
“Papa, lihat!”
Kirana menunjukkan jarinya ke toko mainan di seberang jalan. Bibirnya mengembangkan senyuman.
“Kirana mau beli mainan?”
“Mau,” sahut Kirana mengangguk dengan pandangan tak lepas dari toko di seberang jalan.
“Okey, tapi hanya boleh beli satu mainan. Kita tidak bisa beli banyak-banyak karena susah saat kita pindah nanti.”
“Iya, Papa.”
Setelah makan, aku dan Kirana pergi menyeberangi jalan menuju toko mainan. Kirana senang bukan main ketika melihat deretan mainan yang tersusun rapi.
Bukan hanya mainan tapi toko itu juga merangkap menjadi toko buku dan alat tulis.
Kami berjalan menelusuri setiap rak, dan langkah kaki Kirana terhenti ketika berada di rak buku anak-anak. Kirana meraih satu buku. Dia membolak-balikkan buku itu, dan tertawa kecil.
“Mau ini.”
Aku tersenyum, sekaligus mengacak poninya. Dari sekian banyaknya mainan, dia malah memilih buku.
“Pintar anak Papa.”
Mendadak saja, aku teringat akan orang yang pertama kali memperkenalkan buku pada Kirana. Tak lain dan tak bukan ialah Alexa.
Aku menghela napas dalam. Di taman tadi aku bertemu nenek yang sifatnya mirip Alexa, sekarang di toko mainan, aku teringat lagi dengan dia.
Kenapa rasanya susah sekali untuk melupakan gadis satu itu?
Aku menggelengkan kepala agar pikiran tentang Alexa segera angkat kaki dari otakku dan Kirana memperhatikan aku yang memijit kening.
“Papa sakit?” tanya Kirana.
“Tidak. Papa tidak sakit. Papa hanya... sedikit pusing.”
Kemudian, aku membayar buku yang diinginkan Kirana dan segera masuk ke dalam mobil. Tak lupa aku selalu mengamati keadaan sekitarku sebelum pergi. Memastikan tak ada orang yang sedang mengikuti kami berdua.
Di sepanjang perjalanan Kirana melihat-lihat buku yang baru dibelinya. Meskipun dia belum bisa membaca, tapi Kirana sangat menyukai buku. Aku menyunggingkan sebuah senyuman.
“Nanti kalau kita sudah menemukan penginapan, Papa akan bacakan bukunya ya?”
Satu tanganku terulur untuk mengusap kepala Kirana.
Lalu aku mendadak menginjakkan rem, karena tepat di depanku ada seorang pria kurus yang sepertinya baru saja terjatuh dari sepeda motor.
“Kirana, tunggu sebentar, Papa mau bantu orang yang di sana itu.”
“Okey Papa.”
Aku turun dari mobil dan menghampiri pria yang terduduk di jalan aspal. Dia menekuk satu lututnya yang tampak berdarah dan sebuah sepeda motor tergeletak tak jauh darinya.
“Tolong saya Tuan... Saya ditabrak lari... “ pinta pria itu memelas.
Aku menyadari bahwa kami sedang berada di jalanan yang sepi tak ada kendaraan lain yang lewat, dan tak ada rumah penduduk yang bisa diminta pertolongan.
Maka aku mengulurkan tangan berniat membantu pria itu berdiri. Namun tak disangka pria itu malah menarik tanganku hingga tubuhku jatuh sungkur.
__ADS_1
Seketika beberapa orang muncul dari balik semak-semak. Membawa tongkat dan rantai.
Sial. Jebakan.
Secepat mungkin aku berusaha berdiri, tapi salah satu dari mereka memukul kepalaku dan disusul pukulan dari yang lain.
Aku mencoba melawan tetapi jumlah mereka ada enam orang. Aku kalah telak. Mereka dengan puas hati menghujaniku dengan pukulan di muka dan perut.
Tak lama sebuah mobil mewah berhenti tak jauh dari mobilku. Sang empunya mobil yang memakai sepatu pantofel mahal turun dengan dibarengi tawa yang dingin.
“Cepat ambil anaknya!”
Aku mendongak untuk melihat siapa orang itu.
“Harsa,” panggilku geram dan tanganku otomatis terkepal.
Salah satu dari anak buah Harsa mengambil Kirana dari dalam mobilku dan menyerahkan pada Harsa.
“Kirana, NO!” teriakku bangkit.
Hendak merebut kembali Kirana, namun aku ditahan oleh dua anak buah Harsa yang lain.
