
“Siapa pria itu? Ada hubungan apa dengan Alexa?”
Sebelum masuk ke dalam ruang kelas, pria yang bersama Alexa memutarkan badan, tampak dia sedang mengamati kondisi di sekitar, lalu melepas kacamata hitamnya.
Aku melihat pria itu memakai kalung dengan gantungan huruf H.
Harsa. Pria itu Harsa Russell.
Pupil mataku melebar menatap Harsa berdiri di sana, dan kemudian masuk menyusul Alexa.
Deg.
Aku duduk mematung di dalam mobil untuk beberapa saat. Mencoba mencerna apa yang baru saja aku lihat.
Alexa mengenal Harsa. Bukan hanya mengenal. Bahkan mereka terlihat sangat akrab.
Aku segera turun dari mobil, berjalan dengan langkah tak bersuara untuk mengintip apa yang sedang dilakukan Alexa dan Harsa.
Aku mengintip melalui jendela kelas. Di dalam sana, Harsa tengah duduk di meja guru. Sementara Alexa berbicara pada Harsa tapi pandangannya kosong menatap deretan meja murid.
“Aku sudah memastikan kalau Kirana itu memang anakmu dan Karina, dan semua data tentang Balin sudah aku kirim lewat e-mail,” ucap Alexa.
“Good job, Alexa. Kerja yang sangat bagus.”
Harsa tersenyum puas. Dia mengelap kacamata mahalnya menggunakan lap khusus.
Sementara dari tempat persembunyianku, seperti ada kilat di siang bolong menyambar diriku.
Jadi, selama ini orang yang menjadi mata-mata Harsa adalah Alexa. Tapi kenapa? Kenapa harus Alexa?
Ini tidak mungkin. Aku berharap gadis yang bersama Harsa itu bukanlah Alexa. Namun, saat aku mengerjapkan mata dan mengamati kembali wajahnya. Dia benar-benar Alexa, perempuan yang hendak aku lamar menjadi calon istriku.
“Aku sudah melaporkan semua gerak-gerik Balin hampir sembilan bulan terakhir ini. Aku rasa semua sudah cukup, Harsa.”
Harsa memasukkan lap ke dalam saku jas, membolak-balikkan kacamatanya, seakan tengah memastikan tidak ada lagi kotoran menempel di benda mahal itu.
“Tapi... Aku sarankan kamu mengambil Kirana dengan cara baik-baik. Yang aku lihat, Balin tidak seperti yang kita duga sebelumnya.”
Harsa mendesah, dia meletakan kacamatanya di meja.
“Sepertinya kamu sudah mulai termakan oleh sikap Balin yang akhir-akhir ini melembut padamu, Alexa.”
“Tapi dia tulus menyayangi Kirana,” bantah Alexa.
Harsa berdiri, kedua tangannya menepuk bahu Alexa. Dia menatap lurus pada gadis berambut ikal yang wajahnya menampakkan sedikit keraguan.
__ADS_1
“Dengarkan aku, Alexa. Jangan mudah tertipu oleh sikap baik Balin. Kita sudah tahu sendiri dia yang sudah membawa kabur Karina, membuat ayah mertuaku meninggal dan dia juga tak ada niatan untuk mengembalikan Kirana padaku. Padahal dia sendiri tahu siapa ayah kandung Kirana.”
Apa? Tuduhan macam apa itu?
Sekarang aku tahu sendiri bagaimana sifat asli Harsa. Dia licik dan pintar memutar balikkan fakta.
Tampak Alexa menggigit bibir bawahnya. Dia kebingungan, tapi Harsa terus mendoktrin Alexa.
“Aku berkesimpulan, Balin lah yang ingin mencelakai Kirana tapi dia bersandiwara menyayangi Kirana. Agar tak ada orang yang mencurigainya.”
“Bagaimana bisa?” tanya Alexa.
“Pertama, kecelakaan mobil dengan truk itu. Salah dia sendiri yang menyetir mobil ugal-ugalan. Kedua, saat Kirana nyaris diculik. Apakah kamu melihat kejadiannya secara langsung?”
Alexa menggeleng pelan.
“Tidak kan? Bisa saja penculikan itu hanya rekayasa Balin dengan adiknya,” ucap Harsa meyakinkan Alexa.
“Bagaimana dengan kue beracun itu?”
Harsa berdecak. “Come on, Alexa. Kue itu Balin ambil dari restorannya sendiri. Do you know what i mean? Kau tahu apa maksudku?”
“Itu rekayasa Balin juga? ” kata Alexa menebak.
