Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 32 Rendang


__ADS_3

“Ibumu menitipkan ini padaku,” ungkap Joko menyodorkan kotak makanan.


Aku menerima kotak berwarna kuning itu.


“Tadinya ibumu sendiri yang akan kemari, tapi tidak bisa karena orang tuamu sedang sibuk panen,” jelas Joko.


Kemudian dia mengedarkan pandangan ke sekeliling restoran dengan mata yang berbinar.


“Terima kasih ya, kamu mau makan?”


Joko menggeleng cepat.


“Tidak. Tidak. Lain kali saja.”


“Kenapa? Tenang saja aku yang bayar. Kapan lagi kamu mampir ke restoranku?”


Tampaknya raut wajah Joko bimbang, menggaruk kepalanya yang mungkin tidak gatal.


“Sebenarnya aku mau. Tapi aku sedang buru-buru.”


“Kalau begitu dibungkus saja.”


“Tapi... “


“Jangan menolak!” perintahku sambil mengacungkan jari telunjuk ke dada Joko.


Kemudian aku memerintahkan Hilda untuk menyiapkan satu paket menu andalan di Restoran Kenangan.


Selama menunggu, Joko bercerita tentang kondisi di perusahaan Pak Bambang semenjak aku berhenti bekerja. Lalu tampaknya dia ingin bercerita tapi ada sesuatu yang membuatnya ragu.


“Balin, kamu tahu, satu minggu setelah kamu mengundurkan diri, ada seseorang yang datang ke kantor mencarimu.”


“Benarkah? Siapa?”


“Aku juga tidak tahu. Aku hanya mendengar desas-desus dari karyawan kantor.”


“Laki-laki atau perempuan?”


“Laki-laki. Dia menemui Pak Bambang dan bertanya banyak hal tentangmu.”


Tak lama, Hilda datang dengan membawa satu kantong pesanan Joko. Seperti biasa Joko yang mudah terharu langsung memelukku dan dia menangis.


Ah, ayolah Joko, jangan menangis begitu di depan semua karyawan ku.


Setelah Joko pergi, aku membuka kotak kuning pemberian Ibuku. Isinya rendang. Sudah aku duga.


Kemudian aku pun juga meninggalkan restoran. Sudah terlalu lama aku menitipkan Kirana pada Rama. Aku tahu dia selalu tidak becus dalam penjagaan nya.


Saat mengendarai mobil menuju rumah, ponselku berdering dengan nama Ibu tertera di layar.


“Balin, rendang yang Ibu titipkan ke Joko sudah sampai?”


“Sudah, Bu.”


“Berikan itu pada Alexa!” seru Ibu dari seberang telepon.


“Iya.”


“Jangan biarkan Rama mencicipi rendang itu! Bisa habis nanti.”


“Iya, Bu.”


“Panaskan lagi sebelum dimakan!”


“Iya.”


“Dan satu lagi... “


“Apa, Bu?”


“Harus kamu yang memberikan itu ke Alexa. Jangan menyuruh Rama atau orang lain!”


Aku mendesah keras, tapi terdengar oleh Ibu dari seberang telepon. Alhasil aku kena damprat. Lalu telepon pun dimatikan.


Huft,

__ADS_1


Akhir-akhir ini aku tidak keluar rumah karena sengaja ingin menghindar dari Alexa dan tetanggaku itu pun melakukan hal yang sama.


Alexa tidak mampir lagi ke rumah untuk bermain dengan Kirana sehingga kami belum bertemu lagi sejak kami...


Ah, bayangan itu singgah lagi di otakku.


Ciuman pertamaku dan bagi Alexa juga. Kira-kira, apa dia teringat terus dengan kejadian malam itu?


Mobilku berdecit saat mengerem di depan rumah. Aku turun dari mobil dan berjalan ke rumah kontrakan Alexa.


Aku mengayunkan tangan hendak mengetuk pintu, tapi tidak jadi karena aku mendengar suara Kirana dari dalam rumah Alexa. Maka aku langsung saja memutar gagang pintu.


Kirana sedang duduk di sofa, bertepuk tangan saat Alexa menyanyikannya sebuah lagu anak-anak. Dua gadis berbeda generasi itu menyadari kedatangan ku, lalu menoleh.


Alexa menyapaku dengan canggung dan aku membalasnya lebih canggung lagi.


“Kenapa Kirana ada di sini?”


“Rama pergi ke kampus. Baru saja. Jadi dia menitipkan Kirana ke sini,” terang Alexa.


“Ini,” aku mengulurkan kotak makan pemberian Ibu.


“Apa ini?” tanya Alexa saat menerima kotak itu.


Aku tak menjawab karena Alexa sudah lebih dulu membukanya. Aku hanya menambahkan bahwa itu dari Ibu.


 Lalu, Alexa melangkah ke dapur. Sementara aku duduk di samping Kirana yang bermain boneka kelincinya.


Alexa kembali lagi ke ruang tamu sambil membawa dua piring dan rendang yang sudah dihangatkan.


“Tolong sampaikan terima kasihku pada ibumu. Sampai repot-repot memaksakan rendang,” Alexa meletakan piring ke atas meja.


“Kita makan sama-sama ya?”


“Tidak,” jawabku singkat.


“Kamu mau pakai nasi?” Alexa masih saja bertanya.


“Tidak. Rendang itu untukmu. Jadi kamu saja yang makan.”


