
Entah kenapa hari ini terasa melelahkan. Sesungguhnya aku mulai merasa repot jika harus menyembunyikan identitas Kirana terus menerus. Seperti hari ini contohnya.
Namun, aku yakinkan pada diriku sendiri kalau kehebohan kabar meninggalnya Indra Irawan pasti akan berlalu seiring berjalannya waktu. Semua orang akan lupa dengan peristiwa itu dan aku akan lebih berani membiarkan Kirana bersama orang lain.
Aku merebahkan diri di kasur dan membuka ponselku. Aku mengetik nama Harsa Russel di sebuah mesin pencari. Ada banyak orang yang bernama sama.
Untung saja setelah lima menit menjelajahi internet aku menemukan berita kecelakaan Indra Irawan yang menyertakan nama Harsa dan memuat foto pria itu.
Yah ketemu. Ini dia Harsa Russel menantu Indra Irawan. Semua profil Harsa beserta fotonya terpampang di layar ponselku.
Dilihat dari fotonya, harus aku akui dia memang pria yang tampan. Berbadan tegap dengan rambut coklat dan dagu yang runcing.
Pantas Karina terpikat olehnya. Dia dibesarkan di Amerika, namun, ketika berusia dua puluh tahun pindah ke negeri ini untuk memulai karir sebagai seorang pebisnis.
Harsa memiliki semua yang seorang wanita idamkan dari seorang pria. Wajah yang menawan, kaya raya, dan memiliki kekuasaan.
Aku membaca biografi Harsa yang membosankan. Tidak ada lagi artikel yang menjelaskan riwayat hidup Harsa secara mendetail.
Seperti apa kehidupan Harsa saat di Amerika? Tak ada satu saja informasi mengenai itu. Benar apa yang dikatakan Cindy. Harsa adalah orang yang tidak suka disorot oleh media.
Sayup-sayup terdengar suara cekikikan dan celoteh dari luar kamarku. Aku penasaran dan sedikit membuka pintu untuk dapat mengintip suasana di ruang tamu.
Ternyata Kirana sedang tengkurap di atas karpet dan Rama menarik karpet itu mengelilingi ruangan. Tampak wajah kegirangan Kirana yang tersenyum memamerkan gusi yang belum ditumbuhi gigi.
Sesaat aku melamun. Sekali lagi ucapan terakhir Kirana sebelum dia meninggal mengiang di ingatanku. Jangan pernah pertemukan anak itu dengan ayahnya.
Itu berarti Karina tahu, Harsa memiliki niat buruk pada bayi kecil yang tak berdosa itu.
Mungkinkah saat ini Harsa sedang mencari anaknya? Merencanakan sesuatu untuk mencelakai darah dagingnya sendiri?
Semua orang menganggap Karina terjatuh ke laut bersama ayahnya. Dan aku harap Harsa juga beranggapan begitu.
“Balin, sedang apa kamu di sana?” Suara Alexa menyadarkanku dari lamunan. Dia ternyata masih di ruang tamu, bahkan berdiri dua meter dari pintu kamarku.
__ADS_1
“Aku?” Aku tergagap. Sedangkan otakku sibuk mencari alasan. “Aku hendak mengambil Kirana. Sudah waktunya dia ganti popok.”
“Oh iya.” Alexa terperanjat lalu memeriksa jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. “Sudah sore hari. Aku juga ada keperluan lain. Kalau begitu aku pamit ya. ”
“Memang seharusnya kamu pergi dari tadi, perempuan sok pintar.” Gerutuku.
“Besok datang lagi ke sini, Kak Alexa.” Rama berteriak sambil melihat punggung Alexa berjalan di pekarangan rumah. Lalu menambahkan dengan suara pelan, “dan jangan lupa bawa makanan.”
Alexa berteriak membalas tanpa menoleh ke belakang. Rambut Alexa melambai-lambai tertiup angin ketika perempuan itu berjalan. Aku melihatnya berbelok dan masuk ke dalam rumahnya.
Waktunya mengganti popok sekaligus memandikan Kirana dan memberikan dia susu.
Dari jendela kamar, dapat kulihat langit jingga sore hari perlahan berubah seiring matahari terbenam di ufuk barat. Lampu jalanan mulai menyala ditemani sinar rembulan yang sesekali bersembunyi di balik awan kelabu.
