Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 53 Kisah Yang Tak Pernah Diceritakan


__ADS_3

Indra Irawan  menghentak-hetakan kaki kanannya ke tanah. Tanda bahwa ia sedang gelisah. Berjalan mondar-mandir di samping mobil yang sengaja dia biarkan menyala.


Sudah puluhan kali dia melirik jam tangan mahal yang melingkar di lengan. Dia tengah menunggu kedatangan seseorang. Jalanan mulai sepi dan malam kian sunyi, namun orang yang dinanti tak kunjung muncul.


Suara dengungan nyamuk dihiraukan Indra. Dia sangat cemas, jantungnya berdebar kencang seiring berjalannya waktu. Rencana yang telah dia susun harus berjalan sempurna. Dia sudah merancang dengan matang rencana membawa kabur anaknya.


Tidak ada pilihan lagi. Ini demi kebahagiaan sang putri semata wayang. Namun ketakutan yang sangat luar biasa tak mau hilang dari pikirannya.


Sayup-sayup terdengar langkah kaki orang yang berlari kecil berpadu dengan suara napas terengah-engah.


Indra menoleh, dan menghela napas lega karena orang yang dia tunggu akhirnya menampakkan batang hidungnya. Dia berlari mendekati putri kesayangannya.


Sebuah pelukan hangat nan erat menyelimuti perempuan itu.


“Oh Karina, Ayah pikir kamu tak akan datang.”


Karina mengatur napasnya. Dia juga tersenyum lega, “Perlu waktu untuk bisa kabur dari rumah itu. Ayah pasti sudah menunggu lama.”


“Tidak masalah, Karina. Sekarang kita harus cepat. Sebelum Harsa tahu kalau kamu kabur dari rumah.”


Karina mengangguk dan mereka berdua masuk ke dalam mobil. Indra langsung menancapkan gas menuju tempat tujuan.


Tanpa mereka sadari sepasang bola mata tengah mengintai mereka dari dalam mobil. Orang itu terus mengikuti mobil yang ditumpangi Indra dan Karina.


Sementara itu, di dalam mobil Karina mengadu pada Indra tentang perlakuan sang suami yang sering bersikap kasar dan muslihat licik yang direncanakannya.


Buku jari Indra memutih, amarahnya memuncak, dia menancap gas di luar kendalinya. Namun dia masih bisa mengeluarkan suara lembut untuk menenangkan Karina.


“Hari ini penderitaanmu akan berakhir, Karina. Ayah akan membawamu pergi jauh. Kita pergi ke luar negeri, memulai hidup baru di sana. Kita akan bahagia. Hanya ada ayah, kamu dan anakmu.”


Sekilas Indra melirik perut Karina yang buncit. Karina pun  refleks mengelus lembut perutnya ketika ayahnya menyebut kata anakmu.


“Setelah kita berada di tempat yang aman dari jangkauan Harsa, barulah kita menyusun rencana untuk menjatuh lelaki yang tidak tahu malu itu.”


Indra yang tengah dalam keadaan murka, meningkatkan laju kendaraan melintasi jalanan malam yang lengang.


“Dasar laki-laki serakah! Dengan apa yang telah aku berikan padanya, dia membalas dengan cara menyiksa anakku dan merencanakan pembunuhan kepada ayah mertuanya sendiri,” desis Indra begitu mengingat perbuatan menantunya.

__ADS_1


Indra menghela napas, mengusir amarahnya yang bergejolak. Lalu sekilas dia menoleh lagi pada Karina.


“Kandunganmu baik-baik, Karina?”


“Iya, Ayah. Aku menjaganya dengan sebaik mungkin. Aku tidak mau kehilangan anakku untuk kedua kali.”


Karina menyenderkan kepala, melirik kaca spion. Namun dia langsung menegakkan punggungnya dan membelalakkan mata karena melihat bayangan mobil yang sangat dia kenal. Seketika kepanikan menyelimuti tubuh Karina.


Bagaimana bisa Harsa tahu kalau dia kabur? Bagaimana kalau Harsa berhasil menangkapnya?


Kembali ke rumah dan disiksa tanpa ampun oleh suami gila itu. Karina tak dapat membayangkan akan nasibnya nanti.


“Ayah, coba lihat ke belakang! Itu mobil Harsa. Kita harus cepat, Ayah.”


Indra ikut melirik ke arah kaca spion. Kemudian menancapkan gas hingga mobil melaju hingga ke batas maksimal.


