
Seorang wanita bertubuh kurus meletakan secangkir kopi ke hadapanku, lalu dengan lirikan waswas, dia juga menaruh satu lagi cangkir kopi di dekat seorang pria berkumis baplang.
Sekilas aku melirik jam yang tergantung di dinding kantor si pria kumis baplang ini. Setengah jam lagi aku harus ada di rumah, karena keluargaku akan mengadakan acara kecil-kecilan atas rasa syukur aku yang telah pulang dari rumah sakit.
Wanita yang menyajikan kopi tadi, menghampiri lagi atasannya untuk menyerahkan sebuah kotak berwarna hitam.
“Silakan diminum dulu kopinya, Tuan Balin Mahendra.”
Pria berkumis baplang itu menunjuk kopi di depanku, lalu segera beralih lagi ke dokumen yang sedang dipegangnya.
“Terima kasih.”
Aku meneguk sedikit kopi hitam itu, dan meletakkannya kembali ke atas piring kecil.
“Sebelumnya perkenalkan, Saya Richard, pengacara keluarga Irawan. Maksud saya meminta kehadiran Anda kemari, tentu saja untuk membahas soal surat warisan dari Indra Irawan.”
“Bukankah surat itu sudah dibakar oleh Harsa?”
“Surat yang dibakar oleh Harsa tidak lain adalah salinannya saja. Surat warisan yang asli ada di sekretaris saya.”
Richard tersenyum dan menundukkan kepala.
“Dan saya mohon maaf atas kelalaian sekretaris baru saya, karena surat warisan Indra Irawan yang asli sempat hilang tanpa sepengetahuan saya.”
Richard meluruskan kesalahan pahamnya dan juga mengaku bahwa awalnya dia percaya surat warisan yang dibuat oleh Harsa itu memang benar adanya.
Namun, setelah gosip keburukan Harsa tersebar di jejaring media, koneksinya di kepolisian tak dapat membantu lagi, dan ditambah bukti rekaman suara Harsa yang tersimpan di ponselku membuat polisi menggeledah isi rumah Harsa. Begitu pula dengan semua dokumen penting diperiksa oleh polisi.
Yang akhirnya diketahui fakta jika Harsa telah melakukan pemalsuan surat warisan Indra Irawan.
“Saya akan bacakan isi surat warisan Indra Irawan kepada Anda, Tuan Balin.”
Richard berdeham dan mulai membacakan isi surat yang ada di genggamannya, tapi entah kenapa aku tidak bisa fokus, pikiranku melayang pada semua orang yang menantiku di rumah.
Lagi pula secara garis besar aku sudah tahu siapa pewaris harta kekayaan Indra Irawan.
“... Dengan sadar dan tanpa paksaan membuat Pernyataan Surat Wasiat Waris kepada anak kandung saya, Karina Irawan dan anak yang ada di dalam kandungannya...”
Aku menghela napas menunduk. Aku sudah ingin sekali melihat Kirana. Ketika hari terakhir berada di rumah sakit, aku ditelepon oleh seseorang untuk datang ke kantor ini.
“...Surat ini saya nyatakan bahwa saya menyerahkan seluruh harta saya kepada anak dan cucu saya tersebut, yaitu sebuah rumah yang saya diami sekarang ini dan seluruh aset perusahaan milik saya pribadi...”
Aku menatap kosong pada cangkir kopi yang mengepulkan asap tipis. Suara Richard terdengar seperti dengungan nyamuk di telingaku.
__ADS_1
Bukannya aku tidak sopan, tapi tidak bisa dipungkiri, pikiranku memang sedang dalam kondisi susah fokus.
Aku memijit keningku dan berusaha memperhatikan Richard.
“... Sekali lagi saya tegaskan dalam surat ini, bahwa menantu saya, Harsa Russell tidak akan mendapatkan satu persen pun dari harta saya. Jika di kemudian hari anak saya, Karina Irawan, meninggal dunia maka seluruh harta saya akan sepenuhnya menjadi milik cucu saya, anak dari Karina Irawan.”
“Penandatanganan surat wasiat ini di saksikan oleh kepala pelayan dan juru masak di rumah besar Indra Irawan.”
Richard menutup map dan meletakkannya di atas meja. Kemudian dia menyodorkan kepadaku kotak hitam yang tadi diserahkan oleh sekretarisnya.
Aku hanya melirik kotak hitam itu dengan sorot mata keheranan.
“Kotak ini ditemukan saat penggeledahan oleh pihak polisi di rumah Indra Irawan dan saya rasa Anda perlu membukanya,” kata Richard sambil menyerahkan sebuah kunci kecil.
Aku meraih kunci kecil itu, memutarnya di lubang kunci yang terdapat pada kotak hitam, lalu pelan-pelan tanganku membuka penutup kotak itu.
Isi kotak hitam itu hannyalah berupa sebuah payung dan ada secarik kertas yang dilipat rapi. Aku mendongak menatap Richard yang mengangguk pelan.
