Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 64 After 2 years


__ADS_3

Aku berjalan dengan langkah gontai memasuki rumah yang remang. Derap langkahku terdengar jelas di suasana rumah yang sunyi. Sebagian penghuninya telah terlelap.


Namun, sosok pria tinggi dan tegap menghampirimu dari balik bayangan. Dialah Juan, orang yang pernah membantuku mengambil buku harian Karina.


Aku menjadikan dia kepala pelayan di rumahku. Alasannya tentu saja, karena Juan yang mengerti bagaimana Harsa sangat ingin berbuat buruk pada keluargaku.


“Nyonya Alexa menunggu Tuan sejak tadi,” lapor Juan yang menjadi tugasnya ketika aku pulang dari kantor.


“Dia tahu aku akan pulang tengah malam, kan?”


Juan mengangguk, “Tapi Nyonya Alexa tetap menunggu Tuan.”


“Apakah ada sesuatu yang aneh hari ini?” tanyaku.


“Tidak ada, Tuan. Semua berjalan dengan seperti biasanya.”


“Baik, kalau begitu. Kamu lekas beristirahat, Juan.”


Juan mengangguk lagi, “Begitu pula dengan  Tuan Balin, beristirahat lah! Karena Tuan tampak kelelahan.”


Aku dan Juan berpisah. Juan menuju kamarnya di lantai satu, sedangkan aku menaiki tangga. Melangkahkan kaki ke arah pintu kamar Kirana. Memutar pegangan pintu dan membukanya sedikit agar aku bisa memastikan bocah empat tahun itu aman.


Dari tempatku berdiri, Kirana tertidur dengan selimut berwarna biru tua menutupi hingga lehernya. Suara dengkuran lirih terdengar di antara keremangan kamar.


Aku tersenyum dan menutup pintu dengan sangat pelan supaya tidak menimbulkan bunyi. Lalu barulah aku masuk ke kamarku.


Aku menutup pintu yang ada di belakangku. Mendekati tempat tidur ukuran super king size yang di atasnya terdapat gundukan selimut.


Aku melepas sepatuku dan melemparnya ke sembarang tempat. Kemudian terjun bebas ke atas gundukan selimut, tepat menindihi badan istri tercinta.


Detik berikutnya, aku mendengar Alexa berteriak kencang yang memekakkan telingaku. Tanpa aku duga, Alexa menendang perutku yang langsung terjungkal ke lantai. Lalu aku dihujani pukulan dari bantal.


“Hai, siapa kamu? Berani-berani kamu peluk aku! Kena ini! Rasakan ini! Puas!” kata Alexa di setiap pukulan yang dia layangkan.


“Sayang, stop! Ini aku, Balin, suamimu.”


Alexa langsung menjatuhkan bantal yang ada ditangannya. Dia tertegun dengan matanya melotot.


“Balin?” ulang Alexa tak percaya.


Aku bangkit berdiri, mengusap jas kerjaku untuk mengusir debu yang sebenarnya tidak ada.


“Astaga. Aku kira ada penyusup yang berani memelukku.”


“Makanya lihat dulu baru pukul.”


“Aku minta maaf,” Alexa menampilkan wajah memelas yang membuat aku tak mungkin memarahinya.


“Lagian kenapa kamu baru pulang tengah malam begini?” tanya Alexa saat aku melepaskan satu per satu pakaian yang melekat pada tubuhku untuk mandi.


“Aku sibuk akhir-akhir ini, dan banyak yang harus aku pikirkan.”


Hanya menyisakan celana panjang yang belum dilepas, aku duduk di samping Alexa. Aku mendesah, memijit keningku, dan menunduk penuh frustrasi.


Alexa tahu apa yang menjadi kegelisahanku selama dua tahun terakhir ini. Dia hanya tersenyum, dan menyenderkan kepalanya ke bahuku yang telanjang.


“Kamu masih belum mendapatkan jejak Harsa?” Alexa menebak dengan sangat tepat.


