Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 11 Tetangga Sok Tahu


__ADS_3

Beberapa hari setelah ibu mengunjungi kontrakan, aku berencana rehat dari aktivitasku. Aku ingin menghabiskan waktu di rumah seharian ini.


Sejak pindah kontrakan aku belum pernah bisa istirahat dengan tenang. Ada saja hal yang harus aku lakukan. Mengurus restoran baruku, mengurus Kirana dan keuangan yang kini tak sama seperti dulu lagi.


Aku menggeliat di bawah selimut. Kutarik selimut semakin rapat, hawa dingin pagi belum juga menghilang.


Dari dalam kamarku mulai terdengar suara keramaian jalanan, langkah pejalan kaki yang lewat rumah dan juga deru kendaraan tidak membuatku terusik. Mataku tetap saja menutup rapat.


Hingga ketika aku merasakan betisku menindih sesuatu yang hangat dan juga lembut seperti bantal. Seketika mataku membelalak.


Ya Tuhan. Aku baru menyadari aku sedang menindihi Kirana. Meski kepalaku pening, aku tetap memaksa berdiri, memastikan keadaan Kirana.


Bayi itu sudah terlebih dahulu membuka mata. Tangan dan kakinya bergerak-gerak ingin menggapai sesuatu. Kemudian karena tidak ada yang bisa dia gapai di sekelilingnya, Kirana menggulingkan badan.


Ah, sepertinya aku harus membeli kasur boks bayi. Berbahaya jika Kirana tidur di sampingku dan lagi Kirana sudah bisa berguling. Takutnya dia berguling sampai ke tepi ranjang dan terjatuh.


Karena mataku sudah terlanjur tidak mengantuk lagi, aku memutuskan untuk mengurus Kirana.


Seperti biasa. Mandi pagi lalu dilanjut minum susu. Satu botol habis dan Kirana masih mengecap-ngecap. Tanda dia masih ingin menyusu lagi. Aku membuatkan lagi susu untuk Kirana.


Hari ini dia minum susu banyak sekali. Biasanya satu botol tidak langsung habis. Namun aku menampik pikiran negatif. Mungkin saja Kirana memang sedang lapar.


Ketika aku memberikan botol susu Kirana, ada yang mengetuk pintu depan. Aku membukakan pintu dan Alexa sedang berdiri di depanku dengan senyum malu-malu.


“Hai.”


Aku tidak menjawab.


“Boleh minta bantuan?”


“Maaf tapi aku sibuk.”


“Sebentar saja.”


“Aku harus pergi sekarang juga.”


Baru saja satu detik aku berbohong, Rama menyerobot dari belakangku. Dia menjejalkan buku cetak tebal ke dalam tas. Rambutnya basah dan berantakan. Itu berarti dia sedang buru-buru ke kampus.

__ADS_1


“Kak Balin, kalau nanti ada kurir paket datang tolong bayar dulu sama kakak ya? Kakak tidak akan ke luar rumah seharian ini, kan?”


Dengan wajah tanpa dosa Rama menepuk bahuku, menyapa Alexa saat Rama menyadari keberadaan wanita itu. Kemudian pergi begitu saja. Dasar adik perusak rencana.


“Jadi nama kamu Balin. Tadi adikmu bilang kamu tidak akan pergi ke mana-mana. Jadi, bisa bantu aku sebentar kan?”


Aku menghela napas pasrah. “Iya. Bantuan apa?”


“Lampu kamar aku mati. Bisa minta tolong pasangkan lampu yang baru.”


“Tunggu dulu sebentar.” Kataku kepada Alexa saat mendengar tangisan Kirana dari dalam kamar.


Saat aku masuk ke kamar, kudapati Kirana sudah berada di tepi tempat tidur. Tiga centimeter saja dia bisa terjatuh.


Keputusan untuk membeli boks bayi harus dilakukan segera mungkin. Aku menggendong Kirana dan kuputuskan untuk membawa dia ke rumah Alexa.


Alexa menunjukkan padaku letak kamar tidurnya. Semerbak aroma stroberi tercium oleh hidungku ketika pintu kamar terbuka. Kamar itu hanya bermandikan cahaya dari luar jendela yang tertutup oleh tirai biru. Warna yang senada juga ada pada seprai dan selimut.


Alexa menyibakkan tirai agar pencahayaan di kamar semakin jelas dan aku mendongak ke atas, memandang sebuah lampu bohlam yang menggantung di sana.


“Ini lampu yang akan diganti?”


“Masalahnya tidak ada tangga dan langit langit di kamar ini juga terlalu tinggi. Aku sudah berusaha naik ke atas meja rias tapi masih kurang tinggi.”


