Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 68 Belajar Renang


__ADS_3

“Kirana, ayo turun!” aku mengayunkan tangan untuk mengajak Kirana turun ke dalam kolam renang.


Namun, Kirana yang sudah memakai baju renang itu hanya berdiri memandang permukaan air dengan tatapan penuh ketakutan.


Dia malah mundur satu langkah. Lengannya gemetar dan membelalakkan mata ke arahku. Menggelengkan kepala sangat kuat.


“Tidak jadi, Papa. Aku takut. Lain kali saja belajar renangnya.”


“Tidak usah takut. Kan ada Papa.”


Kirana masih diam tak bergerak.


“Kirana, jangan biarkan dirimu terkurung dalam ketakutan. Nanti Kirana tidak akan pernah bisa berenang,” kataku menyemangati Kirana dengan mencatut kata-kata dari Alexa.


Selang beberapa menit, Kirana menyebutkan diri ke kolam sambil memekik ketakutan, namun aku sigap menangkap badan Kirana. Menenangkannya terlebih dahulu.


Aku meminta Alexa yang duduk menonton di gazebo untuk melemparkan pelampung. Lalu Alexa mengayunkan pelampung anak dan ditangkap sempurna olehku.


Pertama aku mencontohkan gerakan-gerakan dalam renang. Kemudian aku meminta Kirana untuk menirukan gerakanku.


Awal mula, Kirana memang takut, bahkan beberapa kali dia terbatuk karena hidungnya tidak sengaja kemasukan air.


“Papa pegang tangan aku. Aku takut tenggelam,” ucap Kirana.


“Papa tidak akan ke mana-mana. Papa pasti pegangi tangan Kirana.”


Kirana mencoba sekali lagi tapi dia tetap kesusahan dalam mengambil napas. Jadi sejenak aku dudukan Kirana di tepi kolam.


“Oke, sekarang Papa tahu permasalahan Kirana itu ada di teknik pernapasan.”


“Iya, Pa. Hidungku selalu kemasukan air,” tutur Kirana memencet hidungnya yang merah.


“Papa akan ajarkan begini. Pertama, sebelum masuk ke dalam air, Kirana tarik napas melalui mulut dan tahan beberapa saat.”


Aku mempraktikkan penjelasanku dan Kirana juga mengikutinya.


“Lalu, ketika kita sudah berada di dalam air hembuskan secara perlahan melalui hidung.”


Aku dan Kirana masuk lagi ke dalam kolam. Mempraktikkan teknik pernapasan yang aku ajarkan, dan Kirana mulai mendapatkan kepercayaan dirinya.


Kirana mulai bisa mengayunkan kaki dan tangannya. Sementara aku terus memegangi perutnya untuk memastikan dia tidak tenggelam.


Perlahan aku lepaskan tanganku. Melepaskan Kirana berenang sendiri sampai tangannya menyentuh tepian kolam di ujung sana.


Kirana bersorak senang, yang disusul oleh tepuk tangan dari Alexa.


“Yey, Mama, Papa, akhirnya aku bisa berenang.”


 


***


 


Aku berdiri di samping Alexa yang terbaring di brankar. Seorang dokter wanita menaruh gel bening ke perut Alexa dan mengoleskannya menggunakan alat USG.

__ADS_1


Aku dan Alexa saling lirik dan tersenyum selama dokter kandungan itu menjelaskan kondisi janin yang ada di dalam kandungan Alexa.


Kirana juga menyimak meski dia tidak tahu maksud pembicaraan dokter. Lama kelamaan karena tidak begitu paham, Kirana mengalihkan perhatian pada boneka yang dibawanya dari rumah.


“Papa, aku tunggu di luar saja ya?” kata Kirana yang merosotkan diri dari kursi.


“Hati-hati. Jangan pergi terlalu jauh!” kataku sambil mengangguk dan melihat Kirana melangkah keluar pintu.


Setelah pemeriksaan selesai, aku dan Alexa duduk bersebelahan menghadap dokter yang menuliskan catatan di sebuah buku.


“Di trimester pertama memang wajar kalau Ibu sering mengalami mual dan muntah. Disarankan Ibu perbanyak minum air putih hangat, istirahat yang cukup dan makan dengan porsi kecil tapi sering.”


Alexa yang memperhatikan saran dari dokter mengangguk. Dia sudah seperti wartawan dadakan melontarkan banyak sekali pertanyaan. Setelah merasa cukup puas dengan jawaban dari dokter, Alexa menyikutku.


“Balin, apa kamu juga ada yang mau ditanyakan?” tanya Alexa.


“Ada,” aku berdehem dan beringsut ke depan.


“Saya mau tanya, Dok.”


“Iya, tanya apa, Pak?” ucap dokter yang mulai memasang wajah serius.


“Saya mau tanya... “ aku melirik sekilas pada Alexa.


“Iya, cepat! Katakan saja!” dokter di depanku mulai tidak sabar.


“Pertanyaan saya. Apakah boleh...” aku merasa gamang. Sekali lagi aku melirik Alexa yang membalas tatapan terheran.


Mungkin dokter wanita ini sudah tak sabar atau entah kenapa, tiba-tiba saja dia menegakkan punggungnya dan berkata, “Oh, saya tahu Bapak akan bertanya apa.”


