu lucu, Harsa. Kau pembunuh, tapi dengan seorang anak kecil saja kamu takut.”
Harsa semakin tersulut emosi dengan perkataanku. Dia menggebrak meja hingga garpu yang semula di atas piring jatuh ke lantai.
“Jangan meremehkan, Balin. Aku memang takut. Setiap malam aku bermimpi anak sekecil Kirana mendepakku ke dalam jurang. Sama persis yang aku lakukan pada kakek Kirana.”
Harsa mengacak-acak rambutnya sambil menunduk. Lalu aku melihat pundak Harsa bergetar, dan menangis histeris.
Namun berikutnya, Harsa tertawa nyaring hingga bulu kudukku berdiri. Melihat tingkahnya, aku pastikan Harsa memiliki gangguan kejiwaan.
Di bawah meja, ibu jariku menekan tombol berhenti merekam, dan secepatnya langsung memasukkan ponsel ke dalam saku celana.
“Aku tidak akan membiarkan si jal*ng kecil itu merebut apa yang sudah aku impikan sejak dulu.”
Bug.
Aku langsung meninju hidung Harsa yang langsung mengalirkan darah.
“Jangan panggil Kirana dengan sebutan itu!” aku meraung sambil menarik kerah baju Harsa.
__ADS_1
Aku tidak peduli dengan kelima anak buah Harsa yang siap menghajarku begitu tuannya memerintah.
Bibirku bergetar saat berkata, “Kamu jauh lebih busuk dari seorang iblis.”
Harsa tampak tenang, bahkan dia masih bisa tertawa. Dia berpaling memandang para anak buahnya, “Kalian diam saja. Aku bisa menanganinya sendiri.”
Harsa kembali menatapku, “Terserah kamu ingin memanggilku apa. Keluarkan semua yang ingin kamu katakan padaku, Balin, karena itu akan menjadi kata-kata terakhir sebelum kematian menjemputmu.”
“Tuan, maaf,” kata Leo menyela. “Ada tamu tak diundang, Tuan.”
Serempak aku dan Harsa menoleh ke arah Leo yang tengah menggeret seseorang. Perlahan aku mengendurkan cengkeraman tanganku di kerah baju Harsa begitu melihat orang yang bersama Leo.
Sama terkejutnya denganku, Harsa pun berdecak dan mengulum senyum.
“Alexa?”
Kemudian, aku berlari menghampiri Alexa yang juga melangkah mendekatiku dan kami saling berpelukan erat.
“Alexa, kenapa kamu bisa berada di sini?” aku berbisik di dekat daun telinga Alexa.
“Sebenarnya aku pura-pura tidur saat kamu mendapat telepon dari Harsa. Lalu aku membuntuti mobilmu. Aku tidak mau berpisah lagi denganmu, Sayang.”
“Wah, wah, wah, ada pasangan sejoli yang sedang kasmaran rupanya,” Harsa bertepuk tangan sembari menyeringai lebar memandang kami.
Sontak aku dan Alexa pun melepaskan pelukan. Secara refleks, aku menarik Alexa ke belakang badanku ketika Harsa perlahan mendekat. Dia melipat tangan di depan dada. Tertawa tanpa jelas.
“Ayo, silakan duduk Alexa, teman lamaku,” kata Harsa sambil mengulurkan tangan menunjuk kursi yang kosong.
“Aku lupa mengundangmu. Tapi belum terlambat kok. Acara puncaknya sebentar lagi akan dimulai.”
Aku dan Alexa diam tak bergeming. Sesungguhnya aku heran dengan sikap Harsa. Apakah dia memang memiliki tingkah yang absurd atau dia sudah gila saking terobsesi menjadi kaya raya?
Harsa melotot karena kami kunjung tak menuruti perintahnya.
“Kalian dengar aku tidak? Ayo cepat duduk! Atau aku pakai cara kasar agar kalian mau duduk,” bentak Harsa tak sabar.
Aku menuntun tangan Alexa, berjalan dengan langkah penuh hati-hati dan kami duduk bersebelahan.
