Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 30 Kurang Peka


__ADS_3

Apa?


Dia sudah gila. Memintaku mengelap bibirnya. Aku membuang napas keras, karena sekarang jantungku berdetak di atas batas normal.


“Ayo,” pinta Alexa menunggu. “Kalau kamu mau lipstikku dihapus, tolong hapuskan.”


“Hapus saja sendiri. Memang kamu tidak punya tangan?”


“Kalau aku tidak mau?”


“Hapus!” perintahku tegas.


“Kamu sendiri yang hapus,” kata Alexa menantang.


Aku menghela napas lagi. Terpaksa. Apa boleh buat.


Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku mengelap bibir Alexa dan tanganku yang satu lagi memegang dagunya.


Warna merah perlahan memudar seiring aku mengusapkan tisu di bibir Alexa. Aku sengaja memperlambat gerakanku agar aku memiliki alasan untuk menatap lama wajah yang akhir-akhir ini memenuhi benakku.


Namun sayangnya, aku terganggu oleh pramusaji restoran yang datang ke meja kami. Sontak aku menarik tanganku gelagapan.


Wanita pramusaji itu meletakan salad di meja, mengangguk sopan saat Alexa tersenyum mengucapkan terima kasih. Lalu pramusaji itu berjalan menghilang.


“Balin, terima kasih banyak sudah mengajakku makan malam di restoran yang luar biasa ini. Tadinya aku pikir kita akan makan di restoranmu.”


“Kau itu gadis paling aneh yang pernah aku temui.”


Alexa tertegun tapi tidak berbicara.


“Kalau dianalogikan, aku telah memberimu berlian tapi kamu malah minta batu kerikil. Sudah untung aku membawamu makan di restoran mewah tapi kamu ingin makan di restoran yang kecil,” ucapku mengejek.


Tapi Alexa tetaplah Alexa yang tidak pernah tersinggung oleh ejekanku.


Dia berdeham, “Bukan begitu, Balin. Aku pernah memintamu mentraktir makan, tapi maksudku, dengan kamu membelikan aku burger di restoranmu saja sudah cukup.”


“Oh, jadi cuma ingin burger?” tanyaku sinis.


Alexa mengangguk, “Kata Rama, burger di restoranmu enak. Aku jadi penasaran seenak apa burger itu.”


“Kenapa tidak beli sendiri saja?”


“Menurutku akan lebih berkesan kalau pemilik restorannya sendiri yang membelikan untukku.”


Alexa itu perempuan atau apa sih?


Kebanyakan wanita pasti senang diajak pasangannya makan malam di restoran mahal. Nah, dia malah ingin makan di restoran kelas menengah.


Alexa buru-buru menambahkan, “Tapi aku senang kok, kamu membawaku ke sini.”


Kalau dipikir-pikir memang benar juga. Kenapa aku harus merogoh kocek dalam-dalam? Padahal Alexa hanya minta ditraktir makan.


“Kamu tahu alasanku membawamu kemari?”


Alexa tampak berpikir sejenak, lalu menggelengkan kepala.


“Coba pikirkan kenapa?” bujukku memaksa.

__ADS_1


Alexa mengetuk-ketukan jari ke meja dan menggigit bibir bawah. Dari bola matanya, aku tahu Alexa tengah berpikir keras.


“Aku tidak tahu,” ungkap Alexa menyerah.


“Sebelumnya kamu pernah makan malam seperti ini bersama pria lain?”


“Pernah.”


“Lalu apa hubunganmu dengan pria itu?”


Aku menahan napas menunggu jawaban Alexa. Gadis di depanku semakin terlihat bingung dengan pertanyaanku.


Ayo, bilang pacar. Bilang pacar. Pacar, kekasih, atau apalah itu sebutannya.


“Kakak.”


“Apa?” aku terperangah.


“Aku pernah makan malam seperti ini dengan Kakak laki-lakiku.”


Brak.


Aku menjatuhkan kepalaku ke atas meja, dan menggebrak meja dengan satu tanganku.


“Oh, sekarang aku tahu,” ucap Alexa layaknya anak SD yang akhirnya berhasil menemukan jawaban soal matematika.


“Kamu mengajakku makan malam seperti ini, karena sudah menganggapku sebagai adik. Iya kan?”


Aku berusaha mengatur napasku, kemudian kembali duduk tegak. Mulutku terbuka hendak berteriak, ‘aku menyukaimu, bodoh.’


