Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 23 Sarapan


__ADS_3

Aku, Alexa dan Kirana pulang ke rumah kontrakanku dalam keadaan keroncongan. Aku hanya sempat makan roti sebelum pergi ke rumah sakit. Itu pun hanya satu gigitan, lidahku terasa pahit menelan apa saja.


Lebih parahnya lagi, Alexa. Dia belum makan sama sekali saking sibuknya mengurus Kirana yang sakit.


Jadi, kami mampir membeli bubur ayam saat perjalanan pulang.


Sekarang kami duduk bertiga mengitari meja makan. Aku hanya mengaduk-aduk bubur milikku dengan lesu. Sama sekali tidak ada gairah untuk memakannya.


Dan ku lihat Alexa juga belum menyentuh buburnya. Dia lebih mementingkan menyuapi Kirana. Lalu aku merebut mangkok yang ada di tangan Alexa.


“Aku saja yang menyuapi Kirana. Kamu makan!” kataku tanpa menatap Alexa.


“Tapi kamu juga belum menghabiskan buburmu?” tanya Alexa yang melihat buburku masih utuh.


“Aku suruh kamu makan, ya berarti makan saja. Tidak usah banyak tanya!”


Alexa memberengut tapi menuruti apa yang aku perintahkan.


Hening tercipta untuk beberapa saat. Aku menyuapi Kirana yang tidak mau membuka mulut. Hanya mau makan beberapa suap saja, Kirana mulai merengek.


“Sepertinya Kirana sudah tidak mau makan lagi,” ucap Alexa yang baru saja meletakan mangkok di wastafel.


“Dari tadi dia terus saja melepeh makanannya.”


“Ya, namanya juga sedang sakit,” kata Alexa santai. “Yang penting ada makanan yang masuk. Aku akan ambilkan obatnya Kirana.”


Alexa menepuk bahuku sebelum dia pergi mengambil tasnya. Lalu kembali lagi dengan membawa satu kantung berisi obat sirop milik Kirana.


Aku membaca petunjuk takaran yang tertera di label obat. Membuka botol itu, mengambil obat dengan pipet. Kirana menangis saat kuberikan obat, tapi segera Alexa menggendongnya.


“Akan aku coba tidurkan Kirana. Lebih baik kamu juga meminum obatmu dan istirahat.”


Aku meraih mangkok, membawanya ke kamar. Namun, begitu di dalam kamar, keinginan untuk merebahkan diri di kasur begitu kuat. Jadi, aku letakkan saja mangkok ke atas meja.


Aku duduk di atas ranjang, mengatur posisi bantal yang kujadikan sandaran dan memasukkan kaki ke dalam selimut.


Ucapan Ibu kemarin merasuki pikiranku kembali.


“Kirana juga butuh sosok seorang ibu, Balin. Dari sejak lahir, dia tidak mengenal siapa ibunya. Ini akan berpengaruh ke kondisi mentalnya Kirana.


Terlebih jika Kirana beranjak besar. Pasti akan ada rasa iri ketika Kirana melihat teman sebayanya yang masih memiliki seorang ibu.


Apakah kamu tidak mau memberikan Kirana seorang ibu?


Ibu harap kamu mulai memikirkan hal ini.”


Benar juga apa yang dikatakan Ibu. Kirana butuh sosok seorang ibu. Kasih sayang dari seorang ayah saja pasti terasa kurang lengkap.


Apakah sudah waktunya aku untuk mulai serius membangun rumah tangga?

__ADS_1


Ketika aku larut merenung, Alexa masuk ke kamar. Menaruh Kirana dengan sangat perlahan ke dalam boks bayi. Lalu dia menghampiriku. Duduk di tepi ranjang.


“Masih belum makan juga?”


“Kirana sudah tidur?” aku balik bertanya mengalihkan pembicaraan.


Alexa menoleh ke Kirana yang terlelap di boks bayinya.


“Iya, sudah.”


Namun sia-sia aku mengalihkan pembicaraan karena nyatanya Alexa tetap saja mengambil mangkok. Dia menyodorkan sesendok penuh bubur ke depan bibirku.


“Ayo makan! Aaa!”


Aku membuka mulut hendak menolak tapi Alexa dengan cepat memasukkan sendok itu ke dalam mulutku. Aku tersentak karena kaget.


Dan lagi. Buburnya masih panas. Tidak ada cara lagi selain menelannya bulat-bulat. Aku mengernyit, saat bubur itu meluncur di kerongkonganku.


