
“Suhu tubuh Kirana mulai menurun,” ucap Alexa setelah mengeceknya dengan termometer. Lalu diletakannya termometer itu di atas meja.
Aku bertopang dagu memandangi Kirana yang tidur lelap. Pipinya memerah karena demam, deru napas Kirana terdengar cepat dan alat kompres menempel di dahinya.
“Meskipun begitu, tetap pantau suhu tubuh Kirana setiap beberapa jam,” kata Alexa.
“Aku mau pulang. Sudah larut malam. Kalau terjadi sesuatu pada Kirana, teriak saja yang kencang. Pasti terdengar dari kamarku kok.”
Alexa tadi sempat pulang untuk membersihkan diri dan ganti baju. Lalu kembali lagi untuk melihat kondisi Kirana. Dia memakai baju tidur yang mengekspos lengannya.
Dan mataku terpaku pada bekas luka di siku Alexa.
Aku meraih lengan Alexa dan memutarnya dengan perlahan. Alexa tampak bingung dengan sorot mataku yang memandangi luka itu.
Lalu kulepaskan lengan Alexa.
“Apakah masih sakit?” tanyaku.
“Sudah tidak lagi,” jawab Alexa.
“Terima kasih.”
“Terima kasih untuk apa?”
Aku tak menjawab. Aku membuang muka, mengalihkan pandangan ke Kirana.
Kami saling membisu.
Tapi tak lama Alexa berkata, “kalau mau bilang terima kasih harus yang tulus dari hati.”
“Tidak usah menceramahiku!” kataku ketus.
“Aku tidak akan menerima ucapan terima kasihmu, sebelum kamu benar-benar menunjukkannya dengan tindakan.”
“Maksudmu?” tanyaku menoleh cepat ke Alexa.
“Traktir aku makan,” jawab Alexa secepat aku bertanya. “Baru setelah itu aku akan menerima ucapan terima kasihmu.”
“Terserah. Aku sama sekali tidak rugi jika kamu tidak mau menerimanya.”
Alexa menepuk pundakku, “panggil aku jika ada apa-apa!”
Kemudian, Alexa melangkah pergi, menutup pintu depan dan rumah kembali sunyi.
Aku sengaja mendorong boks bayi agar lebih dekat dengan ranjangku. Lalu aku membaringkan diri. Mencoba untuk tidur, tapi tidak bisa.
Dua jam aku menghabiskan waktu hanya sekedar berguling di atas tempat tidur.
Aku memaksa diriku untuk memejamkan mata. Namun, aku malah melihat bayangan Alexa. Jadi mendadak aku membuka mata lagi.
Menghela napas untuk mencoba tenang. Tapi bayangan Alexa memang tidak bisa pergi dari pikiranku. Ingin aku merengkuh Alexa untuk tetap berada di sini.
Cih, sedang apa aku ini?
“Ayo, tidur, Balin. Tidur! Jangan memikirkan yang dia terus!” aku bergumam pada diriku sendiri sambil membenturkan kepala ke tembok.
Jam menunjukkan hampir tengah malam, dan mataku belum juga mengantuk. Lalu kuingat pesan Alexa untuk mengecek suhu tubuh Kirana.
Panasnya naik lagi. Padahal Kirana tidak gelisah dalam tidur.
Aku mendesah lesu. Aku merasa gagal dalam menjalankan amanat dari Karina. Ku tempelkan telapak tanganku di dahi Kirana.
Sesaat kemudian, Kirana terbangun. Mulutnya mengecap-ngecap. Mungkin dia haus.
Aku memberikan minum untuk Kirana dan dia minum dengan tegukan yang cepat. Lalu menggendongnya karena dia tampak ingin bangun dari tempat tidur.
Aku meletakan pipiku di kepala Kirana. Berharap rasa sakitnya bisa tersalurkan kepadaku.
“Kalau bisa Papa memilih, biar Papa saja yang sakit. Kirana jangan.”
