
Mobilku menelusuri jalanan yang mulus nan lengang. Sepanjang sisi jalan terhampar padang rumput dan di ujung jalan sana, pantai dengan pasir putih telah menunggu kami.
Untung saja hari ulang tahunnya Kirana jatuh di hari libur, jadi aku bisa mengajak Alexa dan Rama berlibur di pantai yang letaknya ada di luar kota.
Aku memarkirkan mobil di tepi jalan.
Pandanganku menyapu sekeliling pantai. Pasir putih berpadu dengan air laut yang super jernih. Tak banyak pengunjung di pantai itu dan pastinya bersih, tak ada sampah sejauh mata memandang.
Bibirku melengkungkan sebuah senyuman. Kemudian aku membangunkan Rama, Alexa dan Kirana.
Enak saja kalian semua tidur. Sedangkan aku capek menyetir mobil berkilo-kilo meter.
“Yeeeyyy... Pantai...” sorak Rama begitu terbangun.
Segera dia melompat dari mobil, berlari dan menceburkan diri di air asin.
Alexa turun dari mobil sambil menggendong Kirana, lalu aku mengambil keranjang piknik dan tas kamera yang ada di bagasi.
Aku dan Alexa mencari tempat yang cocok untuk menghamparkan tikar piknik, mengabaikan Rama yang bermain dengan ombak pantai.
“Biarkan Kirana turun. Jangan digendong terus,” ucapku saat sedang mengeluarkan beberapa makanan dari keranjang piknik.
“Balin,” kata Alexa.
Aku mendongak menatapnya.
“Foto Kirana! Ini pertama kalinya dia menginjak pasir pantai kan?”
“Benar juga,” gumamku sambil mengeluarkan kamera dari dalam tas.
Alexa menurunkan Kirana di pasir putih, dan terlihat ekspresi Kirana yang sangat penasaran dengan apa yang sedang dia pijak.
Satu jepretan aku ambil saat Kirana duduk di pasir pantai dengan Alexa berada di sampingnya, memakai gaun pantai bermotif bunga.
Kemudian Rama yang badannya sudah basah kuyup berlari mendekat. Duduk di sampingku dan langsung menyambar sepotong sandwich.
“Aku juga mau difoto dong,” kata Rama.
Dan puluhan foto Rama dengan latar belakang pantai akhirnya memenuhi isi kamera.
“Satu kali lagi, Kak Balin. Aku mau foto sama Kak Alexa dan Kirana.”
Ternyata yang dimaksud satu kali oleh Rama adalah satu kali tiga puluh. Alhasil aku lelah memotret mereka bertiga.
“Mana kameranya? Aku mau lihat hasil foto tadi,” ucap Rama menjulurkan tangan mengambil kamera di tanganku.
Rama memeriksa hasil jepretanku, tapi dahinya langsung mengernyit.
“Kenapa Kak Alexa dan Kirana saja yang fotonya jelas? Akunya mana?”
Aku tersentak dan merebut lagi kamera dari Rama. Kuperiksa satu per satu dan ternyata benar. Sejak tadi yang menjadi fokusku hanya Alexa dan Kirana saja.
__ADS_1
Rama tidak terfoto. Adapun foto yang menampilkan Rama terlihat buram.
“Kak Balin yang benar dong. Aku kan sudah memasang gaya super keren sejak tadi,” keluh Rama.
“Itu salah kameranya. Tidak mau memotret dirimu,” aku membantah.
Rama mengambil minuman kaleng dan meneguknya. Beruntung suasana hati Rama sedang bagus. Jadi dia berlari lagi mendekati ombak.
Lalu Rama bersorak seraya melambaikan tangan, “Kirana, sini kejar Uncle Rama.”
Kirana yang tahu namanya dipanggil menoleh, bangkit berdiri, dan berjalan mendekati Rama. Dikarenakan Kirana belum pandai berjalan, hanya baru tiga langkah saja dia sudah jatuh tersungkur mencium pasir.
Secara bersamaan, aku dan Alexa berlari ke arah Kirana. Aku mengangkat tubuh Kirana dan Alexa menyeka pasir yang menempel di wajah lucu Kirana.
“Kirana, tidak apa-apa?” tanya Alexa.
“Tidak ada yang sakit kan, Nak?” tanyaku juga.
Kirana tidak menangis, dia malah tertawa dan berjalan lagi ingin bergabung dengan Rama bermain air.
