
“Si Leopard gila itu penembak yang payah,” Alexa mencemooh sambil merawat lukaku.
Aku tidak menjawab, hanya melihat wajah kesalnya yang terpantul di cermin di depanku. Lalu mengulum senyum.
Saat ini, aku berada di apartemen Alexa. Aku mengedarkan padangan ke segala penjuru ruangan. Jika diperhatikan, tidak banyak perabotan di apartemen itu.
Berarti benar yang dikatakan Rama, bahwa selama ini Alexa juga hidup berpindah-pindah mencariku.
Satu peluru penuh darah tergeletak di dalam wadah kecil di atas meja. Alexa berhasil mengeluarkan peluru itu dari bahuku.
“Pelurunya tidak menembus terlalu dalam sih, tapi lukamu lumayan parah.”
Aku meringis kesakitan, dan Alexa seketika menghentikan pergerakan tangannya.
“Sakit?”
Aku mengangguk.
“Sebentar lagi selesai kok. Tunggu... Yap. Sudah beres.”
Aku melirik pundakku yang sudah diperban rapi oleh Alexa. Kemudian aku mencari baju untuk dipakai. Karena sekarang ini aku kedinginan akibat bagian atas badanku tak memakai sehelai kain.
Aku mengambil kemeja, namun saat akan memakainya, bahuku terasa ngilu tak tertahankan.
“Mau aku bantu?” tanya Alexa.
Aku tak menyahut tapi juga tidak melarang tangan Alexa membantuku memakaikan kemeja yang berwarna putih gading.
“Semua ini salahku,” kata Alexa yang sedang mengancingkan baju.
“Aku minta maaf karena pernah percaya dengan Harsa. Aku menyesal. Seandainya aku menyadari sejak awal, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Harsa tidak akan bisa mendapatkan Kirana, dan kamu juga tidak akan terluka.”
Tangan Alexa terhenti ketika hendak menutup kancing paling atas kemejaku. Mata hitamnya yang telah berkaca-kaca menatap lekat padaku dan satu bulir mengalir melintasi pipi Alexa.
“Aku mohon maafkan aku, Balin. Aku bodoh, pernah melihatmu dari sudut pandang yang salah.”
“Kamu memang bodoh,” kataku berterus terang dan mengulum senyum.
Bibir Alexa mengembangkan senyuman lebar, sekaligus semakin bertambah derai air mata yang mengalir.
“Ada lagi yang bisa aku lakukan agar kamu memaafkan aku?”
Ibu jariku menyeka air mata yang membasahi pipi Alexa, aku menggeleng dan berkata, “Sudah cukup. Kamu sudah menebus semua kesalahanmu malam ini.”
“Tapi usaha kita gagal.”
“Kita hanya kurang beruntung. Andai saja buku Karina dipegang oleh Juan, mungkin tidak akan seperti ini jadinya.”
“Padahal sedikit lagi kita berhasil membongkar keburukan Harsa.”
“Iya, sedikit lagi,” ulangku.
Jemari Alexa yang masih memegangi kancing baju, perlahan meremas, dan menarik kemejaku. Membuat aku terseret mendekati Alexa. Begitu dekat hingga aku dapat mendengar napasnya yang berat.
“Aku mencintaimu, Balin,” bisiknya.
Alexa tak memberiku waktu untuk menjawab, karena dia langsung mencium bibirku. Matanya terpejam, dan jemari Alexa berpindah menelusuri tengkuk dan mengelus belakang kepalaku.
Aku sedikit membuka bibir, mempersilahkan lidah Alexa memasuki rongga mulutku dan bermain liar di sana.
__ADS_1
Lenganku merengkuh tubuh Alexa, memintanya untuk semakin dekat denganku dan membalas ciuman dengan tak kalah membaranya. Tubuh kami berdua hanya terpisahkan oleh pakaian yang kami kenakan.
Aku menghirup aroma stroberi yang sudah lama sekali tak bisa aku dapatkan. Rasa sesak menahan rindu perlahan memudar seiring kami larut dalam pelukan.
Tanpa melepas kecupan, aku membaringkan tubuh Alexa di atas tempat tidur.
Namun, rasa nyeri di bahuku tiba-tiba menyerang dan aku menghentikan ciuman. Alexa membuka matanya, dan mengernyitkan dahi. Sorot matanya bertanya-tanya.
Aku tersenyum dan menggelengkan kepala, untuk menenangkan kekhawatirannya. Lalu menatap wajah Alexa yang tersenyum manis.
Sebuah senyum yang selama ini aku rindukan.
“Aku lebih dulu mencintaimu, Alexa.”
Kemudian, aku berbaring di samping Alexa. Gadis itu menyandarkan kepalanya ke bahuku yang tidak terluka dan satu lenganku mendekap punggungnya.
“Aku sangat merindukan kamu dan Kirana,” ucap Alexa.
“Aku juga.”
Satu kecupan aku daratkan di puncak kepala Alexa. Kami berdua memandang kosong pada langit-langit kamar. Diam untuk beberapa saat yang lama.
“Aku bukan Papa yang baik untuk Kirana,” kata itu tiba-tiba keluar dari mulutku. Mataku terasa panas, dan mengalirkan sebuah tetesan air mata.
