
Begitu tersadar, aku mendapati diriku berada di sebuah kamar yang asing. Kamar sempit dengan cat dinding berwarna hijau.
Aku berusaha untuk duduk, meski semua sendi di badanku terasa linu. Aku sadar, aku telah berganti pakaian. Lalu mengedarkan pandangan untuk mencari koperku tapi tak ada di dalam kamar itu.
Tak lama pintu berderak terbuka, dan seorang wanita di ambang pintu tampak terkejut melihatku. Aneh, wanita itu malah berlari seperti habis melihat hantu.
Apa penampilanku menyerupai hantu?
Reflek aku menyentuh mukaku. Kemudian, terdengar derap langkah kaki mendekat.
“Balin.”
Cindy dan Frans telah berada di depan pintu kamar. Mereka menampilkan wajah terperangah sekaligus lega, lalu merek berdua masuk ke dalam kamar. Frans duduk di kursi dekat meja, sementara Cindy duduk di tepi ranjang.
“Syukurlah, kamu sudah siuman,” kata Frans menghela napas lega.
“Kamu perlu sesuatu?” tanya Cindy. “Maaf tadi itu, Markonah, asisten rumah tanggaku. Dia kaget saat melihatmu bangun.”
Pandanganku menyapu sekeliling ruangan, “Aku ada di mana?”
“Kamu ada di rumahku,” sahut Cindy. “Kami tidak sengaja melihat kamu dikeroyok di tengah jalan.”
Aku terperanjat, teringat sesuatu.
“Kirana! Mereka membawa Kirana,” kataku panik dan mencoba untuk turun dari tempat tidur.
Namun pergerakanku terhenti karena di sekujur tubuhku terasa sakit begitu aku berdiri. Aku mengerang menahan rasa ngilu.
Frans dan Cindy bersamaan menahanku dan membantu agar aku kembali duduk di tempat tidur.
“Balin, tenanglah. Kamu masih sakit,” ujar Frans.
“Tapi dia berhasil mengambil Kirana.”
“Iya, tapi kamu juga harus tenang dulu. Sebenarnya ada apa? Yang kamu maksud dia itu siapa, Balin?” tanya Frans penuh rasa penasaran.
Dua bola mata Cindy menatap lurus padaku. Raut mukanya menampakkan keseriusan dan menegakkan punggungnya.
“Balin, aku tahu ada yang kamu sembunyikan tentang identitas Kirana. Iya kan? Sekarang coba ceritakan pada kami. Apa yang sebenarnya terjadi?”
Aku diam membisu. Menatap Frans dan Cindy bergantian. Mereka juga balik memandangku untuk menunggu jawaban dariku.
“Kirana itu anaknya Karina, kan?” kata Cindy menebak.
Aku mengangguk, mengiyakan perkataan Cindy. Lalu menunduk dan menceritakan apa yang telah terjadi pada Karina dan mengapa anaknya ada bersamaku.
Frans meletakan punggungnya ke sandaran kursi setelah mendengar penuturanku. Begitu pula Cindy yang langsung menghela napas panjang.
“Ini yang aku tunggu dari dulu,” ungkap Cindy. “Aku tahu sejak pertama melihat Kirana, wajahnya mirip sekali dengan teman kita, Karina. Tapi saat itu gelagatmu seperti ada yang sedang disembunyikan. Aku memakluminya. Mungkin kamu belum mau bercerita. Jadi, aku selalu datang ke restoranmu dengan harapan suatu saat kamu akan bercerita ke aku tentang siapa sebenarnya Kirana.”
“Ya, dan saat kita membicarakan Harsa di depanmu, Balin, kami sengaja. Kami sengaja memancingmu agar kamu juga sedikit menceritakan Harsa,” kata Frans menambahkan.
Jadi itu alasan Cindy selalu datang ke restoranku dan selalu menanyakan kedatanganku. Dia menantikan aku bercerita siapa sebenarnya ibunya Kirana.
Dan Frans. Dia diam-diam juga menaruh curiga bahwa Kirana anak dari Karina dan Harsa.
Aku semakin menunduk dalam, “Aku minta maaf pernah mencurigai kalian sebagian mata-mata Harsa.”
__ADS_1
Frans menepuk bahuku dan terkekeh pelan.
“Justru kami yang minta maaf. Gara-gara tingkah laku kami berdua, kamu jadi mencurigai kami sebagai mata-matanya Harsa.”
“Andai saja sejak dulu aku menceritakan langsung pada kalian,” ungkapku penuh penyesalan.
“Sudahlah. Tidak perlu menyesali masa lalu. Sekarang kita fokus pada masalah yang saat ini terjadi. Lagi pula aku sama sekali tidak tersinggung kamu mencurigai aku,” ucap Cindy melipat kedua tangannya dan mengulum senyum.
“Sekarang apa rencanamu, Balin?” tanya Frans.
“Melaporkan Harsa pada polisi tentu saja,” ucapku geram. “Dan membongkar semua keburukan Harsa. Media selalu meliputnya sebagai orang yang kaya dan dermawan. Ini saatnya semua orang tahu seperti apa sifat asli Harsa.”
“Ya, betul,” Frans menimpali. “Harsa selalu terlibat dalam acara amal, namun sebenarnya hanya pencitraan belaka.”
Mendadak Cindy menjentikkan jari. Serempak aku dan Frans menoleh.
“Kalau urusan membongkar kebusukan Harsa, serahkan padaku. Aku ini kan reporter. Akan aku pastikan berita kejahatan Harsa terliput oleh media besok hari.”
