Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 73 Rekaman


__ADS_3

Penjaga rumah sigap membukakan pintu gerbang begitu melihat mobilku. Lalu aku memarkirkan mobil dan berlari kencang menerobos pintu.


Di dalam rumah sepi tak ada orang yang terlihat. Namun, tak lama Juan datang tergopoh-gopoh mendekati aku.


“Tuan, bagaimana kondisi Nyonya? Apakah baik-baik saja?”


“Mana Kirana?” aku balik bertanya yang membuat Juan mengerutkan dahi terheran.


“Kirana ada sedang sarapan.”


“Papa...” sapa Kirana yang tiba-tiba sudah berlari untuk bergabung denganku dan Juan.


Aku memeluk Kirana menyejajarkan pandangan dengannya, dan mengulum senyum. Sejenak aku menghela napas lega karena tidak terjadi apa-apa pada anak itu.


Kirana mengeluhkan kepergian seisi rumah saat dia terbangun, dan aku membisu ketika Kirana menanyakan keberadaan Alexa.


Kirana tentu saja belum mengetahui apa yang terjadi pada Alexa dan juga adik bayinya.


“Aku mau minta maaf ke adik bayi, Pa. Kemarin aku memang iri sama adik bayi. Tapi aku tahu Papa dan Mama sama-sama sayang Kira dan adik bayi.”


Aku meringis menahan rasa sakit yang tak dapat dilihat oleh orang lain. Tatapanku yang melihat Kirana menggenggam sebuah buku gambar mendadak menjadi buram.


Kirana membuka buku gambarnya. Dia tidak lagi menggambar gadis yang terpisah dari keluarganya. Melainkan gambar gadis bersama seorang bayi yang terbalut selimut.


Tangisku tak bisa dibendung lagi, bahu bergetar dan aku menangis seketika itu. Tidak peduli Kirana atau Juan melihatku.


“Papa kenapa menangis? Mama sama adik bayi mana, Pa? Aku mau ketemu, aku mau minta maaf.”


Biasanya Kirana yang menangis di pelukanku. Namun, kini giliran Kirana yang mendekap saat aku menangis.


“Adik bayi sudah pergi ke surga,” bisikku pada Kirana dengan suara parau.


“Kenapa adik bayi pergi? Apa karena aku marah ke adik bayi?”


Aku menggeleng tapi kemudian terdiam. Terisak dan menitikkan air mata, aku membisu untuk waktu yang lama.


“Adik bayi pergi karena dipanggil oleh Tuhan,” kataku dengan tatapan kosong.


“Kalau Mama ke mana?”


“Semalam Mama jatuh dari tangga, jadi sekarang harus dirawat di rumah sakit.”


Tiba-tiba Kirana menceletuk, “Apa Mama jatuh karena tersandung benang di tangga?”


“Apa? benang?” tanyaku terperangah.

__ADS_1


“Ayo, Pa. Lihat!”


Kirana menarik lenganku, memandu naik ke anak tangga paling atas, dan di sana. Ada seutas tali transparan yang telah terputus. Namun ujung tali itu masih terikat ke sebuah paku yang menancap di dinding.


Juan menemukan satu lagi paku ditancapkan di ralling tangga berseberangan dengan paku yang menancap di dinding.


Aku mencoba menyatukan kembali tali yang terputus itu, dan telah menyimpulkan bahwa tali inilah yang menyebabkan Alexa terjatuh.


Kemudian, tanpa pikir panjang aku lari ke ruang kerja. Membuka laptop dan memeriksa semua rekaman CCTV. Juan serta Kirana juga mengikuti apa yang aku lakukan.


“Lihat, Tuan! Lima belas menit sebelum Nyonya Alexa terjatuh, ada seseorang yang memasang tali itu di tangga.”


“Siapa orang itu?” aku memicingkan mata agar dapat melihat jelas orang itu.


Namun, sayangnya orang itu tampak sengaja memakai topi dan masker supaya wajahnya tidak terekam kamera.


“Papa, orang itu pakai jas milik Om Mirza, bukan sih?” celetuk Kirana.


“Betul. Kirana pintar,” kataku yang kini mengepalkan tangan.


