Papa Untuk Kirana

Papa Untuk Kirana
Bab 42 Salah Paham


__ADS_3

Selama ini aku salah. Aku menduga Cindy atau Frans yang menjadi mata-mata nya Harsa tapi kini aku baru sadar. Jika Cindy atau Frans mata-mata Harsa, mereka tidak akan mungkin sengaja membicarakan Harsa di depanku.


Itu justru akan membuat mereka dicurigai. Satu-satunya orang yang kenal dengan Harsa tapi tidak pernah membicarakannya di depanku hanya Alexa.


Aku melangkah maju mendekati Alexa yang ketakutan, namun begitu aku dapat melihat bola mata Alexa menyorotiku penuh kebencian.


Aku mendorong tubuh Alexa dan menyudutkannya di dinding kelas. Mencengkeram rahang Alexa, memaksa agar dia menatapku. Satu tanganku bertumpu pada dinding di belakang Alexa.


“Katakan bagaimana kau bisa mengenal Harsa?” tanyaku dengan menahan seluruh emosi.


Alexa menjawab dengan suara yang tenang, meski raut wajahnya menampilkan sebaliknya.


“Pada saat aku makan bersama ibumu, aku pernah bercerita kalau aku memiliki kakak laki-laki yang tinggal di luar negeri. Luar negeri yang dimaksud ialah Amerika. Setelah orang tuaku meninggal, aku tinggal bersama kakakku selama satu tahun. Dan kami mengenal Harsa, dia tetangga kakakku.”


“Kalian sudah saling mengenal rupanya?” cibirku.


“Kak Alan sangat dekat dengan ibunya Harsa, karena sama-sama orang Indonesia yang tinggal Amerika.”


Aku membuang muka. Berdecak kesal.


Iya, aku ingat. Alexa memang pernah bercerita pada ibuku kalau dia punya kakak laki-laki yang tinggal di luar negeri. Andai saat itu aku bertanya lebih tentang keluarga Alexa, mungkin saat itu juga aku bisa mendapatkan petunjuk mengenai Harsa.


“Apa saja yang sudah kamu laporkan pada lelaki itu?”


“Semua tentang dirimu. Sifatmu, kebiasaanmu, dan tentunya Kirana.”


Aku tersenyum getir, memperkuat cengkeramanku di rahang Alexa.


“Oh, sekarang aku tahu, itulah sebabnya kenapa kamu mendekati Rama. Kamu tidak bisa mengorek informasi tentang Kirana padaku. Jadi, kamu dekati Rama?” ucapku dengan nada ditinggikan satu oktaf.


“Iya,” jawab Alexa tenang.


Aku mengerjapkan mata, berusaha menelan sesuatu yang pahit yang tiba-tiba saja ada di kerongkonganku. Dadaku mulai terasa sesak.


“Kamu sungguh sangat pintar. Sepintar teman lamamu itu,” kataku menyindir Alexa.


“Kirana lebih berhak bersama Harsa. Dia papa kandungnya Kirana,” seru Alexa tidak mau kalah.


Aku tertawa, tapi mataku mulai memanas, pandanganku buram karena kini air mata sudah menggenang di ujung mataku.


“Jadi selama ini aku mengaku diriku yang seorang duda anak satu, tapi sebenarnya kamu sendiri tahu sejak awal kalau itu hanyalah sebuah kebohongan.”

__ADS_1


“Iya,” Alexa mengaku. “Sejak pertama menempati sebelah rumahmu, aku memang sudah tahu siapa kamu dan apa hubungan kamu dengan Kirana. Tapi sesuai dengan permintaan Harsa, aku harus berpura-pura tidak tahu.”


Aku menatap lekat sepasang bola mata hitam mengkilap itu, seluruh tubuhku bergetar, dan satu bulir bening meluncur dari ujung mataku.


Sungguh tidak dapat dipercaya. Dulu aku memang sempat mencurigai Alexa, tapi begitu aku melihat ketulusan dia merawat Kirana, kecurigaan itu luluh berganti dengan perasaan bahagia jika melihatnya.


Namun sekarang...


Setelah aku tahu kebenarannya.


Aku merasa terkhianati dan dadaku terasa sakit. Jauh lebih sakit daripada saat Karina mengatakan akan menikah dengan pria lain.


“Kenapa kamu mau melakukan hal bodoh seperti itu, hah?”


“Karena Harsa ingin tahu apakah Kirana benar anaknya atau bukan. Jadi kami melakukan tes DNA pada Kirana.”


“Apa?”


Aku mendongak menatap tajam Alexa. Cengkeraman tanganku berubah menjadi cekikkan dan kedua tangan Alexa berusaha menahan lenganku.


“Kapan kalian melakukan tes DNA pada Kirana? JAWAB!”


Napasku terengah-engah, amarahku semakin meningkat. Ternyata ada banyak hal yang tidak aku ketahui dari Alexa.