“Aku memintamu duduk di kursi ini, Alexa,” Harsa menunjuk kursi yang ada di depanku.
Aku menahan kuat tangan Alexa saat gadis itu hendak berdiri, namun Alexa melepaskan ikatan tangan kami, menatapku dan mengangguk kecil. Seolah dia bisa membaca pikiranku yang tidak tenang.
“It's oke,” bisiknya.
Lalu Alexa berpindah di kursi yang ditunjuk Harsa. Kini aku dan Alexa duduk berhadapan dengan Harsa ada di tengah-tengah kami.
__ADS_1
Pandanganku jatuh ke pada kalung yang menggantung di leher Harsa. Kalung perak dengan bandul huruf H berayun ketika Harsa menatapku dan Alexa secara bergantian.
“Kalian harus berterima kasih padaku, karena secara tidak langsung akulah yang menyatukan kalian berdua. Tidak aku sangka teman lamaku akan jatuh cinta dengan teman lama Karina.”
Lagi-lagi Harsa tertawa tidak jelas. Sementara aku dan Alexa hanya saling beradu pandang keheranan.
Ya ampun, aku ingin sekali membawa Harsa ke rumah sakit jiwa. Dia terlihat jelas tidak waras.
“Jadi, hadiah apa yang kalian berikan untukku?”
“Aku akan memberikanmu hadiah sepetak ruangan di sel penjara, Harsa,” sahut Alexa tanpa rasa takut.
“What? Are you kidding? Apakah kamu bercanda?” tanya Harsa sambil menahan tawa.
“Aku sudah lebih dulu menelepon polisi, sebentar lagi mereka akan datang menangkapmu, Harsa, dan satu lagi yang harus kamu tahu, temanmu di kepolisian itu sudah tidak dapat membantumu lagi karena dia juga sudah ditangkap.”
Plak.
Harsa seketika itu menampar pipi Alexa yang membuat gadis itu langsung menutupi pipi menggunakan ke telapak tangan.
Dan detik berikutnya, aku bangkit berdiri untuk menghajar Harsa. Pria gila itu terjatuh ke lantai, lalu aku menghujaninya dengan pukulan tanpa memberikan dia kesempatan untuk melawan.
Para anak buah Harsa tentu saja tidak tinggal diam kali ini. Mereka maju untuk membalas perbuatan yang aku lakukan pada tuan mereka.
“Tuan Harsa,” kata Leo yang membantu Harsa berdiri.
Harsa meludah dan mengumpat keras.
“Kalian berdua tahan Alexa! Jangan sampai dia membawa kabur anak itu!” titah Harsa kepada dua kaki tangannya begitu dia melihat Alexa yang berlari mendekati Kirana.
Dua orang itu langsung menggerat lengan Alexa yang berusaha memberontak. Sementara aku masih berkelahi dengan tiga orang lainnya.
Aku menunduk untuk menghindari pukulan, dan langsung menendang perut salah satu anak buah hingga terjungkal ke lantai. Seketika itu memutar badan ke samping untuk menangkis tinju dari anak buah yang lain.
Di sudut ruangan, Harsa tertawa senang melihat aku bergulat dengan kaki tangannya.
Satu orang telah berhasil aku buat tidak berkutik. Namun, ada seseorang lagi yang melingkarkan lengan untuk mencekik leherku.
Aku tidak kehabisan akal. Aku berjalan mundur, mendorong orang yang di belakangku hingga mengimpit dinding. Lalu berbalik menjambak rambut pria itu dan menghantamkan kepalanya ke dinding.
Hingga darah menciprat mengotori tembok, aku lepaskan tanganku dari rambut berminyak anak buah Harsa. Kemudian pria itu jatuh tergolek di lantai.
Aku berhasil menaklukkan tiga anak buah Harsa. Akan tetapi, detik itu juga...
“BALIN!” Alexa berseru di seberang ruangan.
__ADS_1
Lalu aku mendengar Alexa menjerit. Jeritan yang memekakkan telinga dan penuh kengerian.