
Deg.
Sepasang mata hitam mengkilap mengamatiku. Alexa menjauhkan kepala dan mengusap rambutnya.
Wajahku terasa panas karena malu. Pasti sekarang mukaku semerah buah tomat. Aku berdeham untuk mengusir perasaan yang berkecamuk.
“Kenapa dengan rambutku?”
“Tadi ada semut,” kilahku.
“Oh ya, mana?”
Alexa menyisir rambutnya menggunakan jemarinya yang lentik.
“Sudah tidak ada.”
Alexa duduk tegak, menutup mulut yang ingin menguap, lalu mengucek matanya. Tampaknya rasa kantuk Alexa sudah hilang. Dia membuka ponselnya.
Beberapa menit berlalu, di antara kami berdua belum ada yang berniat keluar dari mobil. Kami hanya duduk termenung.
“Kenapa kamu belum keluar dari mobilku?” tanyaku pada akhirnya dengan sedikit membentak.
“Ini juga mau keluar kok. Terima kasih atas makan malamnya,” ucap Alexa merengut.
Dia membuka pintu mobil, satu kakinya telah menapak di tanah.
“Hei, tunggu!”
“Apa? Katamu, aku disuruh keluar,” protes Alexa yang kembali menutup pintu mobil.
“Apa makanan favoritmu?”
“Apa?” Alexa balik bertanya terheran.
“Apa makanan favoritmu? Makanan yang menjadi kesukaanmu apa?” tanyaku kembali geram.
Menjawab makanan kesukaan saja lama sekali. Aku dibuat kesal oleh Alexa yang diam saja. Dia justru menatap tajam padaku.
Lalu dicondongkan badannya ke depan mendekatku. Hatiku semakin berdebar tidak karuan seiring jarak kami yang semakin menipis.
“Kamu,”
“Apa?” Kini giliran aku yang balik bertanya. Bingung.
Apa maksudnya? Memangnya aku sejenis makanan?
“Aku ingin sekali memakanmu, Balin. Hup!”
Alexa menggigit udara kosong di samping leherku. Berpura-pura mengunyah. Kemudian terkekeh.
“Aku serius. Apa makanan kesukaanmu? Cepat katakan! Tidak usah bertele-tele.”
Dia lagi-lagi mengacuhkan pertanyaanku. Meletakkan satu tangannya yang terasa hangat di pipiku. Tatapan matanya lurus ke mataku.
Aku berusaha mengatur napas agar tidak terlihat gugup. Sekuat tenaga aku bersikap tenang, meski di dalam dadaku rasanya bergejolak luar biasa.
“Katakan kalau aku cantik!” perintah Alexa tiba-tiba.
“Kau mabuk,” kataku. “Kau terlalu banyak minum wine.”
“Tidak. Tidak. Aku tidak mabuk.”
“Jelas-jelas kau mabuk!”
Bibir Alexa melengkungkan senyuman yang manis, membuatku segera memalingkan muka, tidak kuat menatapnya.
Apa dia tidak merasa gugup? Dia tahu tidak sih, kalau sekarang aku gemetaran setengah mati?
Aku kembali menatap wajah Alexa yang tenang.
Iya, dia terlihat biasa saja. Tidak gugup, seperti yang aku rasakan sekarang ini.
Aku mendekatkan diri mengikis jarak di antara kami. Jemariku menyentuh garis rahang Alexa, aku menutup mata akibat sensasi luar biasa yang menerpaku.
Aku tahu ini gila, tapi... aku terlanjur tidak bisa menghentikan diriku sendiri.
Dan satu kecupan mendarat di bibir Alexa. Meski mataku tertutup, aku tahu gadis itu terperangah membelalakkan mata.
Tapi meskipun begitu, dia tidak mendorong atau menamparku. Dia hanya diam membisu. Padahal aku sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk. Ditonjok.
__ADS_1
Cukup lama kami berada di posisi yang sama. Kemudian, aku menarik diriku. Mengamati ekspresi wajah Alexa.
Gemetaran, linglung, dan gugup. Terlihat jelas di wajahnya yang perlahan bersemu merah.
Sekarang kau merasakannya juga kan? Kau gugup tidak karuan juga kan? Jantungmu berdegup seperti ingin copot? Sama sepertiku.
Ini baru adil namanya. Kita impas.
Puas! Siapa suruh menggodaku terlebih dahulu?
Kau gadis yang lucu. Kurang peka tapi suka menggodaku.
Aku tersenyum tipis. Seringai lebih tepatnya. Aku melirik ke arah jendela kamarku. Sekilas terlihat tirai jendela yang tersibak menutup.
Sorot mata Alexa kosong seperti orang yang dalam pengaruh hipnotis. Dia menyambar tasnya yang tergeletak di dashboard mobil. Keluar dan membanting pintu.
Dia berlari menuju rumahnya, namun sejenak aku melihat dia berbalik dan mengetuk jendela mobilku.
“Ngomong-ngomong, aku suka sekali makan rendang. Selamat malam,” ujar Alexa yang langsung kabur ke dalam rumah.
Aku turun dari mobil sambil menertawakan diriku sendiri. Berjalan dengan tangan dimasukkan ke dalam kantong celana.
Apa yang barusan aku lakukan? Aku pasti sudah gila.
Kuputar kunci dan masuk ke dalam rumah. Suasana hangat langsung menyambutku begitu aku melangkah masuk ke dalam kamar.