“Kamu adalah cinta pertamanya Kirana. Dia pasti bangga punya Papa sepertimu, Balin.”
“Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika Harsa mengambil Kirana.”
Kepala Alexa mendongak untuk menatapku. Satu tangannya yang lembut menyentuh pipiku dan meminta agar membalas tatapannya.
“Ayah yang hebat tidak lebih dari sekedar manusia biasa yang memiliki kekurangan, tapi dengan segala keterbatasannya itulah dia akan selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya.”
“Detak jantungmu terdengar merdu,” tutur Alexa.
Aku hanya bisa tergelak, dan mengusap rambut ikal wanita yang ada di dalam dekapanku.
“Semua detak jantung terdengar sama. Tidak ada yang berbeda.”
“Tidak,” Alexa membantah. “Aku tidak bohong. Detak jantungmu membuat aku merasa nyaman.”
“Alexa,”
Gadis itu hanya bergumam.
“Sejak kapan kamu mencintaiku?”
“Sejak kita pertama kali ciuman.”
Diam sejenak, lalu Alexa melanjutkan.
“Pertama kali aku mengenalmu, aku menganggap kamu seorang pria yang pemarah dan arogan. Ditambah tuduhan Harsa kepadamu membuat aku semakin menanam benci. Meski di luar aku harus tampak biasa saja.”
Aku mendengus, “Kamu lebih pantas menjadi aktris daripada guru TK.”
“Hingga saat kamu menciumku, dan kita melalui hari bersama, aku menjadi tidak yakin dengan apa yang Harsa katakan. Di dalam dirimu aku melihat sifat penyayang dan juga pemaaf.”
Aku berniat mengecup kening Alexa, tapi secara tiba-tiba gadis itu mendongak, membuat kecupan jatuh di bibirnya.
Pipi Alexa seketika itu bersemu merah. Tangannya menyentuh pipiku yang juga terasa panas.
__ADS_1
“Aku minta maaf. Aku tidak tahu selama ini Harsa yang mencelakai Kirana.”
“Jangan bilang maaf lagi! Aku sudah memaafkanmu. Sekali lagi kamu mengatakan maaf, aku akan menciummu.”
“Aku minta maaf.”
“Kamu memang sengaja minta dicium ya?”
Aku melayangkan kecupan singkat di pipi Alexa, lalu memeluknya. Gadis berambut ikal itu tertawa. Tapi dengan cepat terdiam.
“Andai sekarang ini Kirana juga ada di tengah-tengah kita,” gumam Alexa.
“Aku akan membawa Kirana kembali lagi kepada kita berdua.”
“Balin, sudah lewat tengah malam.”
“Lantas?”
“Happy birthday, Balin.”
Kini aku yang tertawa. Alexa ingat tanggal ulang tahunku. Padahal aku sendiri lupa dengan hari kelahiranku. Dia pernah menjadi mata-mata tentu saja dia tahu semua hal tentang aku.
Aku menggenggam jemari Alexa yang sekarang menjadikan dadaku sebagai bantal tidurnya dan satu tanganku yang lain membelai lembut rambut Alexa hingga terdengar suara napas yang pelan dan teratur.
Tak lama, aku pun ikut terlelap dalam keadaan tubuhku yang terasa lebih ringan karena rindu yang aku pendam telah terobati. Menyelam ke dalam mimpi yang indah.
Aku terbangun karena terganggu oleh suara dering handphone di atas meja. Entah berapa lama aku tertidur. Namun yang pasti di luar jendela, tampak langit masih gelap gulita.
Aku memindahkan kepala Alexa dengan hati-hati, agar gadis itu tidak terbangun. Lalu meraih ponsel milik Alexa yang berdering sejak tadi dan melihat satu nama yang cukup aneh tertera di layar.
“Psikopat Gila.”
Aku mengangkat telepon, dan menempelkan benda pipih itu ke telinga.
“Halo.”
Suara tawa terdengar dari seberang telepon yang membuat aku langsung mengepalkan tangan.
“Harsa,”
“Kebetulan sekali yang mengangkat telepon kamu, Balin.”
“Harsa, di mana Kirana?” tanyaku dengan nada membentak.
“Tenang, anak itu masih hidup kok,” ucap Harsa dengan penuh tekanan saat mengatakan kata masih.
“Ke mana kamu membawa Kirana, Hah? Jawab!”
“Aku akan mengirimkan sebuah alamat. Datanglah kemari, Balin! Jika kamu ingin melihat anak itu. Tapi ingat! Jangan datang membawa siapa pun. Apalagi polisi. Aku hanya minta kamu datang sendirian.”
Tut.
Panggilan telepon dimatikan oleh Harsa. Dan beberapa menit kemudian, ada sebuah pesan masuk yang berisikan sebuah alamat.
Aku mengambil bolpoin dan secarik kertas di meja. Menuliskan pesan untuk Alexa. Agar saat gadis itu terbangun, dia tidak perlu khawatir melihat aku tidak ada di sampingnya.
Aku pergi sebentar. Tidak perlu cemaskan aku.
Kekasihmu, Balin.
__ADS_1