Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 48 Cerita Juan


__ADS_3

Aku dan Alexa berada di depan toko kelontong yang sempit dan letaknya ada di jalanan kumuh. Kami berdua memakai kacamata hitam agar tak ada yang mengenali.


“Kamu yakin ini tempatnya?” tanyaku pada Alexa yang memastikan kondisi sekitar aman.


“Harsa pernah mengajariku caranya menjadi mata-mata, sekarang ilmu itu aku gunakan untuk mencari tahu siapa saja yang pernah bekerja dengannya. Ayo, sebaiknya kita masuk,” Alexa segera menarik lenganku untuk segera masuk ke dalam toko.


Seorang pria tua mendongak dari buku catatannya. Kacamata bulat yang bertengger di hidung pria itu merosot ketika melihat kami.


“Mau beli apa?” tanya pria tua itu.


“Kami ingin bertemu dengan Juan,” kata Alexa.


“Juan sedang sibuk bekerja kalau mau bi... “


Ucapan pria tua itu terhenti dan tercengang ketika Alexa menaruh sejumlah uang di meja kasir.


“Kami tukar jam kerja Juan dengan uang ini,” kata Alexa dengan santainya.


Pria tua itu berteriak memanggil Juan dan tak lama seorang pemuda tinggi besar berkulit agak gelap lari tergopoh-gopoh.


Juan tampak kebingungan dengan kehadiran kami berdua. Terlebih saat Alexa menariknya ke salah satu sudut toko.


“Maaf, kalian siapa?” tanya Juan.


Alexa melepas kacamatanya, “Aku Alexa dan dia Balin. Kami datang menemuimu untuk menanyakan apa yang telah terjadi antara Harsa dengan mendiang istrinya, Karina.”


Mendengar kata Karina disebutkan, Juan seketika tersiap. Dia menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada yang menguping.


Lalu Juan memandu kami berdua berjalan di antara rak-rak tinggi penyimpanan barang. Membuka pintu menuju ruangan sempit yang sepertinya digunakan untuk beristirahat pekerja toko.


“Silahkan duduk!”


Juan menunjuk kursi sofa kecil yang sudah reyot dengan busa yang sudah jebol. Sofa itu terlalu sempit untuk diduduki dua orang. Jadi aku dan Alexa duduk berimpitan. Sedangkan Juan sendiri duduk di kursi kecil di hadapanku.


Aku membuka kacamata hitamku karena aku tak dapat melihat dengan jelas di ruangan remang-remang itu.


“Jadi kalian ingin tahu apa yang terjadi pada Nyonya Karina?” tanya Juan melirik kami berdua bergantian.


“Iya, dan kenapa Harsa sangat membenci putri kandungnya sendiri?”


Juan tertegun, dia memiringkan tubuhnya ke depan.


“Apa aku tak salah dengar. Putri kandung. Berarti bayi yang dikandung Nyonya Karina... “


Alexa mengangguk, “Ya, bayinya selamat.”


Lalu Alexa menunjuk padaku, “Balin yang selama ini merawat Kirana, putri dari Karina.”


Aku berdeham menyela, “Maaf, aku belum tahu sebenarnya Juan ini siapa?”


“Aku mantan tukang kebun yang pernah bekerja di rumah besar Tuan Harsa,” kata Juan memperkenalkan diri.


“Jadi kamu tahu ada masalah apa Harsa dengan Karina?” tanyaku serius.

__ADS_1


Juan menggeleng. Sedangkan aku dan Alexa menghembuskan napas putus asa.


“Ayolah, Juan, katakan saja. Kami kemari untuk memperjuangkan keadilan bagi Karina dan juga ayahnya,” bujuk Alexa.


“Apakah ada orang ketiga yang merusak rumah tangga mereka? Seperti Harsa selingkuh atau sebaliknya, begitu?” tanyaku dengan tidak sabar.


Juan kembali menggeleng. Lalu berdeham untuk mulai bercerita.


“Rumah tangga Tuan Harsa dan Nyonya Karina baik-baik saja. Namun, selama beberapa bulan terakhir, mereka jadi sering bertengkar.”


“Aku masih ingat saat itu, aku sedang memotong rumput di taman belakang, Tuan Harsa dan Nyonya Karina bertengkar di lantai dua di dekat jendela yang terbuka. Dan aku melihat untuk pertama kalinya Tuan Harsa menampar Nyonya Karina.”


“Apa yang mereka ributkan?” tanyaku.


“Aku juga tidak tahu. Tapi ada beberapa kata yang aku dengar dan aku masih ingat diucapkan oleh Tuan Harsa.”


“Apa?”


“Tuan Harsa berkata, dia tak akan segan-segan membunuh bayi yang dikandung Nyonya Karina jika mencoba membocorkan rahasia Tuan Harsa.”


“Rahasia apa?” tanya Alexa.


Juan menggeleng. Kemudian meneruskan bicara.


“Sejak itu, Nyonya Karina dikurung di kamar lantai paling atas. Tidak diberi makan dan minum. Padahal Nyonya Karina dalam kondisi hamil.”


“Apa?” seruku geram, mengepalkan tangan mendengar penuturan Juan.


Juan tertawa getir, dan melanjutkan cerita bagaimana pengalaman bekerja sebagai tukang kebun di rumah Harsa.


