Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 21 Makan Bersama


__ADS_3

“Kalian ini sudah besar tapi kelakuan masih seperti anak kecil,” cibir Ibu mengambil sebongkah es batu, membungkusnya dengan kain bersih. Lalu menempelkannya ke mata kiri Rama.


Sontak Rama memekik kesakitan. Kini kelopak mata kiri Rama sudah seperti memakai eyeshadow ungu gelap.


Menggunakan telapak tangan untuk menutupi mata yang sakit, Rama menghindar saat Ibu hendak menempelkan es batu lagi.


“Bisa pelan-pelan tidak, Bu. Rasanya perih tahu.”


Perkataan Rama membuat Ibu semakin geram. Ibu memegang erat kepala Rama yang tidak bisa berkutik lagi. Lalu ditempelkannya bongkahan es batu dengan penuh penekanan.


“Siapa suruh kalian berkelahi, hah?”


Rama berteriak kencang, sedangkan aku yang melihat kejadian itu tertawa dari seberang tempat duduk.


Aku merentangkan tangan ke sandaran sofa. Bibirku terasa perih jika aku menggerakkannya. Lalu kuusap ujung bibirku menggunakan ujung jempol dan ada bercak darah di sana.


Kemudian, Alexa datang menghampiriku. Tangannya terulur memberikan tisu padaku, sementara tangan yang satu lagi menggendong Kirana.


Ternyata Alexa tidak mengindahkan peringatanku. Dia masih tetap saja memberanikan diri mendekati Kirana.


“Mau apa kau di rumahku?” tanyaku dengan suara tak bersahabat.


“Aku diminta ibumu untuk makan siang di sini,” jawab Alexa santai.


“Kamu pikir rumahku tempat makan gratis?”


“Oh, kalau begitu, aku pulang saja.”


“Tidak. Tidak,” sela Ibu yang melangkah mendekati aku dan Alexa. “Balin, biarkan dia makan siang bersama kita di sini.”


“Dalam rangka apa Ibu mengundang dia makan di sini?”


“Ibu pernah dengan lancang masuk ke rumah Alexa dan makan siang kali ini sebagai permintaan maaf ibu. Mengerti, Balin?”


“Tapi Bu,” aku hendak protes.


“Tidak ada tapi-tapian!” seru Ibu tegas.


Segera Ibu mengeluarkan payung legendaris yang langsung mengarah di depan bola mataku. Aku menghela napas pasrah. Ah sudahlah, kalau Ibu sudah mengeluarkan payung itu, angkat tangan saja.


Kini giliran Rama yang menertawakanku. Dia memegangi perut dengan satu mata terbuka dan satu lagi menghitam dan menyipit.


“Nah, Alexa, biarkan saja Kirana diasuh oleh papanya. Alexa bisa bantu Ibu ke dapur menyiapkan makan siang?”


“Oh iya, tentu bisa.”

__ADS_1


Alexa memberikan Kirana padaku. Lalu berlalu bersama Ibu menuju dapur.


Waktu makan siang pun tiba. Meja makan penuh oleh berbagai menu masakan. Uap hangat mengepul dari nasi yang baru saja matang dan samar-samar tercium aroma lezat menggugah selera yang berasal dari ayam goreng.


Tangan Rama terjulur ingin mengambil sepotong ayam goreng. Namun, belum juga tangan itu menyentuh, Ibu lebih dulu menampar punggung tangan Rama.


Segera Rama menarik kembali tangannya sambil mengaduh, lalu mengusap punggung tangan yang kini memerah.


“Cuci tanganmu dulu!” hardik Ibu. “Dan kapan terakhir kamu mandi, Rama?”


“Hah? Mandi? Makanan apa itu?” tanya Rama sengaja memancing emosi Ibu.


Mata Ibu melotot dan Rama menangkupkan tangan meminta ampun.


“Iya. Iya. Nanti aku mandi,” kata Rama yang segera pergi ke wastafel untuk mencuci tangan.


Alexa mengedarkan piring ke setiap orang saat aku mendudukkan Kirana di kursi tingginya yang sengaja aku letakan di samping tempat dudukku.


Duduk di seberang Alexa saat makan, jelas berefek negatif pada suasana hatiku. Aku ingin berpindah dari tempat duduk, tapi terlambat.


Kursi kosong yang ada di sampingku sudah lebih dulu ditempati Rama. Tidak ada pilihan lain. Aku makan sambil menunduk menatap makananku.


Kirana senang bukan main. Dia makan bubur bayi buatan Alexa. Dia juga menirukan cara makan orang dewasa yang ada di sekelilingnya.


“Nah, Alexa, tambah lagi nasinya. Lauknya juga,” ucap Ibu seraya menyendokkan nasi dan menaruhnya di piring Alexa.


