
Ibu menyendokkan nasi ke piring Alexa, tidak tanggung-tanggung, nasi dan lauk pauk yang diambil hampir dua kali porsi makannya Rama. Alexa hanya menelan saliva dengan kasar saat menatap makanan yang ada di depannya.
“Ibu, Alexa hanya sedang hamil, bukan jadi kuli bangunan,” ucapku sengaja menyindir Ibu.
“Balin, Alexa harus banyak makan. Supaya nutrisinya tercukupi.”
“Tapi, kita sudah konsultasi ke dokter. Dan dokter menganjurkan Alexa untuk makan dengan porsi sedikit tapi sering,” bantahku tetap tak mau kalah.
“Iya, Bu. Yang dikatakan Balin benar. Aku mana mungkin bisa menghabiskan makanan sebanyak ini,” kata Alexa menambahkan.
“Sudah kamu makan saja sekenyang-kenyangnya, Alexa. Kalau tidak habis, suruh Balin yang habiskan,” ayahku yang tidak banyak bicara, mencoba menengahi.
Rama yang melihat kejadian itu hanya bisa terkekeh, sebelum akhirnya satu potong daging dilahapnya. Namun, segera dia keluarkan lagi. Karena ternyata yang dimakan bukanlah daging, melainkan lengkuas.
Dia mengumpat pelan, melirik ke ayah dengan harap-harap cemas. Takut beliau mendengar ucapannya tadi.
Aku, Alexa, dan Kirana sedang menginap di rumah orang tuaku. Sesuai permintaan Ibu begitu mendengar kabar Alexa hamil.
“Ibu jadi bertambah pengertian sejak Kak Alexa hamil. Ini karena Kak Alexa sedang mengandung cucu pertamanya Ibu,” gumam Rama sambil cengengesan.
“Alexa, Ibu berpesan padamu untuk menjaga kandunganmu sebaik-baiknya. Jangan stres, jangan kelelahan, jangan angkat yang berat-berat...”
Dan puluhan kata 'jangan' diucapkan oleh Ibu dengan tempo sesingkat-singkatnya. Sampai akhirnya Ibu menghirup udara panjang, karena kehabisan napas.
“Kalau perlu suruh Balin saja, kamu cukup tiduran di kasur.”
Alexa hanya mengangguk saja, tidak mau membantah.
“Ibu tidak mau terjadi apa-apa pada cucu pertama Ibu.”
“Cucu pertama?” ulangku.
“Jadi, selama ini, Ibu tidak menganggap Kirana sebagai cucu Ibu?”
Deg.
Detik itu juga, suasana berubah mencekam, serempak semua orang membeku, tapi bola mata melirik ke arahku dan Ibu bergantian.
Aku menatap penuh keseriusan pada Ibu yang tampak tenang. Ibu bahkan tidak membalas tatapanku, perempuan yang telah melahirkan aku itu dengan gaya santainya menuangkan teh ke dalam cangkir.
Kirana yang duduk di sampingku menoleh padaku.
“Papa marah?”
Begitu pula Rama yang mencondongkan badan ke depan, dan berbisik, “Kak, jangan terlalu diambil hati! Maksud Ibu mungkin, cucu pertama dari garis keluarga Mahendra.”
“Papa jangan marah ya?” kata Kirana lagi.
Aku melanjutkan makan, namun ketegangan tampaknya belum memudar. Semua orang saling terdiam. Hanya ada suara dentingan piring yang beradu dengan sendok.
Sampai akhirnya Alexa mendorong piringnya. Dia mengatupkan mulut menggunakan telapak tangan. Aku yang melihat reaksi Alexa, segera mengelus punggungnya.
__ADS_1
“Aku tidak sanggup menghabiskan makanan ini,” keluh Alexa yang menggeser piring ke hadapanku. “Balin, kamu habiskan ya?”
“Apa? Aku juga sudah kenyang.”
“Sini biar aku saja,” kata sebuah suara cempreng yang tidak lain adalah Rama.
“Kamu mau, Rama? Apa tidak apa-apa? Aku hanya makan tiga sendok saja sudah kenyang nih.”
Binar mata Rama menatap makanan yang di piring Alexa. Tangannya menjulur ingin mengambil, tapi aku dengan cepat menepuk keras punggung tangan itu.
Rama kesakitan, mengibaskan dan meniup bagian tangannya yang aku pukul. Dia melempar pandangan penuh tanda tanya.
“Ada apa, Kak?”
“Ada apa? Kamu masih tanya ada apa? Kamu hendak makan makanan bekas Alexa.”
“Iya, terus. Aku tidak keberatan. Lagian sayang kalau makanan sebanyak itu dibuang. Mubazir,”
“Bukan itu masalahnya. Kamu makan bekas makanan Alexa itu artinya bibir kalian bersentuhan secara tidak langsung.”
“Astaga. Kak Balin, aku tidak niatan merebut Kak Alexa kok. Tenang saja. Aku kan sudah cinta mati sama Shinta,” kilah Rama.
Namun, aku tidak mendengarkan apa pun itu alasan Rama. Kami berdua saling merebutkan piring makannya Alexa. Layaknya dua anak kecil yang berebut mainan.
