
Aku membetulkan dasi yang melingkar di kerah kemejaku. Tidak lupa juga aku kaitkan jam di pergelangan tangan, dan melirik sekilas angka yang tertera di jam tangan itu. Sebentar lagi acara pernikahan akan dimulai.
Dari bayangan di cermin, aku melihat Kirana masuk. Dia memakai gaun putih dengan motif lace yang terlihat sangat indah di badan kecilnya. Satu tangan Kirana menggenggam sebuah bando dari bunga imitasi.
“Papa keren,” puji Kirana menatap dengan sorot mata berbinar.
Aku memutar badanku, menjajarkan pandanganku dengan Kirana dan mengulum senyum.
“Kamu juga cantik sekali, Kirana anak Papa.”
“Papa... Tolong pakaikan!” ucap Kirana menyodorkan bando bunga.
Aku menyematkan bando itu ke atas kepala Kirana, merapikan sedikit poninya, dan kemudian mengecup kening Kirana.
Dua bulan sudah aku dan Alexa berhasil lalui. Hari ini adalah hari yang paling dinanti oleh kami berdua.
Tidak mudah memang, tapi kita bisa melaluinya bersama. Selama dua bulan ini aku sibuk bekerja, meski pikiranku terbagi memikirkan Harsa yang tak kunjung ditemukan pihak polisi dan memikirkan keselamatan Kirana juga.
Tapi untungnya, Alexa selalu ada untuk membantuku menjaga Kirana. Dua bulan terakhir ini Alexa lah yang merawat Kirana di rumah mendiang orang tuanya.
“Sebentar lagi Tante Alexa akan menjadi mamanya Kirana,” ucapku tersenyum pada Kirana.
“Yeay, aku punya mama.”
“Balin, kamu sudah siap? Acaranya sebentar lagi akan dimulai,” kata Ibu yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan.
Aku mengangguk, mengulurkan tangan kepada Kirana.
“Kirana juga sudah siap, kan?”
Kirana langsung menyambut uluran tanganku dengan tertawa riang.
***
Aku berdiri dengan semua sorot mata tertuju padaku, tapi tak berapa lama pandangan para tamu teralahkan oleh kedatangan Alexa yang berjalan perlahan memasuki gedung pernikahan.
Alexa sangat cantik mengenakan baju pengantin putih yang pas di badan ramping itu. Rambutnya digelung ketat, hanya menyisakan satu helai dibiarkan terurai di samping pipi kanan.
Alexa melingkarkan tangan di lengan Kak Alan dan berjalan berdampingannya. Satu tangan lagi memegang sebuah buket bunga. Di belakang mereka, keponakan-keponakan Alexa berbaris menaburkan bunga sepanjang kaki mereka melangkah.
Dan mataku menangkap sosok Kirana di antara barisan anak pengiring pengantin itu. Dia berjalan cepat untuk mengimbangi langkah anak-anak yang lebih dewasa darinya.
“Kau sangat cantik,” bisikku ketika Alexa telah tepat berada di depanku.
Gadis itu tersenyum tersipu malu.
__ADS_1
“Kamu juga sangat tampan.”
“Jaga adikku dengan sungguh-sungguh. Kamu mengerti?” desis Kak Alan yang melotot padaku sebelum akhirnya dia duduk di kursi samping istrinya.
Acara pernikahan kami terasa begitu cepat. Semua perhatianku terpusat hanya pada Alexa. Suara MC terdengar seperti dengungan lebah olehku, dan para tamu undangan aku anggap hanya patung belaka. Dunia serasa milik kita berdua.
Aku menyematkan cincin pernikahan di jari manis Alexa, dan selanjutnya dia juga melakukan hal yang sama padaku.
Detik itu juga, kami resmi menjadi sepasang suami istri.
“I love you,” ungkap Alexa.
“I love you more,” sahutku yang langsung melangkah maju menciumnya.
Semua orang ternganga melihat kami di atas pelaminan, sebagian ada yang bergumam memuji betapa romantisnya pasangan sejoli yang baru saja mengikrarkan janji suci di hadapan mereka.
Namun tak lama, suara deheman keras membuyarkan aku dan Alexa. Kami menoleh ke sumber suara. Ternyata Kak Alan yang tadi berdehem keras. Matanya melotot ke arahku seperti mau copot.
Kak Lily, istri Kak Alan, menyikut suaminya yang tidak terima aku mencium Alexa.
“Biarkan saja, Sayang. Mereka kan sudah resmi menjadi suami istri.”
“Tapi mereka tidak sopan berciuman di depan banyak orang,” protes Kak Alan tak mau kalah.
“Kamu juga dulu seperti Balin. Bahkan ciumanmu lebih ganas.”
“Sayang, sudah! Jangan bahas itu lagi.”