Aku menoleh cepat pada dokter yang tersenyum pada kami berdua. Benarkah dia bisa menebak apa yang ada di dalam otakku? Hebat sekali dokter ini. Apa dia juga seorang peramal?


“Apa?” aku terperangah.


“Itu yang ingin Bapak tanyakan, bukan.”


Aku menggelengkan kepala yang membuat dokter itu melongo dan terkekeh malu.


“Saya ingin bertanya, apakah boleh kami memilih metode persalinan selain dengan cara normal, Dok?”


Aku melirik Alex, “Saya tidak mau istri saya kesakitan.”


Dokter itu menyunggingkan senyum. Aku tahu dari senyumnya itu, di dalam benak dokter pasti tengah mengumpat kesal karena gara-gara pertanyaanku, dia jadi berpikiran yang aneh.


Aku sendiri, sebelum pergi ke rumah sakit menyempatkan untuk mencari informasi di internet tentang metode persalinan.


Dan baru aku tahu bahwa ada banyak metode yang katanya bisa meminimalisir rasa sakit saat melahirkan. Aku tidak mau Alexa kesakitan seperti yang dialami Karina saat melahirkan Kirana.


Sang dokter lalu menjelaskan metode persalinan yang ada di dunia medis, berikut juga kelebihan dan kelemahan dari setiap metode.


“...Dan kami sebagai petugas medis, selalu mengedepankan keselamatan Ibu dan anak serta menyarankan metode yang sesuai dengan kondisi masing-masing pasien. Selebihnya keputusan ada di pihak Bapak dan Ibu.”


Selesai konsultasi, aku dan Alexa keluar dari ruangan dokter. Mendapati Kirana tidak ada di lorong rumah sakit, aku menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok anak perempuan empat tahun memakai baju kuning.


Aku menyuruh Alexa untuk menunggu di mobil, sementara aku mencari keberadaan Kirana.

__ADS_1


Aku bertanya pada seorang perawat yang kebetulan lewat. Dia menggeleng tidak tahu. Lalu aku bertanya juga pada dua calon pasien yang duduk di ruang tunggu. Tidak ada yang melihat Kirana.


Aku mulai panik, dengan terus melangkahkan kaki ke setiap lorong.


“Kirana, kamu di mana, Nak?” gumamku saat berada di lorong yang sepi.


Kemudian terdengar derap langkah kaki, aku melempar pandangan ke ujung lorong yang sepi, dan dari sana tiba-tiba Kirana muncul sambil berlari ketakutan.


“Papa... “ pekik Kirana.


“Kirana? Ya Tuhan, kamu dari mana saja. Papa khawatir, Nak,” kataku yang langsung memeluk Kirana.


“Maafkan aku, Pa. Tadi aku ke toilet, tapi pas balik lagi, aku salah jalan.”


“Ya, sudah lain kali, Kirana harus lebih hati-hati ya? Sekarang kita pulang. Mama sudah menunggu sejak tadi di mobil.”


Kirana menahan lenganku yang ingin menuntunnya. Aku memutar badan dan melihat wajah ketakutan Kirana belum juga hilang.


“Ada apa, Kirana?”


“Tadi aku lihat ada orang mukanya menakutkan. Terus aku dengar, dokternya bilang dia itu korban kebakaran. Aku jadi takut tapi juga kasihan.”


“Oh, ya. Korban kebakaran?” tanyaku mulai penasaran.


Apakah mungkin orang itu Harsa?


“Kirana lihat di mana?”


“Di sana,” Kirana menunjuk lorong yang tadi dilewatinya.


Aku berjalan perlahan ke arah yang ditunjuk Kirana, berbelok ke kanan, dan melihat seorang pria duduk di kursi roda dengan posisi membelakangiku.


Ragu namun juga penasaran, aku menjulurkan tangan untuk menyentuh pundak pria itu. Dari belakang dia memang berperawakan seperti Harsa, tapi begitu dia menoleh...


Aku terperanjat dengan luka yang ada di wajahnya, tapi dia bukan Harsa seperti yang aku duga.


“Kenapa?” tanya pria itu keheranan.


Aku menghela napas sejenak.


“M-maaf, saya ayah dari anak kecil yang lari ketakutan tadi,” kataku gugup. “Saya mohon maaf kalau tindakan putri saya mungkin membuat Anda tersinggung.”


Pria itu tersenyum dan menggeleng.


“Seharusnya saya yang minta maaf karena membuat dia ketakutan dengan wajahku.”


Aku bersyukur orang itu bukanlah Harsa. Mungkin inilah saatnya aku harus sedikit lebih tenang karena mungkin Harsa telah tiada dan tidak akan lagi mengganggu keluargaku.


 


***


 


Di lorong rumah sakit yang sepi, seorang ayah berjalan berdampingan seorang anak perempuan berusia empat tahun. Tanpa disadari, seseorang memaki sepatu hitam mengkilap berdiri mengamati punggung mereka yang perlahan menjauh.

__ADS_1


“Kita tunggu tanggal mainnya, Balin. Bersiaplah!”


 


__ADS_2