
Ketika aku keluar kamar, Ibu dan Rama sudah ada di ruang makan. Mereka tengah berdebat. Ibu yang bersikeras ingin menemuiku selalu dihalangi oleh Rama.
“Ibu, ada apa ini? ” Kataku di depan pintu kamar.
Ibu berjalan kembali ke ruang tamu karena kamarku memang bersebelahan dengan ruang tamu. Kamar yang berada paling depan di rumah. Dada ibu naik turun, dan netranya melotot merah.
Selain alat rajut, benda kedua yang selalu Ibu bawa ke mana saja ialah payung hitam yang kini tergenggam di tangan Ibu. Dikarenakan Ibu sudah tidak kuat lagi erada di bawah terik matahari terlalu lama. Sekaligus dipakai Ibu sebagai tongkat jalan.
Diayunkannya payung itu ke atas dan mendarat tepat di bahuku.
Ouch, meskipun sudah tua tapi tenaga ibu sungguh sangat luar biasa. Bahuku berdenyut nyeri, pasti bekas pukulan ibu tadi meninggalkan tanda merah. Ibu mengulangi pukulannya.
Namun aku tidak melawan ataupun bergeser dari tempatku berdiri. Rama melihatku dengan wajah mengernyit. Seolah dia juga ikut merasakan pukulan ibu.
“Ibu, hentikan! Kasihan payung Ibu. Nanti yang ada payung Ibu bisa patah.” Rama memohon.
Ibu menghentikan pukulannya. Napasnya terengah-engah. “Kenapa kamu berbohong pada ibu? Hah? Jawab!”
Ibu mendaratkan pukulan pamungkasnya sekali lagi.
“Ibu, aku berbohong apa pada ibu? Begini. Sekarang ibu tenang terlebih dahulu, lalu duduk di sini.”
Aku mempersilahkan Ibu duduk di sofa. “Mau aku buatkan teh? Tunggu sebentar, Bu.”
“Tunggu!” Ibu menahan dan menarikku untuk duduk juga di sampingnya. “Ibu ingin bicara denganmu. Rama saja yang buatkan teh.”
Rama menunduk seperti ciri khasnya. “Baik, baginda ratu.” Lalu dia berjalan ke dapur meski aku mendengar dia mendesah.
“Ibu tidak mau bertele-tele. Jadi langsung saja jawab jujur, Balin. Kenapa kamu keluar dari pekerjaanmu? Kenapa kamu tidak memberitahu ibu dan bapak? Kenapa kamu juga tidak mengabari kalau kalian pindah tempat tinggal?”
Ibu mengucapkan dengan irama yang cepat. Napas ibu kembali naik turun. Ibu mengambil napas sejenak, mengusap dada.
“Ibu tahu dari mana kalau aku berhenti bekerja?” Aku balik bertanya yang malah menjadikan ibu semakin marah.
“Tentu saja ibu tahu dari Joko.” Teriakan ibu sampai menggema ke segala penjuru ruangan. “Kalau saja Joko tidak pulang kampung dan cerita ke ibu, mungkin sampai mati ibu mengira kamu masih bekerja sebagai manager.”
“Ibu, tenang! Aku bisa menjelaskan pada ibu. Aku bukannya berbohong tapi aku belum sempat bercerita pada ibu dan bapak. Lalu, ibu tahu dari mana alamat rumah ini?”
__ADS_1
Ibu membuang muka di waktu yang bersamaan dengan Rama yang datang menaruh secangkir teh ke atas meja dan dia duduk di lantai. Mendongak memandangi aku dan ibu bergantian.
“Ibu tahu dari Shinta.”
“Shinta? Shinta teman kuliah Rama?” Aku menoleh pada Rama yang tengah berwajah semringah.
“Ibu datang ke toko buku milik ayah Shinta. Di sana ibu bertemu Shinta dan menanyakan alamat Rama yang baru. Shinta juga memberitahu ibu kalau kamu membuka restoran tepat di samping toko buku ayah Shinta. Apa itu benar?”
“Jadi, selama ini Shinta diam-diam memperhatikan aku.” Rama bersorak gembira. Mengesampingkan aku yang tengah diinterogasi ibu, dia memilih melamun sambil bertopang dagu. “Aku semakin yakin kalau Shinta itu jodohku.”
Aku berdecak. Pantas saja Rama merekomendasikan tempat itu, ternyata di sampingnya ada toko buku milik ayah Shinta.
“Itulah yang membuatku berhenti bekerja, Bu. Aku ingin berbisnis,” kelasku.
“Tapi kenapa keluar kerja secara mendadak? Kata Joko kamu tiba-tiba saja membuat surat pengunduran diri.”
