Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 50 Tertembak


__ADS_3

Aku membuka buku catatan milik Karina itu yang kertasnya sudah mulai menguning. Jariku menyentuh tulisan tangan yang aku kenal betul ditulis langsung oleh teman lamaku itu.


 


5 Juli,


Pertama kali Harsa menamparku karena aku tahu tujuan sebenarnya dia menikahiku.


Dan aku disekap di dalam kamar. Suamiku tidak memedulikan kondisi bayi yang sedang aku kandung.


 


Di saat yang sama earpiece di telingaku berbunyi,


“Balin, Juan, segera kalian keluar dari sana! Aku sudah tidak bisa lagi mengecoh perhatian para penjaga. Sepertinya mereka sudah mulai curiga.”


“Balin, bagaimana ini?” tanya Juan mulai khawatir.


Aku membuka lagi lembaran berikutnya dari buku harian Karina.


 


28 Juli,


Aku haus dan lapar. Tapi Harsa tidak memberiku makan selama dua hari ini.


 


“Balin, kita harus keluar sekarang!” Juan sudah berada di ambang pintu. Kepalanya menoleh waspada ke arah tangga. Tapi tanganku ingin membuka lembar buku itu lagi dan lagi.


 


20 Agustus,


Rambutku ditarik, dan perutku nyaris ditendang oleh Harsa. Syukurlah bayi ini kuat. Aku berharap anakku baik-baik saja. Aku juga harus kuat demi anakku.


 


“Balin!”


Aku menutup buku catatan Karina. Aku akan membacanya nanti setalah keluar dari neraka ini.


“Oke, temui kami di jalan setapak belakang rumah Harsa,” perintahku pada Alexa.


“Oke.”


Aku dan Juan bertatapan, lalu mengangguk. Kami langsung berlari sepanjang lorong sunyi itu, mengakibatkan suara gedebuk yang keras, dan menuruni tangga kayu dengan cepat. Sampai-sampai aku melangkah dua anak tangga sekaligus.


Namun, begitu kami berada di koridor lantai dua, para penjaga sudah berlari menghadang kami di tangga bercabang.


“Tuan Leo, di sana penyusupnya!”


“Tangkap mereka!”


Tak pikir panjang, aku menarik lengan Juan merapat ke jendela besar yang tadi aku gunakan untuk melihat Alexa.


Kami berdua melompat bersamaan dari jendela itu. Juan diuntungkan dengan tubuhnya yang gempal. Dia mendarat dengan sempurna di atas rerumputan. Berbeda denganku yang jatuh terduduk dan aku merasa tulang ekorku menghantam batu.


“Ayo, cepat! Ke taman belakang!” seru Juan berlari mendahuluiku.

__ADS_1


Aku berusaha sekuat tenaga bangkit dan berlari terseok-seok. Kami berlari melintasi taman belakang. Namun, tiba-tiba aku tersandung sesuatu hingga aku jatuh terjerembap di rerumputan.


“Akar pohon sialan,” umpatku.


Aku menyadari buku catatan Karina juga terjatuh saat aku tersandung tadi. Tanganku bergerak meraba rerumputan, karena kurangnya pencahayaan di taman belakang, ditambah sampul buku Karina yang berwarna hitam membuat aku kesulitan mencari.


Dan ketemu.


Buku itu berada di atas rumput berjarak empat meter dariku. Namun bersamaan dengan aku yang menemukan buku, aku juga melihat jauh di sana Leo sudah berdiri menodongkan pistol.


Dor.


Seketika bahu kiriku terasa nyeri dan berdenyut. Aku melirik dan menekan bahu dengan satu tangan. Ternyata benar, satu peluru menembus ke bahu. Darah mengucur mengotori baju dan tanganku.


“Balin,” teriak Juan yang sadar aku telah tertinggal jauh darinya.


Juan segera berbalik menghampiri dan menyeret tubuhku.


“Buku itu. Bukunya terjatuh,” ucapku memberontak ingin mengambil buku catatan yang tergeletak di antara rerumputan.


“Nyawamu lebih penting. Ayo,” Juan tetap menyeret tubuhku.


Para penjaga rumah bergerak mengejar kami berdua. Mau tak mau aku pun harus merelakan buku itu tertinggal dan ditemukan oleh Leo.


Lelaki itu membungkuk untuk memungut buku catatan Karina. Membolak-balikannya. Dan aku melihat dia tertawa puas.


“Kejar mereka!”


Aku dan Juan berlari sekencang mungkin dengan sisa tenaga yang ada. Saat kami berhasil mencapai ambang pintu besi bahuku yang terluka dicengkeram oleh sebuah tangan kasar.