Cindy tersenyum sambil membusungkan dada bangga akan dirinya yang seorang reporter. Namun Frans tampak biasa saja, dia memberengut memikirkan sesuatu.
“Tapi kita perlu bukti,” ucap Frans.
“Ada di handphone ku,” kataku dengan pandangan berkeliling mencari benda canggih itu.
“Oh, aku menyimpannya di laci,” Frans menarik laci yang ada di meja samping kursi. Lalu diserahkannya ponsel padaku.
Aku memperlihatkan video rekaman pengakuan Dodi yang masih tersimpan di ponselku. Cindy dan Frans sama-sama mencondongkan badan untuk memperhatikan video itu lebih jelas.
“Apa ini bisa jadi sumber berita?” tanyaku.
“Ya, akan aku coba bicarakan dengan Bosku supaya dia mau memuat berita kejahatan Harsa.”
Cindy dan Frans tergelak dengan pertanyaan bodohku. Tapi tak lama mereka kembali serius.
“Tentu saja, Balin. Kami ini temanmu. Sudah aku bilang kan, kalau ada masalah apa pun, jangan sungkan untuk minta bantuan,” tutur Frans menepuk bahuku.
Aku menghela napas panjang. Tersenyum pada kedua sahabatku yang padahal aku pernah menaruh prasangka pada mereka, akan tetapi mereka sama sekali tidak marah ataupun tersinggung.
“Kalau begitu aku ke kantor polisi, Cindy ke menemui bosnya. Dan kau, Balin, istirahat saja di rumah Cindy.”
“Jika perlu apa-apa panggil saja Markonah,” imbuh Cindy.
“Tidak. Aku juga akan ke kantor polisi. Mereka butuh kesaksianku, kan?”
“Benar juga. Tapi apa sebaiknya kamu istirahat saja, Balin?” tanya Frans terlihat cemas melihat kondisiku.
“Kirana sedang dalam bahaya. Tidak ada waktu untuk istirahat.”
***
Lima belas menit kemudian,
Aku dan Frans duduk bersebelahan menghadap seorang petugas polisi, namun wajahnya layaknya tahanan yang siap menerima hukuman mati. Polisi satu ini seperti tidak serius dalam menanggapi laporan ku.
__ADS_1
Aku melirik Frans beberapa kali. Dia pun sama jengahnya denganku.
“Di mana dan kapan tepatnya penculikan terjadi?”
“Di jalan Lembah Hijau, Kira-kira pukul jam satu siang,” tuturku.
“Kalian mengenali ciri-ciri pelaku penculikannya?”
“Iya. Penculiknya Harsa Russell.”
Pak Polisi mengernyitkan dahi mendengar aku menyebutkan nama Harsa. Dia tak sengaja menjatuhkan bolpoinnya ke lantai saking kagetnya.
“Maaf, Harsa Russell yang kalian maksud pengusaha sukses, menantu dari almarhum Indra Irawan, bukan?”
Aku dan Frans mengangguk bersamaan.
“Iya dia yang menculik Kirana.”
Masih dengan wajah yang bingung, polisi itu mengambil bolpoin yang terjatuh dan melanjutkan catatannya.
“Menurut kalian apa yang membuat Saudara Harsa ini mau menculik balita?”
Aku saling adu pandang dengan Frans. Masalahnya aku juga tidak tahu kenapa Harsa melakukan itu.
Aku pun menghela napas jengah. Terlihat jelas polisi ini sedang bertele-tele.
“Pak Polisi yang budiman, saya juga tidak tahu,” ucapku dengan kesabaran maksimal. “Itulah sebabnya saya meminta bapak-bapak polisi untuk segera menangkap Harsa. Terus bapak tanya sendiri ke orang itu. Kenapa melakukan penculikan terhadap anak kecil?”
Aku menggebrak meja karena kesal. Alhasil, polisi itu naik pitam, dia meletakan bolpoin dan bersandar ke kursi kerjanya.
“Begini ya, kami tidak akan memproses laporan palsu. Jadi kami minta keterangan yang sejelas-jelasnya.”
“Oke, Pak. Jadi, Kirana itu anaknya Harsa. Tapi saya benar-benar tidak tahu kenapa dia menculik putrinya sendiri? Dia bahkan sudah beberapa kali berusaha mencelakai Kirana dan saya.”
“Nah kan. Kalian ini mengada-ada, semua orang juga tahu kalau Tuan Harsa itu tidak memiliki anak. Lagi pula mana ada ayah yang menculik anaknya sendiri. Itu bukan penculikan namanya.”
“Astaga. Kenapa aku malah jadi berdebat dengan polisi?” gumamku yang sudah di batas kesabaran.
Frans yang melihat kemarahanku, mencoba menjelaskan kepada polisi berbadan buncit itu.
“Jadi begini, Pak. Kami punya bukti kalau selama ini Harsa melakukan tindakan kejahatan.”
Frans menyikutku yang membuang muka akibat sudah tidak tahan melihat wajah polisi di depanku ini. Lalu berbisik.
“Balin, video itu.”
Aku memperlihatkan video rekaman Dodi pada polisi yang dilihatnya hanya sekilas.
“Video ini tidak kuat menjadi barang bukti bahwa Tuan Harsa melakukan kejahatan,” kilah sangat polisi.
“Bisa saja ini hanya rekayasa. Seharusnya video CCTV atau apa yang merekam Tuan Harsa itu sendiri tengah melakukan kejahatan. Bukan video amatir seperti ini.”
Aku sontak bangkit berdiri hingga kursi yang aku duduki terjungkal.
“Terserah,” seruku. “Aku akan menangkap Harsa dengan tanganku sendiri tanpa bantuan polisi.”
__ADS_1