Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 15 Belanja Bersama


__ADS_3

Hampir satu bulan penuh, aku mendapati Alexa yang tak pernah absen berkunjung ke rumahku tiap sore. Sekalipun itu hanya sekedar mampir atau sekedar meminjam perkakas. Dia selalu menyapa Kirana jika tak sengaja bertatap muka di halaman rumah.


Selain itu, Cindy juga semakin sering mendatangi restoran di jam makan siang. Sampai semua pelayan restoran mengenal Cindy dan menu favoritnya. Dia selalu berlama-lama di restoran. Entah sengaja atau tidak.


Pernah suatu ketika aku bersama Kirana harus duduk empat puluh lima menit di dalam mobil, hanya karena Cindy tak kunjung pulang.


Menyembunyikan Kirana memang melelahkan. Aku tak tahu sampai kapan aku harus begini.


Setelah memastikan Cindy telah meninggalkan restoran, aku turun dari mobil. Menanyakan pada Hilda, pelayan yang kulihat tadi sempat mengobrol dengan Cindy.


Hilda menjawab bahwa Cindy menanyakan kapan biasanya aku datang ke restoran.


Aku jadi bertanya-tanya. Apa ada yang ingin Cindy bicarakan? Tapi kenapa tidak melalui telepon saja?


Hari ini aku berencana pergi ke supermarket untuk membeli keperluan Kirana yang sudah mulai habis.


Saat aku hendak membawa Kirana untuk masuk ke dalam mobil, Kirana tidak ada di ruang tamu. Padahal sebelum aku masuk ke kamar, Kirana tengah bermain sendirian di sana.


Lalu aku mendapati Kirana bersama Rama sudah ada di halaman sedang berbincang dengan Alexa. Bernapas lega. Ku pikir Kirana menghilang.


Aku mendekati Rama dan protes padanya karena membawa Kirana tanpa sepengetahuan ku.


“Hah? Apa? Orang Kirana menangis tadi. Masak iya aku harus minta izin dulu ke Kak Balin.” Rama mengendus keras. “Memangnya orang mau menikah harus minta izinlah, minta restulah, minta... Auwhh.”


Rama mengelus kepala tempat di mana aku tadi memitaknya. Alexa yang melihat kejadian itu terkejut sekaligus menutup mulut ingin tertawa. Lalu gadis itu memalingkan pandangan ke arahku.


“Kamu mau pergi?”


“Bukan urusanmu.”


“Kak Balin, jadi orang itu yang ramah sedikit kenapa? Nanti susah nyari jodoh baru tahu rasa.”


Aku mencubit lengan Rama dan dia mengaduh kesakitan. Kebiasaan buruk Rama nomor dua yang paling tidak aku suka.


Nomor satunya, dia selalu membuat rencanaku berantakan. Nomor dua, dia selalu menyeletuk seenaknya tanpa pikir panjang.

__ADS_1


Aku takut dia kelepasan bicara kalau aku sebenarnya belum menikah. Sementara sudah ada tiga orang yang menyangka aku telah memiliki istri dan anak, yakni, Alexa, Cindy dan Frans.


“Pergi masuk rumah! Jangan pergi keluyuran selama aku berbelanja kebutuhan Kirana.”


“Siap, Komandan.” Ucap Rama dengan nada sedikit kesal. Namun, dia menuruti saja apa perintahku. Masuk ke dalam rumah meninggalkan aku dan Alexa.


“Jadi kamu mau belanja? Aku ikut ya?”


“Tidak bisa...” ucapanku terputus karena Alexa sudah lebih dahulu melompat dan duduk di kursi depan mobil.


Aku membuka pintu. “Aku tidak mengizinkanmu untuk ikut. Sekarang, keluar dari mobilku!”


Aku bergeser satu langkah agar ada jalan untuk Alexa bisa keluar dari mobilku. Namun, gadis itu mengacuhkan perintahku dan malah memasang sabuk pengaman.


“Aku juga ada kebutuhan yang harus dibeli. Jadi boleh aku sekalian ikut? Sebagai imbalannya, aku yang akan memangku Kirana.” Kedua tangan Alexa terjulur ke depan. Siap menerima Kirana.


“Kirana akan aku taruh di car seat.” Jawabku singkat. Membanting pintu mobil dan menaruh Kirana di kursi bayi yang terpasang di belakang Alexa.


