
“Rama, kamu tahu nama sekolah di mana Alexa mengajar?” tanyaku pada Rama yang baru saja keluar dari kamarnya.
Dia tampak terkejut dengan keberadaanku di depan pintu, namun dia segera kembali bersikap tenang.
Rama yang menggenggam tas kamera DSLR, mengelus dada untuk menenangkan jantungnya yang kaget.
“Tumben Kak Balin menanyakan Kak Alexa,” gumam Rama.
“Hei, cepat jawab!” bentakku sambil mengentakkan kaki.
Rama mendesah, “Kenapa Kakak tidak tanya langsung saja ke Kak Alexa?”
“Kamu itu ya? Ditanya malah balik tanya.”
Rama tergelak mengejek, “Kak Balin pasti mau ketemu Kak Alexa ya? Kangen, ceritanya nih. Baru juga ditinggal mengajar, sudah seperti ditinggal kawin lari saja.”
“Jangan sembarangan kalau bicara ya?” aku berpura-pura membantah.
Meski harus diakui aku memang ingin bertemu dengannya.
“Kak Balin, dengarkan aku! Kak Alexa itu guru TK, pasti sebentar lagi pulang kok. Lagian bukannya kemarin baru saja ketemu ya?”
Rama menyeringai lebar.
“Jangan sok tahu, ya? Aku dan Alexa ada urusan bisnis, tahu.”
“Bisnis apa? Bisnis berumah tangga?”
Aku mendelikkan mata dan siap menghajar adik songong itu. Namun, aku mengurungkan niatku. Percuma, menghajarnya tidak akan menghapuskan keusilan yang sudah mendarah daging.
Secara reflek, Rama mengangkat tangan untuk berlindung, namun dia juga secara tidak langsung memperlihatkan kamera yang tergantung di lengannya.
Dan saat itu juga aku menyadari Rama yang tumben sekali membawa kamera.
“Kamu mau ke mana? tidak biasanya kamu bawa kamera,” aku bertanya curiga.
“A-aku mau belajar fotografi, Kak,” ucap Rama gugup.
“Tumben.”
“I-iya.. I-ni kan hobi baru aku, Kak,” Rama semakin terlihat gugup.
Dan aku semakin menyipitkan mata curiga. Lalu aku mengulurkan tangan di depan muka Rama.
“Mana aku lihat hasil jepretanmu!”
“Apa?” Rama terperangah. Dia menyembunyikan kamera ke belakang badannya.
“Aku mau lihat sebagus apa hasil fotomu.”
“Mulai juga belum. Ini hari pertama aku belajar fotografi.”
“Oh begitu ya?”
Rama mengangguk.
Aku tahu Rama berbohong. Jadi aku mengarahkan jari telunjukku ke arah pintu depan.
“Lihat! ada Shinta!”
__ADS_1
Otomatis kepala Rama melengos ke arah yang aku tunjuk, dan secepat mungkin aku menyambar kamera di tangan Rama.
Adikku itu berteriak, dan menjulurkan tangan ingin merebut kembali kamera dariku.
Pasti dia menyembunyikan sesuatu. Sudah kentara sekali dari tingkahnya yang aneh.
Jadi aku buka isi foto di kamera itu, dan ternyata...
Aku menatap tajam pada Rama yang membalas dengan cengar-cengir. Dia menggarukkan kepala salah tingkah.
Tak menunggu lama, aku menghapus foto-foto yang berisikan aku dengan Alexa berada di dalam mobil pada saat kami pulang makan malam.
Setelah itu aku menyerahkan kamera pada Rama dan berlalu pergi.
***
Mobilku berhenti di depan sekolah taman kanak-kanak yang tampaknya merupakan sekolah elit.
Proses belajar mengajar sudah selesai. Terlihat dari suasana sekolah yang sudah sepi. Hanya ada dua gadis berbeda generasi yang masih berdiri di depan gerbang sekolah.
Dia adalah Alexa bersama gadis kecil dengan rambut dikucir dua.
Aku turun dari mobil, menghampiri Alexa yang tertegun melihatku.
“Balin?” ucap Alexa tak percaya, “Ada apa kamu kemari?”
“Aku tak sengaja lewat,” kataku berbohong.
“Kamu bersama Kirana?”
“Kamu mau sekalian pulang? Sudah selesai mengajar kan?”
“Iya, tapi aku sedang menunggu orang yang akan menjemput Gina.”
Alexa menunjuk bocah yang bersamanya sejak tadi. Gadis kuncir dua itu menatapku. Lalu karena aku seperti tidak menarik baginya, dia melengos.