Jika diperhatikan tinggi badan Alexa memang hanya sampai di ujung hidungku. Alexa menawarkan diri untuk menggendong Kirana sementara aku mengganti lampu.


Kutarik meja rias tepat di bawah lampu. Lalu naik dengan hati-hati. Ternyata aku pun masih perlu berjinjit agar bisa menggapai lampu. Sedangkan Alexa duduk di kasur sambil mengajak main Kirana.


“Siapa namanya?” Alexa bertanya tetapi pandangannya tertuju pada Kirana.


“Kirana.”


“Dia anakmu?”


“Ya, tentu saja. Siapa lagi kalau bukan aku.” Jawabku dengan nada sedikit sinis. Aku fokus melanjutkan mengganti lampu agar cepat selesai dan cepat keluar dari kamar perempuan banyak tanya ini.


“Tapi Kirana tidak mirip denganmu. Atau mungkin dia lebih mirip ke ibunya. Oh ngomong-ngomong, di mana ibu Kirana?”

__ADS_1


Tanganku berhenti bergerak untuk sesaat. Lalu melanjutkan lagi memutar bohlam dengan perlahan. Aku bersusah payah menelan ludah seolah kerongkonganku tercekat sesuatu.


“Sudah meninggal saat melahirkan Kirana.”


“Oh. Aku minta maaf.”


Aku turun dan mengembalikan meja ke tempat semula. Kuberikan lampu yang telah rusak ke tangan Alexa. Lalu mengambil Kirana. Alexa terus menatapku dengan intens.


“Pasti berat rasanya ditinggalkan istri untuk selamanya.”


Aku tidak ingin meluruskan kesalahpahaman Alexa, bahwa aku bukan suami dari ibunya Kirana. Biarkan saja dia pada kesimpulannya, itu lebih bagus.


Tanpa diduga baik olehku maupun Alexa, Kirana tiba-tiba saja muntah. Cairan putih keluar dari mulutnya yang kecil. Mengenai bajuku dan mengotori lantai kamar Alexa.


Aku panik setengah mati karena Kirana muntah sangat banyak. Namun, jauh berbeda dengan Alexa yang tenang. Dia mengambil tisu untuk membersihkan area mulut Kirana.


Setelah itu, Alexa mengambil tisu lagi hendak membersihkan sisa muntahan Kirana yang menempel di bajuku. Namun aku segera merebut tisu itu. Meskipun aku tidak berniat kasar, tapi sepertinya Alexa berpikiran lain.


“Kenapa kamu tiba-tiba saja muntah, Kirana?” aku bertanya pada Kirana. Walau aku tahu bayi umur tiga bulan tidak akan bisa menjawab. Itu kulakukan untuk mengusir rasa canggung yang mendadak muncul dalam diriku.


“Itu tadi bukan muntah. Kalau kakakku menyebutnya gumoh. Istilah medisnya refluk. Terjadi karena kerongkongan bayi belum berkembang sepenuhnya. Sehingga susu atau makanan yang masuk ke lambung akan kembali keluar. Apa Kirana baru saja minum susu?”


Aku tidak menjawab dan lebih memilih membersihkan mulut Kirana. Meski sudah tidak ada lagi yang bisa di bersihkan.


“Aku punya tips supaya tidak terjadi lagi seperti tadi. Jadi, setelah Kirana minum susu. Gendong Kirana dengan posisi seperti ini. Maaf.”


Alexa mengambil Kirana dariku. Mendekapnya dengan kepala Kirana berada di bahu Alexa. Kemudian, Alexa menepuk-nepuk pelan punggung Kirana.


“Lakukan seperti ini sampai Kirana sendawa.”


“Jangan sok mengajariku. Begini juga aku tahu cara mengurus bayi.”


Aku merebut kembali Kirana dari gendongan Alexa. Lalu berniat beranjak pergi meninggalkan rumah Alexa.


Baru juga dua langkah aku berjalan mendekati pintu, Alexa berkata, “Setiap tengah malam aku sering mendengar Kirana terbangun. Kalau aku jadi kamu, Balin, aku akan memperhatikan pola tidur Kirana supaya dia tidak kebiasaan begadang. Itu tidak bagus untuk proses perkembangannya.”


Aku menoleh sekilas. Alexa masih berdiri di tengah kamar sambil tersenyum. Ketika itu juga aku menyadari kalau kamar Alexa dan kamarku bersebelahan, hanya dibatasi sebuah tembok.

__ADS_1


 


__ADS_2