
Malam hari sesuai rencana, kami memarkirkan mobil agak jauh dari kediaman Harsa. Rumah besar nan mewah itu tampak sepi. Hanya ada beberapa penjaga yang berjalan mondar-mandir di halaman rumah.
Setidaknya begitulah yang aku lihat dari teropong jarak jauh.
Kemudian, aku memberikan teropong itu kepada Juan. Dia juga ikut mengamati kondisi rumah Harsa.
“Ada dua kemungkinan, jika Kirana ada di rumah itu, kita bisa sekalian membawanya pergi dan mengambil buku catatan Karina,” kataku pada Juan yang masih memegang teropong.
“Tapi jika Harsa tidak di rumah, itu artinya dia membawa Kirana ke tempat lain,” sambung Juan seraya menyerahkan teropong ke Alexa.
“Aku akan mengalihkan perhatian para penjaga dan memastikan apakah Harsa ada di rumah atau tidak. Jika memang Harsa tidak di rumah, kalian segera menyusup langsung ke kamar atas untuk menyingkat waktu.”
Alexa mengembalikan teropong kepadaku yang sejenak mengamatinya. Gadis itu menyadari kalau aku ingin mengatakan sesuatu.
Tidak bisa aku dipungkiri, aku merindukan senyuman manis gadis itu setelah sekian lama tak berjumpa. Tanganku seolah bergerak dengan sendirinya menyentuh rambut Alexa.
“Ada apa?” tanya Alexa.
Aku berdeham untuk menetralkan perasaanku. Berpura-pura merapikan poninya.
“Pastikan earpiece-nya jangan sampai kelihatan,” kilahku.
“Oh, iya,” kata Alexa yang segera membetulkan tatanan rambutnya.
“Hati-hati,” kataku singkat.
Alexa hanya mengangguk. Lalu keluar dari tempat persembunyian untuk memulai rencana.
Pertama, Alexa akan mengecoh perhatian para penjaga sekaligus memastikan apakah Harsa ada di rumahnya atau tidak.
Aku dan Juan masih di tempat semula mengamati Alexa yang berjalan ke gerbang rumah Harsa. Dia disambut oleh dua penjaga laki-laki berbadan kekar.
“Aku Alexa Salma, ingin bertemu dengan Harsa,” kata Alexa kepada kedua penjaga dengan nada bicara yang sedikit membentak.
“Ada urusan apa dengan Tuan Harsa?” tanya salah satu pria di hadapan Alexa.
“Tidak perlu tahu. Ini urusanku dan Harsa,” bentak Alexa.
Aku melihat Alexa berjalan menerobos dua penjaga itu, yang tampak kewalahan karena Alexa mulai berteriak memanggil Harsa.
“HARSA! HARSA! KELUAR KAMU!”
“Nona, bisa diam? Tuan Harsa tidak ada di rumah,” ucap penjaga yang satunya lagi dengan tegas.
“BOHONG! Harsa pasti ada di rumah. Biarkan aku masuk ke dalam! Kalian tidak tahu aku ini siapa, hah?”
Di sampingku, Juan terkekeh melihat tingkah Alexa yang mencoba masuk ke dalam rumah. Namun, aku malah sebaliknya. Aku khawatir dengan Alexa yang semakin banyak penjaga menghampirinya.
__ADS_1
“Alexa itu gadis yang pemberani juga rupanya,” gumam Juan.
Aku menggigit bibir bawahku saking khawatirnya melihat Alexa berhadapan dengan empat pria bertubuh besar di sana.
“Ada ribut-ribut apa ini?” tanya pria yang baru saja keluar dari dalam rumah.
“Hai, Leopard, sini kamu!” teriak Alexa mengayunkan tangan pada pria itu.
Juan memiringkan badannya, dan berbisik di dekat daun telingaku, “Dia sekretaris Tuan Harsa, namanya Tuan Leo.”
“Bagaimana kalau kita ubah rencana saja? Suruh Alexa pergi sekarang juga!” ucapku cemas.
Juan menekan jari telunjuknya ke bibir, memintaku untuk jangan berisik. Namun, aku tidak bisa tenang melihat Alexa dikerumuni laki-laki.
“Ada apa?” tanya Leo berkacak pinggang.
“Aku ingin bertemu Harsa,” jawab Alexa dengan gaya santai.
“Ada urusan apa dengan Tuan Harsa?”
“Aku mau bayaranku ditambah.”
“Yang benar saja,” kata Leo tertegun. “Tidak bisa. Tuan Harsa sedang tidak ada di rumah.”
“Aku tidak percaya! HARSA! HARSA! KELUAR KAMU! Kalau tidak keluar, aku akan menelanjangi semua anak buahmu!”