Tepat saat itu, aku merasakan tubuh Kirana bergetar hebat. Aku menunduk dan melihat Kirana kejang.
Wajahku seketika berubah pucat, jantungku memompa darah lebih cepat dari biasanya dan dalam sekejap tubuhku juga ikut bergetar karena terlampau panik.
__ADS_1
“ALEXA... ALEXA... ALEXA.”
Aku berteriak sekencang mungkin. Tidak peduli akan mengganggu tetangga yang lain.
“ALEXA, KIRANA KEJANG!”
Kirana kejang, dia tampak kesusahan untuk bernapas. Tubuhnya menggigil. Dan aku yang dalam kepanikan luar biasa tak bisa berbuat apa-apa.
Aku mendengar langkah kaki masuk ke dalam rumah, aku tahu langkah kaki itu pasti Alexa.
Alexa langsung menuju kamarku dan dia pun menjerit sama paniknya denganku. Matanya membelalak dan ditutupinya mulut yang terperangah.
“Alexa, tolong! Kirana kejang aku tidak tahu harus bagaimana,” kataku dengan nada memelas.
Raut wajah Alexa dengan cepat berubah tenang. Dia menggendong Kirana dan meletakannya di atas tempat tidurku. Lalu memiringkan tubuh Kirana ke sebelah kanan.
“Balin, cepat keluarkan HP! Nyalakan stopwatch! “
“Untuk apa?” seruku.
“Lakukan saja!” pekik Alexa tak mau kalah.
Aku turuti permintaan Alexa meski terdengar aneh. Sementara itu, Alexa sendiri mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi dokter anak.
Namun, sampai Alexa mencoba menelepon tiga kali pun, sama sekali tak ada yang mengangkat telepon. Dia menutup telepon itu sambil menggerutu.
Tengah malam begini sulit untuk menghubungi dokter.
“Hei, dengar! Kenapa kamu posisikan tubuh Kirana seperti itu?”
“Balin...”
“Kenapa aku harus menyalakan stopwatch? Kirana sedang kejang.”
“Aku tahu...”
“Ini bukan saatnya main-main,” kataku setengah berteriak saking paniknya.
“Balin, aku mohon tenang!”
Kirana perlahan berhenti kejang. Dia menarik napas yang sangat dalam. Lalu Kirana kecilku tampak lemas. Alexa melihat waktu yang tertera di stopwatch.
Alexa bernapas lega karena Kirana kejang tidak lebih dari lima menit.
Aku menjadi terheran, namun sebelum aku menanyakannya, Alexa sudah menjelaskan tanpa aku minta.
Kata Alexa, jika anak kejang demam lebih dari lima menit, itu artinya harus segera dibawa ke rumah sakit atau tenaga medis.
Tapi aku tidak peduli, mau Kirana kejang tiga detik pun aku akan bawa Kirana ke dokter.
***
Di ruangan dokter di sebuah klinik 24 jam. Dini hari.
Aku dan Alexa memutuskan membawa Kirana ke klinik yang jaraknya paling dekat dengan rumah.
Mataku tak bisa lepas dari Kirana yang terbaring di tempat tidur. Dokter laki-laki yang tampak masih muda itu selesai memeriksa Kirana, lalu melepaskan stetoskop dan menyampirkannya ke leher.
“Bagaimana kondisi Kirana, Dok?” tanyaku tidak sabar.
“Bapak, Ibu, mari duduk dulu. Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan.”
Dokter itu menunjuk dua buah kursi yang berhadapan dengan meja dokter. Aku dan Alexa duduk dengan perasaan was-was. Tapi dokter itu terlihat tenang.
“Sebelumnya saya salut dengan Bapak dan Ibu yang sudah melakukan pertolongan pertama dengan tepat pada anak yang kejang demam seperti yang dialami Kirana,” Dokter itu mulai berbicara sambil tersenyum.
Mata sang Dokter melirik aku dan Alexa bergantian, “kalau boleh tahu siapa yang melakukan pertolongan pertama tadi?”
