
Aku dan Rama memutuskan untuk pindah dari apartemen ke kontrakan yang lebih sempit tapi masih layak untuk dihuni oleh dua orang. Kontrakan kami berada tak jauh dari kampus Rama.
Tidak ada orang yang mengenalku di sekitar kontrakan karena tetangga di sini juga merupakan seseorang yang mengontrak dalam jangka waktu yang tidak lama.
Setelah urusan pindah tempat tinggal beres, aku menemui teman bisnisku, Frans. Aku dan dia sudah lama merencanakan akan membuka sebuah restoran.
Hanya saja pikiranku terlalu fokus di pekerjaan, sehingga Frans sendiri yang membangun bisnis restoran dan sekarang aku berniat berbisnis waralaba dengannya. Aku mengajukan diri sebagai investor yang nantinya akan bagi hasil keuntungan omset restoran.
Tentu Frans sangat senang mendengar tawaranku. Kami berdiskusi banyak tentang bisnis restoran yang akan kami jalankan.
“Aku tahu tempat yang cocok untuk dijadikan restoran Kak Balin nanti. Akan aku tunjukan sekarang juga jika Kak Balin ingin melihat tempat itu.” Rama berkata pada suatu pagi. Dia mengatakan itu sambil cengengesan lalu menyeruput kopinya.
Tempat yang dimaksud Rama ternyata sebuah bangunan yang hendak dijual oleh pemiliknya. Di pinggir jalan yang sibuk dan seratus meter dari gerbang kampusnya Rama.
Aku mengamati sekeliling, bangunan itu berdempetan langsung dengan toko buku dan toko perlengkapan alat tulis. Ada juga toko buah, toko pakaian, dan sebuah minimarket yang masih satu blok.
“Balin, menurutmu bagaimana?” Tanya Frans.
“Sempurna. Tempat ini strategis jika kita membuka restoran. Hanya perlu renovasi sedikit dengan dekorasi yang estetik mungkin lebih disukai mahasiswa.”
“Yap, betul. Terlebih lantai atas. Cocok untuk bersantai menikmati pemandangan jalan.” Frans menambahkan. “Akan aku urus bahan baku dan juga karyawan yang nanti akan bekerja bersamamu.”
Membuka restoran bersama Frans jauh lebih cepat dari dugaanku. Aku beruntung memiliki teman yang setia dan senang menolong seperti Frans.
Demi restoran, aku merogoh hampir seluruh tabunganku. Menyisakan sedikit uang. Alhasil, aku bekerja sambilan sebagai seorang freelancer sembari menunggu restoran baru kami resmi dibuka.
Pekerjaan yang melelahkan memang, ditambah Kirana yang selalu bangun malam, mengajakku begadang. Aku pikir jika Kirana tumbuh semakin besar aku bisa mengajarinya kemandirian.
Ternyata aku salah. Seiring berjalannya waktu, Kirana yang sekarang berusia tiga bulan sudah bisa tengkurap. Aku dibuat semakin kewalahan saat memakaikan baju untuk Kirana.
Satu hal lagi, semua yang ingin disampaikan oleh bayi tiga bulan pasti dengan cara menangis. Entah itu lapar, bosan, mengantuk, kedinginan, semua disampaikan dengan menangis. Membuatku bingung membedakan arti setiap tangisan Kirana.
Bawah mataku semakin menghitam. Untunglah hari grand opening Restoran Kenangan tiba juga.
__ADS_1
Hari pertama omset penjualan melebihi ekspektasiku. Namun aku tidak boleh terlalu berbangga diri terlebih dahulu, memang kalau hari pertama pasti banyak orang yang penasaran.
“Aku ingin kita memberikan pelayanan terbaik untuk para pengunjung di restoran ini. Ingat first impression menentukan citra Restoran Kenangan di mata para customer. Aku yakin kalian mampu dan ahli di bidang kalian. Jadi yang aku harapkan dari kalian ialah profesional, totalitas dalam bekerja dan satu yang tidak kalah penting kekompakan tim.”
Aku berbicara di depan seluruh karyawan restoran, termasuk koki dan para pelayan. Kami rutin mengadakan briefing setiap pergantian shift.
Semua karyawan menatapku dan mengangguk mantap. Ketika briefing selesai, para karyawan berhamburan menuju tugasnya masing-masing. Semua sudah dilatih oleh Frans, aku hanya memantau dan memastikan semua berjalan aman.
Sebenarnya aku tak perlu terjun langsung dalam mengawasi restoran karena Frans sudah menunjuk seorang yang bertanggung jawab atas kelancaran restoran.