Para pelayan takut dengan Tuan Harsa. Mereka sering disogok uang untuk tidak berkata apa-apa tentang perlakuan Harsa terhadap Karina. Bahkan Juan bercerita , Harsa pernah mengancam akan membantai para pelayan yang berusaha menolong Karina.


Aku menunduk dan tiba-tiba teringat saat aku tidak sengaja bertemu dengan Karina di apotek. Dia sedang hamil tapi badannya kurus dan wajah yang tampak kelelahan.


Jadi waktu itu, Karina mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya. Tapi kenapa Karina tidak menceritakan padaku saat itu juga?


“Jendela di kamar Nyonya Karina dipaku dan kunci kamarnya selalu dipegang oleh Tuan Harsa,” Juan kembali bercerita.


“Tapi Tuan Harsa pernah tidak sengaja menjatuhkan kunci itu di taman dan aku diam-diam menduplikatnya sebelum akhirnya aku kembalikan lagi ke Tuan Harsa.”


Alexa terkekeh, “Pintar juga kamu, Juan.”


Juan hanya mengangguk pelan. Meski aku lihat bibirnya menyinggungkan senyuman tipis saat Alexa memujinya.


“Sejak itu, aku sering memberikan makanan untuk Nyonya Karina tanpa sepengetahuan Tuan Harsa. Aku tahu risikonya sangat besar jika aku ketahuan menolong Nyonya Karina, tapi aku juga tidak tega melihat perempuan hamil disiksa seperti itu.”


Aku harus mengakui akan keberanian Juan. Dia juga mengaku pernah membantu Karina keluar dari rumah Harsa untuk menemui ayahnya dan sepulang dari sana, dia membantu Karina menyembunyikan kotak susu ibu hamil yang dibawa Karina agar Harsa tidak curiga Karina pergi dari rumahnya.


Kemudian Juan terperanjat, dia melotot melihatku.


“Aku baru ingat, saat itu Nyonya Karina bilang susu ibu hamil itu dibelikan oleh temannya yang bernama Balin. Apakah itu kamu?”


Aku menganggukkan kepala. Sementara Alexa mengernyitkan dahi.

__ADS_1


“Tapi kenapa pada saat itu Karina malah balik lagi ke rumah Harsa? Seharusnya dia tinggal saja di rumah ayahnya.”


“Karina tahu Harsa orang yang pintar, licik dan manipulatif. Jadi dia tidak mau bertindak gegabah,” kataku menebak, tapi ternyata Juan tersenyum membenarkan ucapanku.


“Ya, betul. Saat itu Nyonya Karina menemui ayahnya untuk mendiskusikan rencananya yang akan kabur ke luar negeri.”


“Tapi rencana itu gagal,” ucapku. “Pada malam Karina kabur ayah Karina malah mengalami kecelakaan dan Karina akhirnya menghubungiku.”


“Atau bisa jadi Harsa sendiri yang sudah membuat ayah Karina, Indra Irawan, kecelakaan,” Alexa ikut menerka.


“Mungkin,” timpal Juan. “Pada malam Nyonya Karina kabur, itu adalah hari terakhir aku bekerja. Jadi aku tidak tahu apa-apa lagi.”


“Kira-kira apakah ada sesuatu yang bisa dijadikan barang bukti kalau Harsa telah melakukan kekerasan terhadap istrinya sendiri? Barangkali seperti rekaman CCTV?” tanya Alexa sambil menyipitkan mata.


Juan tertunduk dengan tatapan kosong. Lama dia tidak berkata, lalu menghela napas.


“Aku yakin, Tuan Harsa pasti sudah menghapus rekaman CCTV yang menampilkan dirinya menyiksa Nyonya Karina.”


Alexa melirikku, dia menggigit bibir bawahnya tampak frustasi.


“Bagaimana ini, Balin?”


Aku pun menggeleng tak tahu harus bagaimana lagi agar semua orang tahu kebusukan Harsa.


“Tapi tunggu! Apakah buku catatan Nyonya Karina bisa dijadikan barang bukti?”


Aku dan Alexa melirik cepat pada Juan.


“Aku ingat, Nyonya Karina selalu menulis buku catatan yang disembunyikan di bawah lantai kamar.”


Aku memajukan badanku lebih dekat pada Juan. Menatap pemuda itu penuh keseriusan.


“Juan, kamu mau menemaniku mengambil buku itu?”


“Tentu saja. Demi keadilan untuk Nyonya Karina.”


Alexa menggelengkan kepala. Dia menatap cemas padaku dan Juan bergantian.


“Balin, Juan, kalian bercanda? Ibarat kalian sengaja masuk ke kandang macan, dan kalau buku catatan itu sudah tidak ada di sana bagaimana? Kalau tertangkap oleh anak buah Harsa bagaimana?”


“Alexa, tenang! Setidaknya kita berusaha dulu,” kataku.


“Memang bagaimana cara kalian akan menyelinap masuk ke rumah besar Harsa?” tanya Alexa yang masih terdengar bergetar cemas.


“Di pagar belakang rumah Tuan Harsa, ada pintu besi yang terhubung langsung ke jalanan setapak. Tuan Harsa sendiri tidak terlalu memperhatikan pintu besi itu karena tertutup oleh tanaman rambat.”


“Kamu punya kunci pintu itu?”


“Tentu. Pintu itu juga yang dipakai Nyonya Karina kabur dari rumah Tuan Harsa. Jadi kapan kita akan beraksi?”


“Malam ini juga.” kataku mantap.


 

__ADS_1


__ADS_2