Aku menunjuk Alexa.
__ADS_1
“Ya, bagus sekali, Bu,” puji sangat Dokter. “Pertolongan pertama anak kejang demam yaitu dimiringkan ke kanan karena akan sangat baik untuk menjaga sirkulasi oksigen.”
Dokter berlanjut menjelaskan mengapa pentingnya memiringkan badan anak ke sebelah kanan ketika kejang demam yang tidak terlalu aku dengarkan. Yang ingin aku tahu bagaimana kondisi Kirana.
Bisa tidak Dokter, langsung ke inti permasalahannya Kirana saja?
“Jadi, saya ingin bertanya, apakah di dalam keluarga ada yang pernah mengalami kejang demam? Atau ada yang memiliki riwayat penyakit epilepsi?”
Alexa menyikutku.
Aku gelagapan. Aku tidak bisa menjawab. Kirana bukan darah dagingku dan aku tidak tahu apakah Karina atau keluarganya pernah mengalami kejang demam. Atau epilepsi. Atau mungkin dari keluarga Harsa?
Aku menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak tahu, tapi Dokter tampaknya menangkap jawaban ‘tidak ada'.
“Karena biasanya kejang demam ini disebabkan karena faktor ke turunan. Tapi, ada juga faktor-faktor lain.”
Dokter kembali menjelaskan panjang lebar tentang penyebab kejang demam bisa terjadi pada anak.
“Di saat Kirana kejang, apakah Ibu Bapak sempat mengecek suhu badan Kirana?”
Kali ini aku dan Alexa kompak menggelengkan kepala. Dan beberapa pertanyaan selanjutnya, aku menjawab dengan jawaban singkat.
Lalu Dokter menyimpulkan bahwa Kirana baik-baik saja, dan menyarankan agar Kirana tetap berada dalam pengawasan dokter selama beberapa jam ke depan, karena dikhawatirkan terjadi kejang lanjutan.
“Jadi, Kirana tidak apa-apa kan, Dok?” tanyaku sekali lagi memastikan.
Dokter itu tersenyum, “kejang demam tidak akan menimbulkan efek jangka panjang, Pak. Tenang saja.”
Akhirnya aku bisa bernapas lega setelah mendengar penjelasan dokter.
Pagi hari, matahari telah menyingsing.
Kirana sudah diperbolehkan pulang. Dia tampak ceria berada di pelukan Alexa saat aku menyetir mobil dalam perjalanan ke rumah. Dia tidak terlihat seperti bayi yang baru sakit demam.
Suhu tubuh Kirana sudah kembali normal hanya dalam beberapa jam, dan dia pun ceria seperti sedia kala. Padahal aku sebagai ayahnya sudah paniknya luar biasa.
Sudah ada Rama yang menunggu kami di luar rumah. Dia memakai celana dan sepatu yang kotor oleh lumpur kering. Tas gunung tergeletak tak jauh dari kakinya.
“Kalian dari mana saja sih?” tanya Rama berkacak pinggang.
“Kirana sakit. Tadi malam kita membawanya ke klinik,” jawab Alexa.
“Apa? Kirana sakit?”
“Iya. Tapi sekarang sudah sembuh kok. Kakak kamu juga kemarin jatuh sakit.”
“Oh begitu, lalu siapa yang merawat Kak Balin dan Kirana sewaktu sakit?”
Tak ada yang menjawab.
Kemudian Rama tertawa. “Jangan bilang Kak Alexa yang merawat Kak Balin.”
***
Hai, pembaca setia Papa Untuk Kirana...
Apa kabar kalian semua?
Sejumput info tentang kejang demam yang author tulis di bab ini, author kutip dari video Saling Tanya dr. Mesti dan Tasya Kamila di chanel youtube Tentang Anak.
Bagi kalian semua yang punya pengalaman anak kejang demam bisa share pengalamannya di kolom komentar.
Terima kasih,
Salam hangat,
Author.
__ADS_1