***
“Selamat atas pernikahan kalian, semoga langgeng sampai maut memisahkan,” tutur Cindy yang memeluk erat Alexa.
Sementara Frans tak jauh darinya menyikut dan menyalami aku, lalu kembali merangkul Cindy.
“Jangan lupa nanti datang ke acara pertunangan kami, oke?” kata Frans.
Alexa menutup mulut karena terkejut, “Jadi kalian akan...”
Cindy dan Frans mengangguk sebelum Alexa menyelesaikan kata-katanya.
Setelah mereka, Rama datang dengan senyum semringah memberikan selamat.
“Kak Alexa, jangan lupa nanti malam! Roti sobek yang pernah aku katakan,” ucap Rama sambil mengedipkan satu mata.
Alexa mendesah, “Aku sudah lihat, kok.”
__ADS_1
Sontak Rama bersorak heboh, matanya membelalak menatap aku dan Alexa bergantian. Pasti di otaknya sedang memikirkan hal yang mesum.
Aku tidak bisa tinggal diam melihat adikku bertingkah konyol di depan banyak orang, jadi aku membekapnya sebelum mulut itu kelepasan bicara yang tidak-tidak.
“Memangnya kapan kamu melihatnya?” tanyaku pada Alexa setelah Rama terdiam.
“Kamu lupa? Waktu aku mengobati luka tembak di bahumu.”
“Oh iya, aku lupa.”
“Sekali lagi selamat ya, Kak Balin, Kak Alexa. Jangan lupa buka kado dariku sebelum tempur nanti malam!”
Tanpa aba-aba dan tanpa rasa ampun, aku langsung menginjak kaki Rama yang seketika itu meringis kesakitan. Dia berjalan meninggalkan kami dengan langkah terseok-seok.
Kemudian, Kak Alan dan Kak Lily mereka memeluk erat Alexa. Aku melihat pelupuk mata Kak Alan mengenangkan air, tapi dia tidak menangis. Atau mungkin berusaha untuk tidak menangis di depan adiknya.
Aku mengerti perasaan Kak Alan sekarang. Jika saja orang tua dan kakak ke dua Alexa masih hidup mungkin mereka akan sangat bahagia melihat Alexa menikah.
Kak Alan tiba-tiba mencengkeram bahuku kuat sekali. Suaranya gemetaran dan matanya memerah, dan tetesan air mata tak dapat dibendungnya lagi.
“Sekarang Alexa adalah tanggung jawabmu, Balin. Jangan remehkan kepercayaan yang sudah aku berikan padamu. Sekali saja aku melihat Alexa menangis karena ulahmu... “
“Sayang, ayo,” ajak Lily yang menarik lengan suaminya. “Di belakang kita banyak orang yang mengantre ingin menyalami Alexa dan Balin.”
“Tunggu, Sayang. Aku belum selesai bicara.”
Kak Alan mengalihkan pandangan padaku lagi, “Sekali saja aku melihat Alexa menangis karena ulahmu, aku tidak akan segan-segan membawa kembali Alexa padaku.”
Lalu Kak Alan pergi begitu saja tanpa meminta jawaban dariku. Alexa mengelus punggung tanganku, binar matanya menampakkan kecemasan.
“Kamu tidak tersinggung dengan ucapan Kak Alan, kan?”
Aku mengulum senyum, “Tersinggung apanya? Memang begitu seharusnya seorang kakak.”
“Balin, Alexa, selamat ya?” kata seseorang dengan suara berat.
Kami menoleh pada Nick yang berdiri di depan kami, tersenyum dan mengulurkan tangan. Aku menerima uluran tangannya. Namun, Alexa tampak memiringkan wajah meneliti Nick.
“Ada apa dengan suara Kak Nick? Kenapa terdengar sedikit serak?”
Nick berdeham, “Iya, aku sedang sakit tenggorokan.”
“Jaga kesehatan, Kak. Kalau perlu minum multivitamin.”
Nick hanya mengangguk, lalu berbicara, “Aku sepertinya akan langsung pergi. Aku harus ke Singapura karena pekerjaanku tidak bisa ditunda. Aku minta maaf, Alexa, Balin.”
“Tidak masalah kok, Kak Nick. Aku justru berterima kasih karena Kakak sudah menyempatkan waktu untuk kami.”
“Memang apa pekerjaan Kak Nick itu?” tanyaku pada Alexa selepas Nick pergi.
__ADS_1
“Dia pengusaha, sama seperti Kak Alan. Hanya saja dia tinggal di Singapura dan sejak Kak Alana meninggal, dia jarang datang kalau ada acara keluarga,” terang Alexa sambil menatap punggung Nick yang berjalan di antara kerumunan tamu.
Aku melihat jam tanganku, dan mendesah frustrasi karena ingin acaranya cepat selesai.