Indra tahu, yang sedang dilakukannya sangat berbahaya bagi Karina yang sedang mengandung. Tapi Harsa terus mengejar mereka. Dia harus mengatur sebuah siasat.


Tiba-tiba Indra mendapatkan ide cemerlang saat mengendarai di jalanan yang cukup dia kenal. Dia menginjak gas.


Mobil Harsa sudah tak terlihat lagi dari kaca spion. Setidaknya untuk sementara waktu. Karena Indra yakin Harsa tak mungkin menyerah begitu saja. Dia membelokkan mobil ke sebuah taman kota yang sepi.


Karina bingung, “Maksudnya apa, Ayah? Aku turun di sini?”


“Ada perubahan rencana. Ayah akan mengalihkan perhatian Harsa. Kamu sembunyi di semak-semak taman itu dan segera cari bantuan. Mengerti?” ucap Indra dengan suara dan tangan gemetar.


“Tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu pada ayah?” Karina menggigit bibir bawah. Sebuah bulir bening meluncur dari pelupuk matanya.


“Jangan pedulikan ayah. Sekarang pikirkan keselamatanmu terlebih dahulu. Cari bantuan ke siapa pun dan pergi jauh dari Harsa.” Indra memeluk Karina erat.


Dia khawatir bila ini akan menjadi pelukan yang terakhir kali. “Ayah sangat menyayangimu, Karina.”


“Aku juga sayang Ayah.”


Mereka segera melepas pelukan karena mereka tak punya banyak waktu. Setelah mengatakan kata perpisahan, Karina turun dari mobil dan berlari ke balik semak-semak.


Selang beberapa menit dia melihat mobil Harsa melewati tempat persembunyiannya. Terus mengejar mobil ayahnya. Itu berarti Harsa tidak menyadari kalau Karina telah berpisah dengan Indra.

__ADS_1


Karina merasa telah aman, dia keluar dari semak-semak, memandang sekeliling untuk tahu di mana tepatnya dia berada sekarang.


Ya, dia kenal taman ini. Lalu dia merogoh ponsel yang berada di dalam saku jaketnya. Menelepon seseorang yang pertama kali muncul di benaknya.


“Halo, Balin.”


Di tempat lain, mobil yang dikendarai Indra memasuki jalan berbatu yang sepi. Tidak ada kendaraan lain yang lewat dan tidak ada lampu yang menerangi jalan. Indra sangat berhati-hati karena jarak pandang yang terbatas.


Jadi mau tak mau dia harus mengurangi kecepatan berkendaranya. Kemudian Indra menyadari di sisi sebelah kanan jalan merupakan jurang yang di bawahnya terhampar laut dengan ombak ganas.


BRAK.


Sebuah benturan di bagian belakang mobil membuat sebagian mobil Indra terperosok ke tepian jurang. Ternyata Harsa sengaja menabrakkan mobil agar sang mertua segera menemui ajalnya.


Inilah yang Harsa tunggu sejak dulu. Sejak dia berniat menikahi Karina.


Indra  berteriak ketakutan. Sekarang dia berada di antara hidup atau mati. Laut yang Indra tak tahu kedalamannya telah menunggu. Indra menoleh ke belakang di sana ada mobil Harsa yang tengah menunggu detik-detik jatuhnya Indra ke jurang.


“Harsa, bagaimana pun juga aku ayah mertuamu. Tolong, Harsa.”


Pria paruh baya itu menjulurkan tangan meminta pertolongan Harsa. Berharap menantunya akan merasa iba dan berubah pikiran.


Namun, harapan itu bagaikan mimpi di siang bolong karena nyatanya yang dilakukan Harsa sungguhlah keji.


BRAK.


Sekali lagi Harsa menabrakkan dan mendorong mobil Indra agar jatuh ke laut.


“HAAARRSAAA...”


“Inilah yang aku tunggu sejak dulu,” gumam Harsa menyeringai.


Di tempatnya berada Harsa tersenyum penuh kemenangan melihat wajah pria tua itu ketakutan dan berteriak.


Harsa memandangi tempat terjatuhnya Indra hingga laut berhasil menelan seluruh mobil Indra. Untuk memastikan bahwa Indra dan Karina telah benar-benar meninggal.


Tanpa dia sadari sebenarnya Karina tidak ada di dalam mobil itu.

__ADS_1


 


__ADS_2