Akan tetapi hari ini Kirana tidak mau di baringkan di kursi bayi. Entah karena apa, dia malah merengek. Segala cara aku lakukan agar Kirana mau berada di kursi bayi, tapi berakhir nihil. Malah rengekan Kirana pecah menjadi tangisan.


Alexa memutarkan kepala untuk dapat melihat ke belakang. “Sudahlah. Mungkin Kirana memang ingin bersamaku.”


Bayi itu berhenti menangis dan langsung tertawa saat Alexa mengajaknya bermain. Alexa juga membiarkan Kirana duduk di pangkuannya dan perlahan melepas kedua tangan.


“Kirana sudah bisa duduk sendiri ya? Wah hebatnya Kirana.”


Aku juga baru menyadari itu. Kirana sudah bisa di dudukan tanpa harus dipegangi. Aku menyunggingkan senyuman yang tidak dilihat Alexa.


“Hati-hati, pegang Kirana dengan baik.”


Kemudian, kututup pintu mobil dengan perlahan, berjalan memutari mobil dan duduk di kursi pengemudi. Kunyalakan mesin, lalu mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.


Selama perjalanan, aku melihat dengan sudut mataku, Kirana yang tertawa lepas bermain cilukba dengan Alexa.


Lalu Kirana menyenderkan kepala di dada Alexa yang disambut pelukan hangat dari gadis itu. Sementara aku memfokuskan lagi pada jalanan yang padat dan macet.

__ADS_1


“Berapa bulan usia Kirana sekarang?”


Aku berpikir sejenak. Mencoba mengingat hari lahir Kirana. “Lima bulan lebih. Minggu depan tepat dia berumur enam bulan.”


Alexa mengembangkan senyum saat memalingkan wajah ke arah Kirana. Jemari Alexa yang lentik mengelus lembut rambut Kirana.


Alexa berbicara pada Kirana, “Berarti sebentar lagi Kirana boleh diberikan makanan pendamping asi. Kirana pasti sudah tidak sabar ingin menyicipi berbagai rasa makanan ya?”


Seakan tersentak, tak terpikir olehku bahwa seminggu lagi Kirana harus diberi makanan. Ah, ayah macam apa aku ini. Aku mengakui aku tidak tahu banyak hal dalam dunia bayi.


“Kamu sering konsultasi ke dokter mana? Kirana rutin imunisasi sesuai jadwal kan? ”


“Bisa tidak kamu berhenti bertanya? Aku sedang fokus menyetir,” kataku dengan suara ditinggikan satu oktaf.


Alexa terdiam seketika, memilih memalingkan wajah memandang jalanan melalui kaca mobil. Entah kenapa aku jadi merasa bersalah.


Padahal bukan maksudku berteriak kasar, aku hanya risih ada orang yang bertanya tentang apa pun yang berkaitan dengan Kirana. Namun, meskipun begitu, aku memilih berdeham menetralkan perasaanku ketimbang mengucapkan kata maaf.


Sisa perjalanan berubah menjadi canggung, maka aku menginjak gas selagi berada di jalan yang tak banyak kendaraan. Sepuluh menit berlalu dan sampailah kita di tempat parkir supermarket.


Begitu turun dari mobil, Alexa menyerahkan Kirana padaku. Wajahnya tampak biasa saja. Seolah tidak terjadi apa-apa, dia bahkan sempat tersenyum kecil padaku.


Kemudian kami sama-sama mengambil troli belanja. Secara bersamaan kami memegang troli yang sama. Alhasil tangan kami bersentuhan.


Aku melirik pada Alexa yang juga melakukan hal yang sama. Beberapa menit kami beradu pandang tanpa mengucapkan satu patah kata. Lalu Alexa mengangkat alisnya, dan cepat-cepat aku melepaskan tanganku.


Alexa mengambil trolinya dan berjalan terlebih dahulu. Aku mengikutinya dari belakang, tapi kami berpisah karena aku membelokkan troli menuju rak diapers.


Setelah itu, aku teringat akan ucapan Alexa tadi di mobil kalau Kirana sebentar lagi harus diberi makanan pendamping asi.


Maka aku berpindah ke rak yang memajang berbagai produk makanan bayi instan. Aku dibuat bingung dengan banyaknya pilihan.


Terlebih aku belum konsultasi pada dokter anak. Baiknya makanan seperti apa yang tepat untuk bayi yang baru belajar makan?


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2