Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 66 Ketakutan Telah Hilang


__ADS_3

Pulang dari kediaman Frans, aku mengantarkan Kirana yang setengah mengantuk ke kamarnya. Kutekan tombol lampu, dan seketika kamar yang didominasi warna merah muda itu terang benderang.


“Ayo, Nak. Ganti baju, lalu sikat gigi, baru Kirana boleh tidur, oke?”


Kirana mengangguk, aku menemaninya ke kamar mandi untuk sikat gigi. Kemudian, Kirana naik ke tempat tidurnya.


“Papa sebelum tidur bacakan buku cerita, please,” pinta Kirana saat aku menarik selimut.


Aku beranjak ke rak buku kecil di pojok ruangan. Mengambil satu dari jejeran buku cerita yang tertata rapi. Dan duduk di tepi tempat tidur Kirana.


Kebetulan buku yang aku ambil menceritakan putri duyung yang jatuh hati pada seorang pangeran. Kirana mendengarkan cerita yang aku bacakan dengan sesekali tertawa saat aku menirukan dialog di dalam buku.


Dan aku bacakan buku itu sampai halaman terakhir, namun, mata Kirana masih membulat sempurna.


“Sekarang Kirana tidur ya? Mimpi indah, anak Papa,” ucapku yang kemudian mengecup kening Kirana.


“Papa, tolong ajarkan aku renang.”


“Renang?” ulangku.


Kirana mengangguk, “Aku ingin bisa berenang seperti putri duyung yang ada di dalam cerita.”


Aku mengusap poni Kirana, mengulum senyum, dan mengangguk. Kirana sontak berseru girang. Dia melingkarkan tangan memelukku.


“Nah, kebetulan besok Papa libur. Jadi kita bisa belajar renang.”


“Thank you, Papa.”


“Sekarang Kirana tidur. Oh ya, jangan lupa baca doa dulu.”


Kirana mengangguk, lalu menengadahkan tangan.


“Ya Allah, terima kasih sudah memberikan aku Papa dan Mama yang baik sama aku, sayang sama aku, dan selalu melindungi aku. Kirana sayang mereka. Jadi, tolong lindungi mereka juga.”


Aku tersenyum mendengar kalimat doa yang dilantunkan Kirana. Sekali lagi aku mencium kening Kirana dan memeluk tubuh kecilnya.


“Kamu pintar sekali, Nak.”


“Iya dong, kan aku selalu belajar sama Papa dan Mama.”


Kemudian aku beranjak meninggalkan kamar Kirana. Di ambang pintu, aku menoleh memastikan untuk terakhir kali, sebelum akhirnya aku mematikan lampu dan menutup pintu.


Pandanganku berpaling ke ruang baca yang letaknya di samping kamar tidur Kirana. Pintu di ruang baca sedikit terbuka, cahaya sinar lampu bersinar dari dalam ruangan itu, dan samar-samar aku mendengar suara musik.

__ADS_1


Ternyata ada Alexa di sana yang tengah duduk membaca sebuah buku, sambil ditemani gawainya yang memutarkan musik instrumental saxophone.


Alexa mendongakkan kepala dari halaman buku ketika aku duduk di depannya. Dia tersenyum, dan menutup bukunya. Mataku melirik melihat judul buku yang dibaca Alexa.


Buku panduan kehamilan.


Aku meraih kedua tangannya, mengelus dan memberi kecupan di jemari lentik itu.


“Balin,” ucap Alexa dengan ragu-ragu.


Aku menunggu kata-kata dari Alexa yang kini tengah menelan salivanya.


“Apakah kamu punya keinginan untuk...”


“Memiliki seorang anak kandung,” kataku memotong ucapan Alexa.


Aku tahu dia ingin membicarakan hal ini. Terlihat jelas saat tadi dia menatap Sunny. Aku melihat dari mata Alexa yang sepertinya juga berharap bisa memiliki anak.


Alexa menaruh kepalanya di dadaku, dan aku merangkulnya. Menarik dagunya agar menatapku.


“Besok kita ke dokter kandungan terbaik. Kita konsultasi dan menjalankan program hamil. Oke? Jadi jangan risau lagi.”


