Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 75 Gadis Bertudung Merah dan Sang Serigala


__ADS_3

Beberapa hari kemudian,


“Papa, kapan Mama pulang?”


Kirana bertanya saat dia selesai sikat gigi, dan bersiap untuk naik ke atas tempat tidur. Aku tidak menjawab, pura-pura sibuk membenarkan selimut.


Sudah satu minggu aku mencoba menemui Alexa yang kini berada di rumah Kak Alan. Namun, aku selalu tak diperbolehkan masuk dan akhirnya pulang seorang diri.


Aku selalu diam jika Kirana menanyakan Alexa. Karena aku pun tidak bisa menjawab dengan pasti kapan Alexa dapat kembali lagi.


Aku menghela napas, mengingat betapa keras kepalanya Kak Alan. Sudah kujelaskan padanya, bukan Kirana yang meletakan bola di tangga yang mengakibatkan Alexa jatuh, tapi Kak Alan tetap tidak mau percaya. Dia sudah terlanjur marah padaku.


“Papa tidak tahu kapan Mama pulang. Tapi besok kita coba datang lagi ke rumah Om Alan ya?”


Kirana mengangguk. Dia sepertinya paham akan masalah yang terjadi, sehingga dia tak bertanya lagi.


“Papa, bacakan buku yang itu, please.”


Buku yang ditunjuk Kirana ialah buku dongeng yang berjudul ‘Gadis Bertudung Merah dan Sang Serigala.’


“Tapi Kirana janji setelah Papa bacakan buku, Kirana harus tidur,”


“Iya, Papa. Kirana Janji.”


Kirana mengacungkan jari kelingking yang kemudian bertautan dengan jari kelingkingku.


Aku ikut berbaring di samping Kirana, membuka buku dan mulai membacakan cerita.


Gadis Bertudung Merah dan Sang Serigala.


Dahulu kala, hidup seorang gadis kecil yang selalu memakai tudung berwarna merah, sehingga dia selalu dipanggil Gadis Bertudung Merah.


Suatu hari, Sang Ibu menyuruh Gadis Bertudung Merah untuk mengantarkan kue ke rumah neneknya yang sedang sakit.


Gadis bertudung merah pun berjalan melintasi hutan, di sana dia bertemu Serigala yang ingin memakan Gadis Bertudung Merah dan juga neneknya. Namun, Sang Serigala memakai sebuah tipu muslihat.


Sang Serigala menyarankan agar Gadis Bertudung Merah memetik bunga untuk diberikan ke Nenek.


Sementara itu, Serigala lebih dulu menuju rumah Nenek tanpa sepengetahuan Gadis Bertuduh Merah. Di sana Serigala memakan Nenek, dan tidur di atas kasur menyamar menjadi Nenek si Gadis Bertudung Merah.

__ADS_1


Ketika Gadis Bertudung Merah datang, dia tidak menyadari bahwa yang ada atas kasur bukanlah si Nenek melainkan Sang Serigala.


“Nenek, kenapa telingamu besar sekali?”


“Agar nenek bisa mendengar suaramu,” ucap sang Serigala menirukan suara nenek


“Nenek, kenapa tanganmu besar sekali?”


“Agar nenek bisa memelukmu.”


“Nenek, kenapa mulutmu besar sekali?”


“Agar aku bisa memakanmu.”


Gadis Bertudung Merah sangat ketakutan, dan berlari keluar rumah. Dia bertemu dengan Pria Penebang Kayu dan meminta tolong padanya.


Kemudian, Pria Penebang Kayu berhasil memasukkan Serigala ke dalam perangkap. Dan gadis Bertudung Merah selamat.


 


Kirana diam sejenak, dia mengerucutkan bibirnya, namun binar matanya keheranan.


“Jadi Serigala menyamar menjadi Nenek, tapi Gadis Bertudung Merah tidak menyadari? Aneh.”


“Aneh kenapa?”


“Kenapa gadis bertudung Merah tidak menyadari begitu mendengar suara Serigala. Pasti kan suaranya berbeda. Iya, kan, Papa?”


Aku mengerutkan dahi tampak berpikir sejenak. Lalu otakku menangkap sesuatu dari ucapan Kirana tadi, dan badanku terasa tersengat begitu aku menyadari satu hal.


“Itu dia!” seruku terperanjat.


“Kenapa, Papa?” tanya Kirana kebingungan atas tingkahku yang tiba-tiba saja terbangun duduk.


Aku tidak mau memberitahu Kirana, jadi aku mengulum senyum dan menggelengkan kepala.


“Tidak, Sayang.”


Aku turun dari tempat tidur, mengusap dan mengecup pipi Kirana seperti rutinitasku setiap malam.

__ADS_1


“Sekarang tidur! Tadi sudah janji, kan?”


“Papa belum jawab pertanyaanku!”


Aku tersenyum dan berkata, “Karena Gadis Bertudung Merah mungkin mengira nenek sedang sakit jadi tidak begitu curiga.”


Kirana tersenyum puas dengan jawabanku. Lalu aku mematikan lampu utama dan mengganti dengan menyalakan lampu tidur.


Tidak lupa juga Kirana berdoa sebelum tidur. Tapi setelah itu, dia berkata lagi.


“Papa, aku mau jadi Gadis Bertudung Merah!”


Aku hanya tertawa, menyadari Kirana selalu ingin menjadi tokoh fiktif dalam buku. Namun begitu, aku hanya mengiyakan.


“Dan Papa harus jadi Pria Penebang Pohon,” tambah Kirana lagi.


“Iya, Papa pasti akan menjadi Pria Penebang Pohon yang selalu menolong Kirana di saat Kirana dalam bahaya.”


Aku mengucapkan ucapan selamat tidur, berjalan ke arah pintu, dan menutupnya perlahan.


Lalu aku segera menuju kamar tidurku. Membuka lemari, dan setiap laci, mengobrak-abriknya hingga beberapa benda berjatuhan.


Dan tanganku berhenti saat melihat benda yang aku cari. Disc yang berisi rekaman acara pernikahanku.


Aku memasukkan disc itu ke laptop. Mataku meneliti dengan sangat jeli pada setiap orang yang terekam di sana. Aku tingkatkan volume, agar suara tiap tamu undangan bisa terdengar jelas.


Di dalam benakku, aku sudah bisa menarik benang merah. Namun, aku hanya butuh kepastian.


Aku berhenti menghentikan rekaman dan memutar ulang ke beberapa menit sebelumnya.


“Tidak salah lagi. Dia orangnya,” gumamku dengan mata yang memandang lekat orang di layar laptop.


“Orang yang memberikan aku kalung itu, adalah Harsa itu sendiri. Dia datang ke acara pernikahanku dan Alexa tanpa dicurigai siapa pun.”


Seringai terbit di bibirku saat aku memiliki suatu rencana untuk menjebak Harsa.


 


 

__ADS_1


__ADS_2