
Aku mengetuk-ngetukkan jari di atas lemari kaca. Sementara mataku menyapu pandangan ke deretan cincin yang terpajang rapi. Seorang wanita pramuniaga, dengan sabar menungguku memilih.
Alexa suka cincin yang mana ya? Hmm... Tunggu dulu.”
Aku ingat saat pertama kali masuk ke kamar Alexa, tirai dan seprainya berwarna biru. Ya, dia penyuka warna biru. Pasti dia akan suka kalau aku memberinya cincin safir biru.
“Aku pilih yang ini,” kataku menunjuk cincin emas putih yang betatahkan safir biru berbentuk oval dengan beberapa batu mulia mengelilinginya.
Sang pramuniaga toko perhiasan itu mengambil cincin yang ditunjuk olehku.
Setelah menyelesaikan pembayaran, aku memandang cincin yang kini tersemat di dalam kotak beludru merah. Sekilas jariku menyentuh cincin itu, dan mengulum senyum.
“Sebentar lagi cincin ini akan tersemat di jari manismu, Alexa,” gumamku.
Kemudian, aku masukan kotak cincin itu ke dalam saku jaket. Di dalam mobil sudah ada buket mawar merah yang juga sudah aku siapkan.
Aku mengendarai mobil menuju sekolah tempat Alexa mengajar. Namun, sepanjang jalan, perasaanku semakin tidak menentu.
Jantungku berdebar di atas batas normal, kedua telapak tanganku yang sedang memegang kemudian mobil tiba-tiba berkeringat, dan kerongkonganku juga terasa kering.
Ah, aku mampir dulu ke minimarket untuk membeli minuman. Ini pasti karena aku gugup.
Aku menepikan mobil ke tempat parkir sebuah minimarket. Membeli satu minuman soda. Lalu kembali menuju mobilku.
Namun, saat aku hendak menaiki mobil, ada seorang berpakaian kostum badut berjalan tak jauh dariku.
Orang itu tampak kelelahan duduk di teras minimarket, menaruh tas kecil di pangkuan, dan tangannya merogoh uang koin dari dalam tas.
Aku kembali menutup pintu mobil, berjalan mendekati orang yang kini tengah menghitung hasil jerih payahnya. Aku sudah menyiapkan beberapa lembar uang kertas untuk orang itu.
Ketika aku menjulurkan tangan hendak memberi uang, bersamaan dengan orang itu yang membuka topeng badutnya.
“Kamu!”
Orang itu mendongak, wajahnya pucat dalam sekejap saat melihat diriku, dan bola matanya mendelik seperti mau copot.
Aku meremas uang yang hendak aku berikan pada pria berambut keribo dengan gigi berantakan. Ternyata dia orangnya. Orang yang waktu itu menculik Kirana.
“Kamu yang waktu itu menculik anakku, kan?”
Pria itu tak menyahut, malah berlari berusaha kabur dariku lagi. Aku tak akan membiarkan kehilangan jejaknya untuk kedua kali. Maka aku pun berlari mengejar pria itu.
Dewi Fortuna sedang memihak padaku kali ini. Karena kostum badut yang dipakai si pria itu, menyulitkannya berlari kencang.
Aku berhasil meraih rambut keribonya, kutarik dia ke gang yang sempit, dan menyudutkannya di tembok bata.
Bug.
Satu bogem mentah dia dapatkan di ujung matanya.
“Ampun, Bos. Ampun. Saya cuma disuruh. Jangan laporkan saya ke polisi,” pria itu memelas, menyatukan kedua tangannya.
Aku segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku. Membuka kamera untuk merekam pengakuan pria itu.
“Siapa namamu?”
“D-dodi, Bos,” jawab Dodi gemetar.
“Siapa yang menyuruhmu menculik Kirana?” tanyaku geram semakin mencengkeram bahu Dodi.
“Ampun, jangan laporkan saya ke polisi. Saya hanya orang suruhan. Kasihan anak dan istri saya, Bos,” Dodi meringkuk meminta ampunan.
Aku mendengus kesal.
“Harusnya kamu kasihan dengan anak istrimu, karena mendapatkan nafkah dari cara yang kotor.”
Dodi menggeleng ketakutan.
__ADS_1
“Saya tidak mendapatkan upah, Bos.”
“JANGAN BOHONG!”
Untung saja, kami berada di gang sempit nan sepi. Tidak ada orang yang lewat dan tak ada yang menggangguku menginterogasi Dodi yang tangannya gemetar luar biasa.
Aku menarik rambut Dodi membuat kepalanya mendongak. Lalu mengarahkan kamera yang masih dalam keadaan merekam.
“Cepat beritahu siapa orang yang menyuruhmu?”
“N-namanya H-harsa. Harsa Russell.”
Sudah kuduga.
“Apakah kamu juga yang menata-mataiku?”
Dodi menggeleng, “Tidak. Saya hanya diperintah untuk menabrak mobil Bos. Ya, saya lah pengemudi truk itu. Lalu saya juga disuruh menculik Kirana. Saya tidak disuruh menjadi mata-mata.”
“Apa kamu juga yang mengirim kue beracun?”
Dodi mengernyitkan dahi, kemudian menggelengkan kepala untuk ke sekian kalinya.
Plak.
Tamparan keras mengenai pipi kiri yang langsung membekas merah. Dodi menutup pipinya menggunakan tangannya.
“Sejak saya gagal menculik Kirana, saya langsung ditendang dari anak buah Harsa, Bos. Tapi mungkin bisa saja orang yang mengirim kue itu, anak buah Harsa yang lain.”
