
Di depan pintu ruang bersalin, semua tampak tegang menanti kelahiran anak kembar Alexa dan Balin.
Keluarga Asher juga sudah tiba di rumah sakit. Bola mata semua orang bergerak ke kiri dan kanan beriringan dengan langkah Balin yang mondar-mandir.
Hingga akhirnya langkah Balin terhenti oleh Alan yang menyuruhnya tenang.
“Aku tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan Alexa berjuang sendirian di dalam sana,” ucap Balin frustrasi.
“Memangnya Kakak bisa bantu apa?” celetuk Rama, yang kemudian melahap biskuit coklat.
Kirana ada di samping Rama mencomot biskuit coklat yang ada di tangan pamannya yang doyan makan itu.
“Hai, diam kau! Nanti juga kamu akan ketar-ketir seperti ini jika sudah menikah dengan Shinta.”
“Aamiin,” ujar Rama santai, lalu terkekeh bersama Kirana.
“Balin, sebaiknya kamu duduk dan berdoa untuk keselamatan Alexa dan bayinya,” kata ibu memberi nasehat.
Alan menepuk bahu adik iparnya itu untuk sedikit memberi ketenangan.
“Dulu ketika Lily melahirkan, aku juga cemas sepertimu, Balin. Tapi yakinlah! Semua pasti baik-baik saja.”
“Aku harus masuk ke dalam. Harus.”
“Tapi kamu sudah diusir oleh Alexa sebanyak tiga kali, Balin,” kata Mirza yang ada di dekat Alan.
Yup. Benar apa yang dikatakan Mirza. Terhitung sejak Alexa masuk ke ruang bersalin, Balin sudah diusir oleh istrinya itu karena mengganggu proses persalinan yang sedang berlangsung.
Bahkan bisa dibilang sangat mengganggu.
Tapi Balin tidak peduli. Dia tetap menerobos masuk ke dalam ruang bersalin, dan menghampiri Alexa yang tengah terbaring.
Beberapa perawat mencoba mengusir Balin. Namun, begitu Balin melotot pada perawat di sana, seketika nyali mereka menciut.
Kemudian Balin menggenggam erat dan mencium tangan Alexa.
“Aku di sini, Alexa. Aku akan tetap ada di sampingmu.”
“Balin,” ucap Alexa lirih menahan rasa sakit.
“Ayo, Alexa. Mengejan tapi tetap buka matamu. Bernapas. Jangan lupa bernapas! Itu yang paling penting!”
Balin mengucapkannya dengan nada ketakutan dan volume yang keras. Layaknya orang yang berteriak.
“BUKA MATA DAN BERNAPAS, ALEXA!” teriak Balin tepat di depan telinga Alexa.
Plak.
“Kamu menampar suamimu sendiri, Alexa?”
“Kamu berisik! Aku sedang konsentrasi,” teriak Alexa yang juga tidak kalah kerasnya.
“Aku minta maaf. Aku hanya takut kamu pergi meninggalkan aku.”
__ADS_1
Balin membenamkan kepalanya di ceruk leher Alexa, dan menangis di sana. Sementara para perawat yang membantu dokter hanya bisa saling lirik terperangah.
Secepat kilat Balin mendongak menangkap basah perawat yang menertawakannya.
“Hai, kalian tidak tahu ya? Aku trauma,” bentak Balin pada para perawat.
“Aku pernah menemani seorang perempuan yang melahirkan, lalu dia meninggal tepat di hadapanku. Aku takut istriku bernasib sama.”
Perawat itu menunduk meminta maaf. Saat Balin memarahi mereka.
Inilah yang ditakutkan Balin selama ini. Dia masih menyimpan trauma saat menemani Karina melahirkan.
Selama kehamilan Alexa, tidak ada keluhan yang berarti. Meskipun begitu, Balin tetap khawatir melihat wajah Alexa yang meringis kesakitan.
“Balin, kalau kamu mau marah-marah, sebaiknya keluar saja!” Alexa berkata di saat dia tengah mengejan.
Alexa mengibas tangannya agar Balin pergi meninggalkan ruangan bersalin.
“Dokter, usir saja suami saya, Dok.”
Mendengar hal itu, Balin membeku. Dia mengusap lengan Alexa dan meminta maaf untuk ke sekian kalinya.
“Oke, aku akan tenang, Alexa. Tapi jangan mengusirku lagi.”
