Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 38 Siapa Pelakunya?


__ADS_3

“Apa? Aku mengirim kue ulang tahun untuk Kirana, anakmu?”


Aku diam mencerna raut wajah Frans yang terlihat gugup sekaligus terkejut. Kami sedang duduk berhadapan di restoran. Setelah mengantar Rama dan Alexa pulang, aku meminta Frans untuk bertemu.


Aku menceritakan tentang Rama yang  keracunan setelah memakan kue ulang tahun yang dikirim Frans untuk Kirana.


Aneh, Frans malah seperti tidak tahu apa pun.


Frans menghirup napas panjang, “Balin, aku bahkan tidak tahu kalau kemarin adalah hari ulang tahun anakmu.”


“Jangan berbohong, Frans! Kamu nyaris mencelakai Kirana.”


“Balin... Ini tidak mungkin. Pasti ada orang yang sedang menjadikan aku kambing hitam. Kalau seandainya, aku ingin mencelakai Kirana tidak mungkin aku mengirim kue beracun atas namaku sendiri.”


Aku sontak berdiri menggebrak meja. Hingga minuman tumpah di atas meja. Kami menjadi pusat perhatian bagi semua pengunjung restoran.


Namun Frans mengangkat tangan pada semua orang, memberi isyarat maaf dan memintaku untuk kembali duduk.


“Galang yang bilang sendiri kalau kurir yang mengantar kue itu atas nama kamu, Frans.”


“Ah, ya, Galang. Kita tanya pada Galang.”


Frans memanggil Galang. Pemuda yang seumuran dengan Rama itu berjalan mendekat dengan wajah yang sama gugupnya dengan Frans.


Aku menyuruh Galang duduk dan langsung dituruti olehnya. Dia melirikku dan Frans bergantian.


“Galang, jawab dengan jujur, kemarin siapa yang mengantarkan paket kue ulang tahun untuk Pak Balin? Kamu ingat ciri-cirinya?” tanya Frans.


Tampak Galang memejamkan mata berusaha mengingat-ingat.


“Kurirnya seorang pria, tinggi, tapi... aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena memakai masker dan kacamata hitam.”


“Lalu? Orang itu bilang apa?” aku ikut bertanya.


“Ya, dia cuma mengantarkan paket, mengatakan kalau paket ini ditujukan untuk Pak Balin dari Pak Frans.”


“Hanya itu?” Frans berganti bertanya.


Galang mengangguk.


Frans tampak frustasi, dia tidak bisa mendebat apa-apa. Lalu mengacak-acak rambutnya.


“Balin, percaya padaku! Bukan aku orangnya.”


Tiba-tiba dia terperanjat, seolah dia baru saja menemukan sebuah ide.


“Apa di bungkus kue itu ada nama tokonya, Balin? Kita bisa ke sana untuk mengetahui siapa sebenarnya orang yang memesan kue beracun itu.”


Aku menggeleng putus asa, “Kalau pun ada, aku pasti sudah ke toko itu sejak kemarin.”


“Balin, kamu percaya padaku kan? Lagi pula apa motifku meracuni Kirana, balita yang tidak berdosa?”


Aku menyeringai. Saking frustasinya aku dengan semua kejadian ini. Mana orang yang harus aku percaya?


Memijat keningku yang terasa berdenyut-denyut.


Semua orang di sekitarku bisa saja menjadi kaki tangannya Harsa. Aku tidak punya petunjuk. Andai aku punya petunjuk satu saja untuk mengetahui siapa yang sedang mengintaiku.


“Selama ini... “ Frans berkata. “Aku tidak pernah mau tahu tentang Kirana. Karena aku pikir, itu privasimu. Aku takut menyinggung perasaanmu yang ditinggal istri saat berjuang melahirkan. Tapi... “

__ADS_1


Aku menatap tajam Frans. Dia mengetuk-ngetukkan jari ke meja. Tanda bahwa dia sedang gelisah.


“Tapi... Yang aku lihat, kamu dan Kirana beberapa kali mengalami kejadian yang aneh. Mobilmu sempat ditabrak truk, Kirana nyaris dibawa penculik, dan kemarin ada kue beracun. Meskipun kue itu salah sasaran dimakan oleh adikmu tapi pengirimnya berharap Kirana yang akan teracuni.”


“Iya, memang ada orang yang berniat jahat pada Kirana,” aku mengaku.


“Siapa?”


“Aku tidak bisa mengatakan padamu siapa orang itu.”


“Kenapa? Aku temanmu, Balin. Jangan ragu jika kamu meminta bantuan dariku.”