Jemariku mengambil membentangkan lipatan kertas itu. Hatiku bergetar mengetahui itu adalah surat dari Karina yang dituliskan untukku.
Dari isi surat itu, aku perkirakan ditulis oleh Karina sesudah pertemuan kami di apotek dulu dan sebelum dia kabur dari rumah Harsa.
Begini isi surat Karina.
Jika kamu menerima surat ini, itu berarti aku telah tiada di dunia ini.
Sebelumnya, aku ingin menceritakan tentang masalah rumah tangga aku dan suamiku, Harsa. Selama ini aku mengenal suamiku sebagai pria yang baik dan mencintai aku.
Namun, suatu hari aku menyadari bahwa Harsa selama ini memakai topeng. Wajah aslinya adalah seorang pembunuh yang serakah. Dia merencanakan pembunuhan terhadap ayahku.
Marah, sedih, dan kecewa semau bercampur menjadi satu. Tidak hanya itu, dia juga mengurung aku agar tidak bisa menemui ayahku. Akan tetapi ada satu pelayan di rumahku yang sungguh sangat berani membantuku menemui ayah.
Aku mengadukan kepada ayah semua yang telah Harsa rencanakan. Dan kami juga diam-diam menyusun strategi.
Ayahku akan membawa aku kabur ke luar negeri. Setelah memastikan aku dan anakku aman, ayah akan menjalankan rencana selanjutnya agar Harsa mendapatkan balasan dari apa yang telah dia perbuat.
Dan kamu masih ingat ketika pertemuan kita yang tak disengaja di sebuah apotek?
Saat itu, aku menyadari kalau dompetku ketinggalan dan kamu dengan baik hati membelikan aku susu ibu hamil. Aku terharu. Karena Harsa sendiri sebagai suami tak pernah melakukan hal yang demikian.
Ketika itu, aku baru saja pulang menemui ayahku. Di sepanjang jalan, kamu terus berbicara banyak hal tapi perhatianku terkalahkan oleh rencana-rencana ayah.
__ADS_1
Ingin sekali pada saat itu aku membicarakan padamu. Tapi kurasa tidak.
Aku tidak mau membuat strategi yang ayah susun malah menjadi berantakan.
Aku selalu ketakutan, jika rencana ayah gagal, dan aku meninggal, siapa yang akan menjaga anakku? Aku tidak mau anakku berada di tangan Harsa si Pembunuh.
Maka dari itu, aku berniat jika aku meninggal aku akan menitipkan anakku padamu, Balin. Aku mohon kasihi dia sepeti kamu menyayangi anakmu sendiri.
Aku tahu permintaanku ini pasti sangat memberatkanmu, tapi aku juga tidak tahu pada siapa lagi harus meminta pertolongan.
Sebagai rasa terima kasihku, aku menghibahkan 20 % dari keseluruhan harta kekayaan ayahku, Indra Irawan, kepadamu, Balin.
Nanti pengacara ayahku, Richard, yang akan mengurus semuanya. Aku harap agar kamu mau menerima hadiah kecil dariku.
Jika aku telah tiada, kamu juga yang akan mengurus perusahaan ayahku. Aku percaya kamu bisa, Balin Mahendra.
Salam dari sahabat terbaikmu, Karina Irawan.
P.S. aku kembalikan payung yang pernah kamu pinjamkan saat mengantarku pulang. Terima kasih sekali lagi, Balin.
Pandanganku beralih pada payung yang ada di dalam kotak, lalu tertawa kecil sekaligus menitikkan air mata.
Aku baru menyadari kalau itu payung milikku sendiri. Dengan cepat aku menyeka ujung mataku menggunakan telapak tangan.
“Dengan adanya surat wasiat dari Indra Irawan dan juga surat yang ditulis oleh Karina ini, berarti Anda dan juga Kirana bisa menghuni rumah besar Indra Irawan jika Anda berkenan, Tuan Balin,” terang Richard seraya menegakkan punggungnya.
“Aku akan bertanya dulu pada Kirana, apakah dia mau tinggal di rumah peninggalan kakeknya atau tidak.”
Richard mengangguk.
“Saya harap Anda juga secepatnya bekerja di perusahaan Irawan Group. Perusahaan itu sempat mengalami kemunduran sejak di pegang oleh Harsa.”
“Akan aku mengusahakan yang sebisaku.”
Richard mengangguk lagi.
“Karena Anda adalah wali dari Kirana, maka Anda juga yang akan mengurus harta kekayaan dan seluruh aset Indra Irawan setidaknya sampai Kirana berusia 21 tahun.”
__ADS_1
Inilah yang ditakutkan Harsa selama ini. Harta incarannya jatuh ke tangan Kirana, dan sekarang Harsa yang entah berada di mana pasti tidak akan tinggal diam.
Aku yakin di suatu tempat di belahan bumi ini, dia sedang mengatur siasat balas dendam.