“Rama, hati-hati. Jaga Kirana dengan betul!” teriakku pada Rama.
Rama membalas, “Tenang saja. Kirana tidak akan aku lempar ke laut kok.”
Aku menonton Rama bermain air bersama Kirana, dan saat aku ingin mengambil sandwich, tanganku justru menyentuh jemari Alexa. Dia juga hendak mengambil sandwich yang tersisa satu potong lagi.
Aku segera menarik tanganku, “Ambil saja.”
Saat itu juga Rama melambaikan tangan memanggil Alexa.
“Kak Alexa, kemari!”
Gaun pantai Alexa berkibar ketika dia berjalan mendekat. Menyibakkan rambut yang berantakan akibat ulah hembusan angin. Dia tersenyum.
Aku mengecup kening Kirana.
“Selamat ulang tahun, Kirana sayang. Papa akan selalu menjadi orang terdepan melindungimu dari siapa pun orang yang berniat jahat.”
Dan pipi Kirana yang gembil dihujani kecupan olehku.
Raut wajah Alexa berubah seketika, tapi dia tersenyum lagi saat dia menyadari aku tengah meliriknya. Lalu mencubit lembut pipi Kirana.
“Selamat ulang tahun, Kirana cantik.”
“Oh ya, aku juga belum mengucapkan selamat ulang tahun untuk Kirana,” Rama maju satu langkah.
Dia mengacak rambut tipis Kirana.
“Selamat ulang tahun, Kirana. Semoga besar nanti kamu tidak malu punya paman seperti Uncle Rama.”
“Pa,” ucap Kirana.
__ADS_1
“Apa katanya tadi?” tanya Rama tercengang.
“Papa,” ucap Kirana sekali lagi. Jari telunjuknya yang kecil mengarah padaku.
Aku, Alexa dan Rama sontak tertawa sekaligus bersorak bersamaan.
“Kata pertamanya Kirana,” kata Alexa tertawa menepuk pundakku. “Kata pertamanya Kirana 'papa'. Dia menyebutmu papa.”
Aku tersenyum bahagia, dan air mata bermuara di ujung mataku. Hanya mendengar Kirana mengucapkan kata ‘papa' saja telah membuatku terharu.
Rama dan Alexa berjingkrak riang, sementara Kirana yang tidak tahu menahu, ikut-ikutan bertepuk tangan.
“Katakan sekali lagi, Nak!” ucapku meminta.
“Papa.”
“Oi, kamera mana kamera,” seru Rama berlari mengambil kamera yang sempat aku geletakkan di atas tikar piknik.
Aku mengangkat Kirana tinggi-tinggi yang membuat bayi satu tahun itu tergelak tiada henti. Lalu aku mendudukkannya di pundakku, membawa lari di sepanjang garis pantai.
Diikuti oleh Alexa yang berlari di belakangku dan Rama yang tengah merekam dengan kameranya.
Setelah itu, kami bermain membangun istana pasir. Aku membuat istana pasir bersama Kirana yang tangan dan kakinya sudah kotor oleh pasir.
Alexa membangun istananya sendiri. Sedangkan Rama lebih memilih menenggelamkan diri di dalam pasir. Seakan-akan pasir putih itu adalah selimut.
“Papa... “
“Iya, Kirana sayang,” jawabku saat sedang membuat dinding istana.
Kirana berdiri, tangannya yang kecil dan kotor menyentuh kaosku, dia memberikan kecupan di pipi kananku dan aku membalasnya dengan pelukkan.
Aku tersenyum. Begitu pula Alexa yang melihat adegan tadi.
“Papa sayang Kirana. Papa akan selalu ada untuk Kirana.”
**"
Tanpa di sadari oleh siapa pun, seorang pria bersepatu pantofel hitam mengkilap berdiri di samping mobil mewahnya.
Sambil menghisap rokok, pria itu memperhatikan tiga orang dewasa dan satu balita yang asyik bermain pasir lumayan jauh dari tempatnya berdiri.
Lalu dibuangnya putung rokok ke tanah, dan dia bergumam, “Anak itu harus mati seperti ibu dan kakeknya.”
Sebuah kalung yang tergantung di leher pria itu mengayun ketika pemiliknya berbalik badan masuk ke dalam mobil. Sebuah kalung dengan bandul berbentuk huruf H.
__ADS_1