Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 80 Sang Perawat


__ADS_3

Begitu masuk ke ruangan, mataku langsung tertuju pada Alexa yang sudah duduk tegak di atas ranjang.


Di sampingnya berdiri ke dua kakak perempuan yang bagi mataku mereka seperti dayang yang mengapit seorang tuan putri.


Aku menghampiri Alexa dan menggenggam tangannya, lalu menempelkan ke pipiku. Alexa membalas tatapanku dengan raut yang tidak bisa aku terka.


"Balin, Kirana mana?"


Aku menghela napas sejenak sebelum berbicara. Memandang wajah Alexa yang menanti jawaban dariku.


"Kirana ada di rumah," jawabku dengan suara yang lirih.


Bibir Alexa melengkungkan senyuman. Namun, semua orang yang ada di ruangan itu menundukkan sedih.


"Kita akan memakamkan Kirana besok."


Satu detik senyuman Alexa pudar seketika. Berganti dengan raut tak percaya dan dia menggelengkan kepala. Dia melirik semua orang meminta penjelasan. Akan tetapi semua diam. Tak ada yang berani berbicara.


"Kamu bercanda, Kirana tidak mungkin meninggal," protes Alexa.


Aku memeluk tubuh Alexa supaya bisa tenang terlebih dahulu. Tapi pelukan itu tidak lama, karena Alexa mendorong dan memukuli dadaku.


Sebisa mungkin aku menangkap tangan Alexa agar berhenti, menatapnya dalam, dan mengelus rambut ikalnya. Air mata berderai dari ujung matanya.


"Kamu jahat, Balin. Kenapa kau lebih memilih menyelamatkan aku ketimbang Kirana? Harusnya kamu biarkan saja aku mati tercekik oleh Harsa. Kita sudah kehilangan Boy, dan sekarang kita kehilangan Kirana juga."


Alexa terus memaki aku dengan tangis yang tidak kunjung reda. Lalu aku cium bibir Alexa agar dia bisa diam sejenak. Tidak peduli akan keberadaan kakak-kakak Alexa yang ada ruangan itu.


Ternyata ciuman saja tak mampu menenangkan Alexa. Kini dia beranjak berdiri untuk mendekat ke kakak sulungnya.


Alexa melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan padaku. Memukuli dada Kak Alan sambil menjerit.


Kak Alan diam tak bergerak atau pun menghindar dari pukulan yang dilayangkan Alexa.


"Ini juga salah Kak Alan. Kenapa Kak Alan menarik aku ke permukaan air. Padahal sedikit lagi aku bisa membawa Kirana ke atas."


"Alexa, kamu juga sudah dalam keadaan lemah. Jika Kakak terlambat sedikit saja, keadaanmu bisa jauh lebih fatal. Lagipula, Mirza langsung menggantikan kamu untuk membawa Kirana."


"Iya, tapi Kirana tidak tertolong, Kak."


Alexa menangis, lalu Kak Alan menarik kepala Alexa untuk membawanya ke dalam dekapan.


Aku melihat satu tetes bulir mengalir di pelupuk mata Kak Alan yang sedang mengusap kepala Alexa. Di saat semua kakak Alexa menenangkan adik bungsunya, tatapan manik hitam Kak Alan bertemu denganku, lalu dia mengangguk kecil.


"Aku mau pulang sekarang. Aku ingin melihat Kirana," pinta Alexa setelah dia melepaskan pelukan kakaknya.

__ADS_1


"Kamu belum diizinkan pulang," bantah Kak Alan dengan ekspresi datar.


Alexa melempar pandangan padaku meminta pembelaan. Namun sayangnya kali ini aku lebih berpihak pada Kak Alan.


"Kita akan melihat Kirana besok, Alexa."


***


Malam harinya. Di sudut rumah sakit yang sepi karena sebagian pasien tertidur dan menyisakan tenaga medis yang berjaga malam, terdengar bunyi derap langkah dari lorong gelap.


Langkah kaki yang mantap dari seorang pria yang memakai seragam perawat. Sorot mata si perawat pria itu tertuju pada pintu pasien yang ada di ujung sana.


Napasnya memburu begitu dia sampai di depan pintu, tanpa perlu meminta izin masuk, pria itu masuk ke dalam ruangan sederhana.


Sinar lampu dari luar menyusup masuk ke dalam kamar melalui pintu yang berderak terbuka. Sejenak mampu menerangi kamar yang gelap, dan sosok yang terbaring di ranjang terbangun karena terpaan cahaya menyilaukan matanya.