Orang yang terekam sedang memasang tali di tangga memakai jas biru dongker yang dipakai Mirza saat ke pesta.


Jas itu dilepaskannya karena basah. Namun, saat pesta berakhir, jas milik Mirza malah hilang. Hanya Mirza lah yang memakai jas berwarna biru ke pesta. Tak ada lagi tamu yang memakai jas yang serupa.


“Ada dua kemungkinan,” aku menyahut.


“Pertama, orang itu benar Mirza tapi dia berpura-pura jasnya hilang. Agar dia punya alibi. Kemungkinan kedua, orang itu bukan Mirza tapi sengaja memakai jas milik Mirza agar dia yang menjadi kambing hitam.”


“Papa, lihat! Orang itu menaruh bola kasti milikku di bawah tangga,” seru Kirana sambil menjanjikan kaki agar bisa menunjuk ke layar.


“Iya, Papa lihat, Kirana.”


Aku yakin orang ini pasti menginginkan semua orang berspekulasi kalau Alexa jatuh karena menginjak bola, lalu tergelincir di tangga.


Dan itulah yang dipercaya oleh Kak Alan.


Tapi siapa sebenarnya orang ini?


Mataku mengamati pria misterius yang perlahan melangkah menuju area kolam renang.


“Juan, kenapa tidak ada rekaman CCTV yang mengarah ke area kolam renang?” tanyaku dengan nada kesal.


“Bukanlah Tuan sendiri yang meminta agar tidak ada kamera di sekitar kolam renang.  Takutnya jika Nyonya Alexa dan Tuan Balin berenang dan kemudian merekam... “


Perkataan Juan terhenti karena menyadari keberadaan Kirana. Namun aku tahu maksud ucapannya dan aku sendiri ingat kenapa aku melakukan perintah itu.

__ADS_1


Aku menghela napas kesal. Gara-gara kebucinanku pada Alexa, aku tidak memasang kamera di sana. Padahal jika ada kamera CCTV yang mengarah ke kolam renang, aku bisa tahu ke mana perginya orang itu.


Aku memejamkan mata sejenak. Berusaha memikirkan semua ini.


“Orang itu menghilang saat memasuki area kolam renang,” gumamku masih dengan mata terpejam.


“Orang itu bisa saja ke taman belakang,” teriak Kirana.


“Pintar Kirana,” dengan mata yang masih tertutup aku memuji pemikiran Kirana yang sangat cerdik.


“Atau bisa juga ke lorong yang menuju kamar tamu,” Juan ikut menebak.


“Tapi jika orang itu berlari ke lorong kamar tamu. Seharusnya Kak Alan, Nick, dan Mirza menyadari ada penyusup.”


Deg.


Satu detik mataku membelalak sempurna.


Sejenak Aku berpikir, jika pria misterius itu tidak keluar dari rumah, bisa jadi dia adalah salah satu tamu.


Aku memerintahkan Juan dan para pelayan lain untuk mencari jas milik Mirza itu di sekitar area kolam renang dan menggeledah semua kamar tamu.


Aku menanti di ruang kerjaku dengan perasaan waswas sambil mencoba menarik benang merah dari kejadian ini.


Apakah mungkin pria misterius ini orang suruhan Harsa? Harsa memata-matai aku lewat orang yang dekat dengan keluargaku. Seperti yang dilakukannya dulu.


Jika benar begitu. Artinya, pria misterius itu antara Kak Alan, Mirza, atau bisa saja Nick.


Lalu telepon berbunyi.


“Halo, Juan, bagaimana?”


“Kami sudah menemukannya, Tuan. Jas milik Tuan Mirza ada di lemari pakaian di salah satu kamar tamu,” tutur Juan dari seberang telepon.


“Kamar tamu yang mana?”


“Tepatnya kamar tamu yang digunakan Tuan Mirza menginap.”


Tut.


Dengan pandangan kosong aku menutup telepon. Sedangkan Kirana yang masih setia di sampingku tampak ikut berpikir.


“Mirza? Apakah dia kaki tangan Harsa?”


 

__ADS_1


__ADS_2