***
Seperti rutinitasku setiap pulang ke rumah, aku mendengar laporan Juan tentang kondisi Alexa dan Kirana selama aku bekerja. Semua aman terkendali. Begitu pula ketika aku mengecek CCTV, persis apa yang dikatakan oleh Juan.
Sekarang aku punya kegiatan baru setelah pulang kerja. Mendekor ruangan yang akan menjadi kamar anakku dan Alexa.
Tatkala semua penghuni rumah tidur, aku sibuk sendiri menata furniture dan mengecat dinding kamar.
“Apa kamu tidak lelah?” tanya Alexa yang tiba-tiba sudah bersender di pintu.
“Alexa,” kataku yang lalu melanjutkan menyapukan kuas di dinding.
Alexa datang menghampiriku, memelukku dari arah belakang, dan menciumi punggungku.
“Apakah sebaiknya kita menyewa jasa desainer interior?” tanya Alexa.
“No,” jawabku mantap. “Harus aku yang mendekor kamar ini. Khusus untuk anak kita. Ngomong-ngomong anak kita nanti laki-laki atau perempuan?”
Alexa yang membenamkan kepalanya di punggungku hanya bergumam, dan aku berkacak pinggang sejenak mengamati hasil sapuan kuasku.
Kemudian aku letakan kuas cat ke tempatnya. Berputar badan agar aku bisa membalas pelukan sang istri.
“Mau laki-laki atau perempuan aku pasti akan menyayanginya,” bisikku lembut dan mengecup pipi Alexa.
__ADS_1
“Tapi kalau kamu mau tahu jenis kelamin anak yang ada di kandunganku, kita bisa melakukan semacam tes DNA, dan kebetulan Kak Allea menyarankan kita mengadakan gender reveal party.”
“Gender reveal party?” ulangku mengerutkan dahi.
Alexa mengangguk, kemudian menjelaskan dengan singkat. Gender reveal party, pesta yang diadakan untuk menebak jenis kelamin bayi yang masih di dalam kandungan.
Dokter akan melakukan semacam tes DNA, dan hasilnya tidak disampaikan langsung pada pasangan suami istri, melainkan dokter akan memberikan surat ke toko kue memberi tahu jenis kelamin sang calon buah hati.
Pihak toko, akan membuatkan kue sesuai petunjuk dari dokter. Jika di dalam kue berwarna pink, artinya hasil tes menunjukkan jenis kelamin bayinya perempuan. Jika isian kue berwarna biru, artinya laki-laki.
Sebelum acara potong kue, para tamu undangan diminta menebak apa tepatnya jenis kelamin si janin.
“Pesta seperti ini sedang tren lho, Sayang. Aku mau buat acara seperti itu,” rengek Alexa yang menggelayut manja di lenganku.
Tanganku gatal ingin mencubit hidungnya, dan kulakukan itu sambil menghujani ciuman.
“Iya, nanti kita adakan gender reveal party. Kita undang keluargamu dan keluarga aku juga.”
Alexa terkekeh pelan, “Bahasamu kepanjangan, Balin. Keluargamu kan keluarga aku juga. Jadi sebut saja keluarga kita.”
Aku mengangguk mengiyakan.
“Oh ya, aku mau bilang, akhir-akhir ini Kirana jadi sering murung. Mungkin karena kamu sibuk memikirkan anak kita.”
“Benarkah?” tanyaku terperangah.
“Coba besok kamu bicara pada Kirana, aku takut dia merasa tersisihkan karena hadirnya sang adik,” ucap Alexa yang kini menyandarkan kepala ke dadaku.
“Baiklah. Besok aku akan bicara dengan Kirana, dia pasti salah paham dan cemburu,” kataku singkat.
“Sebenarnya bukan hanya Kirana, aku juga cemburu. Kamu jadi tidak punya waktu untuk aku.”
Aku tergelak mendengar perkataan manja Alexa. Tanpa peringatan apa pun, aku menggendong tubuh Alexa yang membuat dia terkesiap dan memekik pelan.
“Kalau begitu, sepanjang malam ini akan menjadi milikmu, Sayang.”
Aku melihat tubuh Alexa bergidik ngeri, dan dia tertawa, “Sudah aku bilang, suaramu itu mengerikan jika bicara kata-kata romantis.”
Kami berdua tergelak, hingga aku menggendongnya ke kamar utama.
Aku membaringkan Alexa dengan perlahan, namun, dia membalas dengan menggulingkan tubuhku ke samping. Lalu menduduki perutku. Jemari lentiknya sangat cekatan saat membuka kancing kemejaku.
Satu per satu pakaian dilucuti, hingga tak menyisakan sehelai kain menutupi tubuh kami berdua.
Bola mataku tertuju pada perut Alexa yang kini sudah tampak membesar. Tanganku mengusapnya penuh kelembutan.
“Hai, Nak. Jaga dirimu baik-baik, dan di dalam sana jangan menyakiti Mama kamu!”
Alexa tergelak, “Balin, anak masih di kandungan saja sudah kamu bentak.”
__ADS_1