“Aku bahkan sudah membayar detektif untuk mencari keberadaannya. Tapi dia seperti ditelan bumi.”


“Berarti itu kabar bagus, kan?”

__ADS_1


Alexa melingkarkan tangannya untuk memelukku.


“Selama dua tahun ini tidak ada lagi bayang-bayang Harsa. Mungkin dia memang sudah tidak ada di dunia ini. Diterkam macan mungkin, mati di tengah hutan mungkin, atau diserap oleh pasir hisap.”


Aku menghela napas, memaksa untuk tertawa dengan ocehan Alexa, dan membalas pelukannya.


“Tapi aku takut dia akan datang kembali dan menyakiti keluarga kecil kita.”


“Balin, suamiku, jangan terjebak dalam ketakutanmu sendiri! Kamu tidak akan pernah merasa bahagia jika masih terkurung dalam ketakutan.”


“Sejak kapan istriku jadi puitis seperti ini?” ucapku mempererat pelukan.


Tiba-tiba Alexa mendorong tubuhku yang langsung terbaring di atas tempat tidur. Aku mengerutkan dahi, namun Alexa malah tertawa. Dia duduk menindihi perutku, dan menarik baju tidurnya ke atas.


Aku mengulum senyum. Tanganku seolah bergerak sendiri mengelus paha Alexa, dan belaian itu naik ke atas perutnya. Merengkuh punggung Alexa agar menempel dengan tubuhku.


Satu kecupan yang lama dan menggairahkan aku dapatkan dari bibir Alexa. Selama dua tahun kami menikah, tak pernah berkurang rasa itu.


Namun, ketika aku hampir mendekati puncak kenikmatan, Alexa tiba-tiba menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi, meninggalkan aku yang terheran.


“Alexa, kamu kenapa?” tanyaku yang sudah memakai jubah tidur dan menyusul Alexa ke kamar mandi.


Aku melihat Alexa mengeluarkan semua isi perutnya. Pikiranku langsung diserang oleh kepanikan dan aku melingkarkan lengan ke bahunya.


“Kamu sakit?” tanyaku cemas.


Alexa menggeleng. Lalu kembali lagi mengeluarkan isi perutnya.


“Apa kamu tadi salah makan? Apa yang kamu makan? Siapa yang memasak makan malammu tadi? HAH, JAWAB!”


Semua pertanyaan itu aku lontarkan dengan cepat saking cemasnya aku dengan kondisi Alexa. Namun Alexa dengan santainya hanya mengangkat tangan agar aku diam.


Aku berinisiatif mengambilkan baju untuk Alexa, membantu memakaikannya. Bukan hanya itu, aku juga mengambil baju hangat tebal untuk membalutnya.


Dan menggendongnya ke atas tempat tidur. Lalu menarik selimut rapat hingga ke bawah dagu Alexa.


“Balin, apa yang kamu lakukan?”


“Kamu mungkin masuk angin. Sebentar, aku akan menelepon dokter.”


“Balin, tidak perlu.”


Aku mengabaikan perkataan Alexa, aku tetap meraih ponselku dan mencari nomor dokter pribadi kami. Namun tangan Alexa dengan cepat merebut ponselku sebelum aku sempat menekan panggilan.


“Aku hanya kelelahan. Itu saja. Jangan  berlebihan seperti ini!”


“Tapi Alexa... “


“Aku hanya butuh tidur yang cukup. Besok pasti sudah sembuh kok.”


“Begitu ya?”


Alexa mengangguk.


“Kalau begitu, tidur yang nyenyak, Alexa, istriku tersayang, ” aku mengelus rambut Alexa yang terbaring di sampingku. Tak lupa meninggalkan kecupan di keningnya.


 


 


“Selamat pagi, Papa,” ucap Kirana riang ketika dia baru saja keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Kirana berjalan mendekatiku yang telah siap dengan seragam sekolahnya. Senyum secerah matahari pagi terbit di bibir tipisnya.


