Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 52 Menemui Harsa


__ADS_3

Alamat yang diberikan Harsa ternyata adalah sebuah rumah besar di pinggir hutan. Hanya ada satu bangunan rumah itu saja yang dikelilingi pepohonan pinus.


Aku turun dari mobil, dan berjalan melintasi halaman rumah yang tak ada penjaga sama sekali.


Menoleh ke belakang, karena aku merasa ada yang mengintaiku dari jauh. Tapi yang aku lihat hanyalah bayangan gelap pepohonan.


Begitu sampai di depan pintu, belum sempat aku mengetuk, seseorang telah lebih dulu membukakan pintu untukku.


Seorang pria dengan sorot mata dingin dan senyum seringai yang terbit di bibirnya, berdiri di depanku.


“Aku pikir, kamu sudah mati,” cibir Leo.


“Di mana Kirana?” tanyaku langsung ke inti masalah.


Leo berjalan memanduku masuk ke dalam rumah. Mengantarkan aku ke sebuah ruangan yang terdapat meja makan panjang. Di ruangan itu hanya diterangi cahaya dari beberapa lilin yang menyala di atas meja.


Dan di ujung meja, Harsa tengah duduk menyantap steik. Matanya terperangah saat melihatku. Dia langsung menjatuhkan pisau dan garpunya, berdiri dengan tawa yang dingin.


“Akhirnya, tamu kehormatanku datang juga,” ucap Harsa tersenyum licik.


“Di mana Kirana?” tanyaku geram.


Dengan lirikan matanya, Harsa menunjuk ke salah satu sudut ruangan. Aku menoleh mengikuti arah yang ditunjukkan Harsa.


Di salah satu sudut ruangan yang remang di sana, aku melihat Kirana tertidur di sebuah sofa panjang berbahan beludru biru. Lima anak buah Harsa berbaris rapi tak jauh dari Kirana.


Aku segera berlari menghampiri Kirana. Mengguncangkan tubuh yang lemas dan terpejam itu.


“Kirana, ini Papa. Bangun, Sayang. Ayo kita pulang.”


Namun, usahaku untuk membangunkan Kirana tak membuahkan hasil. Mata Kirana tetap terpejam dan aku mulai panik.


“Percuma. Dia tidak akan bangun.”


Aku menoleh cepat pada Harsa yang menyeringai dari tempat duduknya. Lalu berlari dan mencengkeram kuat kerah kemeja Harsa.


“Apa maksudmu Kirana tidak akan bangun?” suaraku bergetar karena marah.


Napasku menggebu, dan tatapan tajam aku sorotkan pada laki-laki yang dengan santainya mengunyah makanan.


“Tenang, Balin. Dia tidak mati. Ya, setidaknya belum mati. Aku hanya memberikannya obat tidur.”


“Kau memberi Kirana obat tidur?” aku meraung.

__ADS_1


Harsa hanya mendesah pasrah, memutar bola matanya.


“Apa boleh buat. Anak itu menangis terus sambil memanggil papa. Padahal kan aku papanya.”


Bug.


Aku meninju ujung bibir Harsa yang langsung terjungkal ke sandaran kursi. Para anak buah Harsa, termasuk Leo, maju satu langkah siap menolong tuannya, tapi Harsa memberi isyarat dengan tangannya.


Para anak buah paham isyarat itu, dan mereka kembali diam mematung.


“Aku yang lebih pantas menjadi Papa untuk Kirana.”


Harsa sekilas menyentuh ujung bibirnya yang membiru. Lalu menegakkan punggung dan meneguk birnya.


“Jangan terlalu serius, Balin. Nanti akan ada acara puncak yang lebih seru. Sekarang, duduklah! Aku sudah menyiapkan makan malam untuk menemani obrolan kita.”


Harsa memaksaku duduk di kursi yang bersilangan dengan kursinya. Di depanku sudah tersaji sepiring steik lezat dan satu gelas bir. Namun, dalam keadaan seperti ini, nafsu makanku mana mungkin tergugah.


“Aku sengaja menghidangkan steik dengan kematangan medium well. Seperti yang kamu suka. Benar kan?”


Harsa tergelak saat aku meliriknya.


“Atau Alexa salah dalam memberikan informasi? Tapi sebelum kita membahas gadis polos itu, akan lebih jelas jika aku menceritakan dulu tentang awal mula kenapa aku menikahi Karina.”


“Aku dulu tinggal di Amerika, tapi saat perusahaan ayahku bangkrut, aku pindah ke negeri tempat ibuku dilahirkan dan aku bekerja pada Indra Irawan. Dia orang yang kaya raya tapi sayangnya mudah percaya dengan orang lain. Dan kelemahannya itulah yang aku manfaatkan.”