“Tidak apa-apa. Makan yang banyak! Jangan seperti Balin yang kurus kering sejak berhenti bekerja.”


Aku mendongak ketika namaku disebut. Lalu aku menoleh pada Rama yang juga menatapku.


“Ibu tidak mau menyendokkan nasi ke piringku?” Rama memelas, menyodorkan piring ke arah Ibu.


“Ambil saja sendiri,” jawab Ibu ketus.


Rama memiringkan badannya, berbisik lima senti dari telingaku, “kita sudah tidak dianggap anak lagi, Kak.”


Aku tidak menggubris ucapan Rama, kembali menunduk dan melahap makananku. Sempat aku berpikir untuk pergi saja meninggalkan meja makan. Namun, aku mengurungkan niat itu.


Cacing-cacing di perutku tidak mengizinkan aku beranjak dari meja makan sebelum perut terisi penuh. Aku mengambil banyak lauk. Sudah lama aku tidak makan masakan Ibu.


Kemudian, Kirana bersorak senang. Dia bertepuk tangan dan mangkok yang ada di depannya telah kosong.


Aku tak percaya Kirana mampu menghabiskan makanannya sampai tak bersisa. Belum pernah aku melihat Kirana makan selahap itu.


Kami semua tertawa melihat Kirana, terlebih Alexa yang mengelap mulut Kirana.

__ADS_1


“Ibu perhatikan kamu seperti sudah terbiasa mengurus anak kecil, Alexa.”


“Iya, aku punya tiga orang kakak, satu laki-laki dan dua perempuan, yang semuanya telah memiliki anak dan dahulu aku sering dimintai bantuan untuk menjaga keponakan-keponakanku,” jelas Alexa tersenyum. “Jadi, aku tahu sedikit-sedikit.”


Ibu mengangguk lalu bertanya lagi, “di mana kakak-kakakmu tinggal? Atau masih bersama orang tua?”


Aku memandang wajah Alexa yang berubah termenung.


“Kedua orang tuaku mengalami kecelakaan pesawat saat aku berusia empat belas tahun, sejak itu ketiga kakakku tinggal di rumah mereka masing-masing.”


Ibu membanting sendok yang meninggalkan suara dentingan di piring. Ibu langsung merangkul Alexa, mengusap punggungnya. Kedua mata Ibu berkaca-kaca.


Aku tahu Ibu pasti akan bereaksi begini.


“Kasihan sekali kau ini, Nak,” Ibu terisak. “Ibu minta maaf sudah bertanya tentang keluargamu. Kamu pasti sedih mengingat kembali ke dua orang tuamu.”


Alexa tersenyum dan menggeleng. “Tidak kok. Kecelakaan itu sudah lama terjadi. Aku sudah bisa menerima kenyataan.”


“Kalau boleh ibu tahu, kamu bekerja di mana?”


“Aku seorang guru TK.”


Oh, jadi Alexa itu guru TK. Tebakanku salah kali ini. Aku pikir, Alexa seorang dokter anak atau semacamnya. Pantas dia selalu berangkat pagi dan pulang kerja pada tengah hari.


Ibu mengusap jejak air mata yang masih mengalir di pipinya. Sepertinya hanya aku saja yang menyimak percakapan Ibu dan Alexa. Karena saat aku melirik Rama, dia masih melahap makanan tanpa memedulikan suasana sekitarnya.


Rama makan lahap sekali seperti orang yang belum makan tujuh hari.


“Jadi, kamu tinggal di kontrakan sebelah sendirian? Apakah kakak-kakakmu sering mengunjungimu?” tanya Ibu menatap iba Alexa.


Alexa menggelang pelan.


Muncul rasa kasihan dalam diriku akan nasib hidup gadis yang sedang duduk di hadapanku ini. Aku ikut menatapnya.


“Kakak yang pertama, Kak Alan, dia sibuk melanjutkan perusahaan ayah dan memilih menetap di luar negeri. Kakakku yang kedua, sekaligus saudara kembar Kak Alan, meninggal karena sakit kanker paru-paru satu tahun yang lalu.”


“Lalu kakakmu yang ketiga?”


“Oh, Kak Alea. Dia tinggal di luar kota. Sesekali aku datang ke rumah Kak Alea jika sedang libur kerja.”


Ibu sekali lagi melingkarkan lengannya di leher Alexa. Ibu yang mendengarkan cerita Alexa menangis tapi hebatnya, aku tidak melihat ada satu tetes saja air mata Alexa yang mengalir.


Di saat suasana yang syahdu itu tiba-tiba dirusak oleh Rama yang bersendawa keras. Dia buru-buru menutup mulut.


“Ups, maaf.”

__ADS_1


 


__ADS_2