“Pagi, Kirana anak Papa,” sahutku yang kebetulan hendak masuk ke kamar Kirana.


“Mama mana, Pa?”


“Mama masih di dalam kamar, sedang bersiap. Kita ke meja makan dulu, yuk,” aku mengulurkan tangan untuk menyambut tangan kecil Kirana.


Kami berdua melangkah menuju meja makan yang sudah tersaji menu sarapan kami. Aku sengaja memperkerjakan seorang koki yang khusus untuk memasak di rumahku.


Tujuannya agar Alexa tidak perlu repot memasak dan tidak perlu juga membeli makanan dari luar. Kejadian ketika Kirana mendapat kue ulang tahun beracun menjadikan pelajaran untukku untuk berhati-hati selama Harsa masih belum ditangkap.


“Selamat pagi semuanya...”


Terdengar suara cempreng dari salah satu sudut rumah. Orang itu tidak lain dan tidak bukan ialah Rama, adikku. Dia berlari ke meja makan, dan sesegera mungkin menjatuhkan diri ke kursi samping Kirana.


Sudah tiga hari Rama menebeng di rumahku agar bisa makan gratis. Tak lama Alexa turun dari tangga bergabung bersama kami untuk sarapan.


“Nanti malam, kita diundang Frans makan malam di rumahnya,” kataku pada Alexa.


“Oh ya? Dalam rangka apa Frans mengundang kita?” tanya Alexa.


“Cindy sudah melahirkan.”


Suara sendok jatuh ke piring membuatku terlonjak kaget. Aku langsung melirik Alexa yang matanya menampakkan sorot terkejut sekaligus senang.


Alexa memekik senang, namun segera menutup mulut tak percaya. Dia tampak antusias dengan bayi dari pasangan Frans dan Cindy. Berbeda dariku yang tertunduk lesu.


Namun, celoteh Alexa berhenti seketika. Dia mual dan segera mengatupkan mulut menggunakan kedua telapak tangan.


“Kamu masih sakit?” tanyaku.


Alexa tidak menjawab, karena dia berlari ke kamar mandi terdekat. Aku menyusul dan menggedor pintu.


“Alexa, buka pintunya!” seruku menggedor keras pintu dengan tidak sabar.


“Semalam kamu bohong padaku, HAH? Kamu bilang tidur cukup akan langsung sembuh. Nyatanya kamu masih sakit,” kataku geram pada daun pintu yang masih menutup.


Tak lama pintu itu terbuka, memperlihatkan Alexa dengan mata merah berkaca-kaca dan bibir yang pucat.


“Aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Sebentar aku telepon sekretarisku agar membatalkan semua rapat hari ini.”


Selagi tanganku merogoh saku untuk mencari ponsel, aku berteriak memanggil Juan. Kepala pelayan itu tiba di hadapanku tidak kurang dari satu menit.


“Juan, cepat siapkan mobil! Aku akan membawa Alexa sekarang juga!”


“Juan, tidak perlu,” kata Alexa dengan mantap.


Aku mengarahkan tatapan tajam pada Alexa. Sementara, Juan sendiri bingung harus memilih menjalankan perintah yang mana.


“Apa katamu? tidak perlu? Dari semalam kamu mual-mual, dan aku akan membiarkan kamu begitu saja? Tidak, Alexa Sayang. Sekarang juga kita ke rumah sakit.”


“Aku baik-baik saja, Balin. Hari ini aku akan tetap mengajar,” bantah Alexa.


Alexa memang masih mengajar sebagai guru TK. Gelimang harta yang tercurah ke dalam kantong keuangan kami, tidak membuat dia berhenti memberikan ilmu untuk anak usia dini.


Aku membuka mulut untuk mendebat istri keras kepalaku itu, tapi bibir Alexa menekan bibirku supaya tidak dapat bicara.


Juan yang pagi hari sudah disuguhi adegan panas hanya bisa menunduk menatap lantai.


 

__ADS_1


__ADS_2