“Sebenarnya aku... “


Aku menutup bibir Alexa dengan jari telunjukku. Menarik badan Alexa untuk berdiri. Satu tangan kami saling bertautan, satu tangan lagi aku lingkarkan di pinggul Alexa.


Perlahan kami berdansa dengan diiringi musik yang masih menyala dari gawai. Aku tersenyum saat Alexa pun juga tersenyum memperlihatkan deretan giginya.


Alexa berputar pelan, dan kami melanjutkan dansa dengan badan yang saling menempel. Tubuh Alexa sangat pas ketika aku memeluknya. Seakan dia diciptakan memang untukku.


Aku membisikan kata-kata cinta di depan telinganya. Musik berakhir digantikan dengan suara hewan-hewan malam yang terdengar dari luar rumah. Lalu aku menggendong Alexa menuju kamar tidur kami.


Aku julurkan kaki untuk menutup pintu, dan membaringkan Alexa di atas tempat tidur.


“Balin, aku mau bicara. Sebenarnya aku sudah... “


Aku tak mengizinkan Alexa melanjutkan kalimatnya karena aku telah meluumat bibir yang sensual itu.


“Jangan banyak bicara! Ketika kamu hamil nanti, jaga dirimu dan anak kita dengan baik.”


“Itu pasti,” sahut Alexa. “Dan kamu tidak akan membedakan Kirana dengan anak kita nanti, kan?”


“Tentu saja tidak. Mau itu darah dagingku atau bukan, mereka sama-sama anak kita.”

__ADS_1


“Kira-kira bagaimana reaksi Kirana nanti kalau tahu dia punya adik?” tanya Alexa dengan tatapan kosong.


“Pasti dia akan senang. Aku yakin itu.”


Kami saling tersenyum, dan melanjutkan ciuman. Tanganku tidak mau diam, bergerilya ke setiap senti lekuk tubuh Alexa yang mengeluarkan suara dengusan kecil berkali-kali.


Kami mengecap tanpa henti, hingga kami saling merasakan sensasi puncak yang menggelora dan menggetarkan jiwa.


Aku hujani pipi Alexa dengan kecupan selamat tidur.


“Ketakutanku satu per satu perlahan menghilang. Aku yakin kamu bisa melewati persalinanmu nanti dengan selamat,” gumamku saat melihat Alexa sudah setengah mengantuk.


“Dan aku tidak khawatir pada Harsa. Dua tahun dia menghilang. Semoga seterusnya dia tak kembali membayangi hidup kita.”


Lalu kami terlelap dalam keadaan saling berpelukan di bawah selimut.


 


***


 


Di bawah sebuah pohon rindang, tepat di seberang rumah besar bergaya Eropa, seorang pria merokok sambil netranya terus mengamati sepasang suami istri yang tengah berdansa mesra di lantai dua.


Pria itu melihat dari jendela kaca yang tirainya belum ditutup, di dalam ruangan hangat dan dipenuhi buku pasangan suami istri itu saling berpelukan erat.


Kepulan asap rokok menguap di udara. Bibir pria itu menyunggingkan seringai jahat.


“Jangan kira aku tidak akan membalas dendam, Balin. Selama ini aku menunggumu lengah.”


Pasangan suami istri di dalam rumah sana beranjak pindah ke ruangan lain, bersamaan dengan habisnya puntung rokok si pria.


Dijatuhkannya puntung rokok yang telah pendek itu ke atas rerumputan, lalu diinjak hingga hancur lebur menyatu dengan tanah yang lembab.


“Aku sengaja memberimu waktu dua tahun, agar kamu mengira aku tidak akan lagi mengganggu keluargamu. Tapi ingat! Aku selalu mengintai keluargamu tanpa kamu sadari.”


Pria itu berjalan mundur meninggalkan rumah yang ada di hadapannya.


“Bahagialah sepuasnya, Balin. Karena sebentar lagi kesedihan akan menghampiri hidupmu.”


“Kesedihan yang tiada akhir.”


 

__ADS_1


__ADS_2