Tatapan Balin berpindah pada perut Alexa, “Hai, kalian! Cepat keluar dari sana!”
Plak.
Satu tamparan mendarat di pipi kanan Balin yang membuat dia terkesiap.
Ide cemerlang menyusup di benak Balin. Sepertinya bayi mereka patuh pada ucapan sang ayah.
Balin mengulangi lagi perintah agar bayinya segera keluar.
“Hai, ayo susul kakakmu! Cepat keluar! Jangan buat kami menunggu!”
Balin membentak pada perut Alexa yang membuat semua orang di dalam ruangan itu geleng-geleng kepala.
Termasuk Alexa yang tertawa meski dia sudah kehabisan tenaga.
Bagaimana tidak? Ekspresi Balin mirip sekali dengan pelatih yang menyemangati atlet dalam perlombaan lari.
Dan benar saja. Balin Junior ke dua lahir begitu mendengar perintah dari ayahnya.
***
Alexa dan si kembar sudah berada di ruang rawat inap VVIP.
Balin membatasi waktu pada orang yang ingin melihat si kembar hanya tiga menit saja.
__ADS_1
Untuk para pelayan. Hanya pelayan yang memang ditugaskan merawat Alexa dan si kembar yang boleh masuk ke ruangan.
Selebihnya pulang tanpa sempat mengintip wajah tampan Si Duo Balin Junior. Meskipun begitu, mereka tetap memaklumi titah sang majikan. Nyonya mereka pasti harus banyak istirahat.
Para pelayan tidak sabar menunggu kepulangan Duo Balin Junior ke rumah besar.
Kini hanya tinggal Alexa, Balin, Kirana dan Rama di ruangan itu.
Alexa sedang makan sarapannya. Kirana dan Rama sama-sama menopang dagu memperhatikan Duo Balin Junior yang tertidur pulas dalam balutan kain bedong.
Sedangkan Balin, dia masih saja mondar-mandir memikirkan nama yang pas untuk si kembar.
“Uncle, bagaimana cara membedakan mereka berdua?” tanya Kirana pada Rama yang terkekeh.
“Uncle juga tidak tahu. Mereka benar-benar mirip seperti pinang dibelah tiga.”
“Pinang dibelah dua, Rama,” kata Alexa membenarkan.
“Tiga, Kak Alexa,” bantah Rama. Dia mulai menghitung.
“Satu, dua, si kembar. Dan tiga Kak Balin. Mereka benar-benar mirip. Tapi semoga wajah kalian saja yang mirip, sifatnya mirip ke Mama saja ya?"
Rama bergumam pada dua bayi yang tertidur itu, "Besar nanti jangan seperti Papa dan Uncle yang sering berantem dan adu mulut."
“Adik bayi akan diberi nama siapa, Pa?” tanya Kirana pada Balin.
Balin berkacak pinggang. Tampaknya dia sudah angkat tangan memikirkan nama untuk si kembar. Dia mengacak rambut frustrasi.
“Terserah Mama saja,” ucap Balin pada akhirnya.
“Mama, nama si kembar siapa? Biar mereka bisa dibedakan,” kata Kirana yang kini melempar padangan ke Alexa.
Alexa juga kebingungan. Sejak hamil dia pun tahu akan melahirkan anak kembar. Namun, belum ada nama yang cocok menurutnya.
“Siapa ya?”
Rama menjentikkan jari dan berteriak, “Aha.”
Semua orang pun menoleh padanya yang berseri-seri.
“Dikarenakan mereka punya paman bernama Rama dan calon bibi mereka juga bernama Shinta. Bagaimana kalau mereka diberi nama Nakula dan Sadewa?”
Alexa dan Kirana membulatkan mata bersamaan.
“Ah, nama yang persis seperti di buku cerita Pandawa. Iya kan, Uncle?” Kirana berkata begitu riangnya.
“Betul, Kirana. Menurut Kak Alexa, bagaimana?”
“Nakula dan Sadewa? Iya, itu nama yang bagus.”
Alexa melempar tatapan pada suaminya. “Kalau menurutmu, Sayang?”
Balin mendekati Alexa merangkul dan mencium ujung kepala istri yang sudah berjuang melahirkan dua bayi kembarnya.
__ADS_1
“Apa pun yang kamu suka, aku setuju saja.”