Namun, pramusaji restoran datang mengantarkan steik pesanan kami.


“Ayo, makan,” ajak Alexa setelah pramusaji itu pergi.


Aku hanya melirik steik yang ada di depanku.


“Apa kamu pernah punya pacar?” tanyaku pada akhirnya.


Alexa menggeleng.


Pantas. Pantas saja dia masih lugu dalam hal percintaan. Sesungguhnya, aku pun belum pernah punya kekasih, tapi aku tidak sepolos Alexa.


Sebenarnya dia pura-pura atau memang benar tidak tahu?


Aku menatap Alexa yang memotong steik dan melahapnya. Matanya membelalak saat kunyahan pertama.


“Hm, steik  nya enak. Ayo dong cepat dimakan! Jangan dilihat terus seperti itu.”


Kami makan dalam diam. Dua puluh menit berlalu, hingga makanan kami tandas tak bersisa, kami tetap diam.


Alexa memilih melihat pemandangan kota sambil meneguk wine sesekali. Sementara aku mengacak-acak rambut frustrasi.


Larut malam, angin menghembuskan hawa dingin yang menusuk tulang. Semakin lama hembusannya semakin kencang. Menyibak lembut rambut Alexa yang tergerai.


Aku melihat Alexa mengusap-usapkan lengannya. Pertanda dia tengah kedinginan. Aku melepaskan jas, lalu melemparkannya pada Alexa.


Namun, lemparanku kurang tepat. Jas hitamku hanya menyentuh bahu Alexa, dan terjatuh tergeletak di lantai.

__ADS_1


Alexa yang tersentak, melirik jas miliku yang sekarang ada di samping kakinya.


“Kenapa dibuang?” tanya Alexa.


Aku tidak membuangnya. Aku melempar jas itu untuk kamu pakai.


Ingin rasanya aku berteriak seperti itu.


“Ambil dan pakai!” perintahku singkat.


Alexa menuruti apa yang aku perintahkan. Kencan makan malam yang aku harapkan akan seperti di film-film sirna sudah. Aku menopang kepalaku.


Memang Alexa itu tidak peka.


Akhirnya kami memutuskan untuk pulang dan aku berjalan mendahului Alexa. Hanya baru beberapa langkah, Alexa menabrakku dari belakang.


Aku membalikkan badan, melihat Alexa berusaha menahan untuk tidak menguap.


“Maaf, aku mengantuk,” ujarnya.


Aku menawarkan lenganku, berniat mulia agar Alexa bisa melangkah sambil berpegangan lenganku menuju mobil. Tapi dia malah memilih  merapatkan diri ke tembok.


“Ayo, Balin. Kita pulang. Aku sudah sangat ingin berada di kasurku yang empuk,” gumam Alexa yang berjalan sambil menopangkan diri ke dinding restoran.


Seketika di belakang Alexa, aku langsung meninju tembok yang terasa dingin itu.


Sial. Dia lebih memilih tembok daripada aku.


 


***


 


Sampailah juga kita di depan rumahku. Aku mematikan mesin mobil, menoleh ke Alexa yang tertidur pulas di mobil.


Kuguncangkan tubuh Alexa agar terbangun, tapi dia hanya bergumam pelan, tetap merapatkan mata.


“Hei, bangun! Kita sudah sampai.”


Alexa bergumam lagi. Meringkukkan badan mencari posisi yang nyaman untuk tidur.


“Kamu pikir mobilku ini kamar hotel apa?” seruku yang semakin geram.


Dalam usahaku membangunkan Alexa, aku mencium aroma stroberi. Karena penasaran aku mendekatkan diri ke samping leher gadis yang terlelap itu.


Aku menghirup napas dalam. Iya benar, harum stroberi ranum yang bercampur aroma bunga.


Dia pakai parfum apa sih?


Lalu mataku terpaku pada rambut Alexa yang ikal. Kusentuh rambut itu. Menelitinya.


Kenapa di dunia ini ada orang yang berambut ikal? Ini rambut aslinya kah?


Rambut Ibu lurus, Karina juga. Tapi ini. Lurus dari akar rambut, namun melingkar seperti spiral di ujung rambut. Aku memainkan rambut Alexa dengan menggulungnya di jariku.


“Kamu sedang apa?” terdengar suara lirih Alexa.

__ADS_1


 


 


__ADS_2