Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 13 Curiga


__ADS_3

Kebodohanku yang paling aku sesali yaitu aku berusaha menyembunyikan identitas Kirana, tapi aku juga memberikan dia nama yang hampir mirip dengan ibunya.


Kenapa aku tidak memperhitungkan hal ini sejak awal? Dan lagi si pawang masalah alias adikku sendiri, kenapa datang di saat aku bersama Cindy? Aku yakin Cindy akan mengetahui siapa Kirana hanya dengan melihat wajahnya.


Sekelebat ide melintas di otakku. Aku ingat cara Alexa menyendawakan bayi. Dekap bayi secara vertikal dengan kepala bayi berada di bahu.


Ya cara ini akan membuat Kirana menghadap ke arah belakangku dan Cindy tak akan melihat dengan jelas wajah Kirana. Aku mengusap punggung Kirana supaya dia tenang.


“Balin, kamu sudah punya anak?” Cindy memberikan tatapan tak percaya. “Kapan kamu menikah? Dan hei, kenapa aku tidak diberi undangan pernikahanmu sih?”


Inilah saatnya mengarang bebas.


“Oh ya, aku sudah menikah tahun lalu dan ini anakku. Aku menikah secara sederhana di kampung halamanku dan aku minta maaf tidak mengundangmu. Sebenarnya aku senang sekali jika kamu datang, tapi aku sudah hilang kontak dengan semua teman kuliah.”


Cindy membungkuk sekaligus memberengut. “Sayang sekali. Eh, siapa tadi namanya? Kirana? Kirana. Karina. Kok namanya hampir mirip dengan Karina teman kita ya?“


Aku berpikir sejenak.


Ayolah, Balin. Keluarkan segenap kemampuanmu dalam mengarang cerita.


“Ah iya. Masalahnya begini, Cindy,” aku berdeham untuk menghilangkan gugup. “Tadinya aku ingin menamai dia Kiara tapi saat membuat akta lahir, petugas pencatatan sipil salah mengetik nama menjadi Kirana.”


Gelak tawa Cindy pecah seketika, hingga gadis itu memukul meja saking tidak bisa menahan tawa. Aku lega Cindy percaya dengan cerita konyolku itu, sekaligus bangga pada diriku sendiri. Ternyata aku punya bakat terpendam mengarang bebas.


Aku bisa mendengar dengusan Rama yang bersusah payah menahan tawa. Aku meliriknya, ingin rasanya aku membuang dia ke laut. Tapi ah, sudahlah yang terpenting semoga Cindy puas dengan jawabanku.


Namun, nyatanya aku salah besar. Cindy orang yang pintar. Kelewat pintar. Dia seorang reporter, tentu dia tidak akan puas hanya dengan satu pertanyaan.


Aku melihat mata Cindy menyipit curiga, berusaha mencondongkan tubuhnya agar dapat melihat wajah Kirana. Sedangkan mulutnya menyerbuku dengan puluhan pertanyaan perihal Kirana.


Untunglah, rengekan Kirana berubah menjadi tangis kecil. Baru kali ini aku bersyukur Kirana menangis. Aku gunakan kesempatan ini sebagai alasan aku meninggalkan Cindy. Huft, hampir saja.


Dengan setengah berlari aku menembus keramaian dan sampailah aku di tempat parkir. Meletakkan Kirana di kursi bayi, Rama menyusul dan langsung masuk ke mobil dengan santainya.


Sungguh, sekarang aku sedang menahan diriku agar tidak meninju adik sialan itu. Rahasia Kirana nyaris terbongkar.

__ADS_1


Kulajukan mobil dan Kirana tertidur selama perjalanan pulang.


Ketika mobil berhenti di halaman rumah, Alexa sudah menunggu kami di depan pintu. Kedua tangan Alexa memegang dua buah kotak yang berbeda ukuran. Wajahnya tersenyum ramah seperti biasa ketika kami turun dari mobil.


Rama langsung mendekati Alexa. Namun, aku yang masih menyimpan rasa kesal pada Rama, malas untuk mengobrol dengan siapa pun. Lagi pula untuk apa Alexa menunggu kami di depan rumah?


Aku menggendong Kirana yang malah membuat dia terbangun dari tidur singkatnya.


“Aku kira kalian ada di rumah. Aku baru saja pulang dari rumah kakak perempuanku. Dia punya banyak mainan bekas anaknya yang sudah tidak dipakai lagi. Lalu aku ingat pada Kirana. Jadi aku berniat memberikan ini untuk Kirana dan ada juga kue. Semoga kalian suka dengan kue buatan kakakku.”


“Wah, kebetulan sekali perutku sedang keroncongan,” mata Rama berbinar dan tangan Rama yang cekatan segera menyambar kotak kecil di tangan Alexa. Membukanya. Tampaklah deretan kue brownies bertaburkan parutan keju yang telah dipotong rapi.


“Terima kasih banyak, Kak Alexa, sudah repot-repot memberikan kita kue,” Rama menyengir lebar. “Aku coba ya?”


Rama mencomot sepotong kue dan melahapnya.


“Dan ini, mainan untuk Kirana. Meskipun bekas tapi masih bagus kok.” Alexa mengasongkan kotak yang lebih besar dari kotak yang dipegang Rama.