“Dia pasti sudah bersekongkol dengan adiknya. Berpura-pura keracunan makanan. Pandai sekali dia, kan? Makanya kamu jangan mudah tertipu olehnya.”
Harsa mengacak-ngacak rambut Alexa yang membuat darahku semakin mendidih. Ingin rasanya aku berlari ke tengah-tengah mereka berdua. Menonjok mulut berbisa Harsa.
Namun, aku memilih untuk diam. Menonton Harsa yang meyakinkan Alexa dengan sangat pintar.
Harsa dan Alexa masih belum sadar kalau aku sedang mengamati mereka sejak tadi.
“Tapi untuk apa? Untuk apa Balin merekayasa semua itu?” Alexa belum kehabisan pertanyaan.
“Alexa, tujuan utama Balin adalah mencelakai Kirana. Tapi dia membuat sandiwara seolah ada seseorang yang ingin berbuat jahat pada dia dan Kirana. Sehingga dia sendiri tidak dicurigai.”
“Lalu, sekarang apa yang akan kamu lakukan, Harsa? Kamu akan melaporkan Balin ke polisi?”
“Kamu tahu sendiri aku kurang suka pada polisi. Aku akan mengambil anakku dengan caraku sendiri.”
“How?”
Harsa tersenyum. Dia membelai pipi Alexa dengan satu jari telunjuknya.
Aku benar-benar marah melihat Harsa dengan berani menyentuh Alexa, sekaligus kecewa karena Alexa diam tak bergeming.
__ADS_1
Kekecewaanku bertambah saat Alexa lebih mempercayai omongan berbisa dari mulut Harsa. Aku merasa terkhianati.
Bug.
Aku menonjok dinding sebagai pelampiasan amarahku. Serasa ada yang mencekik leherku. Aku tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
“Kamu tidak perlu tahu, Alexa. Aku rasa cukup sampai di sini saja tugasmu. Aku kasihan melihatmu.”
Harsa mengeluarkan sebuah buku cek, menuliskan sesuatu di sana, dan menyobeknya. Kemudian, Harsa mengambil tangan Alexa, menaruhkan selembar kertas cek di telapak tangan Alexa yang mulus.
“Ini bayaranmu. Lima ratus juta cukup? Kalau masih kurang, hubungi saja aku.”
Alexa menggenggam kertas itu, tapi wajahnya datar, tidak menunjukkan rasa senang atau apa pun.
Sedangkan Harsa memakai lagi kacamatanya. Lalu beranjak pergi. Namun baru beberapa langkah, dia memutarkan badan.
“Apa yang akan terjadi pada Balin nantinya itu urusanku. Kamu tidak perlu terlalu memikirkannya dan aku sarankan kamu untuk segera pindah dari kontrakan itu.”
“Apa ada yang kamu sembunyikan dariku, Harsa?” tanya Alexa menatap tajam pada pria angkuh di depannya.
Harsa malah terkekeh, “Kau teman lamaku. Memangnya apa yang aku sembunyikan? Tidak ada, Alexa. Sekarang pergi sejauh-jauhnya dari Balin. Selamatkan dirimu!”
Harsa memutar pintu, dan aku bergegas mencari tempat persembunyian yang baru yaitu di balik pohon besar yang ada di taman sekolah.
Ketika Harsa berjalan melewati tempatku bersembunyi, ponselnya berdering, seketika langkahnya pun terhenti. Aku menelan ludah, berharap Harsa tidak menyadari ada aku di balik pohon tepat di sampingnya.
“Halo,” kata Harsa menjawab telepon.
Aku tidak bisa mendengar perkataan orang di seberang telepon. Namun satu yang pasti Harsa tengah mendapatkan kabar buruk karena dia terkejut dengan penuturan orang yang meneleponnya.
“Dia itu bagaikan kutu di rambutmu. Tinggal tekan dengan kuku jarimu, semuanya akan beres. Kau mengerti?”
Setelah itu, Harsa menutup telepon dengan mengumpat keras dia kembali melangkah.
Aku menghela napas lega karena Harsa tidak menyadari keberadaanku.
Kemudian, aku berjalan masuk ke dalam ruang kelas untuk menemui Alexa. Gadis berambut ikal itu hendak keluar kelas tapi dihadang olehku, dia membelalakkan mata ketika melihat aku ada di ambang pintu.
“Balin?” kata Alexa terperangah.
“Aku sudah tahu semuanya,” ucapku pelan dengan menampilkan raut muka penuh kekecewaan.
__ADS_1