Perawat pria menutup pintu, menghampiri pasien yang terbaring namun ke dua bola matanya membulat sempurna.


"Halo, ada yang bisa aku bantu?" tanya sang pasien yang kemudian tertawa tanpa sebab.


"Anda tampak bahagia sekali, Tuan Harsa?" si perawat pria balik bertanya.


Harsa menghela napas untuk mengakhiri tawanya.


"Aku bahagia karena akhirnya aku bisa melenyapkan bocah itu. Meski aku tidak mendapatkan apa yang aku impikan tapi setidaknya bocah itu sudah tiada."


Hening untuk beberapa saat yang lama. Kedua orang itu tak ada yang mengeluarkan suara.


"Pengecut," ucap perawat pria.


Harsa tidak terima dengan panggilan yang dilontarkan perawat pria yang tidak dikenalnya itu. Dia melempar tatapan dingin dan duduk tegak di atas tempat tidurnya.


"Kau perawat rendahan, memanggilku apa tadi?" tanya Harsa mencemooh.


Sang perawat sama sekali tidak terpancing emosi. Dia melanjutkan bertanya.


"Apa tujuan hidup Anda sekarang, Tuan Harsa? Bukankah balas dendam sudah terbayar?" tanya perawat pria yang sejak tadi berdiri menggenggam kotak misterius.


Raut wajah Harsa menunjukan keraguan, menatap selimut dengan pandangan kosong.


"Kau benar," gumam Harsa.


"Bocah itu telah mati, Alexa dan Balin pasti sangat terpuruk dengan kematian dua anaknya."


Perawat pria mengangguk membenarkan, lalu berkata, "Nasib Anda sendiri sama menyedihkannya. Hidup di dalam penjara sampai kematian menjemput."

__ADS_1


Tatapan mata Harsa masih kosong namun tak lama dia berbicara sendiri.


"Aku bukan seorang pengecut dan aku tidak mau mati di dalam sel penjara yang kotor."


Perawat pria itu mengangguk sekali, tangan yang terbalut sarung tangan lateks perlahan membuka kotak yang dibawanya.


Sebilah pisau kecil yang biasa dipakai dokter untuk melakukan operasi diambil sang perawat dari dalam kotak dan langsung menyelipkannya ke dalam selimut Harsa.


"Kalau begitu lakukan malam ini juga!" titah san perawat.


"Kau yang akan melakukannya?"


Perawat menggelengkan kepala.


"Aku tidak mau mengotori tanganku. Selamat malam, Tuan."


Perawat pria itu membalikkan badan dan mulai melangkah meninggalkan ruangan. Akan tetapi terhenti ketika Harsa memanggilnya.


"Siapa kau?"


Tanpa menoleh ke belakang perawat itu berbicara lurus ke depan. Menganggap lawan bicaranya adalah pintu.


"Aku hanya perawat biasa yang geram mendengar ada seorang ayah tega mencelakai putrinya sendiri."


Kemudian, perawat pria itu meneruskan berjalan, menutup pintu kamar Harsa tanpa meninggalkan suara. Senyum seringai mengembang di bibir sang perawat yang melangkahkan kaki menuju lorong gelap dan menghilang di sana.


***


Pagi hari di ruangan VIP di mana Alexa dirawat,


Aku membantu memakaikan baju untuk Alexa. Dia sudah diperbolehkan pulang hari ini.


Namun, di wajahnya tidak menampakkan kebahagian. Sejak kemarin dia duduk lesu dan sering sekali melamun.


Aku telah memberikan Alexa vitamin C, atau bahasa lainnya vitamin Cium, supaya dia sedikit semangat. Tapi tetap saja tidak mempan. Dia membalas ciumanku tapi setelahnya dia kembali murung.


Setelah baju, aku membantu menyisir rambut ikalnya. Tepat saat itu ada yang mengetuk pintu dan aku mempersilahkan masuk.


Ternyata itu adalah Kak Alan yang masuk dengan wajah tegang dan matanya yang melotot.


"B-Balin... H-Harsa," ucap Kak alan terbata-bata.


Aku dan Alexa mengernyitkan dahi, saling melirik kebingungan.


"Harsa, kenapa Kak?" tanyaku pada Kak Alan yang tengah mengacak rambutnya tampak syok.

__ADS_1


Dengan napas yang terengah, Kak Alan menjawab, "Harsa bunuh diri di kamarnya."


__ADS_2