Bunyi gelentang benda terdengar dari dalam kotak ketika Alexa menyodorkan padaku. Kotak itu tetap berada di tangan Alexa karena aku tak kunjung menerimanya.


Berniat menggerakkan tangan untuk menyentuh kotak itu pun, tidak. Aku hanya memandang sekilas, lalu membuang muka.


Rama yang sedang mengunyah kue tiba-tiba tersedak. Dia menepuk-nepuk dadanya sendiri. Setelah itu, dia berkata, “Mainan dari mana, Kak? Bukannya mainan Kirana hanya kerincing dan boneka beruang saja.”


Aku berhasil membuka pintu dan masuk terlebih dahulu. Langsung berjalan menuju kamar, menaruh Kirana di boks bayi, tapi Kirana malah menjerit dan menempelkan diri ke badanku. Dia tidak mau melepaskan cengkeraman tangan dari bajuku. Seolah tidak mau dirinya ditempatkan di boks bayi.


“Ayolah, Kirana, tadi kamu ingin tidur kan?”


Kirana merengek sambil menjulurkan tangan ke arah pintu.


Apa maksudnya? Apa dia ingin keluar kamar? Aku mencoba membawa Kirana ke ruang tamu. Di sana ada Rama dan Alexa yang sedang mengobrol dan bersama-sama mereka mengarahkan pandangan pada Kirana.


Kirana menggeliat di gendonganku, sepertinya dia ingin turun. Tapi aku berusaha menahannya dan saat itu Alexa menghampiri.


“Dia ingin bermain di lantai,” ucap Alexa lirih.

__ADS_1


“Aku juga tahu.”


“Kalau begitu biarkan saja.” Alexa mengambil Kirana dan meletakannya di atas karpet.


Aku hendak memarahi Alexa yang sengaja menelungkupkan Kirana, tapi sebelum ucapanku keluar, Alexa lebih dulu berkata, “Apa kamu sering membiarkan Kirana tengkurap di atas permukaan yang keras? Ini bagus untuk stimulasi Kirana.”


“Bagus katamu?” cemoohku. Melayangkan senyum getir pada Alexa.


“Tengkurap akan menstimulasi Kirana, yang nantinya akan menjadi kemampuan dasar dia bisa merangkak,” jelas Alexa tenang. Dia sama sekali tidak mudah sakit hati dengan cemoohanku barusan.


“Kalau dia sesak napas dan berakibat fatal bagaimana?”


Alexa memandangku dengan sorot mata geli. Bibirnya melengkungkan sebuah senyuman.


“Tengkurap tidak akan membuat seorang bayi mati, Balin. Bahkan begitu bayi keluar dari rahim ibunya, dokter akan menyarankan agar bayi itu di tengkurapkan di atas dada sang ibu. Manfaatnya banyak sekali. Salah satunya meningkatkan ikatan batin antara ibu dan anak.”


Suara tepuk tangan meriah terdengar dari tempat duduk. Aku menoleh, ternyata Rama memperhatikan kami sejak tadi. Disingkirkannya kotak kue yang telah kosong dan dia ikut duduk menyila bergabung bersama aku dan Alexa. Mata Rama berbinar kagum pada Alexa. Dia menelan kunyahan kue terakhir.


“Kak Alexa tahu banyak hal tentang dunia bayi ya? Kalau begitu Kak Balin harus belajar banyak pada Kak Alexa.”


Rengekan Kirana membuat Alexa mengalihkan perhatian. Dia mengambil benda di dalam kotak yang dia bawa. Sebuah buku. Aku mendengus mengejek Alexa. Bayi sekecil Kirana dibacakan buku cerita? Dia pikir Kirana akan mengerti.


Alexa membuka halaman pertama dan menaruhnya di depan Kirana. Alangkah terkejutnya aku mendapati Kirana senang dengan gambar-gambar lucu di dalam buku. Alexa membacakan isi buku dan menjelaskan dengan lemah lembut hewan apa saja yang tergambar di sana.


“Memangnya bayi boleh dibacakan buku, Kak Alexa?” pertanyaan Rama mewakili pertanyaan yang ada di benakku.


“Sejak berada di dalam kandungan pun bayi sudah bisa dibacakan buku. Membacakan buku untuk bayi bukan berarti kita memaksa dia untuk cepat mengenal huruf dan angka, tapi lebih kepada agar dia memiliki kebiasaan baik yaitu, membaca. Kita bisa menanamkan kebiasaan membaca sedini mungkin.”


“Wah. Kak Alexa hebat. Lalu apalagi, Kak?”


“Sering-sering ajak Kirana mengobrol saja. Meskipun dia terlihat tidak merespons tapi dia merekam apa yang orang dewasa katakan. Itu akan menjadi bekal dia bisa berbicara.”


“Tuh, dengarkan Kak Balin! ajak bicara Kirana sesering mungkin.” Ucap Rama berlagak sok tahu.


Aku berdecak, berdiri meninggalkan Alexa dan Rama. Dua orang ini malah membuatku lelah. Masuk ke dalam kamar, lalu kututup pintu. Akan tetapi aku tak sengaja menutup pintu terlalu keras. Aku saja sampai kaget, apalagi Alexa dan Rama.

__ADS_1


“Jangan diambil hati ya, Kak Alexa. Dia memang seperti itu. Tapi kakakku sebenarnya orang yang baik.”


 


__ADS_2