
Sebelum membaca, bab ini mengandung kegiatan hareudang. Jadi dimohon untuk yang masih single untuk diskip saja. Mohon bijaksana dalam memilih bacaan.
Malam hari ketika semua orang telah pulang, seperti biasa aku mengambil buku untuk dibacakan sebelum Kirana tidur.
Namun, bocah empat tahun itu menolak. Tumben sekali.
Kemudian, Kirana menuntun aku masuk ke ruang baca. Dia menarik buku yang bergambar aneka macam ikan.
Buku itu adalah buku ensiklopedia hewan air.
Aku mengernyitkan dahi, ketika Kirana ingin membawa buku itu ke kamarnya. Tapi aku turuti saja kemauannya.
Di dalam kamar Kirana membuka buku tebal itu, dan berhenti di salah satu halaman.
“Papa, waktu aku tenggelam di danau, aku sempat lihat ikan seperti ini,” dia menunjuk sebuah gambar ikan berwarna merah.
“Ini ikan apa namanya, Pa?”
“Itu ikan louhan merah.”
Aku berdeham, tahu bahwa Kirana masih mengingat kejadian saat Harsa menenggelamkannya.
Tapi aku melihat tidak ada sedikit pun trauma pada anak itu. Dia malah mengangguk pelan, dan membuka lagi halaman buku.
“Papa, apa aku boleh pelihara ikan?”
“Tentu saja boleh. Nanti Papa akan beli akuarium yang besar untuk Kirana.”
“Papa...”
Kini Kirana berbicara dengan raut wajah yang gamang.
“Iya, Nak.”
“Om yang waktu itu siapa sih? Om itu bilang dia papanya Kirana. Apa itu benar, Pa?”
Deg.
Jantungku berdetak lebih cepat saat Kirana bertanya. Aku membuang muka dan menggigit bibir bawahku.
Aku harus jawab apa? Apa aku harus mengatakan bahwa Harsa adalah ayahnya? Tidak. Belum saatnya Kirana tahu.
Bagaimana kondisi mental Kirana nanti jika tahu dia punya ayah yang ingin mencelakainya?
Biarkan aku saja yang menjadi sosok papa untuk Kirana.
“Dia itu... “ aku sedikit bimbang.
“Dia itu serigala yang menyamar menjadi Om Nick.”
“Serigala?” ulang Kirana kebingungan.
“Kirana ingat, kan? Cerita Gadis Bertudung Merah dan Sang Serigala.”
Kirana membulatkan bibirnya membentuk huruf O.
“Oh iya, ingat. Jadi Om itu bohong ya?”
Aku tidak menyahut, dan Kirana juga tidak menuntut jawaban dariku. Dia meletakan tangannya di pipiku. Persis seperti yang Alexa biasa lakukan padaku.
“Terima kasih ya, Papa. Selama ini Papa menjaga dan menyayangi aku. Papa selalu ada untuk Kirana.”
“Tentu. Papa ini kan Papa untuk Kirana.”
Aku mengacak rambut Kirana dan mencubit hidungnya yang membuat dia terkekeh.
“Apa ada pertanyaan lagi?” tanyaku layaknya guru pada muridnya.
__ADS_1
Kirana menggeleng. Lalu aku menyingkirkan buku ensiklopedia itu dan menarik selimut.
Setelah mengucapkan kata-kata selamat tidur dan mencium keningnya, aku menutup pintu, dan berlalu menuju kamar utama.
Derap langkahku terdengar jelas saat berjalan, sambil bola mataku mencari sosok Alexa.
Apakah dia sudah ada di dalam kamar?
Begitu membuka pintu kamar...
Bugh
Aku disambut oleh bantal yang melayang dan mendarat tepat di wajahku.
Pelaku penerbangan bantal itu siapa lagi kalau bukan istriku yang masih mengambek. Dia melipat kedua tangan, seraya memasang muka garang.
“Tidur di luar!” titah Alexa.
Aku memungut bantal yang tergeletak di lantai, tapi aku masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.
“Aku bilang tidur di luar,” seru Alexa semakin keras sambil melayangkan bantal yang ke dua kali.
Hap.
Bantal itu aku tangkap dengan sangat mudah. Sehingga sekarang aku mengapit dua bantal.
“Kamu masih marah?”
“Pakai tanya segala lagi,” gerutu Alexa yang membaringkan diri ke tempat tidur.
“Kembalikan bantal yang satunya!” perintah Alexa menjulurkan tangannya.
Aku mengembalikan ke dua bantal ke tempat yang seharusnya. Namun, Alexa tetap memberengut dan membenamkan diri ke dalam selimut.
Dia tidur dengan posisi memiringkan tubuh, membelakangi aku.
“Peluk saja pohon kaktus di halaman rumah,” sahut Alexa ketus.
Aku menghela napas, ikut berbaring di samping Alexa dan memeluk perutnya dari arah belakang.
Lalu aku menurunkan baju tidur Alexa, menghujani bahunya yang telanjang dengan ciuman. Perlahan ciuman itu naik ke leher dan telinga.
Tanganku yang nakal merayap naik memainkan dua gundukan daging yang ada di depan.