“JANGAN AMBIL KIRANA!” raungku.
Harsa hanya tertawa puas melihatku babak belur. Dia menghisap rokok di dekat Kirana, dan sengaja menyemburkan asapnya pada balita kecil yang tangisnya mulai pecah.
Kirana terbatuk karena asap rokok, tapi Harsa sama sekali tidak peduli.
Kirana tahu, dia sedang bersama orang yang akan berbuat jahat padanya. Dia terus menangis dengan kedua tangan mengarah padaku.
Aku pun menjulurkan tangan, ingin meraih tangan kecil itu, namun antek-antek Harsa sangat kuat mencengkeram lenganku.
“Papa,” rengek Kirana.
Aku mengarahkan tatapan penuh benci pada Harsa. Ingin sekali aku meninju wajahnya, aku pun menggeliat untuk melepaskan diri dari anak buah sialan ini yang tetap memegangi tubuhku.
“Harsa, lepaskan Kirana! Mau kamu apakan dia?”
Sekali lagi Harsa hanya tertawa melihat aku yang berusaha memberontak.
“Kenapa kamu ingin mencelakai Kirana, Harsa, padahal dia anakmu?”
“Sebentar lagi mimpi burukku akan hilang,” gumam Harsa.
Dia menoleh pada Kirana, “Lihat! Papa kamu sekarang tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Sudah tidak ada lagi yang bisa menyelamatkanmu, bayi kecil.”
Dia mengayunkan tangan memberi isyarat memerintah pada semua anak buahnya.
“Kalian bereskan pria sok jagoan ini. Kalau perlu buang mayatnya ke laut!”
Harsa melangkah masuk ke dalam mobil dengan membawa Kirana yang menangis histeris.
“KIRANA... KIRANA... NO!”
“Papa... Papa...”
“KEMBALIKAN! KEMBALIKAN KIRANA, HARSA!”
__ADS_1
Bug.
Satu tinju mendarat di perutku. Semua orang menertawakan ketidak berdayaanku merebut Kirana.
Bagaimana aku bisa melawan? Sementara kedua lenganku ditahan dengan begitu kuat, dan satu per satu anak buah Harsa memberikan pukulan yang bertubi-tubi.
Aku terus berteriak memanggil Kirana dan menatap mobil mewah yang perlahan menjauh. Pandanganku buram akibat darah dari kepalaku mengalir hingga menutupi mata.
Aku terbatuk mengeluarkan darah. Sedangkan para anak buah Harsa tanpa ampun terus memukuliku.
Hingga tubuhku limbung terbaring di jalan beraspal. Aku tak mampu melihat dengan jelas. Namun telingaku masih bisa mendengar bunyi panjang klakson mobil.
“Hai, jangan beraninya main keroyok!” teriak seorang pria.
Entah siapa pria itu, tapi yang jelas aku mendengar suara langkah kaki berlarian dan disusul bunyi deru motor.
Semua anak buah Harsa kabur. Hah? Dasar pengecut!
Aku masih belum mampu melihat pria itu, untuk sekedar mendongakkan kepala saja rasanya sakit luar biasa.
“Coba kita lihat pria malang itu!”
Lalu aku merasakan sebuah tangan lentik membalikkan badanku.
Terdengar pekikan seorang wanita, “Astaga, Frans. Dia Balin, teman kita.”
***
Sementara di dalam mobil mewah, Kirana masih menangis pilu memanggil papanya. Di samping Kirana, Harsa duduk dengan satu kaki bertumpu di atas lutut.
Harsa tengah menelepon seseorang.
“Ya, Pak Komisaris, aku ingin namaku tidak ada di dalam catatan kepolisian. Jika ada laporan yang merusak nama baikku, anggap saja itu angin lalu.”
Seseorang di seberang telepon sana menjawab.
“Saya akan segera kirimkan sejumlah uang yang kau minta.”
Tut.
Panggilan berakhir, Harsa menoleh pada Kirana dengan tatapan tajam menghunus
“Hai, bayi! Diam!” bentak Harsa.
Namun bentakan dari Harsa hanya membuat Kirana semakin takut dan semakin kencang menangis.
“DIAM!” geram Harsa.
“Atau mulutmu aku sumpal dengan kaos kaki. Mau?”
Kirana yang mengerti ucapan Harsa sontak terdiam dan menutup mulutnya menggunakan kedua tangan. Dia pun menggeleng.
__ADS_1