Pada saat itu juga aku menendang selang**ngan si penjaga rumah yang langsung membungkuk kesakitan. Lalu memutar pundakku, dan aku terlepas.


Juan juga melayangkan tinju pada pria berbadan kekar yang satu lagi, hingga terbaring ke tanah.


Cahaya itu berasal dari sorot lampu mobil, dengan Alexa yang sudah menunggu di kursi pengemudi.


“Ayo, cepat naik!”


 


***


 


Di sebuah ruangan yang dipenuhi perabotan mahal, Harsa duduk di kursi indahnya dengan kedua tangan mengatupkan telinga. Dia tidak tahan mendengar tangisan bayi yang selama dua hari ini menjadi lagu pengantar tidurnya.


Harsa berteriak hingga suaranya menggema ke segala penjuru ruangan.


“DIAM! Kau sama cengengnya dengan ibumu,” cemooh Harsa.


Harsa menatap lekat pada Kirana yang sesenggukan. Senyum seringai berkembang di bibirnya.


“Aku harus segera mengakhiri mimpi burukku. Enaknya aku bunuh kamu dengan cara apa ya?” gumam Harsa tampak berpikir.


Kedua tangan Harsa dilipat di depan dada, dengan gaya santai, dia berbicara sendiri, “Aku bunuh dengan racun, pisau, pistol atau dicekik saja.”


Belum sempat dia menemukan ide yang bagus, benda pipih nan canggih di dekat kursinya, berdering. Menandakan ada satu panggilan masuk.


“Halo,” kata Harsa begitu mengangkat telepon.

__ADS_1


“Tuan, ada dua orang penyusup masuk ke rumah besar,” lapor Leo pada tuannya.


Harsa mengumpat kesal dan sontak berdiri tegak.


“Bagaimana bisa? Siapa mereka?”


“Alexa mencoba mengecoh para penjaga rumah, dan dua orang penyusup itu masuk ke kamar atas. Salah satu dari penyusup itu berteriak memanggil nama ‘Balin',” tutur Leo.


Harsa tertawa.


“Alexa dan Balin,” gumam Harsa.


“Iya, Tuan. Tapi kami tidak tahu siapa satu lagi yang bersama mereka. Mereka berhasil kabur melalui pintu besi di pagar belakang rumah.”


“Apa yang mereka cari?”


“Mereka mengambil buku catatan Nyonya Karina yang berisikan penyiksaan yang dia dapatkan darimu, Tuan.”


“Segera bakar buku itu! Lalu kamu datang kemari.”


“Baik, Tuan.”


Tut.


Panggilan ditutup. Mata dingin Harsa melirik pada sosok Kirana yang sudah berhenti menangis namun masih terlihat ketakutan.


Harsa mencondongkan tubuhnya untuk menyejajarkan pandangan dengan Kirana. Lalu tertawa jahat.


“Aku punya ide. Pasti akan seru jika aku membunuhmu di hadapan Papa Balin, iya kan?”


Seringai di bibir Harsa berkembang menjadi tawa yang dingin dan kejam.


 


***


 


“Aku rasa mereka sudah tidak mengejar kita lagi,” kata Juan yang sejak tadi melirik kaca spion mobil.


Alexa yang menyetir dengan kecepatan tinggi, melirik cemas padaku yang duduk di kursi belakang.


Aku meringis kesakitan saat membuka jaket dan kaos. Darah masih mengucur dari pundak, jadi aku gunakan kaos untuk membalut luka untuk sementara.


“Kita perlu ke rumah sakit,” kata Alexa yang menambah laju kendaraan.


“Tidak. Kita antar Juan pulang saja. Aku tidak mau dia terlibat lebih jauh lagi. Aku takut nasib Juan sama seperti Dodi,” aku berkata dengan napas yang terengah-engah.


Juan melirikku dan Alexa bergantian.


“Justru aku yang mengkhawatirkan nasib kalian nanti. Alexa sudah pasti ketahuan mengecoh para penjaga rumah, dan tadi aku kelepasan berteriak namamu, Balin. Jadi mereka pasti tahu penyusup itu adalah kamu.”


“Tidak masalah. Antar Juan pulang ke rumahnya sekarang!”


Dengan menghela napas Alexa membelokkan mobil dan selama lima belas menit mengebut di jalanan, mobil berhenti di toko kelontong tempat Juan bekerja.


Juan tinggal di kontrakan kecil di belakang toko kelontong itu. Dia turun dari mobil dan aku memastikan dia masuk ke dalam rumahnya dengan aman.


“Sekarang kita ke mana?”

__ADS_1


 


 


__ADS_2