Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 12 Fakta yang Tak Terungkap


__ADS_3

Sejak hari itu, aku menjadi penasaran tentang profesi Alexa. Dari ucapannya kemarin, dia sangat mengetahui tentang merawat bayi. Aku mengecek di internet dan semua yang dikatakan Alexa benar adanya.


Tentang gumoh dan pola tidur bayi. Aku jadi tahu perbedaan gumoh dan muntah. Tips yang Alexa berikan juga sama persis dengan yang ada di internet.


Aku berkesimpulan pekerjaan Alexa pasti yang berkaitan dengan bayi. Mungkinkah dia seorang perawat, pengasuh anak, bidan atau dokter anak. Rasa penasaranku tidak bisa aku bendung.


Aku diam-diam memperhatikan Alexa. Dia sering berangkat kerja pagi hari dan pulang di waktu orang-orang kantor sedang menikmati istirahat siang.


Akhir pekan dia selalu ada di rumahnya, merawat tanaman yang kini tumbuh subur di pekarangan rumah.


Hari ini hari minggu, tapi aku tak mendapati perempuan itu ada di depan rumah menyiram tanamannya seperti biasa. Rumah di sebelahku sepi sejak kemarin. Apa Alexa sedang pergi?


“Kak Balin, sedang apa?” Ucap Rama yang entah sejak kapan berada di belakangku.


Aku tersentak kaget. Tertangkap basah sedang melirik ke luar rumah melalui jendela kamar. Rama ikutan melirik penasaran dengan apa yang aku lihat.


Mengintip aktivitas tetangga bukanlah kebiasaanku. Namun sejak aku mengenal Alexa, entahlah, rasa penasaran akan dirinya terus mengalir di benakku.


“Kak Balin, lihat apa sih?” Rama menutup tirai karena tidak melihat sesuatu yang menarik di luar.


“Kamu sendiri kenapa masuk kamar orang lain tanpa bilang permisi?”


“Maaf, Kak. Tapi akhir-akhir ini aku sering mendapati Kak Balin mengintip Kak Alexa.”


“Hah? Apa katamu? Alexa,” aku tertawa kecil yang terdengar garing di telinga, lalu mengelak, “Sok tahu. Aku hanya melihat jalanan kok. Kau mau apa masuk ke kamarku?”


“Hari ini aku ikut Kak Balin ke restoran ya?” Rama tertawa.


Dari cara Rama tertawa aku tahu dia memiliki modus tersembunyi ikut ke restoran denganku. Apalagi kalau bukan, ingin melihat Shinta. Padahal setiap hari dia melihat Shinta di kampus. Dasar Jones.


Ah iya, aku baru sadar, secara tidak langsung aku juga mencela diriku sendiri.


Setengah jam kemudian, kami sudah ada di restoran. Setiap akhir pekan, restoran selalu ramai pengunjung.


Begitu pula hari ini. Tempat parkir penuh oleh kendaraan pelanggan. Dari luar aku dapat melihat suasana di dalam restoran. Tempat duduk hampir tak ada yang kosong, para pelayan sibuk mondar-mandir menerima dan mengantarkan pesanan.


Rama memutuskan untuk menunggu di luar saja. Jadi aku menitipkan Kirana bersama Rama, sementara aku masuk ke dalam restoran memantau keadaan.

__ADS_1


Kutemui Galang, seorang yang ditunjuk sebagai kepala restoran, menanyakan apakah semua aman terkendali.


Galang mengkonfirmasi, meskipun banyak pengunjung yang datang dan pergi tapi sebagian besar puas akan pelayanan di restoran dan tidak ada kendala yang berarti.


Aku berjalan berkeliling dari area dapur hingga ke depan kasir. Para karyawan sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing dan dari pantauanku semua memang berjalan dengan semestinya.


Hingga tanpa sengaja mataku menangkap sesosok perempuan yang aku kenal berada di tengah keramaian para pengunjung restoran. Cindy. Temanku yang seorang reporter televisi.


Secara otomatis aku mendekati Cindy yang duduk sendirian menikmati sepiring spageti. Mata Cindy membelalak lebar ketika melihat aku sudah berada di depannya.


“Cindy, kebetulan sekali kita bertemu di sini. Apa kabar, Cin?”


“Balin?” Ucap Cindy seolah tak percaya dengan penglihatannya. Sekilas senyum merekah di bibirnya. Dia antusias menjabat tanganku, “ini benar Balin Mahendra, teman kuliahku dulu kan?”


“Tentu saja.” Kataku menjatuhkan diri ke kursi yang ada di depan Cindy.


“Kabar aku baik. Kamu sendiri bagaimana kabarnya? Kok bisa ya kita kebetulan ketemu di sini? Kamu sedang apa di restoran ini?”


“Aku baik. Kebetulan restoran ini milikku.”


Mata Cindy makin membulat, lalu tertawa girang. “Oh ya, wow. Aku tidak menyangka Balin yang aku kenal sebagai pemuda sederhana sekarang sukses berbisnis kuliner.”