Rasa terbakar langsung menjalar di seluruh bagian mulutku hingga ke kerongkongan.


“Alexa, kamu a...”


Satu sendok penuh masuk lagi ke mulutku, bahkan di saat aku belum sempat menelan. Aku sampai harus mengerjapkan mata untuk bisa mendorong bubur itu masuk ke perutku.


Hup


Hup


Hup


“Aku suruh kamu makan, ya makan saja. Tidak usah banyak tanya!” ucap Alexa sama persis yang aku katakan padanya tadi.


Oh jadi, dia sedang balas dendam ceritanya.


Aku berhasil menahan lengan Alexa yang akan menyuapiku lagi. Aku menyambar mangkok di tangan Alexa dan menaruhnya lagi di atas meja.


“Aku bukan bayi yang makan harus suapi, tahu?” kataku ketus.


“Iya aku juga tahu kalau kamu bukan bayi,” kata Alexa mendebat tapi bibirnya merekahkan sebuah senyuman.


Aku mengamati sepasang bola mata berwarna hitam mengkilap milik Alexa. Mata itu mengerjap sekali lalu pandanganku beralih turun ke bawah. Tepat di bibir Alexa yang tersenyum. Menampilkan satu gigi gingsul di sebelah kanan.


“Aku punya pertanyaan untukmu.”


Alexa menggumam, “kalau dijawab apakah aku dapat hadiah?”


Lalu Alexa terkekeh, tapi berhenti ketika melihat aku yang tidak bergeming. “Ya, kamu mau tanya apa?”


“Kenapa kamu masih bisa tersenyum padahal aku sering bersikap dingin padamu?”

__ADS_1


Tampaknya Alexa tengah berpikir, diketuk-ketukan jari telunjuknya ke pelipis.


“Mungkin, karena tuntutan pekerjaan,” jawab Alexa.


“Sebagai guru TK yang harus sabar menghadapi berbagai macam karakter anak, aku jadi sudah terbiasa saat berhadapan dengan orang sepertimu, Balin.”


“Begitu. Lantas karena profesimu yang tampaknya sudah mendarah daging itulah yang membuat kamu mendekati Kirana?”


“Setiap aku melihat Kirana, aku teringat akan keponakan-keponakanku ketika dulu mereka masih bayi.”


Tatapan mata Alexa kosong, lalu tersenyum. Pasti di otaknya sedang merekam kenangan Alexa bersama para keponakannya.


“Sudah selesai pertanyaannya? Sekarang cepat minum obatmu dan istirahat!”


“Kamu tidak bekerja hari ini?”


“Aku sudah izin tidak akan mengajar untuk hari ini.”


“Kenapa?”


“Karena kamu dan Kirana sakit. Apalagi.”


Alexa membantu mengeluarkan obat yang akan aku minum. Kemudian dia membungkuk agar bisa memungut mainan Kirana yang sejak kemarin berceceran di lantai.


Mengumpulkan mainan Kirana dalam satu wadah dan meletakan di salah satu sudut kamar.


“Kamu mau apa?” tanyaku setelah meneguk air putih.


“Membereskan kamarmu. Kamu pikir Kirana sakit karena apa? Karena kamar kamu berantakan. Bisa menjadi sarang penyakit. Contohnya ini.”


Alexa menyambar kaos yang tersampir di sandaran kursi. Dia mengendus kaos itu, tapi secepat kilat langsung menutup lubang hidung dan dahinya mengerut.


“Bau sekali,” ucap Alexa mengibaskan tangan di depan hidung.


“Hei, kembalikan kaos itu!”


Tanganku berhasil meraih ujung kaos, sedangkan ujungnya lagi masih digenggam oleh Alexa.


“Tidak. Kaos bau keringat begini masih kamu simpan di kamar?” Alexa menarik kaos lebih kuat.


“Apa katamu? Bau keringat? Sembarangan kalau bicara.” Aku tidak mau kalah, menarik kaos lebih kuat lagi.


“Balin, kamu diam saja kenapa sih? Aku mau cuci baju ini.”


“Kamu yang diam!”


Sekuat tenaga aku tarik kaos itu dan apa yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan.


Alexa memekik, tubuhnya terpelanting ke depan dan menubruk badanku yang membuat tubuh kami berdua ambruk di atas tempat tidur. Wajah Alexa terjerembap di dadaku.

__ADS_1


 


 


__ADS_2