Aku berpikir sejenak. Mencari jawaban yang tepat. Tapi tidak ketemu. “Sudahlah. Ibu tidak perlu terlalu memikirkan urusanku. Yang penting kalau ibu dan bapak butuh atau ingin sesuatu bilang saja padaku.”
Ibu mengambil cangkir teh. Menyeruputnya. Aku melihat kondisi ibu yang semakin rileks tidak semarah tadi. Aku bernapas lega, dan sengaja mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan kabar bapak di kampung.
Mataku dan mata Rama yang melotot saling beradu pandang. Di satu sisi aku ingin melihat Kirana di kamar, apa yang membuatnya menangis.
Tapi tidak mungkin aku masuk ke kamar, sementara ibu masih ada di ruang tamu. Bahkan ibu kini menegakkan duduknya. Menyisir rambut yang mulai beruban ke belakang telinga.
“Bayi siapa itu?”
“Oh itu bayi tetangga, Bu.” Rama berbohong demi mengalihkan perhatian ibu. Namun, senyuman Rama kentara sekali dia sedang menyembunyikan sesuatu.
“Tapi suaranya seperti dari dalam kamar kamu, Balin.” Ibu berdiri dan memutar badannya menghadap kamarku.
“Bukan. Itu dari rumah sebelah, Bu.” Aku ikut meyakinkan ibu.
Ibu tidak percaya dan tetap berjalan menuju kamarku. Aku dan Rama berlari mencegah ibu. Mencoba membujuk ibu untuk makan siang di restoran.
Namun gagal. Ibu malah mengeluarkan tongkat sakti alias payung hitamnya untuk menyodok perutku dan mengayun-ayunkan ujung payung di depan mata Rama. Tentu saja nyali Rama langsung menciut.
“Minggir atau aku colok matamu.”
__ADS_1
Rama menggeser tubuhnya yang menghalangi jalan ibu ke kamarku. Dia berbisik di dekat telingaku, “Kak Balin, bagaimana ini?”
Dengan cepat ibu masuk ke kamarku tanpa bisa dicegah lagi. Ibu tidak langsung bertanya. Melainkan menggendong dan menenangkan Kirana.
“Bayi siapa ini, Balin?”
Ujung payung ibu menyentuh hidungku. Ibu memicingkan mata tidak mau memindahkan ujung payung satu senti saja. Sedangkan Kirana masih didekapnya.
“Atau sebenarnya kamu ini sudah menikah diam-diam dan ini anak kamu. Itukah sebabnya kamu selalu menolak jika ibu menjodohkan kamu dengan perempuan pilihan ibu?”
Astaga. Bisa-bisanya ibu berpikir sampai sejauh itu.
“Ibu, bukan seperti itu. Bayi itu memang anak tetangga.”
“Jangan bohong!” raung ibu.
“Ibu telah mengandung, melahirkan dan merawat kalian berdua sejak kalian sekecil ini.” Ibu menunjuk Kirana, kemudian beralih menunjuk aku dan Rama. “Hingga sebesar ini. Jadi ibu tahu kalau kalian berbohong.”
Tiba-tiba seperti ada yang menyalakan lampu di otakku. Ide gila muncul di saat yang dibutuhkan. Aku mendekati ibu supaya ibu kembali tenang dan percaya pada bualanku.
“Ibu tahu, tetangga baru kami, dia seorang janda satu anak. Dia baru saja pindah. Jadi dia menitipkan anaknya sementara dia sedang sibuk berbenah. Percaya padaku, Bu.”
“Iya, Bu. Kasihan dia baru ditinggal suaminya yang punya banyak hutang.” Imbuh Rama.
Ibu mengangguk pelan. “Oh begitu, ya. Tetangga sebelah.”
Aku tersenyum puas karena mengira ibu percaya pada bualanku. Bahkan Rama menambahkan cerita yang berlebihan bahwa suami tetangga baru kami seorang sopir truk dan meninggal karena truk yang ditumpangi mengalami rem blong.
Rama menceritakan dengan dramatis yang membuatku ingin muntah sebenarnya tapi selama itu membuat ibu percaya, apa boleh buat.
Namun, ibu melakukan sesuatu di luar dugaan. Ibu pergi keluar rumah secepat kilat. Layaknya burung elang yang membawa terbang anak ayam.
Aku dan Rama berlomba lari ke luar menyusul ibu. Saat kami ke luar rumah, ibu baru saja masuk ke rumah sebelah. Tempat tinggal wanita berambut ikal sebahu yang aku temui tadi malam.
Sial.
__ADS_1