“Apa?” aku berseru sambil bangkit berdiri.
Lagian Alexa pakai bilang ingin menelanjangi anak buah Harsa segala.
“Itu hanya ancaman palsu, Balin. Alexa tidak akan mungkin benar-benar melepas pakaian mereka semua,” kata Juan yang mengerti kegelisahanku.
“Sepertinya Harsa memang tidak ada di rumah. Kalau begitu tujuan kita langsung ke kamar atas untuk mengambil buku catatan Nyonya Karina. Ayo Balin, kita menuju pintu belakang rumah.”
Juan menyeret badanku yang hanya bisa pasrah, padahal aku masih ingin mengawasi Alexa. Takut-takut kalau para penjaga sialan itu menggodanya.
Kami segera berjalan di jalan setapak menuju pintu besi yang dimaksud Juan.
Kemudian, dengan pelan-pelan dan sebisa mungkin tidak menimbulkan suara, Juan memutar kunci gembok.
Pintu besi yang mulai karatan itu berderak ketika Juan membukanya sedikit. Aku mengikuti Juan masuk yang langsung disambut pemandangan taman belakang rumah.
Kami berlari mengendap-endap melintasi taman, masuk ke sebuah pintu menuju dapur. Untungnya kami berdua memakai sepatu dengan sol karet yang lunak sehingga tidak menimbulkan bunyi saat aku dan Juan berjalan di lantai marmer.
Rumah itu sepi dan kosong, tak ada seorang pun di sana. Bahkan aku bisa mendengar deru napas Juan yang terengah.
“Tunggu!” kata Juan tiba-tiba terhenti. Dia berbalik badan.
__ADS_1
“Ada apa?” tanyaku tegang.
“Lumayan ada makanan,” ucap Juan sambil menyambar sepotong roti di atas meja dapur.
Aku mendengus dan memutar bola mata. Aku pikir apa.
Kami berbelok di satu sudut yang mengantarkan kami ke sebuah aula besar. Aku membiarkan Juan berjalan di depan memanduku karena dialah yang tahu betul denah rumah Harsa.
Sambil mengunyah roti, Juan berjalan cepat ke sebuah tangga besar yang ujungnya memiliki dua cabang. Dan Juan berbelok ke kiri.
Kami berada di lorong yang gelap. Aku berjalan di belakang Juan dengan sesekali menoleh ke sekeliling, memastikan tidak ada orang di dalam rumah.
Ketika kami melewati jendela besar, aku melihat di bawah sana, Alexa masih mengoceh pada para penjaga. Tiba-tiba Alexa mendongak dan tatapan kami bertemu. Seketika Alexa segera menarik wajah Leo yang juga hendak ikut mendongak.
“Kamu lihat apa tadi?” tanya Leo di bawah sana.
“Aku tidak lihat apa-apa.”
Aku berjalan cepat menyusul Juan yang kini menaiki tangga kayu sempit.
Akhirnya, sampailah kami di lantai tiga, lantai paling atas. Di sana tidak ada apa-apa selain lorong yang gelap dan berdebu. Ada tiga pintu di lorong itu.
Kemudian, Juan berjongkok di pintu paling ujung. Dia memutar kunci, dan ceklek...
Pintu kayu itu berderak terbuka.
Aku menyembulkan kepala di bahu Juan, melihat sebuah kamar gelap, pengap dan penuh debu, tentu saja.
Hanya ada satu tempat tidur di dalam kamar itu. Tak ada apa-apa lagi, kecuali jaringan laba-laba terayam di langit-langit kamar.
“Ini tempat Karina disekap?”
Juan mengangguk. Lalu dia melangkah masuk, menarik karpet kotor yang tak aku sadari ada di tengah kamar karena warnanya yang serupa dengan warna keramik lantai.
Kemudian Juan berjongkok untuk mengetuk-ngetuk setiap ubin lantai. Aku tahu apa yang tengah dilakukan Juan, maka aku pun mengikutinya mengetuk ubin lantai.
Tak selang lama, jariku mengetuk sebuah ubin lantai yang terdengar menggema. Berbeda dari suara ubin lantai yang lain saat diketuk.
Aku ketuk sekali lagi ubin pantai itu, untuk memastikan.
“Juan,” kataku tercekat.
“Tidak salah lagi pasti di sini,” Juan mendongkel ubin itu.
Ternyata di bawah ubin keramik ada tempat rahasia yang menyimpan sebuah buku bersampul hitam. Aku segera mengulurkan tangan mengambil buku itu dan membuka halaman pertama.
Buku Harian Karina Irawan Russell.
__ADS_1
“Kita mendapatkannya,”