
Aku membuka mata, dan berguling di tempat tidur. Mengambil ponselku untuk melihat jam.
Pukul 06.00
Kirana belum bangun, maka aku pun berguling lagi ke arah yang lain. Ingin melanjutkan tidur. Namun, tidak bisa karena suara cekikikan orang yang ada di halaman rumahku.
Aku berdecak, menyibak tirai untuk melihat orang yang sudah tertawa pagi-pagi begini.
Ternyata orang itu Alexa dan Rama.
Ditangan Rama tergenggam satu gelas bening yang disumbat dengan plastik. Di dalamnya terdapat banyak gulungan kertas kecil.
Apa yang sedang mereka lakukan? Mereka seperti sedang.... Arisan.
“Ayo, kita mulai, Kak.”
Rama mulai mengocok gelas itu, dan keluarlah satu gulungan kertas kecil. Alexa yang mengambil gulungan itu dan membukanya.
Alexa membaca isi gulungan kertas, “Sebutkan kata-kata yang sering diucapkan Balin!”
Hah? Apa? Apa yang sedang kalian lakukan?
Kalian membuat kuis tentang aku. Dasar kalian semua penggemar fanatikku.
Tampak wajah Alexa yang tengah berpikir, lalu berseru, “Diam kau! Tetangga sok tahu!”
“Ah, ya, betul lalu apa lagi ya?” Rama juga ikut berpikir.
Tak lama Rama menjentikkan jari, dengan berkacak pinggang, dia menirukan gaya bicaraku, “Rama, jaga Kirana dengan betul.”
Alexa pun tergelak.
Ingin rasanya menoyor kepala orang sedang menertawakanku tapi... aku ingat orang itu Alexa. Maka tak jadi. Aku memilih mengulum senyum melihat Alexa tertawa.
Kali ini giliran Alexa yang mengocok gelas, dan Rama yang membuka gulungan kertas.
“Sebutkan sifat buruk Kak Balin!”
“Pemarah,” tukas Alexa.
“Hmm tukang tonjok!” tambah Rama.
Sambil menopang dagu, aku memandang Alexa dan Rama bermain permainan konyol mereka. Mereka sama sekali tidak sadar, kalau orang yang sedang mereka bicarakan tengah menyimak di balik jendela.
Hingga sampailah pada kertas terakhir.
“Apa rahasia Balin yang tidak diketahui banyak orang?” Alexa membaca isi kertas terakhir.
Rama menjentikkan jari, “Kalau itu pasti Kak Alexa belum tahu. Kak Balin itu punya...”
Alexa mencondongkan tubuhnya ke depan dan menyipitkan mata, “Punya apa?”
“Roti sobek,” ucap Rama perlahan.
“Roti sobek?” ulang Alexa.
__ADS_1
“Kak Alexa tidak tahu, kan? Kalau Kak Alexa menikah dengan Kak Balin, Kak Alexa lihat sendiri nanti pemandangan roti sobek dan otot-otot bisep milik Kak Balin. Beh, aku jamin Kak Alexa akan pingsan saat malam pertama.”
Apa? Dasar adik mulut knalpot! Apa dia tidak melihat pipi Alexa yang bersemu merah karena malu?
Sudah mulut knalpot, pikiran kotor lagi.
Ingin rasanya aku timpuk pakai kulit durian. Dasar Rama.
Namun, Alexa tampak kembali biasa saja. Dia memijit keningnya.
“Kalau dari aku apa ya? Rahasianya Balin... Hmm.. Penyayang, mungkin.”
“Kalau penyayang bukan rahasia lagi. Meski Kak Balin orangnya gampang emosi tapi dia itu sebenarnya penyayang.”
“Oh begitu, ya,” ujar Alexa.
“He-em. Buktinya, dia sayang sama Kirana. Meski Kirana bukan anak kandung Kak Balin. Eh.”
Rama segera menangkupkan mulut dengan kedua tangannya. Menoleh dengan perlahan ke arah Alexa yang kini mengerutkan dahi.
Sedangkan di dalam kamar, aku beranjak berdiri.
Tuh, kan. Apa aku bilang? Rama itu mulut ember. Dari dulu aku sudah memperingatinya supaya tidak memberitahu siapa pun tentang ayahnya Kirana.
“Jadi, Kirana bukan anak kandungnya Balin. Lantas, siapa ayah biologisnya Kirana?”
Rama menggarukkan kepala salah tingkah, “Kalau yang itu, Kak Alexa tanyakan saja langsung ke Kak Balin.”