“Kurang ajar,” raungku. “Kalian berani-beraninya menyakiti Kirana.”


“Semua ini kami lakukan untuk memastikan apakah benar Karina berselingkuh denganmu atau tidak.”


“APA?”


“Harsa curiga kamu telah melakukan hubungan gelap dengan Karina. Itulah kenapa Kirana bisa ada bersamamu. Iya kan?”


Tuduhan apalagi itu. Karina berselingkuh denganku? Jadi selama ini Alexa memandangku sebagai seorang pria yang hina. Seorang pria yang bermain api dengan istri orang lain.


Tanganku mengayun terkepal, aku sudah ada di puncak kemarahanku. Sudah tidak bisa aku bendung.


Namun saat sekali lagi aku menatap bola mata indah milik Alexa, sekelebat bayangan wajah Alexa saat tersenyum menyusup dalam benakku, sekelebat lagi saat kami berciuman, dan seperti potongan film yang diputar cepat semua kenangan bersama Alexa bergantian memenuhi pikiranku.


Aku tidak bisa. Aku tidak bisa memukul Alexa. Maka aku sengaja mendaratkan tinju ke dinding tepat di samping telinga Alexa.


Tubuh Alexa gemetar ketakutan, aku tak melihat raut wajahnya seperti apa sekarang ini, karena aku menunduk dalam dan menangis.

__ADS_1


Aku mengendurkan cekikkan tanganku di leher Alexa. Wanita itu sedikit terbatuk. Kemudian, aku berjalan terseok-seok menuju salah satu bangku murid dan menjatuhkan diri di sana.


“Apakah kamu tidak menyadari bahwa kamu sudah ditipu mentah-mentah oleh Harsa?” tanyaku sambil terus menundukkan kepala.


Alexa hanya diam menatapku. Jadi aku teruskan berbicara.


“Dulu aku memang mencintai Karina, tapi aku tak pernah mengatakan padanya. Hanya sekali saat Karina menghembuskan napas terakhir. Setelah itu, aku mengubur cintaku bersamaan dengan aku yang mengubur jenazah Karina.”


“Malam itu, Tiba-tiba Karina meneleponku, meminta aku untuk bertemu di Taman Merpati. Ketika aku sampai di sana, Karina tengah menangis dan dia hanya mengatakan kalau suaminya jahat. Dan berikutnya, Karina kontraksi.”


Aku melirik pada Alexa. Dia tetap diam mendengarkan penjelasanku.


“Mau tidak mau aku harus membantu persalinan Karina. Lalu tak lama Karina melahirkan, dia menghembuskan napas terakhir. Dia hanya sempat memberitahuku untuk jangan mempertemukan anaknya dengan Harsa.”


“Aku tidak tahu kenapa Karina berkata seperti itu. Apa yang dilakukan Harsa hingga Karina kabur dari rumahnya? Belum lama setelah itu, aku mendapat kabar bahwa ayah Karina juga ditemukan tewas dalam kecelakaan. Semua itu membuatku bingung. Namun, satu hal yang dapat aku simpulkan, Harsa tengah mengincar Kirana dan aku.”


“Aku mengatakan ke semua orang bahwa Kirana adalah anakku. Aku melakukannya demi menjaga amanat dari Karina.”


“Kamu bohong. Semua itu hanya cerita karanganmu belaka. Harsa tidak mungkin berniat jahat pada Kirana,” bantah Alexa tapi dengan nada yang gamang.


Aku berdiri mendekat kembali pada Alexa. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Alexa sekarang ini. Ekspresinya tidak bisa aku tebak.


Aku mengeluarkan ponsel, dan memperlihatkan video rekaman interogasiku pada Dodi. Selama video diputar, Alexa tampak terperangah. Wajahnya pucat dan dia menutup mulut saking terkejutnya dan menyerahkan kembali ponselku.


Lalu Alexa membalas tatapanku dengan nanar.


“Aku tidak meminta kamu untuk percaya padaku. Tapi aku hanya minta kamu untuk percaya pada hati kecilmu. Apakah semua tuduhan itu benar?”


“Balin... “ ucap Alexa lirih.


Aku berjalan mundur, “Seperti yang Harsa katakan, pergi jauh dariku. Jangan pernah menyentuh Kirana-ku lagi! Selamat tinggal, Alexa.”


Aku beranjak meninggalkan Alexa, tapi jemarinya yang lentik menahan lenganku.


“Satu hal yang harus kamu tahu, Balin. Meski aku mendekatimu atas suruhan Harsa tapi aku menyayangi Kirana dengan setulus hatiku.”


Aku diam tak menoleh tapi dari telingaku terdengar suara isak kecil. Lalu aku melepaskan lenganku dari genggaman tangan Alexa dan berlalu pergi.


“Balin, aku minta maaf... “


 

__ADS_1


 


__ADS_2