“Aku sudah mengurus semuanya, Balin. Kamu sebagai investor hanya perlu duduk dan melihat uang masuk ke kantongmu.” Frans tertawa dan menyikut lenganku. “Tapi kalau kau ingin mengawasi secara langsung itu terserah kau.”
“Untuk beberapa minggu ini, aku hanya ingin kenal lebih dekat dengan orang-orang yang bekerja denganku.”
“Ah, Balin. Andai saja mantan bosku seperti dirimu.” Frans meninju bahuku. “Aku salut denganmu.”
“Kalau mantan bosmu seperti aku, mungkin sekarang kamu masih betah kerja sebagai karyawan bank.”
Aku pulang dari restoran pukul sebelas malam. Kirana tidur terlelap di carseat. Tidak seharusnya aku membawa Kirana sampai larut malam. Aku menatap Kirana dengan perasaan penuh bersalah.
“Maafkan papa ya, Nak. Kamu pasti lelah. Andai mama kamu masih ada, akan ada yang mengurusmu di rumah.”
Aku menggendong Kirana dengan hati-hati agar dia tidak terbangun. Aku menutup pintu mobil dan mendapati rumah di sebelah kontrakanku telah dihuni.
Lampu rumah masih menyorot terang ke halaman. Ketika aku pertama kali pindah, rumah itu juga dikontrakan tapi belum ada yang menghuni.
Seorang wanita berambut ikal sebahu keluar dari pintu rumah. Dia mengambil sebuah kardus yang masih tersisa satu di teras rumah.
Lalu pandangan kami saling bertautan, dan dia tersenyum. Aku lebih memilih membuang muka, lalu langsung masuk ke dalam rumah ketimbang harus berbasa-basi dengan tetangga baru.
Keesokan harinya, aku memandikan Kirana pukul delapan pagi. Kini aku semakin mahir dalam memandikan Kirana. Masalahnya sekarang adalah saat Kirana dipakaikan baju. Dia tengkurap ketika aku memakaikan celana.
“Kirana, diam dulu!”
__ADS_1
Aku membalikkan badan Kirana lagi. Dia tenang-tenang saja padahal aku telah memasang wajah kesal akan tingkahnya.
“Kirana, diam!” Aku tidak dapat menahan diri dan kelepasan membentak.
Sepertinya Kirana tahu aku marah, dan seperti bayi pada umumnya dia menangis, yang justru membuatku semakin kesal. Terbesit bayangan wajah ibu Kirana. Ekspresi Kirana menangis memang persis sekali dengan ibunya.
Aku menghirup napas dalam untuk menetralkan pikiranku. Kemudian menggendong Kirana. Memeluk sambil menepuk-nepuk punggungnya.
“Kirana sedih karena papa marah ya? It's okey, Kirana. Maafkan papa sudah bentak Kirana.”
Ajaib. Kirana terdiam seketika. Sungguh anak yang pintar. Aku menaruhnya lagi di kasur dan memberikan susu untuk Kirana.
Tak lama, terdengar ketukan pintu. Aku mengabaikan karena menganggap orang yang mengetuk pintu rumah pasti teman Rama.
Siapa lagi? aku tidak punya kenalan yang tahu tempat tinggal baruku. Ya, kecuali Frans. Tapi seringnya dia menelepon jika ada sesuatu yang perlu dibicarakan.
Dari dalam kamar aku mendengar suara langkah kaki Rama yang berjalan ke arah pintu depan, disusul suara derak pintu depan terbuka.
“Mana Balin? Mana Kakakmu itu?” Suara teriakan dari seorang wanita.
Aku menegakkan punggungku mengetahui siapa yang bertamu ke rumah kami. Rasanya seperti tersengat. Aku menepak jidatku sendiri.
“Ibu, tenanglah!” terdengar suara Rama menenangkan Ibu. “Ibu baru saja datang langsung teriak-teriak. Malu didengar tetangga, Bu.”
“Biarkan saja. Mana Kakakmu? Balin. Balin. Keluar kau!”
Aku menunduk untuk berbisik pada Kirana. “Kirana, diam di sini. Oke. Jangan berisik dan jangan menangis. Papa keluar dulu sebentar. Ini mainan untuk Kirana. Papa tinggal dulu.”
Kemudian aku meninggalkan Kirana seorang diri di atas kasir bersama mainan kerincing milik Kirana.
Aku menutup pintu sampai rapat agar ibu tidak melihat ada bayi di dalam kamarku. Dari suara ibu, aku tahu ibu sedang marah besar denganku. Jangan sampai ibu tahu tentang keberadaan Kirana.
__ADS_1