Entah karena apa, tiba-tiba angin bertiup kencang, menerpa rambut ikal Alexa dan membuatnya berantakan.
Alexa berdecak kesal, tangannya merogoh saku untuk mengambil sebuah ikat rambut dan dia menguncir rambutnya tinggi-tinggi.
Adegan Alexa mengikat rambutnya, seolah menyihirku. Dia tampak anggun, padahal hanya mengikat rambut. Waktu terasa melambat dan seperti ada yang menyalakan musik merdu di telingaku.
“Kenapa aku belum dijemput juga ya?” keluh Gina.
“Mungkin macet di jalan. Gina sabar sebentar ya?” ucap Alexa menenangkan Gina dengan suara lembutnya.
Tak lama, sebuah mobil berhenti di seberang jalan.
“Nah itu dia,” Gina menunjuk.
Dari dalam mobil berwarna kelabu itu, turunlah seorang pria beruban yang menggunakan setelan jas mahal.
Tapi aku ingin sekali tertawa karena jas merah marun itu sangat tidak cocok dipadukan dengan celana berwarna hijau kotak-kotak.
“Daddy... Daddy.. “Gina bersorak riang saat pria beruban itu mendekat.
__ADS_1
Apa? Jadi dia ayahnya? Aku kira kakeknya.
“Hai, My Sweety,”pria itu memeluk Gina.
Lalu pria itu beralih menyapa Alexa yang dibalas dengan sebuah anggukan. Dia sama sekali tak menyapaku. Seolah aku ini makhluk kasat mata.
“Thank you so much, Miss Alexa, sudah menemani Gina.”
Pria beruban bersalaman dengan Alexa. Dan dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat pria beruban itu tetap mencengkeram lama tangan mulus Alexa, meski Alexa bersusah payah melepaskan ikatan tangan itu.
Aku sengaja berdeham keras yang membuat pria keladi itu terkejut dan melepaskan tangan Alexa.
Berani-beraninya dia!
“Sopir yang biasa jemput Gina sedang cuti dan tadi saya ada meeting dengan klien penting. Jadi saya agak terlambat jemput Gina.”
Alexa hanya tersenyum.
“Oh ya, Miss Alexa, apakah mau makan siang bersama saya dan Gina? Kebetulan setelah ini kita akan makan di restoran mahal di dekat sini.”
Alexa menggeleng, “Tidak. Terima kasih, Pak Robert.”
“Lho, jangan panggil pak. Panggil saja Robert.”
Si pria keladi itu tersenyum dan mengedipkan satu matanya pada Alexa.
Tanpa terlihat oleh siapa pun tanganku sudah terkepal kuat, hingga buku-buku jariku memutih.
Namun, aku hanya berdeham sebagai pelampiasan amarahku. Lalu Robert melirikku sinis.
“Apa dia staf kebersihan yang baru, Miss Alexa?”
“Oh d-dia... “ Alexa gelagapan saat menjawab. Jadi aku serobot saja ucapannya.
Aku merangkul bahu Alexa dan berseru, “Saya pacarnya Alexa. Kita permisi pergi dulu, Kakek.”
Segera aku menarik Alexa ke dalam mobilku dan pergi meninggalkan Robert beserta Gina yang masih berdiri di depan sekolah.
Aku dan Alexa tidak berkata apa-apa selama beberapa menit. Aku berkonsentrasi menyetir, masih menyisakan amarah di dada.
Sementara Alexa menoleh ke belakang, mengobrol dengan Kirana. Meski Kirana belum bisa menjawab.
“Apa pria tua itu sering mengganggumu?” tanyaku dengan nada geram. Gemeletuk suara gigiku berbunyi.
“Kenapa kamu diam saja digoda seperti itu?”
“Oh, atau... Kamu itu senang kalau banyak laki-laki menggodamu seperti tadi itu?”
Alexa melirikku dan balik bertanya, “Kenapa kamu jadi peduli padaku?”
Eh, iya, kenapa aku jadi cemburuan begini? Aku kan bukan siapa-siapanya.
Aku berdeham, merubah ekspresi wajahku ke mode tenang dan kalem.
“Jangan terlalu percaya diri ya?” ujarku sinis. “Aku hanya tidak suka di planet bumi ini dihuni oleh laki-laki yang gampang tebar pesona ke semua wanita.”
“Oh, begitu,” gumam Alexa.
Dari ujung mataku, aku melihat dia tersenyum manis.
__ADS_1