Aku ingat ketika Galang menyebutkan ciri-ciri pria yang mengirim kue beracun. Seorang pria tinggi. Kalau dilihat-lihat, perawakan si Ceking ini memang pendek.
Kali ini aku yakin Dodi memang mengatakan yang sejujurnya.
“Apakah kamu tahu orang yang ditugaskan Harsa untuk memata-mataiku?”
“Tidak, Bos. Saya tidak tahu. Saya hanya menjalankan perintah. Tapi sekarang saya sudah bukan lagi anak buah Harsa. Bos bisa lihat sendiri saya sekarang menjadi pengemis badut.”
Aku berharap Dodi tahu. Namun, sayang dia menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaanku.
Kemudian aku mematikan kamera dan menodongkan ponselku pada Dodi.
“Aku minta nomor telepon dan juga alamat rumahmu. Tuliskan di handphone-ku! Dan jangan coba-coba menipuku.”
Dodi masih tampak ragu.
“Bos tidak akan melaporkan saya ke polisi kan?”
“Aku tidak akan melaporkan kamu. Bahkan aku akan memberikanmu uang yang banyak jika kamu mau membantuku. Sekarang cepat tuliskan alamat rumahmu!”
Aku melirik Dodi yang mengetikkan barisan nomor handphone dan alamat tempat tinggalnya. Berdecak kesal karena dia lambat sekali ketika mengetik.
Aku memeriksa jam tanganku. Teringat akan rencanaku yang akan memberi kejutan untuk Alexa.
Dodi menyerahkan kembali ponselku yang langsung aku simpan ke dalam saku.
“Ingat! Jangan pernah mencoba kabur dariku! Aku akan datang ke alamat rumahmu, tapi bukan sekarang.”
Aku mengeluarkan uang yang tadi sempat tertunda aku berikan pada Dodi.
“Ini. Aku ada sedikit uang. Jangan kasih makan anak dan istrimu pakai uang haram!”
Dodi seketika bersujud di sepatuku.
“Bos Terima kasih, Bos. Padahal aku sudah membuat Bos celaka tapi Bos begitu baik. Terima kasih sekali lagi.”
“Hai, sudah! Jangan sujud begitu!” kataku yang merasa risih.
Dodi bangkit dengan kedua tangan menggenggam uang dariku. Menundukkan sekali lagi dan berlalu pergi.
__ADS_1
“Tunggu!”
Dodi berhenti, lalu memutar badannya.
“Anakmu ada berapa?”
“Dua, Bos.”
Aku mengambil lagi beberapa lembar uang dari dompet.
“Ini. Ambillah!”
Sorot mata Dodi berbinar, dan dia tersenyum. Kembali lagi dia ingin membungkuk tapi aku mencegahnya.
“Saya pasti akan membantumu, Bos. Hubungi saya jika Bos butuh bantuan.”
Aku hanya bergumam. Menatap punggung Dodi yang berjalan pergi. Setelah itu, aku pun kembali ke mobilku.
Dari dalam mobil, aku belum melihat Alexa keluar dari sekolah. Tampaknya jam belajar belum selesai. Sembari menunggu, aku mencoba berlatih mengucapkan kata-kata ungkapan cintaku.
Aku melihat bayanganku sendiri di cermin tengah mobil. Merapikan tatanan rambutku, dan berdeham.
“Pertama-tama, aku kasih bunga ke Alexa, kemudian aku bersimpuh layaknya seorang pangeran sambil memperlihatkan cincin.”
“Alexa, Kirana butuh seorang ibu. Jadi maukah kamu menikah denganku?”
Aku menghela napas frustasi.
“Tidak. Jangan seperti itu. Nanti Alexa berpikir aku menikah hanya karena mementingkan Kirana.”
“Alexa, maukah kamu menjadi pendamping hidupku?”
“Tidak. Tidak. Jangan begitu. Bagaimana kata-katanya ya?”
Aku terus saja bermonolog di dalam mobil. Hingga tak terasa sudah waktunya semua murid berhamburan ke luar kelas. Mereka langsung menuju mobil jemputan mereka masing-masing.
Mataku mencoba mencari sosok Alexa, tapi aku tak melihatnya.
Di mana Alexa? Ah, itu dia.
Alexa berjalan perlahan berdampingan dengan seorang wanita yang tampak sepantaran dengannya. Mungkin rekan sesama guru TK. Mereka tengah membicarakan sesuatu yang membuat keduanya tergelak.
Teman Alexa itu masuk ke dalam mobil dan Alexa melambaikan tangan padanya.
Syukurlah Alexa tidak lagi menunggu Gina dijemput ayahnya. Sekarang hanya dia sendirian di depan gerbang sekolah.
Inilah saatnya.
Namun, saat aku hendak keluar dari mobil, mataku melihat sosok pria lebih dulu mendekati Alexa. Aku tak bisa melihat wajah pria itu karena posisinya membelakangiku.
Tanpa aku sadari, aku mencengkeram kuat kemudi mobil. Kulayangkan pandangan menghunus kepada sosok pria di sana.
Ingin rasanya aku mematahkan kemudi mobil, begitu melihat Alexa mengobrol akrab dengan pria itu.
“Aku sudah menyuruhnya untuk menyemprotkan pepper spray kepada setiap pria yang bermaksud menggodanya. Tapi kenapa Alexa tidak melakukan apa yang aku suruh?” gumamku murka.
Aku meninju kemudi mobil saat melihat Alexa menarik lengan pria itu untuk mengajaknya masuk ke dalam salah satu ruang kelas yang sepi.
“Siapa pria itu? Ada hubungan apa dengan Alexa?”
__ADS_1