Sebenarnya aku sudah tidak terlalu ingat akan kenangan di kampus. Mengingat aku sebagai orang yang paling dibenci oleh mahasiswa lain karena mereka iri perihal kedekatanku dengan Karina. Aku lebih senang tidak mengingat masa-masa itu.


Namun, aku tetap merespons seperlunya saja saat Cindy menceritakan panjang lebar bagaimana kami melalui hari-hari di kampus.


Cindy bukan termasuk teman yang sering melakukan perundungan padaku tapi dia juga bukan teman dekat. Dia mampu dengan mudah akrab dengan siapa saja. Hal itu yang membuatku mengenalnya.


Cindy terus mengoceh hingga sampailah dia menyinggung tentang kecelakaan yang menimpa Indra Irawan, kakek dari anak adopsiku.


Aku menegakkan punggung, memusatkan segala perhatianku. Inilah yang aku tunggu sejak tadi. Profesi Cindy sebagai reporter pasti mempunyai banyak informasi tentang kecelakaan itu.


“Aku kasihan pada teman kita, Karina. Dia mengalami kecelakaan yang tragis. Bahkan sampai saat ini jasad Karina belum ditemukan. Sungguh malang nasibnya,” papar Cindy, kemudian melahap spaheti-nya.


Aku tahu aku harus berhati-hati dalam berbicara. Jangan sampai aku kelepasan bicara yang membuat Cindy mencurigaiku.


“Menurutmu sebagai reporter yang meliput langsung kecelakaan itu, apa ada sesuatu yang ganjal?”

__ADS_1


Cindy menopang dagu dan menerawang, dahinya berkerut berpikir. Mulut Cindy bergerak mengunyah pelan-pelan. Setelah itu, menyeruput lemon tea.


“Ada perkembangan baru, Balin.”


“Perkembangan baru?”


“Akhir-akhir ini terungkap kalau Karina dan ayahnya pergi tengah malam karena akan menuju bandara. Awalnya aku mengira mereka memang akan pergi ke Pantai Batu Merah. Tetapi..."


"Tapi apa?" tanyaku penasaran.


"Dugaanku salah. Hal tersebut dikonfirmasi oleh rekan ayah Karina bahwa mereka berdua akan pergi ke luar negeri menggunakan pesawat jet pribadi. Tapi yang anehnya, kenapa mobil ayah Karina ditemukan di kawasan Pantai Batu Merah? Yang padahal jika mereka berangkat dari rumah Harsa Russell itu bukan jalan menuju bandara. Aneh kan?”


“Harsa Russell itu nama suami Karina?”


Cindy mengangguk, tapi menyorotkan pandangan penuh tanda tanya.


“Kamu belum tahu? Kamu jarang nonton berita? Ya, namanya Harsa. Dia orang yang tidak suka publisitas. Jadi sedikit sekali berita yang meliput tentang Harsa Russell.”


“Selama ini aku sibuk dengan restoran baruku ini. Jadi aku tidak punya waktu menonton berita,” aku berkilah. “Menurutmu, apa ada kaitan antara kecelakaan Indra Irawan dengan Harsa, menantunya sendiri?”


Cindy meneguk lagi lemon tea. Sejak tadi, aku amati tak ada raut curiga di wajah Cindy. Itu berarti dia tidak menyadari bahwa aku sedang mengorek informasi tentang Harsa padanya.


“Balin, polisi sudah menyatakan dia tidak terlibat dalam kasus kecelakaan Indra Irawan dan polisi juga menetapkan ini murni sebuah kecelakaan. Ketika malam kejadian, dia sedang terbaring sakit di rumah.”


Lama Cindy menatapku lalu bertanya, “Sepertinya kamu antusias sekali dengan berita kecelakaan itu? Ada apa, Balin? Apa kamu juga punya pandangan sendiri?”


Hebatnya aku bisa berusaha tenang, meski di dalam hati aku gelagapan. Tak mengira Cindy akan menanyakan hal itu.


“Begini, Cindy. Kamu tahu sendiri Karina adalah teman baikku sewaktu kuliah dan aku tidak terlalu mengikuti berita di televisi. Jadi begitu aku bertemu denganmu, aku ingin tahu secara langsung darimu.”


Cindy mengangguk pelan. Tepat saat itu, Rama datang entah dari mana asalnya dengan Kirana yang tengah merengek berada di dekapannya.


“Kak Balin, Kirana sejak tadi merengek terus. Dia sepertinya mengantuk tapi aku tidak bisa membuat dia tertidur,” tutur Rama tepat di hadapan aku dan Cindy.


“Balin? Itu anakmu?” tanya Cindy.


Ah sial. Jangan sampai Cindy melihat wajah Kirana karena kentara sekali mirip dengan ibunya. Cindy pasti akan langsung tahu siapa Kirana sebenarnya.

__ADS_1


 


__ADS_2