Dan bibirku melengkungkan senyuman saat tubuh Alexa menggeliat merasakan sensasi kenikmatan yang berusaha dia tahan.
“Aku membuat kabar burung kalau Kirana meninggal karena aku ingin Harsa merasa dirinya sudah menang.”
“Tapi tetap saja kamu jahat. Kenapa harus berbohong padaku juga?” Alexa bertanya dengan suara yang sedikit serak.
“Bagaimana aku mau berkata jujur, kalau semua kakakmu ada di dekat kita pada saat itu?”
Hening sejenak. Alexa membalikkan tubuhnya menatap padaku dengan wajah yang masih menampakkan kekesalan.
“Sekarang kamu sudah berani main rahasia-rahasiaan denganku ya? Katakan! Apa kamu punya rahasia lagi selain ini?”
Aku tersenyum, dan mengiyakan kalau aku punya satu rahasia yang orang lain tidak mengetahuinya. Bahkan Alexa.
Membuat dia berdecak marah dan menegakkan kepala.
“Tuh kan. Kamu sudah berani menyimpan rahasia di belakangku,” seru Alexa sambil memukulku menggunakan bantal.
“Kamu merahasiakan apa dariku, Balin? Kamu selingkuh? Punya istri simpanan? Cepat katakan!”
Aku mencium bibir Alexa agar dia diam sejenak.
“Kamu tahu siapa orang yang menyelipkan pisau di tempat tidur Harsa?”
__ADS_1
“Mana aku tahu,” jawab Alexa ketus.
“Coba pikirkan lagi!”
“Ya, mana aku tahu dan mana aku peduli.”
Tak lama, seketika Alexa membulatkan mata dan memandangku penuh keseriusan. Dia menelan salivanya.
“Atau jangan-jangan orang yang menaruh pisau itu... “
Aku mengangguk dan meneruskan perkataannya, “Iya, aku.”
“Tapi bagaimana?”
Aku pun menceritakan bagaimana aku menyamar menjadi perawat rumah sakit dan berjalan di malam hari agar tidak banyak orang yang tahu.
Aku ceritakan pada Alexa percakapan terakhir kali aku dan Harsa.
Semua itu adalah rencanaku.
Kirana nyatanya selamat saat tenggelam di danau. Dia diperbolehkan pulang dengan tetap mendapatkan pemeriksaan dari dokter pribadi di rumah.
Aku meminta Rama untuk menjaga Kirana. Itulah kenapa Rama tidak aku izinkan datang ke rumah sakit menjenguk Alexa. Mengingat Rama itu bermulut ember, yang nantinya akan merusak rencana.
Kabar kematian Kirana pastilah membuat Harsa merasa balas dendamnya telah terbayar.
Dan karena dia sudah tidak punya tujuan hidup lagi, aku menyamar menjadi seorang perawat untuk mempengaruhi psikologi Harsa agar dia mengakhiri hidupnya sendiri.
“Jadi, kamu pura-pura terkejut ketika Kak Alan memberitahu Harsa bunuh diri? Saat itu kamu sebenarnya sudah tahu, kan?” Alexa kini duduk tegak menghadapku.
“Aku juga tidak akan menyangka dia benar-benar melakukan apa yang aku sarankan.”
Aku menghela napas dan menatap Alexa yang berwajah tegang. Aku mengelus dan merapikan rambut ikalnya ke belakang telinga.
“Ada apa? Apa kamu takut mempunyai suami seperti aku?”
Alexa menggeleng tanpa keraguan.
“Aku melakukan itu karena aku masih belum bisa melupakan kejahatannya yang membuat kita berpisah dengan Boy,” ucapku lirih bahkan seperti sebuah bisikan.
Alexa menjatuhkan kepalanya ke dadaku dan aku memeluknya erat.
“Jadi Harsa mengira dia sudah berhasil membunuh Kirana, yang padahal Kirana selamat. Setelah itu dia bunuh diri karena balas dendamnya telah terbayar.”
“Dan dia juga mengaku lebih baik mati daripada hidup di sel penjara. Begitu katanya.”
“Kalau begitu... Harsa... Dia mati konyol.”
Aku hanya sekali mengangguk dan mencium bibir Alexa yang juga membalas dengan sangat agresif.
Kami berguling tanpa melepas ciuman, sehingga kini aku yang berada di atas. Tanganku bergerilya sesuka hati dan Alexa mengeluarkan suara yang memabukkan bagiku.
Lalu kami sama-sama melepas ciuman karena kehabisan napas.
Sejenak aku memandang wajah Alexa yang bersemu merah.
“Hanya kamu satu-satunya orang yang tahu rahasia ini,” ungkapku.
“Hanya aku?” ulang Alexa yang bibirnya merekahkan senyuman.
Aku mengangguk sebagai jawaban.
“Sekarang kamu tahu kan, betapa pentingnya kamu bagiku.”
Alexa tersenyum, bersamaan dengan aku yang melucuti pakaiannya. Melakukan penyatuan di antara sunyinya malam. Hingga kami tidur berpelukan hanya dibalut selimut.
__ADS_1