Aku membuang muka, tapi di saat itu aku mengingat sesuatu. Aku kembali menatap Galang yang masih duduk di antara kami.


“Apakah kemarin Cindy datang kemari?”


“Bu Cindy? Iya kemarin dia datang, tapi hanya mampir sebentar. Tidak memesan makanan.”


“Dia hanya mampir?” tanyaku heran.


Untuk apa Cindy datang hanya sekedar mampir? Tidak memesan makanan seperti kebanyakan orang datang ke restoran. Pasti dia punya alasan tertentu untuk datang kemarin.


“Ya, Bu Cindy datang hanya ingin bertanya kapan Pak Balin datang.”


“Lalu kamu jawab apa?” tanyaku dengan tangan mulai mengepal di bawah meja.


Galang tampak risau. Dia seperti takut salah bicara.


“Aku mengatakan kalau Pak Balin tidak akan datang ke restoran karena sedang merayakan ulang tahun Kirana. Lalu Bu Cindy pergi.”


“Kapan Cindy datang ke restoran? Sebelum atau sesudah paket itu datang?”


Sementara aku menunggu jawaban dengan menahan napas.


“Sebelumnya,” ungkap Galang. “Bu Cindy pergi, lalu sekitar satu jam berikutnya kurir paket itu datang.”


“Balin, kamu tidak sedang mencurigai Cindy kan? Dia itu hanya... “


Aku berjalan meninggalkan Frans dan Galang. Aku semakin mempercepat langkah.


Apakah benar Cindy? Dia yang memata-mataiku dan melaporkannya pada Harsa?


Dia datang ke restoran dan mengetahui bahwa Kirana ulang tahun. Lalu dia pergi untuk memesan kue beracun tapi mengirimkannya atas nama Frans. Bisa saja begitu?


“Balin,” Frans menepuk bahuku. Dia mengatur napas akibat berlari mengejarku.


“Balin, tidak mungkin Cindy pelakunya.”


“Bisa saja, Frans. Semua bisa saja terjadi. Kamu tahu tempat tinggal Cindy?”


Frans diam sejenak. Aku maju satu langkah mendekatinya, namun, Frans justru menghindari tatapanku.


“Antar aku ke rumahnya!” perintahku.


 


***


 

__ADS_1


Aku menekan tombol bel di depan rumah Cindy.


Frans berada di belakangku, masih meyakinkan aku bahwa Cindy bukanlah pelaku yang mengirim kue beracun.


Akan tetapi aku menghiraukan ucapan Frans. Kemudian, pintu berderak terbuka.


Seorang wanita paruh baya membukakan pintu, memandang kami berdua dengan sorot mata meneliti.


“Maaf, cari siapa?”


“Saya Balin. Saya ingin bertemu dengan Cindy. Apakah Cindy ada di rumah?”


“Kalian ini temannya Cindy?” perempuan itu balik bertanya.


Aku menelan ludah, dengan susah payah aku mengatakan, “Ya, teman. Kami temannya.”


“Saya ibunya Cindy.”


Saya tidak tanya, Bu. Ingin rasanya aku menceletuk begitu. Aku menghela napas panjang, untung saja aku masih bisa bersabar.


“Apakah Cindy ada di rumah, Bu?” tanyaku sekali lagi.


Ibu Cindy tersenyum, “Dia baru saja pergi ada tugas ke luar kota.”


“Tugas? Tugas apa?”


 


 ***


 


Di sebuah ruang kerja.


 


Ruangan yang setiap hari tertata rapi itu seketika berantakan dalam sekejap. Semua benda berserakan di lantai. Sebagian benda berbahan keramik mahal pecah berkeping-keping.


Si pelaku berdiri dengan napas naik turun menahan marah. Layaknya banteng yang mengamuk. Dia berteriak dan menendang meja kayu mahoni yang hanya bergeser beberapa senti.


Bandul kalung berbentuk huruf H menyilau saat terkena pantulan cahaya senja di ruangan remang itu.


“Payah. Semua orang suruhanku memang payah. Membunuh satu bayi kecil saja tidak becus.”


Tangannya terkepal kuat, dan akhirnya mendaratkan tinju ke meja.


“Keberuntungan selalu memihak pada bayi lak**t itu.”


Pria itu menyeringai. Terkekeh karena di otaknya muncul sebuah gagasan baru.


“Kalau begini jadinya, aku sendiri yang akan turun tangan melenyapkan bayi itu beserta semua orang yang melindunginya.”


“Tunggu saja, Balin. Aku akan menghabisimu.”


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2