Aku memalingkan pandangan dari Alexa yang memasang muka memohon tapi terlihat menggemaskan bagiku. Dia tampak seperti bayi yang minta disayang.


Sebenarnya yang bayi di sini Kirana atau Alexa sih?


Aku menghela napas, “Iya, aku makan.”


Alexa bersorak, “Akan aku ambilkan nasi dan minumannya dulu.”


Di saat Alexa ke dapur, Kirana menjatuhkan boneka kelincinya dan aku menunduk mengambilkan benda berwarna putih itu.


Lalu Kirana melemparkannya lagi, merengek minta diambilkan. Tingkah Kirana membuatku sedikit jengkel. Pasalnya dia mengulang-ulang terus melempar boneka.


“Kenapa bayi suka sekali menjatuhkan mainannya?” gerutuku tepat ketika Alexa kembali dari dapur membawa minuman.


“Karena mereka sedang belajar gravitasi bumi,” jawab Alexa sambil menuangkan minuman ke dalam gelas.


Aku tergelak dengan jawaban Alexa.


Apa dia bilang? Bayi? Belajar gravitasi bumi?


“Memang benar, Balin. Ketika mereka sengaja menjatuhkan mainan, sebenarnya mereka sedang belajar konsep bahwa semua benda pasti jatuhnya ke bawah.”


“Oh, begitu ya,” kataku yang sudah mampu menghentikan gelak tawa.


“Sebaiknya jangan dilarang atau memarahi jika Kirana melakukannya. Itu tanda kalau Kirana anak yang jenius seperti Issac Newton.”


Aku ingin tertawa tapi Alexa melirikku tajam, jadi aku menahan tawaku sebisa mungkin.


Kemudian, Kirana seperti ingin turun dari sofa. Jadi kuulurkan tangan untuk membantunya, namun Alexa menahan lenganku. Aku menatapnya bingung.


Tapi aku segera menyadari apa maksud Alexa. Dia ingin Kirana berusaha sendiri untuk turun ke lantai.


Dengan hati yang sedikit berdebar takut Kirana terjatuh, aku melihat Kirana menurunkan kakinya terlebih dahulu, baru dia menjatuhkan bokongnya ke lantai.


Kemudian bayi itu merangkak, meraih bonekanya yang tergeletak di lantai.

__ADS_1


“Apa kamu sering mengabadikan momen-momen pertamanya Kirana?” tanya Alexa tiba-tiba.


“Maksudmu?”


“Ya, seperti momen pertama Kirana makan, momen Kirana merangkak untuk pertama kali, dan sebagainya. Kamu tidak pernah mengabadikannya di sebuah foto atau video?”


Aku menggeleng, “Memangnya itu penting?”


“Ya... Setidaknya kamu jadi punya kenang-kenangan dan bisa dilihat ulang saat Kirana sudah tumbuh besar.”


Benar juga. Selama ini aku tidak terpikirkan untuk mengabadikan momen-momen ketika aku mengurus Kirana.


Tapi aku bisa mulai dari sekarang.


Aku mengeluarkan ponselku dan memotret Kirana yang merangkak mengelilingi ruang tamu.


Ini momen pertama Kirana bermain di rumah Alexa.


“Ayo, kita makan. Ini piringmu,” Alexa mendorong piring yang berisi rendang dan nasi putih yang mengepulkan uap tipis.


Kami pun makan. Namun, baru suapan pertama aku mendengar Alexa terisak.


Aku menoleh padanya. Dia menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. Terisak lagi, semakin keras dan berubah menjadi tangisan.


“Hei, kamu kenapa?”


Alexa tak menjawab.


“Jangan menangis di depanku!” bentakku. Aku selalu bingung jika ada wanita menangis di hadapanku. Bingung harus melakukan apa.


Tangisan Alexa malah bertambah keras.


“Aku jadi ingat ibuku. Terakhir kali aku makan rendang, saat aku makan bersama orang tuaku, sehari sebelum kecelakaan pesawat itu terjadi.”


Alexa terus menangis, membuat Kirana yang asyik bermain terhenti dan menatap bingung ke arah Alexa. Lalu Kirana menoleh ke padaku dan ikut merengek.


Seakan-akan Kirana sedang berbicara, ‘Papa, tolong perempuan itu, Pa.’


Masalahnya adalah, aku tidak punya pengalaman menangani perempuan yang tengah menangis.


Kalau perempuan itu Ibu, cukup aku beri uang segepok dan Ibu otomatis akan berhenti menangis. Jika perempuan seperti Kirana, cukup beri pelukan dan dot.


Tapi kalau Alexa...


Aku melirik perempuan yang masih menangis di sampingku.


Aku tidak tahu harus berbuat apa.


Coba aku ingat-ingat kembali di film romantis biasanya apa yang diberikan laki-laki ke pada wanitanya yang sedang menangis?


Ah, ya. Biasanya laki-laki akan memeluk si wanita.


Tapi... Tapi...


Di tengah kebimbanganku, Alexa tidak menghentikan tangisannya dan Kirana juga makin merengek.


Peluk jangan ya? Peluk. Jangan. Peluk.


Aku beringsut dari dudukku, mendekati Alexa, dan hendak merentangkan tangan untuk memeluknya.


Tiba-tiba...


“Tapi bohong,” Alexa membuka telapak tangannya dan tergelak.


Aku segera menarik tanganku dan membuang muka. Kirana tertawa melihat Alexa. Hanya aku saja yang kaget setengah mati.


Nyaris saja jantung ini copot dari tempatnya.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2