“Memangnya kenapa?”
Secepat kilat Rama berlari ke dalam rumah yang disambut olehku dengan sorot mata menghunus.
Rama berjalan melewatiku seolah tadi tidak terjadi apa-apa. Bahkan dia menepuk bahuku dan menyapa selamat pagi.
“Sudah selesai arisannya?” tanyaku menyindir.
“Arisan? Arisan apa, Kak?” Rama berlagak tidak tahu.
“Jangan pura-pura! Aku tahu kamu tadi kelepasan bicara tentang Kirana yang bukan anakku,” seruku sambil berkacak pinggang.
Kukira Rama akan meminta maaf, tapi nyatanya dia malah mendesah dan menunduk. Raut mukanya berubah agak serius.
“Sudahlah, Kak. Buat apa kita tutup-tutupi lagi? Kak Alexa itu akan menjadi istri Kakak, jadi cepat atau lambat Kak Alexa pasti akan tahu kalau Kirana bukan anak Kak Balin.”
Aku menyambar kaos Rama. Menariknya hingga badan Rama terseret.
“Kamu sama saja dengan Alexa. Sama-sama sok tahu, dan aku peringatkan kamu untuk jangan ikut campur masalahku!” geramku.
Namun, Rama mendorong tanganku yang sedang mencengkeram kaos putihnya. Dia balik memasang wajah melawan dan dia juga mendorong hingga aku mundur beberapa langkah.
“Aku yang harusnya memperingatkan Kakak untuk jangan jaim! Aku tahu Kakak mencintai Kak Alexa. Harusnya Kakak segera menyatakan cinta Kakak itu sebelum terlambat.”
“Tahu apa kau soal cinta?” cibirku, membalas dorongan Rama.
Rama menyeringai.
__ADS_1
“Setidaknya aku punya keberanian untuk menyatakan cinta pada Shinta. Meski berkali-kali ditolak. Tapi Kakak sendiri?”
“Kak Balin, Ibu sudah ingin sekali mempunyai menantu, dan Kirana juga butuh sosok mama. Jadi, Kak Balin menunggu apa lagi?”
“Aku tidak butuh ceramah darimu!”
“Terserah,” ujar Rama yang mendesah putus asa.
Dia berjalan menuju pintu kamarnya. Namun sesaat sebelum masuk, dia berbalik badan.
“Belajar dari kesalahan, Kak! Kak Karina direbut oleh pria lain karena Kakak tidak pernah mengungkapkan cinta padanya. Jangan sampai hal yang sama terulang lagi pada Kak Alexa.”
Kemudian, Rama masuk dan pintu terbanting menutup. Baru kali ini Rama mengatakan sesuatu yang membuatku tersadar.
Aku termenung di tempatku berdiri. Dan tak lama terdengar samar-samar suara ocehan Kirana.
Dia pasti sudah bangun.
Jadi aku pun masuk ke dalam kamar. Kirana sudah berdiri sambil berpegangan ke pinggiran boks bayinya. Kirana tertawa saat melihatku.
Aku berjalan mendekati Kirana, dan memberikan kecupan selamat pagi di dahinya.
Tangan Kirana terjulur seperti ingin mengambil sesuatu. Benda yang dimaksud Kirana ialah kado dari Alexa yang tergeletak di atas meja.
“Bupa,” ucap Kirana.
Ah, iya. Gara-gara ada insiden Rama yang keracunan makanan, aku jadi lupa belum sempat membuka kado pemberian Alexa.
Kira-kira, apa isinya ya?
Aku mengambil kado berwarna merah muda itu, menyobeknya sedikit, dan menyerahkannya pada Kirana. Membiarkan balita itu melanjutkan membuka kado.
Ternyata isinya adalah sebuah sweater rajut berwarna peach dengan bordiran di bagian dada sebelah kiri yang bertuliskan ‘Kirana Putri Mahendra.’
Jemariku mengusap lembut deretan huruf itu. Lalu mengulum senyum.
“Coba kita pakai. Ukurannya pas atau tidak?”
Aku memakaikan sweater itu pada Kirana yang sangat pas di badannya.
“Ini kado dari Tante Alexa. Kirana suka?”
Kirana pun memekik senang, tangannya mengusap sweater yang sedang dipakainya. Kemudian dia bergumam, “Mama.”
“Apa?”
“Mama,” kata Kirana sekali lagi.
Aku tertawa kecil, “Iya, ini kado dari calon mama kamu, Kirana.”
__ADS_1