Harsa bercerita bagaimana usaha dia membuat Indra Irawan terkesan selama dia bekerja. Lalu pertemuan pertamanya dengan Karina pada hari ulang tahun Indra Irawan, bagaimana dia juga berhasil membuat Karina terkesan padanya. Yang pada akhirnya, Harsa menikahi Karina.


Aku melirik tajam pada Harsa yang melanjutkan makannya.


“Tapi sebenarnya kamu hanya mengincar kekayaan Indra Irawan semata?” tanyaku menebak.


Harsa tersenyum, “Yes, that right.” (Ya, benar sekali)


“Karina tidak menyadari kalau selama empat tahun aku hanya memberikannya cinta palsu. Lama-kelamaan aku bosan berada di bawah perintah si tua bangka itu. Jadi aku merencanakan pembunuhan terhadap ayah mertuaku sendiri.”


Sekarang otakku mulai bisa menyusun setiap kepingan cerita. Pastilah rencana Harsa didengar oleh Karina. Seperti yang di ceritakan oleh Juan, sejak itu Harsa menyekap Karina agar tidak merusak rencananya.


Harsa juga mengancam akan membunuh bayi yang dikandung istrinya.


“Selanjutnya kamu juga pasti tahu apa yang terjadi, Balin?”


“Karina kabur dari rumahmu untuk melarikan diri ke luar negeri bersama ayahnya.”

__ADS_1


Harsa mengangguk, dan kembali bercerita.


“Pada malam itu, aku mengikuti mobil mereka dan berhasil menabrakkan mobil Indra ke dalam jurang. Aku senang bukan main, melihat mobil itu terjun ke laut, aku pikir Karina juga ada di dalam sana.”


Harsa menghabiskan makanan, mengelap mulutnya, dan mulai menyalakan rokok.


“Jadi kalau kata orang, menyelam sambil minum air. Aku bisa melenyapkan Indra dan juga Karina. Dengan begitu aku akan lebih mudah menguasai harta kekayaan Indra Irawan.”


“Akan tetapi, begitu polisi menemukan mobil itu, hanya ada mayat si tua bangka saja. Aku mulai tidak tenang. Aku belum percaya Karina meninggal sebelum aku melihat jenazahnya. Jadi aku kerahkan anak buahku untuk mencari keberadaan istri sialan itu.”


Satu lagi kepingan puzzle dari teka-teki ini terjawab.


Harsa tahu dari laporan anak buahnya bahwa Karina meninggal saat melahirkan bayinya dan bayi itu ada bersamaku. Maka itu Harsa atau anak buahnya datang ke kantor di mana aku bekerja, untuk meminta informasi tentangku.


Aku ingat saat Joko datang ke restoran, dia bercerita kalau ada orang yang mencariku satu minggu setelah aku berhenti bekerja.


“Jadi kau orang yang menemui Pak Bambang?”


Harsa mengangguk lagi. Lalu dia menegakkan duduknya, melirikku dengan sorot meneliti.


“Aku penasaran, apa yang membuat Karina percaya menitipkan anaknya padamu? Siapa kamu? Apa saja yang telah Karina katakan padamu? Pertanyaan itu selalu memenuhi pikiranku.”


“Dan kamu menyuruh Alexa mematai-mataiku, menuduh Karina berselingkuh denganku, dan meragukan Kirana bukanlah anakmu.”


Harsa bangkit dari duduknya. Dia berjalan mondar-mandir menghisap rokok di hadapanku. Lalu dia berhenti. Menatapku dengan mata yang melotot.


“Aku butuh seseorang yang mudah dekat dengan anak-anak, Balin. Agar kamu tidak curiga kalau dia adalah mata-mataku. Agar kamu mengira tujuan Alexa mendekatimu karena murni dia ingin bermain dengan Kirana.”


Harsa kembali menjatuhkan diri ke kursinya. Tatapannya kosong memandang lilin yang menyala.


“Tapi Alexa gadis yang lugu. Dia tidak akan membantuku jika dia tahu apa yang terjadi sebenarnya. Maka aku menghasut Alexa dengan cara membuat tuduhan yang keji padamu, Balin. Dan Alexa percaya itu.”


Harsa tertawa puas. Dia meraih gelas dan meneguk minumannya.


“Kalau Alexa mata-mata, kenapa kamu menyuruh orang untuk menabrak mobilku yang padahal kamu tahu Alexa ada di dalam sana?”


Harsa menghisap rokok, perlahan mengeluarkan kepulan asap dari mulutnya yang menerbitkan seringai.


“Aku tidak peduli akan Alexa. Yang terpenting anak itu celaka.”


“Kenapa? Apa tujuanmu ingin mencelakai anakmu sendiri padahal dia tidak tahu apa-apa tentang masalahmu dengan Karina?”


 

__ADS_1


 


__ADS_2