Kirana masih tidur, meski posisinya sudah berubah sejak terakhir aku meninggalkannya.
Dan di sana. Tepatnya di atas tempat tidurku, Rama yang terbungkus selimut dan mata yang terpejam tapi mulutnya bergerak-gerak karena menahan tawa.
“Aku tahu kamu belum tidur,” ucapku lantang. “Bangun! Dan pindah ke kamarmu sendiri. Tugasmu sudah selesai.”
Gelak tawa Rama pecah. Dia meringkuk memegangi perutnya. Tertawa sambil berguling dan akhirnya jatuh ke lantai.
Dia segera bangun dan bersorak gembira.
Aku hanya melipat tangan melihat kelakuan aneh adikku sendiri.
“Apanya yang lucu?”
“Aku melihatnya,” ungkap Rama senang.
Jangan bilang kau melihat aku dan Alexa beradegan yang tadi itu.
“Aku melihatnya... Aku melihatnya... “
Rama berjingkrak seperti anak kecil yang sudah kebelet minta dibelikan es krim. Aku mengangkat bahu, melirik adikku dengan sorot mata jijik.
“Akan aku beri tahu Ibu...”
“Hei, awas saja kalau kau cerita ke Ibu! Aku tidak akan memberimu uang jajan!” ancamku.
Tapi Rama tampaknya mengabaikan ancamanku itu. Dia masih berjingkrak-jingkrak di tempat.
“Sebentar lagi aku akan punya kakak ipar. Apalagi kakak ipar seperti Kak Alexa. Seseorang yang akan membelaku jika aku dimarahi Kak Balin,” Rama bergumam sendiri.
Dia menghadap dinding kamar yang bersebelahan dengan kamar Alexa, lalu berteriak, “KAK ALEXA, JADILAH KAKAK IP...”
Secepat mungkin aku menyumbat mulut ember adikku yang bicara seenak jidatnya saja menggunakan bantal.
Rama mendorong bantal itu hingga terlempar ke lantai. Dia tergelak, lalu berteriak lagi, “KAK AL...”
Aku meraih bantal dan menyumpal lagi itu mulut knalpot.
“Diam atau aku bekap mukamu sampai kehabisan napas?”
Rama berbicara tak jelas karena teredam oleh bantal. Setelah sekiranya Rama diam, aku menurunkan bantal dari wajah Rama.
Dia menarik napas dalam, dan terengah-engah.
“Aku hampir mati,” Rama terbatuk.
“Siapa suruh usil. Pergi ke kamarmu sekarang!”
“Akan aku laporkan pada Ibu.”
“Tukang pengadu,” ejek ku.
“Aku bukan mengadu Kak Balin yang hampir membunuhku.”
__ADS_1
“Lalu?”
“Akan aku laporkan pada Ibu kalau Kak Balin menyosor Kak Alexa,” Rama tergelak lagi.
“Ibu tidak akan percaya dengan kata-katamu,” bantah ku.
“Aku punya bukti.”
Rama menyengir sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
“Untung tadi aku sempat memotret momen langka itu.”
“Hapus foto itu sekarang juga!” perintahku geram.
“Kaaaburrr... “
Rama berlari ke luar kamar dan aku mengejar di belakangnya. Dia berlari mengelilingi ruang tamu sambil melempariku barang apa saja yang bisa dia raih.
Aku menghadangnya, tapi Rama berbelok ke dapur. Pilihan yang salah. Karena di dapur tidak ada pintu lagi.
Dalam sekejap aku berhasil meringkus Rama. Melilitkan tali di tangan dan kakinya. Dia tidak bisa mencegahku menggeledah isi ponselnya.
“Mana foto itu? Kenapa tidak ada? ” tanyaku setelah memeriksa semua album foto di ponsel Rama.
Sial.
Aku terpancing oleh tipu daya adikku.
Rama yang meringkuk di lantai terkekeh, “Cari saja sendiri.”
“Kau bohong soal foto itu kan?”
“Lebih baik Kakak lepaskan ikatan tali ini. Aku mau tidur.”
***
Di waktu yang sama, Alexa di dalam kamarnya.
“AAAAA... “
Alexa memekik. Bersandar di pintu kamar. Kedua tangannya menangkup ke dada.
“Kenapa aku gemetaran seperti ini sih?”
Alexa berjalan menuju tempat tidurnya. Bersembunyi di balik selimut.
“Kenapa aku tadi memintanya untuk mengatakan kalau aku cantik? Dasar aku ini.” Memukul jidatnya sendiri.
“Gara-gara aku bermimpi yang bukan-bukan saat tertidur di mobil tadi.”
Alexa kembali memekik, kakinya menendang-nendang di bawah selimut. Lalu dia mendengar suara ribut dari rumah sebelah, tapi dihiraukannya karena perasaannya yang tidak karuan.
“Mau ditaruh di mana mukaku ini?” gumamnya.
***
Sementara itu, Rama di dalam kamarnya.
“Yes.” Rama mengepalkan tangan.
“Kak Balin berhasil aku tipu. Aku kan tidak bilang kalau aku memotret kejadian tadi di kamera DSLR yang aku sembunyikan di kolong tempat tidur Kak Balin.”
Rama menyengir lebar.
“Besok akan aku ambil kamera itu diam-diam.”
Bertepuk tangan dan menarik selimut.
“Betapa jeniusnya kamu, Rama.”
__ADS_1