Kirana belum mau tidur juga. Jadi aku biarkan dia bermain di atas tempat tidurku dengan aku merebahkan diri di sampingnya. Satu kakiku bertumpu di atas lutut, aku melipat tangan dan kuletakan di bawah kepala.
Kupandang langit malam melalui jendela kamar. Namun, terganggu oleh Kirana yang berguling dan menarik-narik kaosku.
“Ada apa, bayi kecil?”
Sejak kapan kotak itu ada di sana?
Pasti Rama yang meletakan saat aku ada di kamar mandi tadi. Aku bangun untuk mengambil kotak itu.
“Kamu mau membuka kotak ini?”
Kirana menjawab dengan ocehan panjang yang tidak jelas.
“Oke. Mari kita lihat apa saja isinya.”
Ada beragam mainan di dalam kotak. Aku mengeluarkan satu per satu. Boneka kuda poni, Buku-buku cerita anak, bola karet, dan mainan yang dapat digantung.
“Ah, lihat, Kirana. Ini bisa digantung di boks tempatmu tidur.” Kataku sambil mengangkat mainan itu tinggi-tinggi untuk menunjukkan pada Kirana.
__ADS_1
Mata Kirana berbinar melihat mainan itu terpasang dan berputar-putar di boks bayi. Kesempatan ini aku manfaatkan untuk membaringkan Kirana di tempat tidurnya.
Dia menjulurkan tangan ingin meraih benda yang terus berputar dan mengeluarkan musik itu. Namun, Kirana mulai mengalihkan perhatian.
Dari pengamatanku, dia sepertinya bosan atau entah frustasi karena tak kunjung meraih mainan yang tergantung di atasnya.
Jadi aku memberikan boneka kuda poni berwarna merah muda yang langsung ditampik lemah oleh Kirana. Lalu ketika aku memegang buku, Kirana mengoceh dan kakinya menendang-nendang selimut.
“Kirana mau papa bacakan buku? Oke, papa bacakan ya.”
Buku yang kuambil tidak banyak memuat tulisan. Ceritanya sederhana dan singkat. Namun, aku yang orang dewasa pun kagum akan ilustrasi di buku cerita itu. Buku itu menceritakan dua saudara kakak beradik yang berkemah bersama orang tua mereka.
Sesekali aku melirik ke arah bayi mungil yang matanya kini setengah tertutup. Napasnya melambat dan teratur.
Aku membetulkan selimut yang tadi ditendang Kirana dan mengelus rambut tipisnya. Hanya dalam beberapa menit, Kirana terlelap.
Aku terpaku memandang wajah Kirana yang lucu dan polos. Tanganku seakan bergerak sendiri menusuk lembut pipinya yang mirip bakpao.
Bibir kecil Kirana mengecap-ngecap. Aku tertawa. Mungkin Kirana mengira dia sedang menyusu.
Kemudian, ujung bibir kecil itu tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman yang membuat mataku terasa panas dan menitikkan air mata bahagia.
Apakah Kirana sedang bermimpi? Apa kira-kira yang dimimpikan bayi sekecil Kirana?
“Papa akan selalu ada untuk melindungimu, Kirana sayang. Tidur yang nyenyak ya. Papa sayang sama Kirana.” Aku mendaratkan kecupan di dahi Kirana.
Lalu aku memutar badan berjalan ke tempat tidurku. Baru satu langkah, kakiku tak sengaja menendang boneka kuda poni. Aku meraihnya dan teringat akan sosok orang yang memberikan boneka berwarna merah muda itu. Alexa.
Kenapa perempuan itu selalu tersenyum meskipun aku selalu membalasnya dengan tatapan tak bersahabat? Aku berharap dia menjauh dariku dan Kirana. Akan tetapi dia malah semakin mendekat.
Ah, sial. Kenapa juga aku memikirkan hal yang tidak penting?
Aku berdecak, membanting boneka itu ke lantai lalu menjatuhkan diri ke atas kasurku yang empuk. Semoga malam ini aku bisa tidur nyenyak tanpa diganggu Kirana tengah malam nanti.
__ADS_1